Ngayogjazz 2014 Foto-foto Istimewa

Ngayogjazz 2014

Tung Tak Tung Jazz, Jazz Tidak Wangi

Beberapa hari yang lalu, Trie Utami penyanyi jazz yang ‘cilik’ ditanya wartawan tentang Ngayogjazz ketika berada di Yogyakarta untuk acara yang ada hubungannya dengan budaya. Trie Utami alias Iie yang kecil tapi bersuara luar biasa ini menjawab “Siapa bilang jazz itu wangi?”. Eits…. Maksudnya apa neh?

Maksud doi adalah jazz itu tak hanya ditampilkan dan didengarkan oleh orang kelas atas. Dan, Ngayogjazz adalah sebuah perhelatan yang mengembalikan jazz kepada rakyat. Kenapa kembali ke rakyat? Yaaaa... karena jazz adalah musik rakyat yang dibawa dari luar Indonesia kemudian dalam perjalanannya dibungkus rapi agar tampak elit, malah menjauh dari rakyat.

Nah, ada beberapa tokoh yang berupaya mengembalikan jazz pada rakyat, salah satunya Djaduk Ferianto. Djaduk dan konco-konconya inilah menjadi pentholan perhelatan musik yang bertajuk Ngayogjazz. Sebuah acara berdurasi sehari yang menampilkan musisi yang bermain musik bernama jazz. Lokasinya di desa dimana banyak penduduk atau lebih tepat disebut rakyat.

Orang desa yang tradisional, lebih sering mendengarkan musik ning nang ning gung khas Jawa, lalu dijejali musik impor bernama jazz. Gak pusing tuh? Katanya sih… musik adalah bahasa universal, artinya siapa saja bisa menikmatilaaahh. Ketika musik dimainkan, mungkin saat itu para penduduk desa yang biasa mendengarkan musik pentatonik tidak langsung jatuh cinta pada musik impor itu tapi mereka bisa saja menikmatinya sambil ikut menggoyangkan anggota tubuh mereka…

Yang menarik adalah bagaimana sebuah perhelatan musik yang di Indonesia melekat sebagai musik kaum metropolitan diadakan tempat yang berlabel “ndeso”. Musik dengan branding orang kota yang biasanya diadakan di gedung pertunjukan mewah atau tempat terbuka lalu di-setting menjadi megah dengan hadirin berpakaian necis, aroma parfum semerbak di sana sini menjadi nihil di Ngayogjazz.

Ngayogjazz tak hanya sebuah perhelatan musik bermerk jazz. Lebih dari itu, ini adalah sebuah pesta atau festival yang sebenarnya. Ada orang-orang yang berkumpul memainkan alat musik, ada pendengarnya, interaksi sahabat yang lama tak berjumpa dan pertemuan dengan kenalan baru serta ada juga yang menjadi kaum wiraswasta. Mereka melebur menjadi satu sebagaimana sebuah pesta berlangsung.

Di sana ada pasar – pertemuan antara konsumen dan penjaja barang dagangan – sebagai pembunuh rasa haus dan lapar atau lapak yang menyediakan oleh-oleh untuk dibawa pulang seperti kudapan, mainan tradisional dan barang yang biasa dijajakan di sebuah perhelatan musik seperti t-shirt, CD musik dan barang-barang lain yang dijual oleh penduduk desa yang sehari menjadi pebisnis dadakan untuk meraup pendapatan berkali lipat dibanding hari biasa.

Sabtu depan, Desa Brayut dan penduduknya akan kembali menjadi tuan rumah Ngayogjazz seperti dua tahun yang lalu. Mereka menyelenggarakan hajatan dimana yang datang adalah penduduk desa tetangga ditambah orang kota yang kembali ke desa. Desa yang sehari-harinya sunyi akan kembali bergairah dan berpesta. Desa mereka akan dikitari banyak umbul-umbul bak tanda janur kuning melengkung pada sebuah pesta perkawinan.

Karena ini adalah pesta, orang bisa datang awal atau saat pesta sudah dimulai beberapa saat. Awal pesta Ngayogjazz terjadi sejak acara dibuka. Biasanya perhelatan ini dibuka dengan cara dan acara tradisional, bukan acara pengguntingan pita sebagaimana biasanya pejabat meresmikan sebuah acara, memberi kesan bahwa acara ini jauh dari segala formalitas, birokrasi dan mentalitas feodalisme.

Apa lagi yang asik dari Ngayogjazz? Gelaran ini selalu memberikan suasana yang berbeda. Acara yang awalnya hanya lingkup kecil, kini sudah menjadi sebuah gelaran yang juga diinginkan para musisi untuk bisa mengisi acara ini. Coba tanyakan kepada pengisi acara yang sudah menjadi langganan di acara ini seperti Trie Utami, Syaharani atau Dewa Budjana. Mereka menjadi bagian dari acara ini bukan karena honornya tapi lebih karena alasan passion bermusik, idealisme dan berekspresi.

Ajang ini juga diisi musisi yang memilih jazz sebagai ruang berekspresi. Mereka tidak atau belum masuk dunia industri musik atau juga mereka yang memainkan musik jazz sebagai hobi. Bergerak di komunitas membuat skill mereka terasah. Ngayogjazz menjadi sebuah etalase untuk mereka memamerkan kemampuannya. Mereka bisa saja menunjukkan aksi gila di atas panggung Ngayogjazz yang tak kalah dari musisi yang sudah punya nama.

02 Ngayogjazz IstimewaFoto - foto istimewa

Pengisi acara yang berganti maupun yang jadi langganan membuat Ngayogjazz memiliki perbedaan tiap tahun pelaksanaanya. Tampilnya musisi yang berbeda memberi kesegaran baru bagi penonton yang selalu menyaksikan acara ini. Sementara musisi yang rutin mengisi acara ini seperti pulsa telepon isi ulang bisa saja memainkan komposisi yang sudah dikenal maupun yang baru.

Suasana berbeda yang terjadi tahun ini juga pasti ada. Keputusan Pemerintah melarang perusahaan rokok berpromosi secara kasat mata membuat pengisi acara Ngayogjazz tahun ini tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Penyelenggara Ngayogjazz yang sudah berpengalaman pasti tak kurang akal. Mereka tahu betul mana musisi yang layak diundang. Yang penting bukanlah nama besar musisi tapi bagaimana mengemas festival rakyat ini menjadi sebuah sajian menarik.

Ini soal kemampuan musikal para pengisi acara. Penonton yang sekarang lebih kritis tak hanya ingin melihat penampilan musisi yang sudah punya nama tapi juga ingin mendapat hiburan. Dan mendapatkan hiburan bisa didapatkan dari para penampil yang atraktif dan skillful. Setelah tepuk tangan menyaksikan kepiawaian musisi beraksi, penonton kadang lupa nama musisinya. Dari beberapa kali Ngayogjazz, tak jarang para penampil yang namanya tak dikenal di tataran industri musik malah memberi kepuasan pada penonton.

Suasana desa Brayut yang sehari-harinya senyap pada hari Sabtu, 22 November 2014 nanti akan menjadi ramai, penuh dengan manusia, bisa mencapai ribuan atau bahkan puluhan ribu. Ngayogjazz yang selama ini dilaksanakan saat musim hujan akan menjadi desa yang becek karena panitia perhelatan ini menyerahkan keputusan pada alam. Tak seperti penyelenggara acara perhelatan musik yang biasanya menolak hujan dengan broker pawang, panitia Ngayogjazz akan pasrah pada keputusan Ilahi.

Hujan kemungkinan besar tetap membasahi desa Brayut dan ini akan menambah romantisme para pengunjung yang datang berpasangan. Mereka bisa melagukan nyanyian milik Endang S Taurina:

…yank, hujan turun lagi, di bawah payung hitam ku berlindung.

Basah tubuh ini, basah rambut ini.. Kau hapus dengan sapu tanganmu…..

Mungkin bisa saja karena hujan akan ada kesempatan menghapus status jomblo? Aihhhh…..

So? Desa Brayut yang kemungkinan besar becek karena hujan, gesekan badan ribuan orang masih harus disikapi dengan pakaian dandy, perhiasan emas berbandul hati, sepatu hak tinggi dan parfum wangi? Semua tak akan ada artinya jika hendak ingin dipandang sebagai orang modern. Malah-malah akan banyak orang memandang aneh dan kompak mengatakan saltum, salah kostum.

Di Brayut semua kemewahan kebutuhan non-primer itu sebaiknya digantikan oleh kostum rumahan seperti kaos, celana tiga per empat, celana tentara atau jeans belel, sandal tahan air sambil menyiapkan jas hujan tanpa perhiasan mencolok dan semprotan parfum wangi karena toh aroma wangi akan terhapus oleh hujan dan pertunjukan musik jazz hari itu akan benar-benar menjadi sebuah pesta rakyat. Jazz yang dari rakyat akan kembali dinikmati rakyat.

Itulah yang dimaksud Trie Utami alias Iie yang mengatakan “Siapa bilang jazz itu wangi?”. Yang akan ada di Brayut adalah aroma alami alam desa beserta aroma alami manusia sebenarnya serta ribuan atau puluhan ribu rakyat menikmati jazz, musik rakyat. Tapi btw, kenape Iie gak perform di Ngayogjazz tahun ini?

Tanpa Iie, Ngayogjazz tidak wangi!/ Tj Singo

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found