Jogja Hip Hop Foundation Foto-foto yoseR

Jogja Hip Hop Foundation

Jadwal Padat, Dab !!!

Jogja Hip Hop Foundation (JHF) datang ke Jakarta untuk turut serta dalam pementasan dengan lakon Semar Mendem yang diselenggarakan oleh Indonesia Kita. namun ternyata ketika usai penyelenggaraan pentas tersebut, mereka telah menyusun beberapa rencana lain.

Hal ini berkaitan dengan album yang baru saja mereka rilis, Semar Mesem Romo Mendem – The Book of Sindhunata 2006 - 2013. Serta buku perjalanan JHF ketika beranjangsana ke Amerika pada tahun 2012, Java Beat In The Big Apple, yang ditulis oleh Marzuki Mohamad a.k.a Juki a.k.a Kill the DJ. Serangkaian kegiatan disusun untuk mempromosikan keduanya.

Juki, Balance Perdana Putra (Balance / Ngila), Janu Prihaminanto (Ki Ageng Gantas), Heri Wiyoso (M2MX), dan Lukman Hakim (Radjapati) rela bangun sangat pagi demi mengisi acara di NET. pada Sabtu (08/11). Kemudian pada Senin (10/11) malam JHF berkunjung ke Mustang 88 FM untukmelakukan taping wawancara yang disiarkan pada Kamis (13/11) malam.

Kemudian dua hari berikutnya mereka menggelar pentas di Galeri Indonesia Kaya dan At America. Ini sebagai komitmen untuk menemui sedulur dan bregada yang tidak sempat atau belum memiliki rejeki untuk menonton JHF di pentas Semar Mendem.

Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia – West Mall Lantai 8

Selasa (11/11) menggelar pentas sebagai tanda perilisan buku album Semar Mesem Romo Mendem – The Book of Sindhunata 2006 – 2013 pada pukul 16.00. Dua jam sebelum pentas, Newsmusik sempat datang melihat JHF tengah melakukan soundcheck.

JHF soundcheck minus Juki yang tengah menemui seseorang. Tapi mereka tetap jalan terus. Terlihat Mamok a.k.a M2MX masih belum pulih dari batuknya akibat nekat menyantap makanan berminyak.

Usai soundcheck semuanya bergegas ke ruang ganti. Kondisi ruangan yang sempit langsung terasa sesak ketika JHF ditambah Dita, manajer JHF, serta beberapa kru. Guyonan dan celetukan berbahasa Jawa berseliweran sambil menyantap donat dan minuman kaleng.

Seluruh personel JHF termasuk Juki yang baru datang ditodong Dita untuk menandatangani buku, CD, dan majalah Rolling Stone Indonesia edisi khusus membahas JHF. Nantinya akan dibagi kepada penonton yang datang.

Pentas dimulai dengan pemutaran video tentang tur JHF di Amerika. Setelahnya satu per satu personel JHF muncul dari sisi kiri panggung. Mereka ditemani DJ Vanda. ‘The Song of Sabdatama’ menjadi lagu pembuka.

“Jadi kami buat acara ini sebagai komitmen untuk teman-teman yang kere,” canda Juki disambut tawa penonton.

Entah karena kurangnya promosi atau pemilihan waktu yang tidak tepat, auditorium Galeri Indonesia Kaya tidak terisi penuh. Mengingat pentas diselenggarakan di hari dan jam kerja. Mereka yang hadir pun tampak sungkan untuk mengangkat pantat dari tempat duduknya untuk berdiri dan bergoyang.

02 JHF Yose RFoto-foto yoseR

Gantas bahkan sampai menghampiri dan menyodorkan miknya demi menarik minat penonton untuk lebih “hidup”. Meski akhirnya berhasil dihidupkan berkat iming-iming hadiah buku, CD, dan majalah dengan mengadakan sebuah tantangan.

Tantangannya adalah tiga orang diminta untuk merapalkan lagu JHF yang mereka tahu dan hafal. Seru juga melihat ada yang dengan lancar “merepet”, tapi juga ada yang tersendat-sendat. Tapi semua kebagian hadiah.

Ketika ‘Cintamu Sepahit Topi Miring’ dibawakan, Gantas memberikan miknya kepada penonton yang merupakan salah satu peserta tantangan. Hasilnya dia seolah enggan memberikan mik kepada Gantas yang tampak sabar menunggu kapan mik itu dikembalikan kepadanya.

Pentas diakhiri dengan lagu “kebangsaan” JHF, ‘Jogja Istimewa’. Setelahnya mereka meladeni foto untuk keperluan pewarta foto dan juga bersama sedulur dan bregada. Kemudian usai melakukan wawancara, semuanya bergegas. Ada yang memutuskan untuk menghabiskan waktu di Grand Indonesia. Ada pula yang memilih untuk kembali ke hotel. Istirahat.

At America, Pacific Place Mall Lantai 3

“Biasanya hidup di antara sawah, sekarang manggung diantara mal dan mal,” ujar Juki di pentas pamungkas dalam rangkaian kegiatan JHF selama sekitar sepuluh hari di Jakarta pada Rabu (12/11).

Pentas dimulai sekitar pukul 18.30 dengan runtutan yang sama seperti di Galeri Indonesia Kaya. Dimulai dengan pemutaran video perjalanan tur di Amerika kemudian membuka dengan ‘Song of Sabdatama’. Setelah sebelumnya personel JHF menghampiri penonton di barisan terdepan untuk bersalam-salaman sebelum naik ke atas panggung. Untuk lagu-lagu lainnya juga tidak jauh berbeda yang dibawakan.

Penonton yang hadir secara kuantitas mengalami peningkatan. Lalu bagaimana dengan kualitasnya? Kali ini jauh lebih meningkat bila dilihat dari partisipasi mereka untuk bersenang-senang. Kenapa demikian? Karena JHF tidak perlu bersusah payah untuk mengajak penonton berdiri dan bergoyang. Meski memang tidak semua yang hadir turut serta.

03 JHF Yose RFoto-foto Yose R

“Ya memang Jakarta itu kampungan gak berani joget. Jangankan (penonton) di Singapura, di Amerika saja (waktu kita pentas) joget semua. Kalo di kampung saya, kita manggung di tinggal pergi. Soalnya mereka sibuk dengan sawah dan ladangnya,” sindir Juki.

Bagi-bagi hadiah juga masih dilakukan. Kali ini malah lebih banyak dengan mengundang 10 orang ke atas panggung. mereka tidak ditantang lagi untuk merapal cepat, tapi hanya diminta untuk menceritakan pendapat mereka tentang JHF.

Salah satu dari mereka merasa apa yang dilakukan oleh JHF sangat hebat karena “nekat” menggunakan Bahasa Jawa dalam liriknya untuk mempromosikan salah satu budaya yang dimiliki Indonesia. Mendengar itu dengan bercanda Juki berkata bahwa mereka sebenarnya adalah antek-antek jawanisasi.

Juki dengan panjang lebar menambahkan bahwa dengan banyaknya hal positif yang mereka terima namun terbersit pula rasa sedih. Bagaimana JHF kerap mendapatkan kiriman video dari Manokwari atau Jayapura memperlihatkan mereka tengah membawakan lagu-lagu JHF yang berbahasa Jawa dengan dialek Papua.

“Wah kita ini bajingan banget masak orang Papua disuruh ngerap Bahasa Jawa. Tapi lama kelamaan mereka punya grup sendiri. Bikin nama Manokwari Hip Hop Community. Kemudian ngerap pake Bahasa Papua. Kemudian di Maluku ada Moluccas Hip Hop. Di Medan juga ada. (Hal ini) membuat teman-teman JHF pengen memproduseri sebuah album kompilasi Bhinneka Tunggal Hip Hop. Karena negara sudah tidak bertanggung jawab sama kebhinnekaan,” terang Juki panjang lebar.

Malam itu sebenarnya JHF, khususnya DJ Vanda, pentas dalam keadaan berduka. Dimana bapak mertua DJ Vanda meninggal dunia. Namun dia bersikap profesional dengan memilih untuk lebih dahulu menyelesaikan tanggung jawabnya pentas bersama JHF.

Kembali ‘Jogja Istimewa’ menjadi lagu penutup. Sedulur dan bregada dengan semangat ikut menyanyi. Beberapa bahkan merapat ke bibir panggung yang berbuah sodoran mik dari JHF untuk mereka semakin lantang suaranya.

“Matur nuwun Jakarta. Besok kami pulang & giliran nggarap 'sesuatu' buat Jogja! Ditunggu ya sedulur Jogja ;)” demikian cuitan JHF dalam akun resmi @JHFCrew beberapa jam usai menyelesaikan pentas di At America sebagai tanda pamit.

Ditunggu pentas-pentas berikutnya di Jakarta, dab !! / Yose R

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found