Exclusive Interview
NewsMusik

NewsMusik

Sunday, 05 March 2017 11:34

Lorde

Single Baru dan Perubahan Tampilan

 

Cukup lama, hampir empat tahun perjalanan waktu, akhirnya Ella Marija Lani Yelich-O'Connor atau lebih pop disapa Lorde bisa kembali merilis single terbarunya yang diberi tajuk ‘Green Light’. Ini merupakan single pertama dari album barunya "Melodrama", menyusul albumnya pada tahun 2013 lalu "Pure Heroine".

Sebelumnya, Lorde sengaja memberikan serangkaian sinyal kepada penggemarnya bahwa dirinya akan melepas sebuah karya terbaru. Pelepasan single ini juga dibarengi dengan diluncurkannya video klip lagu tersebut.

Jangan berharap melihat Lorde yang dikenal selama ini, karena lewat klip-nya ini, Lorde tampil beda. Perubahan terjadi dari musiknya yang lebih nge-dance dan lakon dirinya yang menari di pinggir jalan, kap mobil, dan sebuah klab.

Namun tetap jangan salah..., karena menurut pengakuan gadis yang lahir pada 7 November 1996 ini, bahwa sebenarnya lagu ini merupakan lagu patah hati. Meskipun lagunya sendiri di hantar lewat irama upbeat yang seolah mengajak menari dan bergembira. Lantunan lirik dalam lagu itu menjadi bentuk luapan emosinya.

 

02 Lorde IstimewaFoto: Istimewa

 

"(Lagu) ini sangat berbeda, seperti di luar dugaan. Ini sangatlah lengkap, lucu, sedih dan menggembirakan dan akan membuatmu menari," tulisnya di akun IG nya. "Ini bukan sesuatu yang biasanya saya tuliskan. Butuh beberapa waktu untuk dapat menuangkan ide dalam menulis lagu tentang patah hati. Itu merupakan patah hati terbesar yang pernah saya alami," lanjutnya.

Dia pun menambahkan bahwa lagu itu menjadi momen ketika perubahan terjadi dalam hidup seseorang yang kemudian dapat membuatnya melakukan semua hal-hal konyol. Begitu juga dengan penampilannya, lewat single yang diproduseri oleh  Jack Antonoff ini, dirinya tak lagi terlihat gothic tapi sedikit lebih berwarna. Menghadirkan wajah cantiknya yang natural, dan tampil lebih feminin.

Lebih jauh lagi, album "Melodrama" sendiri nantinya hendak dirilis pada tanggal 15 Juni mendatang. Ia juga sudah mempersiapkan diri untuk menghabiskan musim semi dan musim panasnya untuk gencar mempromosikan album barunya. / Ibonk

Monday, 06 March 2017 09:32

Chick Corea Elektric Band

Magnet Utama JJF 2017

Tak bisa dipungkiri lagi, bahwa magnet utama pagelaran musik terbesar Java Jazz Festival (JJF) 2017 ini adalah kehadiran Chick Corea dengan Chick Corea Elektric Band memang telah ditunggu-tunggu sejak lama. Bisa dilihat dari antusiasme pencinta musik jazz yang hadir ingin menyaksikan penampilan mereka dihari ketiga JJF Minggu (5/3/2017). Tetap saja membludak dan malah ada yang memang sengaja menyaksikan sampai dua kali.

Sebelum panggung dibuka, sama seperti sehari sebelumnya penonton telah tampak mengular. Mereka tak sabar untuk menonton suguhan improvised jazz and fusion dari Chick Corea dan bandnya.

Begitu gate dibuka, kursi penonton yang adapun langsung penuh nyaris tak tersisa. Untuk yang tidak mendapatkan kursi, sudah dipastikan harus rela berdiri di belakang dan disamping panggung.

Animo pada Chick Corea memang telah ditunggu sejak lama, keinginan menghadirkan pianis jenius dari Amerika ini sudah tercetus dan menjadi wishlist sejak pertama kali JJF diadakan. Karena memang dirinya adalah fenomenal dan menjadi panutan para musisi jazz modern.

Tetap menghadirkan komposisi musik dan musisi yang sama seperti malam sebelumnya, Chick Corea Elektric Band tampil bersama dengan Dave Weckl, Nathan East, Eric Marienthal, dan Frank Gambale.

02 Chick Corea Elektric Band IbonkChick Corea Elektric Band (foto: Ibonk)

"We are gonna making some noise...", sapa musisi yang saat ini berusia 75 tahun ini kepada penonton yang disambut dengan riuh. Dilanjutkan dengan kehadiran ‘Trance Dance’ yang menjadi nomor pembuka yang cukup apik.,

Berikutnya panggung terus digeber dengan komposisi apik lainnya seperti ‘CTA’, ‘Jocelyn-The Commander’ dan beberapa lainnya. Sajian fusion apik lewat permainan piano Corea berpadu dengan hentakan drum Dave Weckl, lengkingan saxophone Eric Marienthal, gitar elektrik Frank Gambale, dan bas Nathan East tersaji dengan harmonis.

Begitulah, keyboardist dan komposer yang memiliki nama lahir Armando Anthony Corea ini dalam karirnya  sudah cukup sering menjadi penggerak dari beberapa group musik. Tak bisa juga dipungkiri, betapa dirinya menjadi salah seorang yang turut berperan besar lahirnya gerakan electric jazz fusion ditahun 1960-an

Balik lagi ke panggung JJF 2017, selanjutnya dihadirkan ‘Beneath the Mask’ dan ‘Silver Temple’. Penonton terus saja memberikan applause sebagai bentuk kepuasan dan apresiasi yang tidak berhenti disetiap  mereka menyelesaikan permainan.

03 Chick Corea & Eric Marienthal IbonkChick Corea & Eric Marienthal (foto: Ibonk)

Sepanjang perjalan karirnya, Chick Corea telah mengumpulkan 63 nominasi Grammy dengan 22 penghargaan. Eksplorasinya akan genre yang bervariasi menjadikannya memiliki basis refernsi yang cukup luas. Stamina dan aksi panggungnya yang cukup prima menjadikannya masih sangat produktif. Tak ada perbedaan berarti saat ia memainkan piano akustik ataupun elektrik, baik solo ataupun bersama band, segalanya terlihat sempurna.

Di akhir penampilan mereka, Chick Corea dan kawan-kawan menghadirkan komposisi penutup lewat ‘Got a Match?’ yang langsung direspon oleh penonton sambil berdiri dan larut mengikuti lagu bertempo cepat tersebut. / Ibonk

Monday, 06 March 2017 09:25

Bebel Gilberto

Bossa Nova Cinta Nan Mendayu

Sebuah senyum manis dan sapa ramah kepada penggemarnya menjadi sebuah obat tersendiri di malam ketiga ajang jazz terbesar saat ini Java Jazz Festival 2017.  Bayangkan saja, pertunjukkan yang seharusnya dimulai pada pukul 21.45 harus mundur sampai pukul 23.00 WIB. Cukup lama juga mereka sabar berdiri menantikan kehadiran diva Bossa Nova yang memiliki suara yang cukup menghipnotis ini.

Bebel Gilberto, hadir dengan pakaian bermotif bunga-bunga merah yang ceria langsung saja membuka penampilannya dengan ‘August Day’. Jam terbang yang cukup tinggi tampak sekali dengan bagaimana ia menguasai panggung sepanjang penampilannya. Walau hanya diiringi akustik yang minim, nominator beberapa kali dalam ajang Grammy Awards ini terlihat begitu memikat dengan pilihan lagu-lagu dan gerak tarinya.

Anak dari pionir bossa nova, Joao Gilberto dan Miucha ini menghadirkan lagu lainnya yang berjudul ‘Momento’ dan melibatkan penonton untuk bernyanyi bersamanya pada lagu ‘Aganju’. Lepas itu, dengan sedikit kocak ia pun menyanyikan intro ‘Agua de Beber’ yang cukup fenomenal... ‘Haaa, kalian mau mendengarkan ini? Tidak akan..”, ujarnya, Ia malah menghadirkan lagu yang cukup dikenal yang juga mengangkat namanya ‘So Nice’ dengan nada yang begitu indah..

Begitulah.. lagu demi lagu lewat sajian boosa nova bersyair latin terus mengalun. Ia yang sejak tahun 1960-an sudah menjadi salah satu musisi Brazil yang paling laris di Amerika ini, mengakui mengalami masa kecil yang disebutnya “music non stop”. Dikelilingi oleh keluarga besar termasuk pamannya yang juga komposer Chico Buarque, lalu Milton Nascimento, Tim Jobim, Caetano Veloso dan Joao Donato.

02 Bebel Gilberto IbonkBebel Gilberto (foto: Ibonk)

Warna musiknya sendiri mendapat pengaruh yang cukup luas dari semua genre musik termasuk semua jenis musik Brazil. Pasca dirinya pindah ke New York pada tahun 1991, ia lebih memperdalam musik electronic yang dikawinkannya dengan musik Brazil. Nah.. sampai saat ini, Bebel Gilberto seolah cukup melekat dengan jenis musik tersebut.

Berturut-turut kembali ia melantunkan lagu-lagu lainnya dengan berbagai macam tempo lagu seperti ‘Saudade’, ‘Baby’, ‘Bring Back The Love’, ‘Sem Contencao’, dan ‘Cada Beijo’.

Penampilannya diakhiri dengan menghadirkan lagu ‘Samba Da Bencao’. Begitulah... semuapun puas akhirnya dengan apa yang dihadirkannya  lewat permainan bossa nova infused melody.. lagu dengan lirik cinta dan pertunjukkan panggung yang mendayu../ Ibonk

Sunday, 05 March 2017 09:13

Nik West

Silver Mohawk, Bass dan Aksi Panggung

Masih muda usia, namun karirnya di panggung musik terbilang cukup sukses. Malah profilnya telah dimuat di majalah Bass Musician Magz, Bass Player, Bass Quaterly Germany ataupun Bazz Magz Japan. Siapa lagi kalau bukan Nik West yang disebut-sebut juga sebagai The Female Lenny Kravitz.

Tahun ini meriupakan tahun pertamanya menjejakkan kaki di panggung Java Jazz Festival, namun kabar kedangannya sudah cukup membuat penasaran para penonton yang hadir. Nik hadir selama 2 malam berturut-turut dan malam kedua kemarin 4/3/17 adalah aksi terakhirnya. Apa yang ditampilkannya memang benar-benar sebuah aksi panggung yang cukup enerjik.

Malam sebelumnya, NewsMusik hanya sempat menyaksikannya diujung penampilannya saat membawakan salah satu komposisi lawas milik Prince yang berjudul ‘Kiss’. Nah karena hal tersebut, rasa penasaran membawa keinginan untuk melihatnya lebih jauh di panggung D1 di hari kedua.

Benar saja, mendekati pukul 20.31 WIB, gemuruh drum solo, gitar elektrik, organ menjadi pembuka penampilan Nik West di kali kedua penampilannya. Silver Mohawk Lady ini membawakan lagu pembuka berjudul 'Bass Groove'.  Ditingkahi oleh dua orang wanita bernyanyi sambil mengiringi permainannya. Tampil dengan body suit biru metalik, dengan rok dan sepatu warna silver langsung menunjukkan kebolehannya di atas panggung.

02 Nik West IbonkNik West (foto: Ibonk)

Panggung makin warna warni dengan wardrobe para anggota bandnya yang juga mengenakan pakaian dengan warna mencolok. Tak meninggalkan aksi panggungnya, Nik tidak pernah diam di satu posisi. Ia terus berjalan hilir mudik menguasai semua sudut panggung. Beberapa lagu lainnya yang ditampilkannya seperti 'Say Somethin', ‘My Relationship’, ‘Bottom Of the Bottle’, ‘Forbidden Fruit’ ataupun 'People Pleaser'. Malah dilagu 'People Pleaser', ia memetik bassnya hingga duduk di lantai.

Sempat silam sejenak takkala sang vokalis membawakan lagu milik sang Sister Morphins Janis Joplins 'Piece of My Heart'. Selepasnya iapun kembali menghentak panggung dengan caranya sendiri. Sebagai entertainer dalam musik ia sanggup menghadirkan kepuasan maksimal.

Nik West sendiri merupakan pemain bass dan penyanyi berbakat yang sudah melanglang buana mengiringi penampilan Dave Stewart, Prince, John Mayer dan lainnya. Ia juga tumbuh dari keluarga dan lingkungan musik. Belajar musik diusia 13 tahun, dan kemudian membuat band keluarga bersama saudara-saudaranya. Semakin dirinya dewasa, ia makin tertarik dengan musik jazz, dan melakukan improvisasi serta bereksperimen dengan musik ini.

03 Nik West IbonkNik West (foto: Ibonk)

Permainannya sendiri sangat dipengaruhi oleh Larry Graham, Louis Johnson dan Marcus Miller yang kental sekali dengan nuansa funk. Cara bernyanyi juga sangat ekspresif, tak kalah dengan permainan bassnya. Sayang di 2 hari penampilannya ini, Nik West lebih banyak beraksi dengan bass nya saja.

Diujung penampilannya Nik memainkan lagu lawas milik Chaka Khan ‘Ain’t No body’ sambil tak lupa menyajikan aksi lainnya diatas panggung. Thanks for the performance Nik.. we love you!!/ Ibonk

 

Saturday, 04 March 2017 23:42

Air Supply

Memanjakan Pengemar Indonesia

 

Terbayarlah sudah hutang band legendaris asal Australia, Air Supply, yang akhirnya bisa memanjakan dan menghibur para pengemarnya di Indonesia. Lewat konser yang bertajuk “40th Anniversary-Celebration of Love”, di The Kasablanka, Kota Kasablanka Jakarta Selatan, Jumat (3/3/2017). Acara tersebut berlangsung sukses dan sesuai dengan ekspektasi dari pihak penyelenggara, bahwa masih cukup banyak yang merindukan duo gaek ini.

Russel Hitchook dan Graham Russel membuka konser dengan lagu ‘Sweet Dream’. Teriakan dan sorak penonton sepontan terdengar yang hadir di The Kasablanka pun bergemuruh. Setelahnya, duo tersebut  langsung melanjutkan dengan tembang lagu lainnya. “Apakah kalian sudah merasa romatis malam ini?” tutur Graham disambut tepuk tangan penonton.

Suasanapun menjadi terasa syahdu dan romantis saat duo tersebut membawakan lagu ‘Just As I Am’, ‘Every Woman’, ‘Here I Am’, ‘Chances’, dan sebuah tembang yang sangat ditunggu-tunggu para pengemar Air Supply berjudul ‘Goodbye’. Setiap tembang yang dibawakan duo yang terkenal di era tahun 80-an itu tak henti-hentinya penonton ikut bernyanyi bersama. Mereka tetap memberikan kejutan pada pengemarnya yang sabar menantikan konser yang sempat tertunda ini, yang seharusnya berlangsung 3 Desember 2016.

02 Air Supply RizalGraham Russel (Foto: Rizal)

 

Satu satu lagu romantis lainnya yang menjadi andalan dan hit mereka terlantunkan. Banyak lagu seperti ‘The One That You Love’, ‘Two Less Lonely’, ‘Lost in Love’, ‘Making Love’, ‘Without’, ataupun ‘Shake It’, dihadirkan sampai akhir konser.

Patut diakui bahwa penampilan yang disajikan oleh Russel Hitchcock (67) dan Graham Russel (66) mampu menyihir ribuan penonton yang hadir malam itu. Riuhnya kehadiran penonton juga direspon dengan antusias oleh 2 Russel tersebut. “Terima kasih banyak, tempat ini sangat berkesan setelah 40 tahun,” katanya.

Dengan sebuah lagu penutup ‘All Out of Love’, keduanya mengakhiri konser kelimanya di Kota Kasablanka. “Kami adalah milik kalian! sebelum kami pergi, kami punya sesuatu untuk dinyanyikan”, kata Graham Russel sebelum menyanyikan lagu terakhir pada konser mereka malam itu.

“Terima kasih Jakarta! God Bless You....”, ungkap keduanya mengakhiri penampilannya./ Rizal

 

 

Saturday, 04 March 2017 18:38

Arturo Sandoval

Magnet JJF di hari Pertama
 
Java Jazz Festival (JJF) 2017 hari pertama resmi digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (3/3). Ribuan pecinta jazz sudah berdatangan dari sore hingga senja ini. Malah beberapa musisi terlihat sudah menuntaskan penampilannya pada sore harinya. Nama-nama yang menarik perhatian di awal JJF 2017 Randy Pandugo, Mezzoforte, Beady Belle Band, Jazz Orchestra of the Concertgebouw feat. Dira Sugandi, Fareed Haque, Tulus, The Daunas feat. Paulinho, dan lainnya seakan-akan menjadi magnet tersendiri untuk diburu.
Beranjak ke malam hari, pengunjung Java Jazz Festival 2017 bakal dihibur oleh sederet musisi unggulan lainnya. Seperti, Danilla, Emma Larsson, King, Ron King Big Band, Andien, Harvey Mason, DW3, Abdul and the Coffee Theory, Polly Gibson, The Groove, Nik West, Kirk Whalum, dan lainnya.
Yang menjadi incaran utama malam ini adalah musisi asal Kuba, Arturo Sandoval. Ia mendapat jatah manggung di Tebs Stage Hall D1. Musisi yang tahun ini memasuki usia 68 tahun tampil agak mundur dari waktu yang telah dijadwalkan. Seperti tidak ingin mengecewakan para penontonnya, ia pun tampil dengan total.
"Sangat menyenangkan berada di sini," ungkap Sandoval. "Saya takjub, fasilitas disini sangat mengesankan", pujinya dari atas panggung ketika memberikan kesannya terhadap festival ini.
 
02 Arturo Sandoval Ibonk
Arturo Sandoval (Foto: Ibonk)
Beragam sajian latin jazz dalam berbagai tempo dimainkannya bersama bandnya. Walaupun sudah melampaui masa tenarnya, Sandoval juga masih memiliki vokal yang masih cukup prima. Seperti lagu 'Bossa Nova' dengan lirik bahasa Latin dinyanyikannya dengan apik. Kemampuannya dalam meniup trompet juga patut diberi banyak jempol. "Come on, ladies. Goyangkan pinggulmu," kata Sandoval sambil tersenyum lebar, membuat penonton tertawa.
Selanjutnya lagu 'Smile' milik Nat King Cole pun dibawakan. Tidak dinyanyikan, tapi dari alunan terompet yang ia tiup. Lagi sebuah lagu upbeat berjudul 'Shake Your Booty Baby' menjadi sarana menunjukkan aksinya. Dengan menggunakan terompetnya sambil sesekali bernyanyi ia pun sedikit menari dan itu makin membuat penonton terhibur
Setelahnya, Arturo Sandoval menunjukkan respect-nya terhadap sang mentor Dizzy Gillespie lewat single ‘Everyday I Think of You’. Panggung langsung disergap oleh rasa haru, ketika Ia menyanyi dengan sepenuh hati. 
Diakhir pertunjukannya, Sandoval mempersilakan pemain perkusinya untuk tampil solo dengan menggunakan marakas dan drum. Piawai menunjukkan berbagai teknik, Sandoval mengapresiasi permainan musisinya tersebut dengan tepuk tangan dan sorakkan penonton./ Ibonk
Sunday, 05 March 2017 18:16

Tommy Page

Kematiannya Masih Teka Teki

Penyanyi Tommy Page yang sudah beberapa kali datang ke Jakarta pada pertengahan 2016  lalu menggelar konser yang bertajuk "In The Mood of Love with Tommy Page" ini di kabarkan meninggal dunia.  Belum diketahui apa penyebab pasti penyanyi berparas baby face ini menghembuskan nafas terakhirnya, dugaan sementara yang dikutip dari Billboard.com, Tommy meninggal kaarena bunuh diri.

Penyanyi yang memiliki nama asli Thomas Alden Page  ini meninggal disaat usianya masih relatif muda,  penyanyi kelahiran New Jersey, USA ini meninggal dunia pada saat usia 46 tahun. Page yang memulai karirnya sejak usia belia. Bakatnya dalam bidang musik mulai terlihat sejak memulai bermain piano pada usia delapan tahun dan belajar keyboard pada usinya  12 tahun. Sejak saat itu Page mulai bermain musik  dan bergabung dengan saudaranya dalam sebuah grup musik.

Lulus dari Sekolah Menengah Atas, Page yang beranjak remaja mencoba peruntungannya di kota New York dan bekerja pada sebuah klub yang bernama Nell’s.  Dari sana Page berkenalan dengan produser Mark Kamins dan pemilik Sire Records, Seymour Stein. Bertemu dengan kedua orang tersebut menjadi kunci dari perjalanan karir Page di dunia musik. Sambil bekerja Page mengirimkan demo lagunya kepada Seymor Stein dan akhirnya berhasil.

Salah satu singlenya yang berjudul ‘I’ll Be Your Everything’ sukses menduduki puncak tanggal lagu Billboard di era tahun 1990. Sejak saat itu nama Tommy Page mulai dikenal oleh pecinta musik pop dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Lagu itu sendiri ditulis oleh Page dan pemberian dua personel New Kids On The Block (NKOTB), Jordan Knight dan Danny Wood. Page pun diminta sebagai artis pembuka untuk konser “Step By Step” mereka. Lagu yang dibawakan Page sebagai vokalis utama diharmonisasikan dengan Donnie Wahlberg, Jordan Knight dan Danny Wood. Lagu tersebut muncul dalam album keduanya “Painting in My Mind”.

02 Tommy Page IstimewaTommy Page (Istimewa)

Sejak saat itu Page kerap muncul di beberapa majalah remaja, namun hal tersebut tidak serta merta membuat penjualan album Page laris manis di pasaran. Di tahun 1991 Page merilis albumnya yang ke tiga From the Heart. Karena penjualan album yang biasa saja, Page sempat mendapatkan julukan ‘One Hits Wonder’ oleh salah satu label musik di Amerika.

Di tahun 1992 Page muli dilirik label rekaman yang berada di Jepang, Page pun merilis albumnya yang bertajuk “Friend to Rely On” dan menjadi hits terbesar untuk Warner Jepang kala itu. Di tahun 1994-1996 ia juga merilis dua album, yaitu “Time” dan “Loving You”.

Single-nya ‘Missing You’ berhasil meraih peringkat satu di Asia. Namun akibat krisis ekonomi di Jepang kala itu, pada akhir 1990-an, label rekamanpun ditutup. Dengan nasib yang tak pasti sebelum fokus menjadi produser dan bergabung dengan Warner Bros/ Reprise Records Page yang membantu karir Michael Buble, Alanis Morissette, Josh Groban, dan Green Day sempat merilis album “Ten Til Midnight” di tahun 2000.

Sejak karirnya di dunia musik Page sempat melahirkan beberapa album, meskipun hanya satu lagunya yang menjadi hits di negara asalnya, namun beberapa lagu Page meledak di Asia dan beberapa kali datang ke Indonesia untuk konser dan selalu sukses dipadati penggemar. Kecintaanya terhadap fansnya yang berasal dari Indonesia, penyanyi berwajah imut ini bahkan sempat menggarap singlenya dengan penyanyi Tanah Air, Citra Scholastika yang berjudul  "Don't Give Up on Love".

Selamat jalan Tom./ YDhew

 

Sunday, 05 March 2017 15:09

Hari Kedua JJF 2017

Pesta Musik Banyak Genre

 

Tidak seperti hari sebelumnya, JJF 2017 yang memasuki hari kedua ini dipadati dengan ribuan penonton. Hampir di setiap stage dipadati penonton, dan untungnya lagi di hari ini cuaca lebih bersahabat sehingga stage yang berada di outdoor pun tak kalah ramainya. Simak Dialog menjadi band pembuka di hari kedua ini. Seperti kita ketahui, band ini baru saja ditinggalkan oleh Riza Arshad, salah satu musisi jazz terbaik yang dimiliki Indonesia. Pertunjukan ini cukup emosional karena para anggota Simak Dialog tetap memutuskan untuk memakai nama Simak Dialog sebagai tribute kepada almarhum.

Beberapa musisi Indonesia sukses membuat panggung Java Jazz Festifal 2017 kali ini menggema bukan hanya dari musisi asing tetapi musisi lokalpun terlihat dipadati pengunjung. Seperti penampilan dari beberapa musisi yang tergabung dalam Yamaha Music Project, Glenn Fredly, Yura Yunita, Tulus, Armand Maulana, dan Saykoji. Hadir dalam satu panggung yang di padati oleh penonton aksi mereka yang ditutup  dengan bernyanyi bersama-sama membuat histeris.

Afgan yang menjadi salah satu artis pengisi hari kedua juga tak kalah menyedot penonton, bertempat di BNI Stage, Afgan memulai aksinya dengan lagu ‘Katakan’. Penonton yang mayoritas ABG ini sontak membuat histeris. Penampilannya  yang perlente dengan memakai busana serba putih sukses membuat panggung atraktif dengan aksinya mengajak penonton berdialog sampai berjalan “mondar mandir” dibibir panggungpun dilakukan Afgan dengan energik.

 

02 Afghan YDhewAfgan (Foto; YDhew)

 

Walaupun lagu-lagunya yang ditampilkan seperti ‘Dia-Dia’, ‘Kunci Hati’ serta salah satu lagu barunya ‘Can’t On Me’ dan lagu milik George Michael ‘I Can’t Make You Love Me’ bukan bergenre jazz namun penampilan Afgan kali ini sukses membuat penonton berbondong-bondong menuju stage B3.

Penampilan memukau dari musisi asal Brasil, Sergio Mendes juga tak kalah menariknya dan berhasil menyedot pengunjung. Dengan mengusung musik jazz funk Sergio memulai aksinya dengan menyanyikan lagu ‘Maghdalenna’. Diiringi irama musik khas latin, penampilan artis yang bernama lengkap Sergio Santos Mendes ini berhasil membuat penonton menari.

Di hari kedua ini walaupun sempat diguyur hujan, namun tidak menyurutkan penonton untuk pindah dari panggung ke panggung lain dan juga booth-booth sponsor yang ada di outdoor area JIExpo Kemayoran Jakarta. Penonton yang datang pun beragam, tidak hanya menarik minat penonton dalam negeri saja,  hadir juga beberapa penonton yang berasal dari manca negara.

Festival Jazz kali ini lebih berwarna, bukan hanya menampilkan musisi yang memang beraliran jazz tetapi panggung diisi juga dengan musisi bergenre berbeda. Sebut saja Iwa K, NEO dan Sweet Martabak, Gugun Blues Shelter dan Naughty by Nature./ YDhew

 

03 Naighty By Nature IbonkNaighty By Nature (Foto: Ibonk)

Friday, 03 March 2017 23:40

Zap Mama

Panaskan JJF 2017 Hari Pertama

 

Satu lagi yang cukup ditunggu penampilannya adalah Zap Mama di Hall B3/ C3 di ajang Java Jazz Festival (JJF) 2017 ini. Ini tahun keduanya Zap Mama yang dimotori oleh seniman Belgia, Marie Daulne tampil diajang jazz paling bergengsi pada saat ini tersebut.  Zap Mama sendiri melantunkan musik polifonik dan Afro-Pop yang harmonik dengan campuran teknik vokal Afrika, Urban, Hip-Hop dengan penekanan pada suara.

Penyanyi asal Belgia tersebut cukup mampu menggoyang panggung JJF dan memanjakan para penikmat musik yang hadir. "Selamat malam," serunya saat menyapa penonton dalam bahasa Indonesia. Sapaan hangat itu disambut sorak sorai dan tepuk tangan para penonton, setelah sempat menunggu sekitar lebih dari setengah jam dari waktu tampil yang telah dijadwalkan.

Selepas itu ia melantunkan ’Woodabee’, yang langsung saja disambut meriah oleh penonton yang hadir. Dilanjutkan ke lagu ‘Vibration’, penonton semakin menggila dan bersorak-sorak ketika lengking vokal Zap Mama menggema di area BNI Stage

.03 Zap Mama IbonkZap Mama (Foto: Ibonk)

 

Penyanyi yang memulai debutnya pada 1991 ini masih saja terus menghipnotis para penikmatnya lewat tampilan selanjutnya ‘Singings Sisters’. Begitulah, Zap Mama mampu mempengaruhi emosi lewat tampilan keren darinya yang sukses membawakan pengaruh musiknya tersebut mendunia.

Silih berganti karya ditampilkan mulai ‘1000 Ways’, ‘Africa Sunset’, ‘Nefertiti’, ataupun ‘Hello to Mama’ yang memiliki pengaruh dani terinspirasi dari musik Hip Hop, Nu-Soul, Jazz dan unsur-unsur pop lainnya. Tak hanya menyanyikan beberapa bait lagu bersama-sama, ia juga mengajak penonton untuk larut lewat goyang ala Afrika yang dipertontonkannya.

 

02 Zap Mama IbonkFoto: Ibonk

Seperti yang disebutkan Marie Daulne disela-sela penampilannya bahwa suara itu adalah instrumen itu sendiri. "Ini instrumen paling asli, instrumen utama. Instrumen yang paling soulful, adalah suara manusia. Menyanyikan lagu-lagu dalam bahasa Perancis dan Inggris dengan akar musik  african world music. Sangat seksi...,” ungkapnya.

Ia juga cukup piawai mengemas penampilannya seperti membawakan potongan lagu Al Jarreau ataupun memasukkan nafas rock lewat penggalan lagu ‘We Will Rock You’ nya Queen.

Itulah Marie Daulne, ataupun Zap Mama yang seperti yang disebutkannya dihadapan penonton merupakan anak dari seorang ayah Belgia dan ibu Kongo. Ia lahir di Timur Zaire. Beberapa hari setelah kelahirannya ayahnya dibunuh oleh pemberontak Simba, selama krisis Kongo. Tragis memang... Namun, ia tidak mau untuk terus menebarkan kesedihan tersebut, tapi sebuah kegembiraan lewat musiknya yang memikat hati./ Ibonk

Saturday, 04 March 2017 20:24

Kinga Glyk

Menjadi Penutup Malam yang Gaya
 
 
Hujan rintik masih terus mengguyur dibilangan PRJ Kemayoran dilokasi penyelenggaraan Java Jazz Festival 2017 hari pertama kemarin. Jarum jam juga sudah menunjukkan waktu lewat dari pukul 24.00 dini hari. Ketika terdengar lamat-lamat dari Hall C2 cabikan bass dinamis yang cukup menggelitik untuk disimak.  
 
Benar saja, dipanggung yang tak berapa besar tersebut, tampal Kinga Glyk yang masih berusia 19 tahun tengah beraksi bersama sang ayah Irek Glyk yang menemaninya lewat nama Kinga and Irek Glyk.
 
Meskipun usianya masih muda, jangan pernah anggap remeh perempuan satu ini. Bayangkan saja, di belia usia ia sudah bermain dengan banyak musisi berpengaruh dari Polondia seperti: Robinson Jnr, Bernard Maseli, Ruth Waldron, Natalia Niemen, Jorgos Skolias, Apostolis Anthimos, Leszek Winder, Paweł Tomaszewski, Grzegorz Kopolka, Joachim Mencel, Arek Skolik, Mateusz Otremba (Mate.o), Marek Dykta, dan Piotr Wyleżoł.
 
Maka tak heran jika gadis yang sudah memulai karirnya sejak berusia 12 tahun lewat trio keluarga bersama sang ayah Irek dan kakaknya Patrick, Kinga didapuk menjadi bassis muda terbaik Polandia mewakili generasi muda. Mendapat predikat lainnya juga sebagai rising star dari jazz dan musik blues di negara tersebut.
 
02 Kinga Irek Glyk Ibonk
Kinga Glyk ( Foto: Ibonk)
 
Kinga telah bermain lebih dari 100 konser di seluruh negeri dan luar negeri.  Karir studionya dikerjakannya pada bulan Maret 2015, ia merilis album debutnya “Registration” (‘Rejestracja’) yang direkam bersama beberapa nama seperti Natalia Niemen, Joachim Mencel, SMP Robinson dan Jorgos Skolias. Album ini mendapat review yang sangat bagus dari beberapa stasiun radio dan majalah musik Polandia.
 
Albumnya tersebut tidak hanya memainkan komposisi Kinga sendiri, tetapi juga memasukkan beberapa komposisi musisi terkenal dengan aransemen Kinga secara brilian seperti karya  Bob Dylan ‘Gotta Serve Somebody’ yang melantunkan suara Jorgos Skolias, ataupun track ‘Dolaniedola’ dari Czeslaw Niemen. 
 
Februari tahun lalu, Kinga melepas albumnya keduanya “Happy Birthday” yang menyertakan pula seniman terkenal berikut seperti Paweł Tomaszewski, Andrzej Gondek, Kuba Gwardecki dan Ireneusz Głyk. Album ini mendapat sambutan cukup baik oleh media dan para pendengar.
Begitulah, panggung kemarin malam sudah menunjukkan kemampuannya tersebut. NewsMusik  secara tak sengaja juga menemukan Indro Hadjodikoro dan sang istri tengah menikmati kepiawaian Kinga memainkan komposisinya diatas panggung. Atraktif dan sekaligus memikat, dengan banyak melibatkan penonton untuk ikut terlibat dalam penampilannya.
 
03 Kinga Glyk Ibonk
Kinga Glyk (Foto: Ibonk)
 
Begitulah... sekitar pukul 01.00 dinihari, Kinga menutup penampilannya dan di tolak oleh sebahagian besar penonton di Hall C malam itu. Mereka meminta ia untuk memainkan 1 komposisi lagi dan akhirnya setelah bersepakat dengan personil lainnya, Kingapun kembali kepanggung seorang diri dan sembari lesehan di bibir panggung, ia memainkan ‘Tears in Heaven’ milik Eric Clapton yang diikuti koor para penonton yang mengiringinya lewat vokal. / Ibonk
 
Page 10 of 112