Didik Nini Thowok Bedhaya Hagoromo | Foto-foto yoseR

Didik Nini Thowok

Suguhan Tarian Untuk Perayaan Hari Kelahiran

Di masa lalu, usia kehidupan masyarakat di kawasan Asia Timur selalu berada di bawah 60 tahun. Karena itu ketika seseorang “berhasil” melewati “kutukan” tersebut, maka akan ada sebuah perayaan untuk memohon panjang usia serta kehidupan yang lebih baik.

Perayaan 60 tahun ini di Jepang disebut dengan Kanreki, sementara di Korea disebut dengan Hwangab dan Jiazi untuk di Cina. Angka 60 bermakna telah menyelesaikan satu lingkaran hidup dengan sempurna dan awal kehidupan baru dalam kehidupan seseorang. Singkatnya : kelahiran kembali.

Di tahun 2014 ini, usia 60 tahun baru saja dijalani oleh Didik Hadiprayitno atau lebih dikenal dengan nama panggungnya Didik Nini Thowok (DNT). Usia tersebut “resmi” dijalani sejak November silam. Sebuah perayaan yang telah dirancang sejak berbulan-bulan kemudian digelar. Tidak hanya sehari tapi tiga hari berturut-turut digelar.

Acara bertajuk Reborn – International Dance Performances & Seminar digelar sejak Kamis – Jumat (04 – 06/12). Menghadirkan tak hanya seniman-seniman dari Indonesia, namun hadir pula dari luar negeri, seperti Jepang, Korea, mau pun Kanada. Semuanya memberikan suguhan tarian terbaik yang mereka miliki sebagai hadiah untuk DNT.

Hari pertama Reborn diselenggarakan di Pendopo SMKI Bugisan Yogyakarta yang dimulai pada pukul 19.30. Setelah dibuka secara resmi oleh Gusti Kanjeng Ratu Pembayun maka hadirin diberikan tontonan berupa pertunjukan wayang orang bertajuk ‘Lahire Panji, Sekartaji dan Nini Thowok’ oleh Wayang Topeng Malang.

Selanjutnya, penonton tertawa terbahak-bahak melihat Ludruk Lerok Anyar yang mengetengahkan cerita bertajuk ‘Rabine Sawunggaling’. DNT sempat pula muncul dalam adegan yang tidak begitu besar porsinya. “Tenaganya saya simpan dulu buat besok,” katanya.

Untuk hari selanjutnya dilaksanakan lebih awal di pagi hari. Sambil menikmati kacang dan pisang rebus ditemani kopi atau teh hangat di tepian kolam menyaksikan Wayang Kulit Uwong dari Komunitas Lima Gunung Magelang. Selanjutnya mengikuti seminar yang membahas tentang silang gender atau cross gender dalam seni.

02 Sun Ock Lee Yose RSun Ock Lee | Foto-foto yoseR

Untuk membahas tentang cross gender dalam seni, khususnya tari, dihadirkan pembicara-pembicara yang mengupas hal tersebut dari berbagai sudut kebudayaan dan negara. Ahmad Tohari serta F.X Widaryanto mengupas dari sudut pandang budaya Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sedangkan Dr. Halilintar Latief mengupas dari latar belakang kebudayaan Makassar dan Endo Suanda dari Jawa Barat. Dari sudut pandang kebudayaan di luar Indonesia dikupas oleh Madoka Fukuoka (Jepang), Dr. Chua Soo Pong (Cina), serta Shanta Serbjeet Sigh (India).

Malam harinya acara digelar di Balai Kepatihan menghadirkan beberapa tarian yang lebih banyak dibawakan secara cross gender. Maksudnya adalah laki-laki menarikan tarian yang biasanya dibawakan oleh perempuan dan sebaliknya. Hanya Sun Ock Lee dari Korea yang menarikan tari sesuai dengan “takdirnya” sebagai perempuan.

Hadirlah di atas panggung silih berganti Tari Golek Lambang Sari (Yogya), Lengger Lanang (Banyumas), Beskalan Putri Malangan, ‘Double Sword Dance’ oleh William Lau (Kanada), ‘Kazuraki’ oleh Akira Matsui (Jepang), Wedantam Venkata (India), Ronggeng Gengges Jaipongan (Jawa Barat), Gandrung Marsam (Banyuwangi), Legong Bapang Saba (Bali) dan diakhiri tarian singkat ‘Ardhanareesvara’ oleh DNT.

Penonton tak segan memberikan tepuk tangan dan sambutan meriah kepada para penampil tersebut. Mereka bahkan bersorak melihat para penari yang lincah dan gemulai. Seakan lupa bahwa kelincahan dan kegemulaian itu disuguhkan oleh penari laki-laki.

03 Soka Gakkai Yose RSoka Gakkai | Foto-foto yoseR

Pentas hari terakhir pada Sabtu (06/12) malam menjadi istimewa karena dihadiri oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Dibuka oleh merdunya petikan alat musik dari Jepang, koto, oleh grup Music Koto Club Soka Gakkai Indonesia. Dengan mengenakan kimono mereka tampil apik.

Bersama maestro koto, Sae Ogasawara, mereka sempat pula membawakan satu lagu Indonesia yang sangat terkenal di Jepang. Lagu tersebut adalah ‘Bengawan Solo’ yang tak lain adalah karya almarhum Gesang.

Berturut-turut kemudian hadirlah tarian oleh Garret Kam dan Ai Hasuda. Nama pertama adalah pria yang lahir di Hawai namun sudah lama menetap di Indonesia. Dia menyuguhkan tarian yang disebutnya sebagai Oki-Jawa. Perpaduan antara tari Okinawa dari Jepang Selatan dengan tarian Jawa. Sementara Ai Hasuda mempersembahkan tarian ‘Oimatsu’ sebagai hadiah untuk DNT.

Puncak pentas Reborn hari terakhir adalah dengan hadirnya sembilan penari, termasuk DNT, membawakan Bedhaya Hagoromo. Sebuah tarian yang memadukan dua unsur kebudayaan, Jawa dan Jepang. Tari Jawa dipadukan dengan Noh Drama.

Tari Bedhaya Hagoromo ini dipersembahkan khusus oleh DNT untuk Sri Sultan Hamengku Buwono X. Hal tersebut dilakukan sebagai ungkapan terima kasih karena selama 40 tahun berkarya di Yogyakarta.

“Kolaborasi tari ini adalah bentuk akulturatif seni tari pertama yang terinspirasi seni tari klasik Jepang yang menandai pengabdian total tanpa henti pada olah tari. Seakan wujud kelahiran kembali penciptanya,” ujar Sri Sultan Hamengku Buwono X. “Ia telah berhasil, bukan hanya mengangkat koreografi tarinya yang menciptakan harmoni budaya Jepang – Yogya, tetapi juga dibangunnya suasana yang mengajak kita semua untuk sampai pada pemahaman yang sama atas karya kreatifnya itu.”

Selamat ulang tahun, Didik Nini Thowok. Semoga di usia yang tak lagi terbilang muda ini tak menjadi penghalang untuk terus berkarya. /yoseR

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found