Exclusive Story
NewsMusik

NewsMusik

Friday, 19 January 2018 14:46

Sidi Saleh

Pai Kau sebagai Debutan Film Panjangnya

Sutradara Sidi Saleh terbilang sukses di film pendek. Contohnya saja lewat film pendeknya Maryam, Sidi sukses menggondol penghargaan di Venice Horizons Award di Festival Film Venice ke-71 2014. Kini kemampuannya kembali diuji ketika dipercaya mengarahkan film layar lebar berjudul Pai Kau.

Ini adalah sebuah hal yang istimewa bagi Sidi, karena menjadi debutannya dalam menggarap film berdurasi panjang. Proses juga lumayan panjang, dimulai dari 2015 untuk penulisan naskah dan syuting pada 2016, film tersebut akan tayang pada 8 Februari mendatang. “Saya tertantang untuk menangani film ini,” ujarnya pada saat diskusi film ini di IFI Thamrin, Jakarta, Rabu (17/1/2018) silam.

Sidi mengakui bahwa menggarap film panjang tidak semudah film pendek. Misalnya, dari sisi pemeran, film panjang lebih banyak sehingga butuh pendekatan berbeda dalam mengarahkannya. Belum lagi tantangannya adalah bagaimana film ini dapat menarik untuk ditonton. “Jadi saya bilang sulit,” ujarnya.

Namun, kendala-kendala tersebut menjadi pengalaman penting untuknya. Pengalaman itu, menurutnya sangat berguna bagi kariernya di dunia perfilman. Bila pada film pendek dia cenderung masih mempertahankan egonya, di film lebar harus bisa lebih kompromi.

“Dalam film Pai Kau pengalaman yang saya dapat adalah bahwa membuat film bukan hanya sekedar sebuah proses mencipta, tetapi lebih dari itu, yaitu proses pencapaian perspektif dalam pemahaman saya terhadap diri sendiri dan sesama,” ujar Sidi.

02 Pai Kau Istimewa

Poster Film Pai Kau (Foto: Istimewa)

Pai Kau berasal dari bahasa mandarin dari kata Pai Gow yang berarti permainan domino, bercerita tentang hari pernikahan yang menegangkan bagi pasangan Lucy (Irina Chiu), dan Edy Wijaya (Anthony Xie). Di hari pernikahan Lucy dan Edy, muncul seorang tamu wanita yang tidak diundang. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Siska (Ineke Valentina). Kehadiran Siska menjadi sebuah ancaman. Sampai akhirnya semua berakhir dengan tragis.

Sidi Saleh mengenal dunia perfilman dimulai sejak awal tahun 2000-an, semasa ia mengenyam pendidikan di Institut Kesenian Jakarta. Sidi yang sudah akrab dengan kamera sejak kecil itu lebih dulu menjadi sinematografer.

Beberapa proyek sinematografi membuatnya ikut terrlibat seperti “Dajang Soembi, Perempuan jang Dikawini Andjing” (2004), “Kara, Anak Sebatang Pohon” (2005), “Trip to the Wound” (2007), “D’Bijis” (2007), “Merah itu Cinta” (2007), “Babi Buta yang Ingin Terbang” (2008), “Postcards from the Zoo” (2012), serta “Taksu” (2014) karya Kiki Sugino sutradara film dari Jepang dan beberapa judul film lainnya./ Ibonk

Friday, 19 January 2018 09:51

Java Jazz Festival 2018

Menyasar Kaum Muda

Tanpa terasa, perhelatan Java Jazz Festival (JJF) 2018 akan kembali digelar di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta Pusat pada 2, 3, dan 4 Maret mendatang. Lewat tajuk “Celebrate Jazz in Diversity”, seperti sebelumnya event musik tahunan ini sudah menyiapkan untuk menghadirkan ratusan musisi dari luar dan dalam negeri.

Beerapa nama seperti Daniel Caesar, Lauv, Goo Goo Dolls, Dionne Warwick, Curtis Stigers, Vanessa Williams, Maysa Leak adalah segelintir nama-nama lezat penampil dari luar yang menjadikan JJF 2018 ini sayang untuk dilewatkan.

"Secara umum, 80% artis internasional yang tampil tahun ini adalah baru dan belum pernah tampil di Java Jazz," ungkap Dewi Gontha selaku Direktur Utama PT Java Festival Production di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (18/1/2018).

Ia juga melanjutkan, bahwa JJF 2018 ini agak berbeda dengan sebelumnya. Tahun in mereka lebih menyasar kepada penonton anak muda. Menurutnya, musik jazz tidak hanya dikenal oleh orang-orang dewasa saja. Namun, anak-anak muda juga harus bisa menikmati musik jazz.

"Kami tahun ini memang mengejar pasar yang lebih muda, karena mereka akan menjadi pasar kita 5 sampai 6 tahun ke depan. Jadi sekarang waktunya mengedukasi mereka bahwa Java Jazz itu bisa dinikmati semua umur. Penonton yang sudah biasa pun bisa menghargai kalau kita dengan sengaja merekrut dan perubahan ini untuk terus menjalankan Java Jazz," katanya.

02 Ecoutez Ibonk

Ecoutez salah satu yang akan tampil di JJF 2018 mendatang (Foto: Ibonk)

Yang berbeda lainnya adalah jumlah stage yang digelar. pihak penyelenggara lebih memilih mengurangi jumlah panggung, serta mengatur jadwal para artis yang tampil. “Ini adalah usaha kami demi membuat penonton menikmati suguhan musisi yang beraksi secara utuh, menonton sampai selesai. Makanya kami mau coba dengan hanya 10 panggung. Pengurangan jumlah panggung ini tentunya dibarengi dengan peningkatan kualitas show di tiap panggung," ucap Dewi.

Menurut bocoran yang beredar, nantinya masing-masing panggung memiliki durasi sekitar satu sampai satu setengah jam. Kecuali di MLD stage bus yang hanya dibatasi sampai 45 menit saja.

Untuk penampil dalam negeri, festival ini akan diramaikan diantaranya oleh Ecoutez, Kunto Aji, Nonaria, Andien, Dira Sugandhi, Adhitia Sofyan, Java Jive x Fariz RM, Jordy Waelauruw, Mondo Gascaro, Tashoora, Yura ataupun Tomorrow People Ensemble.

Begitulah, demi untuk meraup pangsa pasar baru, JJF 2018, penyuguhan lewat beragam turunan jazz dan musisi yang tampil secara lebih luas diharapkan mampu menunjukkan dampak positif. “Tidak ada pengurangan unsur jazz, yang terjadi kami memperkayanya,” tutup Dewi Gontha./ Ibonk

Thursday, 18 January 2018 08:27

NEV Plus

Siap Gantikan Nidji yang Tertidur

Setelah sekian lama menjadi pertanyaan, akhirnya group band Nidji memberikan pernyataan pasti perihal keberadaan mereka. Hal tersebut diungkapkan oleh sang big boss Musica Studios, Indrawati Wijaya atau lebih akrab disebut bu Acin.

"Untuk pertama kali dan saya tekankan bahwa Nidji tidak bubar, hanya break sementara, karena Giring sudah punya kegiatan baru di luar Nidji yang sangat menyita waktunya. Sampai saat ini kami belum tentukan kapan Nidji akan kembali," ungkapnya saat jumpa pers #SelamatTidurNidji #NyalakanNevPlus di Musica Studios, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (16/1/2018).

Dengan tertidurnya Nidji, selanjutnya dimunculkanlah NEV Plus yang akan mengobati absennya sang vokalis dalam tubuh Nidji. NEV Plus merupakan proyek lain dari para personel Nidji bersama vokalis yang lain. "Kami sudah siapkan NEV Plus, yang berkolaborasi dengan vokalis-vokalis Musica, yang sudah punya nama dan vokalis baru," jelas Acin.

Sejak tahun lalu, Giring memang telah memutuskan untuk mlipir sejenak dari kesibukkannya bersama Nidji dan mulai terlibat dalam dunia barunya di bidang politik. Kali terakhir Giring sepanggung bersama Nidji tatkala tampil pada malam pergantian tahun di kawasan Bintaro. "Hashtag selamat tidur Nidji diciptakan Ariel karena saat tanggal 31 Desember merupakan performance terakhir kami. Itu momen real dan hasil satu setengah tahun menyimpan wacana ini, bahwa kami break," ucap Giring.

02 Dea Dalila Istimewa

Dea Dalila (Foto: Istimewa)

Proses kolaborasi tersebut nantinya akan berujung pada album dengan mengeluarkan tunggalan secara bertahap dimulai pada bulan Januari ini. NEV plus kan berangkat dari Nidji Electronic Version, jadi kami pengin juga ngasih, gimana sih lagu Nidji diaransemen jadi lebih kekinian. Kami ada yang remix juga dengan vokalis baru," tambah Randy.

Untuk memuluskan proyek tersebut, maka langkah awal dijalankan dengan mendaulat solois Dea Dalila. Ia akan menjadi vokalis pertama yang akan berkarya bersama NEV Plus. Menurut Rendy, Dea adalah sosok yang cocok dengan karakter NEV Plus. Dea juga pernah berkolaborasi dengan Nidji dalam lagu ‘Hancur Aku’.

Sebagai langkah awal, tahun ini NEV Plus akan segera menghiasi belantika musik Indonesia. Rencananya karya mereka akan rilis dalam waktu dekat ini. Baiklah, Selamat Tidur Nidji, selamat datang  NevPlus.../ Ibonk

Thursday, 18 January 2018 10:36

Roadshow Pucuk Cool Jam 2018

Semarak Lewat Tampilan RamenGvrl

Teh Pucuk Harum sebagai produk RTD Tea nomor satu di kategori non-cup Jasmine berdasarkan riset AC Nielsen pada tahun 2017, terus berupaya mengapresiasi passion dan talenta anak muda Indonesia melalui program Pucuk Cool Jam yang digelar untuk ketiga kalinya pada tahun ini.

Setelah memenuhi tantangan pada digital audition serta proses validasi sekolah agar dapat dikunjungi oleh Pucuk Cool Truck, terpilih 40 sekolah di wilayah Jabodetabek, Bandung dan Cirebon yang akan dikunjungi Roadshow Pucuk Cool Jam 2018, yang dimulai pada 16 Januari hingga 17 Maret 2018.

Brand Manager Teh Pucuk Harum, Juanita, mengatakan, pihaknya mengapresiasi seluruh sekolah yang telah berpartisipasi pada digital audition Pucuk Cool Jam 2018. "Meskipun wilayah jangkauan program Pucuk Cool Jam 2018 di Jabodetabek, Bandung dan Cirebon, namun kami mendapatkan partisipasi di luar dari wilayah tersebut. Hal ini membuat kami percaya bahwa ajang kreativitas seni bagi anak muda sangat dinantikan," ujar Juanita, di Jakarta, Selasa (16/1).

SMA Sumbangsih Jakarta Selatan, merupakan sekolah pertama yang akan dikunjungi Roadshow Pucuk Cool Jam 2018 untuk wilayah DKI Jakarta. Selain band sekolah dan ekstrakurikuler, Roadshow Pucuk Cool Jam 2018 di SMA Sumbangsih, diramaikan dengan penampilan RamenGvrl, rapper yang memulai karir bermusiknya pada tahun 2013 dan telah berhasil memikat khalayak luas melalui rilis single ‘I'm Da Man’ pada penghujung 2016 lalu.

02 RamenGvrl Istimewa

RamenGvrl (Foto: Istimewa)

Menurut Program Roadshow Pucuk Cool Jam 2018, Juanita mereka tidak hanya menampilkan band sekolah dan ekstrakurikuler tetapi juga melibatkan seluruh siswa untuk mengikuti berbagai aktivitas seru lainnya.

"Melalui Roadshow Pucuk Cool Jam 2018 ini, kami berharap dapat ikut menjadi wadah penyemangat bagi anak muda Indonesia dalam menghadapi tantangan masa depan untuk terus berpikir kreatif, tidak mudah menyerah, selalu berusaha untuk mencari hal baru dan tidak pernah berhenti untuk berkarya dan meraih kesuksesan," tutup Juanita./ Rizal

Thursday, 18 January 2018 10:11

Mytha Lestari

Kesan Mistis Isi Soundtrack Film Horor

Paramitha Lestari Mulyarto atau lebih beken disebut Mytha Lestari lahir di Biak pada 29 Juni 1991, adalah jebolan salah satu ajang pencari bakat Mama Mia 2007 silam. Pada saat itu dewi fortuna seolah menaunginya sehingga dirinya bersama sang mama berhak menyandang gelar juara pertama. Sejak itu, Mytha tidak pernah berhenti dan terus mendalami olah vokal.

Tak sia-sia, sampai akhirnya ia memiliki album solo yang tidak pernah dia prediksi sebelumnya, dan menjadikan lagu yang berjudul ‘Tentang Mimpiku’ sebagai tunggalan perdananya.
 
Sadar dirinya telah memilih karir dan terjun di dunia seni, Mytha tidak berhenti pada bidang menyanyi saja. Ia juga pernah mencoba kemampuan di bidang seni peran lewat drama musikal “Gita Cinta The Musical”. Seolah berjodoh, drama ini banyak menuai tanggapan positif dari banyak kalangan. Lalu ia melanjutkan petualangannya dengan melakoni beberapa judul FTV yang ditayangkan di televisi swasta.

Keseharian Mytha tentu tak lepas dari menyanyi dan mendalami teknik vokal. Bahkan terkadang secara iseng ia juga membuat lagu. Begitulah, hidupnyapun terus berlanjut, dan sesuatu yang terbesar dalam hidupnya dirasakannya pada saat mengakhiri masa lajangnya. Ia resmi menikah dengan Barry Maheswara pada Minggu 5/11/2017 lalu.

Baru-baru ini juga Mytha, mengambil sebuah tantangan lain, yakni menjadi pengisi soundtrack untuk film bergenre horor Nini Thowok. Lewat judul lagu 'Takkan Pernah Mati', ini merupakan pengalaman pertamanya dalam mengisi soundtrack film bergenre ini.

02 Mytha Lestari Ibonk

Mytha Lestari (Foto: Ibonk)

"Aku sudah lama kenal sama Mas Ronny, salah satu produser film ini. Udah lama banget pengen kerjasama tapi karena birokrasi label waktu itu jadi harus dilupakan. Kesempatan datang ketika kontrak sudah habis, dan mas Ronny memberikan tawaran.

“Ini memang serem, karena aku tipe penyanyi kalau punya lagu harus dirasain dulu, dan bayangin kalau film horor harus dihororin dulu, agar nyawa lagunya muncul. Tapi nggak apa-apa, ini sebuah tantangan," ungkap Mitha.

Lagu yang dilantunkannya tersebut merupakan hasil ciptaan Raguel Lewi. Liriknya sendiri berkisah mengenai Nadine yang diperankan Natasha Wilona yang rindu sosok neneknya, yang kemudian memanggil arwah sang nenek dengan media Nini Thowok. "Ini menceritakan tentang nini thowok, sejenis jalangkung. Jadi perspektif lagu ini diambil dari pada saat Wilona yang kangen banget sama neneknya. Ia memanggil arwah neneknya lewat media nini thowok”, jelas Mytha.

Secara nyata, lagu tersebut dirasa sangat cocok dengan karakternya selama ini. "Ita, jadi memang lagunya dibikin sesuai karakter aku. Alur lagu tetap ada unsur seremnya, tapi tidak menghilangkan karakter aku yang galau. Ada beberapa masukanku dalam lagu ini seperti twisting melodi atau kasih masukan musiknya," jelasnya.

03 Mytha Lestari Ibonk

Mytha Lestari (Foto: Ibonk)

Bahkan dalam menjiwai lagu tersebut, Mytha harus berhadapan dengan kejadian mistis. Sesuatu yang emang adalah karya yang ingin aku sampaikan harus aku rasakan banget. Jadi ketika aku nyanyiin banyak banget kejadian-kejadian aneh. Aku sama lagu ini udah ada relation sendiri,” tambahnya lagi.

Begitulah, inilah pengalaman baru bagi dirinya . Lagu tersebut menjadi sebuah karya terbarunya yang muncul di awal 2018 ini. Bagaimana dengan keberhasilan film dan soundtrack film tersebut masih harus dibuktikan seiring waktu berjalan. Tinggal kita tunggu saja, begitu juga dengan sepak terjang Mytha Lestari kedepannya./ Ibonk

Tuesday, 16 January 2018 10:35

Dolores O'Riordan

Vokalis The Cranberries Itupun Berpulang

Vokalis The Cranberries, Dolores O'Riordan meninggal dunia dalam usia 46 tahun. Pernyataan itu disampaikan manajemennya pada Selasa 16 Januari 2018 dini hari kemarin. Wanita asal Limerick, Irlandia tersebut semasa hidupnya berhasil mengantarkan The Cranberries mencapai kesuksesan internasional pada dekade 1990-an dengan sejumlah lagu hits mereka.

Terkait hal tersebut, manajemen Dolores O'Riordan memberikan pernyataan, ”Vokalis utama band Irlandia The Cranberries tengah berada di London untuk sesi rekaman singkat. Tidak ada kabar lebih rinci saat ini.” Pihaknya juga mengatakan, anggota keluarga sangat terpukul mendengar kabar itu dan meminta privasi untuk saat-saat sulit seperti sekarang ini.

Pada 2017 lalu, The Cranberries mengumumkan jadwal tur ke sejumlah negara di Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat. Akan tetapi, pada Mei 2017, saat menjalani tur di Eropa, band ini mendadak membatalkan sisa agendanya sehubungan dengan persoalan kondisi kesehatan Dolores O'Riordan.

Situs resmi The Cranberries menyebut adanya alasan medis yang berhubungan dengan keluhan di punggung yang membuat Dolores O'Riordan tidak bisa naik panggung. Akan tetapi, sesaat sebelum Natal, Dolores O'Riordan mengunggah pernyataan via akun facebooknya yang mengatakan bahwa dia merasa baik-baik saja dan baru menyelesaikan satu konsernya setelah berbulan-bulan.

02 The Cranberries Istimewa

The Cranberries pada tahun 2012 (Foto: Istimewa)

Pernyataan itu sempat membuat penggemarnya yakin dia akan kembali naik pentas. “Hai semuanya. Dolores di sini. Saya merasa baikan! Saya baru menyelesaikan konser setelah berbulan-bulan saat akhir pekan, membawakan sejumlah lagu,” terangnya.

Dalam kehidupannya, Dolares bercerai dari suaminya, Don Burton yang merupakan mantan manajer tur Duran Duran pada 2014 silam. Pernikahan pasangan ini telah mencapai usia 20 tahun, dan keduanya dikarunia 3 orang anak.

Dolores O'Riordan lahir pada tahun 1971 dan mengikuti audisi sebagai vokalis The Cranberries pada tahun 1990. Selanjutnya ia kemudian meraih kesuksesan global bersama band ini. The Cranberries menikmati ketenaran internasionalnya lewat debut album mereka tahun 1993 silam yang bertajuk “Everybody Else Is Doing It, So Why Can't We?” Album itu terjual lebih dari 40 juta kopi di seluruh dunia dan hits lewat single 'Linger' dan 'Zombie'.

Pada 23 Juli 2011, Ia dan The Cranberries sempat manggung di Indonesia dalam ajang Java Rockin'Land di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta dan memuaskan ribuan penggemarnya disana. Selamat jalan Dolares./ Ismed

Sunday, 14 January 2018 09:00

Konser Pagelaran Sang Bahaduri

Sejumlah Musisi Dukung Konser Amal Untuk Yockie Prayogo

Sebuah pentas bertajuk “Pagelaran Sang Bahaduri” akan digelar untuk mengumpulkan dana pengobatan musisi legendaris Indonesia, Yockie Suryo Prayogo yang sudah lama sakit. Konser dalam balutan amal ini amal ini rencananya akan digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki pada hari Rabu, 24 Januari 2018 mendatang, yang juga merupakan gagasan beberapa sahabat dekat Yockie Surya Prayogo.

Dalam perannya di kancah musik nasional selain bersolo karier, Yockie tercatat pernah bergabung di God Bless, Kantata Takwa, Swami dan melahirkan album Badai Pasti Berlalu bersama Chrisye dan Eros Djarot. 

Seperti yang disebutkan oleh vokalis yang cukup dikenal sebagai Singing Lawyer, Kadri Mohamad mengungkapkan rasa iba terhadap situasi yang tengah dialami Yockie. "Sebagai orang yang pernah ikut menyanyi dan bantu mengurus konser LCLR PLUS dan Badai Pasti Berlalu beliau (kurang lebih 7 Konser Jakarta dan beberapa kota di Jawa), tentu merasa iba melihat keadaan yang menimpa Yockie.

“Ini pasti membutuhkan biaya besar meski perawatannya sekarang di rumah. Seluruh artis pendukung Konser LCLR PLUS dan Badai Pasti Berlalu mendukung secara total. Akan membawakan karya-karya sang Bahaduri atau lagu-lagu dimana beliau pernah menata musik nya", ungkap Kadri yang juga menjadi salah seorang penggagas gelaran ini.

02 Yockie Suryo Prayogo Ibonk

Yockie Suryo Prayogo (Foto: Ibonk)

Mereka yang dijadwalkan akan tampil dalam konser diantaranya Andy /rif, Ariyo Wahab, Aning Katamsi, Benny Soebardja, Berlian Hutauruk, Bonita, Che (Cupumanik/Konspirasi), D’Masiv, Debby Nasution, Dhenok Wahyudi, Dira Sugandi, Fadly (Padi), Fariz RM, Fryda Lucyana, Gilang Samsoe, Ingrid Widjanarko, Kadri Mohamad, Keenan Nasution, Louise Hutauruk, Mondo Gascaro, Nicky Astria, Once, Tika Bisono serta Eros Djarot dan Sys NS.

Musik akan di bawahi oleh Indro Hardjodikoro, serta tata suara dan lampu oleh DSS Sound dan Lemmon ID. Selain itu Anto Hoed, yang duduk sebagai Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta mendukung dengan membantu menyiapkan venue konser di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki yang berkapasitas 1200 orang.

Harga tiket terbagi dalam beberapa kelas. Reguler lantai 3: Rp 200,000,-. Reguler Lantai 2: Rp 300,000,- Reguler Lantai 1: Rp 400,000,- dan VIP Rp 500,000,-. Ada juga kelas VVIP: Rp 750,000,- dan Super VVIP Rp 2 juta. Untuk lebih jelasnya bisa kontak Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. atau lewat website https://www.kiostix.com/malamgembira./ Ibonk

Sunday, 14 January 2018 08:11

Teaser Terbang, Menembus Langit

Ketika Kemiskinan Menjadi Inti Cerita

Hidup memang sumber cerita yang tak pernah habis. Lewat film “Terbang, Menembus Langit” yang ditulis dan disutradarai oleh Fajar Nugros, ia mencoba menggambarkan kalau hidup adalah perjuangan. Lewat teaser berdurasi satu menit yang dirilis secara digital 2 hari lalu, kita disuguhkan potongan perjuangan tokoh utama yang diperankan oleh Dion Wiyoko dan Laura Basuki.

Intinya adalah semua orang pasti pernah mengalami berbagai kesulitan hidup, tak terkecuali tokoh Onggy yang diperankan oleh Dion Wiyoko. Berbagai masalah menimpa seolah tak henti yang menjatuhkannya sejak masa kanak-kanak hingga menikah dengan Candra yang diperankan Laura Basuki.

Namun di tengah berbagai cobaan itu, mereka selalu bangkit, menjalani hidup yang juga selalu memberikan harapan. Namun seberapa kuat mereka menerima berbagai masalah, menjalaninya, hingga mengatasinya?

Film ini juga  di dukung oleh banyak bintang seperti Baim Wong, Delon Thamrin, Chew Kin Wah, Aline Adita, Melisa Karim, Dinda Hauw, Marcel Darwin, Dayu Wijanto,Indra Jegel, Fajar Nugra, Mamat Alkatiri, dan Erick Estrada.

02 Film Terbang Menembus Langit Istimewa

Dalam film Terbang, Menembus Langit kita dapat melihat akting dari Dion Wiyoko dan Laura Basuki (Foto: Istimewa)

“Teaser ini kami rilis agar masyarakat luas bisa melihat bagaimana film ini nantinya dan kira-kira ceritanya seperti apa. Dan kalau diperhatikan, ada tiga periode kehidupan tokoh Onggy disini. Sangat menarik dan menantang bagi saya untuk bisa menterjemahkan kisah hidup seseorang yang sangat menarik ke layar lebar,” ungkap Fajar Nugros selaku sutradara dan penulis.

“Cerita ini kami temukan dalam perjalanan saya dan Fajar di Kalimantan. Kami merasa bahwa ini adalah kisah dimana banyak orang bisa relate. Ketika kemiskinan dan sebagai minoritas seolah adalah tembok besar yang mengungkung dan membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa dan seolah masa depan suram,” jelas Susanti Dewi selaku produser.

“Ternyata semua bisa berubah kalau seseorang mempunyai tekad yang kuat. Saya rasa hal-hal itu banyak orang bisa relate tapi sekaligus bisa menjadi inspirasi. Oleh karenanya kami memutuskan untuk mengangkat kisah ini dalam film,” tambahnya lagi.

Film Terbang, Menmbus Langit ini sendiri tengah menyelesaikan tahap paska produksi dan rencananya akan mulai tayang pada April 2018 mendatang./ Ismed

Friday, 12 January 2018 13:54

Nini Thowok

Siap Mengejar Reputasi Jalangkung

Sepertinya film dengan genre horor masih bakal menghiasi perfilman nasional tahun ini. Salah satu yang bakal tayang adalah film Nini Thowok, hasil produksi TBS Films, yang disutradarai Erwin Arnada. Rencananya film ini akan tayang di bioskop mulai 1 Maret 2018. Sebelum resmi ditayangkan, TBS Films terlebih dahulu merilis official trailer, poster dan original soundtrack (OST) di bilangan Senopati pada Kamis (11/01/2018) kemarin.

"Insya Allah bisa menghibur dan mewarnai film nasional. Ini sebuah film urban legend yang ada di negeri ini dan kita angkat lagi," ungkap Erwin Arnada yang menjadi sutradara dalam film ini.

Nama Erwin Arnada sendiri dipastikan sudah tidak asing lagi di dunia perfilman horor nasional. Jelangkung (2002), Tusuk Jelangkung, dan Bangsal 13, adalah sebagian dari film bergenre horor yang cukup sukses. Erwin Arnada sempat vakum bertahun-tahun sejak hijrah ke pulau Bali, sehingga film Nini Thowok ini menjadi penanda dirinya untuk kembali ke dunia perfilman nasional.

Sebagai seorang sutradara Erwin juga diperkuat dengan hadirnya sejumlah aktor dan aktris top Tanah Air. Natasha Wilona, salah satu aktris muda berbakat yang ambil bagian dalam film itu. Selain Natasha, turut mendukung sederet aktor dan aktris senior seperti Ingrid Widjanarko, Jajang C. Noer, Gesata Stella, dan Slamet Ambari yang bermain cemerlang dalam Film Turah. Ada pula pemain anak-anak Nicole Rossi dan Rasyid Al Buqhory yang akan ambil bagian dalam film tersebut.

03 Natasha Wilona Istimewa

Natasha Wilona berperan sebagai Nadine dalam film Nini Thowok (Foto: Ibonk)

Natasha Wilona, sebagai salah satu pemain mengaku senang bisa terlibat dalam film itu. Meskipun bukan pengalaman pertamanya bermain di film horor, tapi Nini Thowok dinilai jauh lebih berkesan dibanding film sebelumnya. "Sebenarnya ini film horor ke dua aku. Kebetulan saat aku break sebentar dari sinetron dan dapat tawaran ini. Aku excited banget dan memaksa untuk terlibat disini. Secara pribadi suka film horor." kata Natasha.



"Aku berperan sebagai Nadine, yang hidup sebantangkara dan harus merawat adik satu-satunya. Cerita makin menarik saat ia mendapat surat dari neneknya yang meninggal, dan baru tahu ada sejarah yang baru terungkap," lanjut dia.

Sebuah film juga terasa hambar jika tak melibatkan soundtrack yang bagus. TBS Films akhirnya menggaet Mytha Lestari, penyanyi yang sebelumnya menelurkan hits lewat lagu ‘Aku Cuma Punya Hati’. Dalam film Ninik Thowok, Mytha membawakan lagu ‘Takkan Pernah Mati’, ciptaan Raguel Lewi, yang memang diciptakan khusus untuk film ini.

Dari aransemen dan lirik,  lagu ini jelas memiliki keterikatan yang cukup dalam dengan cerita dan nuansa film. Ornamen gending jawa yang mengiringi lagu, membuat alur cerita film ini semakin sempurna. Selain Mytha, TBS Films iuga mempercayakan lagu soundtrack lainnya kepada band indie, Belang Benar. Band ini beranggotakan Fere, Amee Aris, dan Diren yang membawakan lagu berjudul ‘Na Na Na Na ciptaan Fere.

02 Erwin Arnada Ibonk

Sutradara film Nini Thowok, Erwin Arnada (Foto: Ibonk)


Bagi masyarakat Jawa, Nini Thowok sudah menjadi sebuah hikayat sejak dulu. Nini Thowok adalah boneka yang terbuat dari siwur (batok kelapa). Bentuknya menyerupai jelangkung namun berpakaian seperti layaknya perempuan. Nini Thowok berfungsi sebagai media untuk memanggil arwah atau roh.  Walhasil, Nini Thowok disebut juga sebagai jelangkung perempuan.

Seberapa seram dan sukses film ini mengungguli film-film sejenis nantinya? Kita nantikan saja penayangannya. Saat ini cukup kita pantengin trailer dan posternya saja. Siap-siap bergidik.../ Ibonk

Tuesday, 09 January 2018 16:55

Gipsy

Band Anak-Anak Menteng  

Gipsy Band dibentuk pada tahun 1966 awalnya adalah band pesta yang muncul dari sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Barat no. 12 Menteng, Jakarta. Rumah milik keluarga Nasution yang merupakan warisan dari ayah Saidi Hasjim Nasution ini senantiasa mendapat kunjungan dari kerabat penghuninya. ”Rumah ini selalu ramai, karena teman-teman Bapak sering bertandang. Juga para sahabat ke enam anak-anaknya. Setiap anak dikunjungi oleh sahabatnya masing masing. Jadi bisa dibayangkan betapa ramai dan riuhnya rumah kami” kenang Gauri Nasution.

Gipsy juga merupakan letupan adrenalin sekumpulan remaja Jakarta yang tengah mencari pengakuan. Band yang digawangi oleh paramuda yang ngumpul dan nongkrong di rumah ini dan membentuk band yang digawangi oleh Pontjo Sutowo (organ), Joe Am Nasution (gitar), Gauri Nasution (gitar), Edi Odek (bas),dan Edit (drum). Lalu band inipun diberi nama Sabda Nada.

Nama yang diberikan oleh I Wayan Suparta yang juga merupakan seniman tari Bali, yang kala itu mengontrak pavilliun rumah keluarga Nasution. Selanjutnya Sabda Nada bermain bersama sekelompok pemain gamelan Bali yang diasuh I Wayan Suparta sendiri.

Formasi band Sabda Nada kemudian mengalami perubahan setelah bassist band ini, Edi Odek jatuh sakit dan digantikan oleh Chrisye yang merupakan sahabat karib Gauri. Chrisye adalah tetangga keluarga Nasution. Keenan Nasution pun mulai diajak mengisi posisi drummer. ”Saat itu Sabda Nada memiliki 3 drummer yaitu Edit, Ronald Boyo dan Keenan,” jelas Gauri Nasution.

Sabda Nada lalu mulai tampil di berbagai tempat seperti di Kantor Pusat Gedung Bank Indonesia, Istora Senayan ataupun Djakarta Fair. Keinginan untuk bermain band memang tumbuh dengan kuat. Tumbangnya rezim Orde Lama membuat semangat bermain band pun kian menjadi-jadi. Seolah sebuah euphoria yang tertunda selama bertahun-tahun. Begitu juga dengan Sabda Nada yang mulai menyanyikan lagu-lagu The Beatles hingga The Rolling Stones tapi lewat gaya mereka sendiri.

03 Gipsy Istimewa

Gipsy (Foto: Istimewa)

Sabda Nada tak lama berselang juga mengganti nama. Ada anggapan mereka bahwa nama Sabda Nada seperti ketinggalan zaman. Oleh Pontjo Sutowo, diusulkan untuk diganti menjadi Gipsy. Itulah kontribusi Pontjo Sutowo saat itu karena setelahnya ia berniat mundur dari band dan memutuskan pindah ke Semarang pada tahun 1968.”Permainan organ saya pun biasa biasa aja.Musik bagi saya hanyalah hobi saja,” ujarnya.

Selepas itu beberapa wajah baru terlihat memperkuat Gipsy Band. Posisi Pontjo Sutowo digantikan oleh Onan Soesilo. ”Saat itu kami keliling mencari pengganti Pontjo, dan kebetulan melihat seorang anak muda bertubuh kurus dan gondrong tengah bermain organ di Ria Sari yang berada di Gedung Sarinah Thamrin Jakarta.

Bandnya yang bernama Fingers dan tengah membawakan lagu Bee Gees. Onan setuju bergabung dengan Gipsy, meninggalkan sahabatnya Aidit dan Johnny. Onan ini menurut saya memiliki bakat musik, dan rasanya memang pas untuk bermain dalam Gipsy,” kata Gauri Nasution.

Personil Gipsy lainnya adalah Tammy Daudsyah, tetangga seberang rumah yang baru saja membubarkan bandnya The Lords yang dibentuknya bersama Firman Ichsan, drummer yang kelak lebih dikenal sebagai fotografer. The Lords sendiri terdiri atas Tammy Daudsyah (vokal, keyboards, flute dan saxophone), Donny Johannes (vokal, gitar), Sri Sardono (bass), Adi Ichsan (gitar, vokal) dan Firman Ichsan (drums). Formasi Gipsy makin lengkap ketika Nasrul “Atut” Harahap, sepupu Gauri yang baru saja pulang dari Belanda menyatakan bersedia bergabung.

04 Gipsy Istimewa

Gipsy (Foto: Istimewa)

Atut Harahap  banyak memperkenalkan band band mancanegara yang pernah ditontonnya sewaktu bermukim  di Belanda. Banyak juga referensi musik berupa piringan hitam. Sejak itu Gipsy yang terdiri atas Gauri Nasution (gitar), Chrisye (bas), Keenan Nasution (drum), Onan Soesilo (organ), dan Tammy Daudsyah (saxophone, flute) mulai memainkan berbagai repertoar asing. Umumnya mereka memainkan musik  bercorak blues, soul dan rock seperti Wilson Pickett, The Equals, John Mayall & The Heartbreakers, Sam and Dave, Jimi Hendrix & The Experience, Blond, Chicago, Blood Sweat and Tears, The Moody Blues, King Crimson ataupun Keef Hartley.

Cara mereka menyajikan lagu-lagu karya artis mancanegara tersebut masih dengan kiat yang sama. Yakni dengan mengaransir ulang lagu tersebut dan juga memainkan lagu yang tak dikenal banyak orang. Ini sebuah bentuk kreatifitas yang pada saat itu belum ada yang melakukan. Semua materi lagu diolah lagi. Filosofi bermusik seperti inilah  menjadi modal utama dalam meniti karir dalam industri musik Indonesia.

Secara perlahan keberadaan Gipsy sebagai salah satu band yang bercokol di Menteng Jakarta mulai menjadi buah bibir. Selain cara mereka membawakan repertoar yang ditampilkan, juga karena disokong oleh perangkat band yang up to date untuk ukuran saat itu.

Gipsy pernah diajak Ibnu Sutowo untuk manggung di Manhattan, New York pada tahun 1972. Mereka mengisi acara hiburan di restoran Ramayana yang merupakan milik Pertamina, meskipun vokalis utama mereka, Atut Harahap telah meninggal dunia. Gipsy berubah formasi menjadi Chrisye (bas), Keenan Nasution (drum), Gauri Nasution (gitar), Adjie Bandi (biola), Rully Djohan (keyboards) dan Lulu Soemaryo (saxophone).

02 Gipsy Istimewa

Gipsy (Foto: Istimewa)

Disana, mereka mengiringi penyanyi pop kala itu, Bob Tutupoly. Pada saat senggang, Keenan menyempatkan diri berburu piringan hitam dan nonton konser.”Saya mulai mengenal album Genesis di Amerika dan nonton konser Blood Sweat & Tears serta grup art rock Inggris Yes,” jelas Keenan Nasution. Dari menyimak dan menonton konser musik, semakin memperkaya  referensi musik Keenan Nasution. Kelak referensi musik yang dicernanya di Amerika yang menjadi inspirasi utamanya dalam bermusik.

Sepulang dari Amerika pada tahun 1973, Keenan dan Chrisye mulai mengepakan sayap menjadi penyanyi. Hingga akhirnya Guruh Soekarnoputra mengajak Gipsy untuk berkolaborasi dan berhasil menghasilkan album rekaman dengan judul Guruh Gipsy pada tahun 1976. Kolaborasi ini dianggap unik, karena Guruh dikenal dengan kemahirannya menguasai budaya Bali dan Gipsy sebagai sebuah grup ber-genre rock./ NM (dari berbagai sumber)

Page 1 of 127