Exclusive Interview
NewsMusik

NewsMusik

Saturday, 04 March 2017 20:24

Kinga Glyk

Menjadi Penutup Malam yang Gaya
 
 
Hujan rintik masih terus mengguyur dibilangan PRJ Kemayoran dilokasi penyelenggaraan Java Jazz Festival 2017 hari pertama kemarin. Jarum jam juga sudah menunjukkan waktu lewat dari pukul 24.00 dini hari. Ketika terdengar lamat-lamat dari Hall C2 cabikan bass dinamis yang cukup menggelitik untuk disimak.  
 
Benar saja, dipanggung yang tak berapa besar tersebut, tampal Kinga Glyk yang masih berusia 19 tahun tengah beraksi bersama sang ayah Irek Glyk yang menemaninya lewat nama Kinga and Irek Glyk.
 
Meskipun usianya masih muda, jangan pernah anggap remeh perempuan satu ini. Bayangkan saja, di belia usia ia sudah bermain dengan banyak musisi berpengaruh dari Polondia seperti: Robinson Jnr, Bernard Maseli, Ruth Waldron, Natalia Niemen, Jorgos Skolias, Apostolis Anthimos, Leszek Winder, Paweł Tomaszewski, Grzegorz Kopolka, Joachim Mencel, Arek Skolik, Mateusz Otremba (Mate.o), Marek Dykta, dan Piotr Wyleżoł.
 
Maka tak heran jika gadis yang sudah memulai karirnya sejak berusia 12 tahun lewat trio keluarga bersama sang ayah Irek dan kakaknya Patrick, Kinga didapuk menjadi bassis muda terbaik Polandia mewakili generasi muda. Mendapat predikat lainnya juga sebagai rising star dari jazz dan musik blues di negara tersebut.
 
02 Kinga Irek Glyk Ibonk
Kinga Glyk ( Foto: Ibonk)
 
Kinga telah bermain lebih dari 100 konser di seluruh negeri dan luar negeri.  Karir studionya dikerjakannya pada bulan Maret 2015, ia merilis album debutnya “Registration” (‘Rejestracja’) yang direkam bersama beberapa nama seperti Natalia Niemen, Joachim Mencel, SMP Robinson dan Jorgos Skolias. Album ini mendapat review yang sangat bagus dari beberapa stasiun radio dan majalah musik Polandia.
 
Albumnya tersebut tidak hanya memainkan komposisi Kinga sendiri, tetapi juga memasukkan beberapa komposisi musisi terkenal dengan aransemen Kinga secara brilian seperti karya  Bob Dylan ‘Gotta Serve Somebody’ yang melantunkan suara Jorgos Skolias, ataupun track ‘Dolaniedola’ dari Czeslaw Niemen. 
 
Februari tahun lalu, Kinga melepas albumnya keduanya “Happy Birthday” yang menyertakan pula seniman terkenal berikut seperti Paweł Tomaszewski, Andrzej Gondek, Kuba Gwardecki dan Ireneusz Głyk. Album ini mendapat sambutan cukup baik oleh media dan para pendengar.
Begitulah, panggung kemarin malam sudah menunjukkan kemampuannya tersebut. NewsMusik  secara tak sengaja juga menemukan Indro Hadjodikoro dan sang istri tengah menikmati kepiawaian Kinga memainkan komposisinya diatas panggung. Atraktif dan sekaligus memikat, dengan banyak melibatkan penonton untuk ikut terlibat dalam penampilannya.
 
03 Kinga Glyk Ibonk
Kinga Glyk (Foto: Ibonk)
 
Begitulah... sekitar pukul 01.00 dinihari, Kinga menutup penampilannya dan di tolak oleh sebahagian besar penonton di Hall C malam itu. Mereka meminta ia untuk memainkan 1 komposisi lagi dan akhirnya setelah bersepakat dengan personil lainnya, Kingapun kembali kepanggung seorang diri dan sembari lesehan di bibir panggung, ia memainkan ‘Tears in Heaven’ milik Eric Clapton yang diikuti koor para penonton yang mengiringinya lewat vokal. / Ibonk
 
Saturday, 04 March 2017 16:18

Java Jive

Persiapan Konser Bareng Dewa 19
 
 
Sudah 24 tahun band asal Bandung, Java Jive yang di gawangi oleh Capung, Noey, Tony, Edwin, Fatur dan Danny ini tetap konsisten dengan mempertahankan personilnya sampai sekarang. Ditemui di acara temu media “90’s Music Harmony-Konser Kangen Yang Terindah” di bilangan Jakarta Selatan (2/3. Dalam pernyataannya, Danny mengungkapkan kelanggengan personil didalam band tersebut lebih dikarenakan takdir. “Ini bagian dari garis hidup kami. Tidak mudah menyatukan masalah ego, ekonomi dan lain-lain dalam sebuah band,” ungkapnya. 
 
Ditambahkannya lagi bahwa, mereka bisa lewati perjalanan panjang selama ini dengan kesadaran dan saling memahami karakter masing-masing personil. “Semua sudah seperti keluarga sendiri”, tambah Danny.
 
Band yang dibentuk tahun 1989 ini oleh Edwin Saleh (drum) dan Noey (bas) yang berasal dari SMA yang sama. Mereka sepakat membentuk group band dengan nama Java Jive yang mengambil salah satu judul lagu kelompok vocal Manhattan Transfer. Kemudian masuklah nama lainnya seperti Micko (gitar), Tony (keyboard), Fatur (perkusi/vokal), Danny (vokal) dan Neta (vokal).  Namun kemudian Neta dan Micko yang posisinya digantikan oleh Capung,  hengkang dari group ini.
 
Band ini  awalnya merintis  sebagai  band café dan sampai saat ini sudah tercatat menelurkan delapan album dan tiga single. Mereka dikenal dengan beberapa lagu hits seperti ‘Gadis Malam’, ‘Permataku’, ‘Gerangan Cinta’, dan ‘Kau Yang Terindah’ namun sempat hilang selama sembilan tahun dari dunia musik tanah air. Alasan terkuat vakumnya mereka pada saat itu karena yang merupakan ‘nyawa’ dari band ini mengalami ketergantungan obat-obatan terlarang. 
 
Syukurnya pada tahun 2008 mereka dapat bangkit kembali dan  merilis album “Stay Gold” dengan single andalannya ‘Hilang’. Namun itu tidak mudah, untuk karena mau tak mau mereka harus merangkak dari awal kembali setelah 9 tahun tidak merilis satu karyapun. Band inipun dianggap sudah ‘mati’, namun ternyata mereka masih mendapat tempat di acara reunian.
 
 
02 Capung Danny Ibonk
Capung & Danny (Foto: Ibonk) 
 
Saat ini, keadaan sedikit berubah dikarenakan banyaknya pihak yang kangen mendengarkan musik di tahun 90an. Mau tak mau nama Java Jive pun mulai kembali terdengar. Banyak pihak yang mengatakan bahwa memang di tahun 90an adalah tahun dimana musik mengalami era terbaik. “Lagu-lagu 90an memang masih ada tempat dihati pendengar musik Indonesia. Buktinya masih  banyak lagu-lagu hits tahun 90an yang masih diputar di radio-radio. Terutama lagu Java Jive. Banyak mami – mami yang menularkan selera musik era mereka kepada anak-anaknya”, ujar Danny.
 
Ditempatkan sebagai salah satu band favorit dan sampai sekarang masih banyak yang menyukai musiknya, membuat mereka mempunyai keinginan untuk berkarya kembali. Ini semua sebagai rasa tanggung jawab mereka terhadap penggemarnya. “Paling tidak kita sudah mempersiapkan dua-tiga single yang nantinya akan di rilis. Kita masih mampu berkarya”, ungkap Danny.
 
Band yang dari awal tetap konsisten membawakan lagu dengan genre pop, jazz ini, walaupun sempat mempunyai keinginan untuk keluar dari zona nyaman mereka namun sampai sekarang tetap tidak akan merubah jenis musik atau aransemen apapun dari musiknya nanti. “Zaman bisa berubah, alat juga bisa berubah, tetapi itu tidak akan merubah kita sebagai salah satu icon musik di tahun 90an. Kita tidak akan merubah apapun, tidak akan menjadi dan melihat dari musik siapapun, karena Java Jive sudah menjadi bagian dari musik kita sendiri, sudah ada segmentasinya masing-masing. Kita sebagian dari band 90an yang masuk ke dalam komunitas band yang masih  ori” ujar Capung.
 
Dipertemukan sepanggung bersama dengan Dewa 19 tanggal 31 Maret 2017 mendatang di The Pallas-SCBD, Java Jive tetap akan menampilkan lagu-lagu terbaiknya dan dikenal nanti pada saat 90an dengan aransemen yang tidak akan dirubah. “Saat ini kami sedang mempersiapkan banyak hal untuk konser nanti. Baik latihan sampai mengkonsepkan live music arrangement, stage act, repertoire lagu, wardrobe serta tidak ketinggalan fisik” jelas Capung. 
 
03 PresConf 90s Music Harmony Ibonk
 PresConf 90's Music Harmony (Foto: Ibonk)
 
“Alhamdulillah sampai saat ini ditakdirkan masih bersama, masih jauh kalau dibandingkan dengan senior kita seperti God Bless yang memang sudah teruji baik dari musikalitas maupun aksi panggungnya. Itu cita-cita kita. Sangat sulit memang untuk kembali dengan membuat hits baru. Artis sekarang menelurkan hits paling banyak cuma tiga lagu, sedangkan kita punya minimum delapan.
 
Itu yang membuat beberapa orang menginginkan kita kembali untuk manggung. Banyak rekan band tahun 90an yang kembali naik lagi, dan sewaktu naik ke panggung mendengarkan beberapa hits memang menyenangkan dibanding dengan artis yang baru,” tutup Capung dan Danny./ YDhew
 
Thursday, 02 March 2017 13:44

Java Jazz Festival 2017

1000 Musisi dan 170 Penampilan

Jakarta International BNI Java Jazz Festival (JJF) ke 13 kalinya sudah final dan segera bergulir. Tetap diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 3,4 dan 5 Maret 2017. Sebanyak 1.000 musisi bakal tampil di festival musik jazz tahunan terbesar di Indonesia tersebut.

Direktur Utama Java Festival Production Dewi Gontha menyebutkan saat ini sebanyak 30% musisi internasional sudah hadir dan akan terus berdatangan. Selama tiga hari ada  1.000 musisi yang terdiri atas 300 musisi internasional dan 700 musisi dalam negeri yang bakal dirangkum lewat 170 penampilan di 14 panggung.

Dari sisi line up, penampilan yang paling ditunggu-tunggu siapa lagi kalau bukan Chick Corea yang pernah meraih Grammy dan Latin Grammy Awards. Corea akan hadir bersama The Chick Corea Elektric Band feat Dave Weck, Nathan East, Eric Marienthal, Frank Gambale, Arturo Sandoval, dan Ne-Yo. Juga tak kalah menarik menyaksikan lagi Sergio Mendes.

Dewi menambahkan, pada tahun ini ada Special Project dan juga Kolaborasi yang akan menghadirkan Tribute To Whitney Houston dan menampilkan Dira Sugandi, Lea Simanjuntak, Ramasean dan Soundwave.

Kolaborasi lainnya adalah, Paulinho Garcia feat. Rega Dauna, Barasuara feat. Ron King Horn Section Endah N’ Rhesa X DUADRUM, dan penyanyi jazz Margie Segers yang akan tampil dengan The Ron King Horn Section.

02 Pieter F. Gontha IbonkPieter F. Gontha (foto: Ibonk)

Diitemui selepas konferensi pers pada , penggagas Java Jazz Peter F. Gontha menyebut akan menampilkan tribute untuk legenda musik jazz yang baru saja berpulang, yakni Al Jarreau. Panggung yang diberi tajuk Tribute To Al Jarreau by MANNA feat. Michael Paulo & Jacky Bahasuan ini akan diadakan pada hari kedua festival ini. “Saya sedih dengan kepergian Al. Dia teman saya. Kami berkawan sejak tahun 1985,” ucap Peter.

Tahun ini  pihak Java Jazz juga mencoba melakukan terobosan baru dalam bentuk tayangan bagi penikmat jazz yang tidak sempat hadir di JJF 2017 ini. Seperti yang dijelaskan Dewi Gontha bahwa mereka telah menyiapkan dan menerapkan teknologi kamera 360 derajat. Nantinya pengunjung website Java Jazz akan dapat menyaksikan kemeriahan acara dari berbagai sudut. / Ibonk

 

Monday, 27 February 2017 09:22

Galih & Ratna

Tetap Berakhir Duka

Di era remaja tahun 80an siapa yang tak kenal Galih dan Ratna, dua sejoli yang menjadi tokoh utama dari novel berjudul “Gita Cinta Dari SMA”, dan dalam filmnya diperankan oleh Rano Karno dan Yessy Gusman. Pasangan ini sempat populer di era tersebut dan masih melekat sebagai ikon sampai sekarang. Film yang dirilis tahun 1979 ini menampilkan cerita tentang kehidupan remaja di SMA dan seluk beluk percintaan remaja.

Di tahun 2017 ini 360 Sinergy Production kembali mengangkat film tersebut ke layar lebar. Galih diperankan oleh Refal Hady dan Ratna diperankan oleh Sheryl Sheinafia dengan disutradarai oleh Lucky Kuswandi. Ceritanya sendiri merupakan remake dari film sebelumnya dibuat dengan cerita yang lebih milineal, disesuaikan dengan masa kini dengan sentuhan modern.

Diawali dengan hadirnya Ratna sebagai siswi baru disekolah SMA dimana Galih bersekolah juga disana. Ratna berasal dari keluarga berada, memiliki wajah cantik dan gaya remaja millenialis, tentunya tidak kesulitan untuk berbaur dengan temannya di sekolah.

Sejak pertama melihat Galih, Ratnapun tertarik dengan sosok Galih yang pendiam dan pintar. Galih yang lebih suka menyendiri sambil mendengarkan musik dari walkman ini membuat Ratna makin penasaran dengan sosok Galih dan mencari cara untuk bisa lebih dekat dengannya.

02 Galih dan Ratna IstimewaGalih dan Ratna (Istimewa)

Ratna yang memang berbakat dengan dunia musik makin tertarik dengan sosok Galih, dan gayungpun bersambut. Cerita cinta mereka berjalan dengan lancar, sampai akhirnya muncul konflik dikarenakan keterlibatan orang tua masing-masing. Konflik tersebut akhirnya mengharuskan mereka berpisah, dimana keduanya dituntut untuk melanjutkan study dengan pilihan masing-masing.

Blehhh... sama dengan film Galih dan Ratna sebelumnya yang memang tidak happy ending. Tetapi dibedakan lewat alur cerita dimana versi Rano Karno dan Yessy Gusman maksimal dengan adegan khas remaja kala itu. Pada versi sekarang kita hanya melihat pada sosok Galih dan Ratna dari awal sampai akhir saja, sehingga film terkesan membosankan.

Chemistry antara Sheryl dan Refal tidak sekuat pendahulunya walaupun kalau mau berbaik sangka  akting dari keduanya cukup bagus sebagai pemain baru pada industri perfilman tanah air. Editing dari film inipun dilihat kurang halus antara perpindahan dari tempat satu ke tempat lainnya.

Sedikit tertolong lewat kehadiran beberapa musisi papan atas yang mengisi lagu dari awal sampai akhir. Sebut saja antaranya Trio GAC, Rendy Pandugo, White Shoes & The Couple Company, Sore, Audrey Tapiheru dan pemeran utama film ini Sheryl Sheinafia.

Film ini juga membahas bagaimana asyiknya mendengarkan musik dengan menggunakan kaset, dan juga menampilkan fisik dari kaset beserta tape-nya yang sulit dijumpai pada era digital saat ini. Elemen musik di film ini sangat kuat dihadirkan. Penasaran ingin kembali bernostalgia dengan sosok Galih dan Ratna? Film ini siap menebar cinta di bioskop mulai tanggal 9 Maret 2017. Tapi jangan harap menemukan sosok Galih dan Ratna versi Rano & Yessi./ YDhew

 


Tuesday, 28 February 2017 19:00

Rossa

Gelar Konser Tunggal

Penyanyi mungil berdarah Sumedang kelahiran 9 Oktober 1978 ini memiliki segudang prestasi. Sampai saat ini saja, sudah tercatat 130 hits yang pernah dikeluarkan Rossa dan hampir 85% sudah dibuatkan video klipnya. Penjualan fisik berupa CD pun bisa dibilang fantastis dengan penjualan diatas 10 juta copy sejak karirnya di dunia musik tanah air.

Rossa yang  mulai dikenal publik sejak meluncurkan album “Nada-Nada Cinta” ini baru saja merilis single terbarunya di Singapore tahun 2017 yang berjudul ‘Body Speak’ sebuah lagu yang berbahasa Inggris dan diciptakan oleh 3 musisi handal asal Amerika (Steve Shebby, Joleen Belle dan Michelle Buzz) dan proses rekamannya dilakukan di Amerika. Single ini juga akan ditampilkan  di acara MTV Asia Spotlight yang ditayangkan sampai ke Jepang, Taiwan, China dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Penayangan video klip lagu ini juga akan ditayangkan oleh MTV Asia, Rossa pun menjadi artis Indonesia yang tampil pertama kali di MTV Asia Spotlight.

21 tahun karirnya di dunia musik, Rossa sempat jenuh dan berkeinginan untuk hijrah ke luar negeri meninggalkan hingar bingarnya dunia hiburan di tanah air dan memilih untuk berbisnis. Namun keinginannya itu urung dilakukan dikarenakan tidak mendapatkan dukungan dari keluarga maupun orang tua.

“Aku hampir pingin pindah ke luar negeri di akhir tahun 2016, memulai bisnis disana. Kepingin jadi orang biasa aja karena dasarnya memang aku suka bisnis. Sudah milih-milih tempat malah di Sydney”, ujar Rossa sambil tertawa.

Semangatnya kembali bangkit berkat dukungan orang tua dan juga kawan-kawan musisi yang selama ini mendukung karirnya terutama di bidang musik. Semakin kokoh setelah menyabet penghargaan kembali di tahun 2015 kemarin. Di tengah karirnya yang tidak pernah surut, merayakan 21 tahun berkarya, Rossa kembali berkeinginan mengulang kesuksesan konser tunggalnya. Menggandeng Jay Subiyakto  sebagai Art Director dan Tohpati sebagai Music Director, Rossa kembali akan menggelar konser tunggal di Jakarta.

02 Rossa YDhew

“Sebagai penyanyi yang talented dan menjaga eksistensi di dunia musik, sudah sepatutnya Rossa menggelar kembali konser tunggal. Artis itu kalau mau eksis harus berkonser, karena situasi di dunia musik saat ini tetapi juga harus didukung dengan cara yang baik, misalnya tidak lip sync dan lain-lain. Karena berkesenian adalah untuk mendukung kebudayaan, jadi jangan dibatasi oleh peraturan-peraturan yang membebani untuk musik Indonesia”, jelas Jay sewaktu ditemui di All Seasons Hotel,  Thamrin, Jakarta Pusat.

Design panggung, media visual dan video nantinya tidak akan diulang apa yang kita buat dulu, masih kita godog bersama Tohpati. Yang jelas berbeda dari konser Rossa sebelumnya”, tambah Jay. Konser yang bertajuk “The Journey of 21 Dazzling Years” ini akan dikemas secara glamour dan megah dengan dukungan tata suara, cahaya dan artistik yang berbeda.

Di konsernya nanti Rossa akan membawakan sekitar 20 lagu yang di aransemen oleh Tohpati “Rossa ini adalah artis yang besar. ini menjadi tantangan tersendiri buat saya apalagi lagu-lagu Rossa hampir semua selalu jadi hits jadi tidak terlalu sulit untuk memilih lagu. Lagu diakan memang dikenal lagu yang selalu sifatnya patah hati, jadi bagaimana nantinya membuat lagu-lagunya dibuat lebih seragam dan berbeda dengan konser sebelumnya, cantik tapi elegan”, jelas Tohpati./ YDhew

Tuesday, 28 February 2017 10:19

Manifestour 2017

Show Beroktan Tinggi

 

Adalah Remissa yang merupakan kuartet asal Malang dan pede mengusung genre Seattle Sound di setiap penampilannya. Band yang dihuni oleh Rizky Muhammad sebagai vokalis dan gitaris, Baron Wisnumurti menjadi pembetot bass, dan Bintang Mahatma pada posisi penggebuk drum. “Kami bertiga bukanlah teman lama, perguruan tinggi yang mempertemukan kita dan selera musik yang mempersatukan kita” ujar band yang dibentuk pada 2014 silam ini,

Namun karena kondisi mengharuskan untuk mengisi kekurangan gitar lagi, maka Rizqtsany yang tak bukan merupakan teman perguruan tinggi mereka akhirnya mengisi kekurangan tersebut. “Dalam bahasa latin, nama kami memiliki arti santai. Ada juga yang mengidentikkan dengan nama seorang wanita. Bahkan nama kami termasuk salah satu jenis hewan yang menyerupai kupu-kupu”, ungkap Rizki,, pria berambut panjang yang terlihat santai dengan setelan kemeja flannel dan celana sobeknya.  “Intinya, biarkanlah lagu-lagu kami yang mampu membuat mereka mengartikan nama kami”, lanjutnya ketika ditanya arti dibalik nama Remissa

Pada pertengahan tahun lalu, mereka telah mengeluarkan debut album bertajuk “Manifesto Mimpi” dibawah naungan Frekuensi Record yang merupakan label indie asal Malang. Vocal serak dengan substain rendah mengaung-mengaung mendampingi harmonisasi gitar, dentuman drum penuh energi dan hentakan bass tepat di depan jantung menjadi khas dalam debut album Manifesto Mimpi.

Patut diingat, sebelumnya mereka juga pernah melepas single ‘Diskusi Mimpi’ yang siap didengarkan di SoundCloud mereka. “Semua tema materi dalam debut album penuh nanti merupakan rangkuman kejujuran yang berasal dari suara hati kecil kami, tentang segala hal yang terjadi di lingkungan sekitar kami. Kami tidak ingin suara-suara hati kecil ini tersimpan rapat hanya dalam hati, jadi kami jadikan karya-karya kami sebagai jembatan untuk menyampaikan pesan yang ingin kami suarakan” racau mereka  ketika ditanya tentang tema besar album mereka.

02 Remissa FikarRemissa (Foto: Fikar)

Rangkaian tour dalam formasi band memang impian setiap anak band untuk melangkah ketahap selanjutnya. Begitu pula dengan Remissa. sebagai band indie maka konsekuensi terhadap tour harus diemban secara bersama. Mulai dari mengumpulkan dana dari tiap personil untuk menyewa sebuah minibus, menghubungi relasi setiap kota, mencari penginapan yang minim biaya, membawa beberapa merchandise sebagai upaya mencari dana tambahan. Dengan hanya bermodalkan semangat mengejar apa yang mereka sukai, sebuah tour Remissa dapat terselenggara.

Dengan nama “Manifestour 2017” yang merupakan plesetan dari album mereka. 7 kota siap disambangi oleh kuartet asal Malang ini, yakni Semarang, Purwokerto, Jakarta, Bogor, Jogja, Solo, dan Surabaya. Dalam kurun waktu 11 hari dan diawali dari tanggal 20 Februari 2016, tour pun dimulai.

Semarang membuka semangat mereka untuk dapat menyelesaikan tour dengan menggebu-gebu, lalu melangkah sedikit Purwokerto menjadi korban raungan mereka berikutya. Dan ibukota pun tak luput menjadi sasaran mereka untuk menapaki langkah mereka dalam berkarir. Selanjutnya kota ke 4 yang menjadi korban mereka adalah Bogor.

Bertempat di Warkop Villa Kuda diblangan Ciawi, Bogor, Remissa datang sebagai band luar kota yang sedang panas seperti lahar gunung berapi. Seperti namanya, Bogor kala itu diguyur hujan. Rasvala menjadi Opening Act dirangkaian kota ke 4 Manifestour. Antusiasme tersaji ketika MC menyertakan penonton agar langsung berinteraksi dengan Remissa.

“Apa tujuan kalian tour sebenarnya?“, salah seorang penonton melontarkan pertanyaan. “Kami ingin menularkan semangat jiwa muda kami. Agar anak-anak muda dapat terus berkarya tanpa peduli minim biaya, karena setiap semangat pasti terkandung nilai-nilai yang tak terjamah harga“, ungkap Rizqtsany sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.

03 Remissa FikarRemissa (Foto: Fikar)

Acara pun berlangsung penuh keringat. Raungan Remissa diatas panggung yang memang menjadi khasnya mampu menghentak jiwa-jiwa anak muda diacara itu. Suasana pun memanas ketika 3 vokalis dari band Rasvala, Jeans Roek, dan Remissa melantunkan lagu kebanggaan grunge yaitu ‘Smells Like Teen Spirit‘ milik mbah-nya musik grunge dunia, Nirvana.

Acara yang digelar selama kurang lebih dari 3 jam berlangsung intim. Bertukar kontak dan besar harapan bagi Remissa agar band band kota bogor dan juga lainnya dapat berkunjung ke Malang sebagai silahturahmi antar sesama pelaku musik.

Tiga kota lain akan menjadi sasaran empuk selanjutnya.  Emosi bahagia dan semangat tak kunjung henti pun menjadi pelipur lara bagi kuartet Seattle Sound tersebut. Semoga Manifestour 2017 dapat menjadi momentum bagi Remissa untuk memperkuat persaudaraan di luar kota mereka. Kita doakan...... / Fikar

 

  

Saturday, 25 February 2017 08:45

Interchange

Membebaskan Jiwa Yang Terperangkap

 

Disajikan dalam alur bergenre supernatural thriller, yang dipusatkan pada kisah seorang fotografer bersama rekannya seorang detektif keras kepala. Tengah mengungkap kasus pembunuhan berseri dan di luar nalar manusia. Adalah Adam (Iedil Putra), yang tengah merasa jengah dengan pekerjaannya, setelah dirinya sering diusik oleh halusinasi yang menerornya. Adam tak lain merupakan fotografer forensik yang akrab dengan pemandangan mayat korban pembunuhan, melalui lensa kamera miliknya.

Karena hal itu, ia pun memilih menutup diri dan besembunyi dalam apartemen huniannya. Membunuh sepinya, ia mulai memotret para penghuni lainnya dari atas balkon apartemennya. Hingga pada suatu hari, terjadi rangkaian pembunuhan dan Adam turut terseret dalam kasus yang tengah diselidiki sahabatnya, Detektif Man (Shaheizy Sam).

Di sisi lain, Adam terjebak dengan kehadiran sosok misterius bernama Iva (Prisia Nasution), yang juga merupakan penghuni apartemen yang sama. Seperti magnet, Iva memiliki daya pikat tertentu mampu membuat Adam tertarik dan semakin dalam masuk kekehidupan Iva yang mistis.

Begitulah, rantai pembunuhan terus berlangsung dengan teka teki yang bikin sakit kepala. Apa lagi ditiap temuan perkara selalu ditemukan mayat tanpa darah tergantung, pecahan plat kaca negatif, bulu burung rangkong (hornbill) yang dianggap sudah punah. Adam pun mulai mengidentifikasi pecahan yang kerap digunakan untuk fotografi di abad ke-19.

Dia membawa temuannya tersebut kepada Heng (Chew Kin-wah) dan menemukan bahwa pecahan kaca bergambar itu adalah negatif yang diambil oleh penjelajah Norwegia, Carl Lumholtz yang menjelajah Borneo, Kalimantan Tengah antara 1913-1917. Merekam kebiasaan orang Dayak asli, dengan totem burung enggang.

03 Interchange IstimewaFoto: Istimewa

Berdasarkan sebuah buku yang diterbitkan oleh Carl Lumholtz, Adam melihat banyak kemiripan yang mencolok antara korban dibunuh dan anggota suku Tingang yang ada dalam buku sejarah tersebut. Salah satunya malah mirip sekali dengan Iva. Lewat temuan tersebut mulailah Adam merangkai semua puzzle tersebut dan sampai akhirnya dirinya bisa mengetahui siapa koban selanjutnya. Dari sini juga dirinya dapat mengetahui “jiwa yang terperangkap“ dan takhayul kuno yang menjadi nyata.

Berawal dari Lumholtz dahulu memotret kehidupan suku Tingang. Suku tersebut kemudian menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi. Namun ternyata dalam 100 tahun ini, Iva dan 36 jiwa lain yang terperangkap dalam plat kaca negatif mengembara didampingi Belian (Nicholas Saputra), sebagai semangat sukunya yang berwujud manusia burung, turut mendampinginya melakukan tugas demi mati dengan tenang.

NewsMusik melihat film ini sebagai sebuah cerita yang cukup menarik, baik dari alur dan visual yang tersajikan. Konteks modern dalam framing film noir tentang detektif dan menggabungkannya dengan cerita mitologi Asia Tenggara, serta keyakinan supernatural mampu dipresentasikan dengan baik. Syukurnya lagi bahwa Dain Said selaku Director tidak terlalu berlebihan mengupas mistisisme etnografis untuk men-delivery tradisi spiritualisme kepada penonton sehingga menjadi bertele-tele.

02 Interchange IstimewaFoto: Istimewa

Walaupun begitu, komponen supernatural dalam film ini cukup terangkat lewat karakter Belian yang di desain sebagai spirit yang kuat, perannya dalam film ini cukup tegas. Cuma sayangnya, efek CGI yang disajikan saat perubahan Belian menjadi burung tidak begitu memikat. Masih lebih baik jika kita melihat film serial Manimal produksi 1983 yang diperankan oleh Simon MacCorkindale dan sempat disajikan di tanah air.

Film produksi Apparat dan Cinesurya Pictures ini sudah ditayangkan resmi secara global. Juga telah masuk dalam seleksi beberapa festival seperti Locarno Film Fest di Swiss dan Toronto International Film Fest. Ide dasar film ini, terinspirasi dari rekam jejak perjalanan Carl Lumholtz. Pada salah satu fotonya, ia memotret sejumlah wanita dayak tengah membasuh diri di sungai untuk membersihkan ‘efek jahat‘ setelah di foto oleh Carl. Akan segera ditayangkan di Indonesia pada 2 Maret 2017. /Ibonk

 


 

Potret Gamblang Dunia Malam

 

Mungkin tak perlu terlalu gamblang merinci dan menceritakan apa yang dihantarkan secara visual dari film produksi Grafent Pictures, Demi Istri Production, dan disutradarai oleh Fajar Nugros ini. Yaa.. inilah film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Moammar Emka yang dipublished pada 2003 silam. Film yang menceritakan sisi ‘merinding’ gemerlapnya ibukota.

Karya Emka ini memang sempat menjadi buah bibir di negeri ini. Menceritakan beragam kejadian dunia malam yang kebanyakan dari kita tidak mengetahui. Membuka mata banyak orang, sampai sebegitu tidak percayanya dan bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Ini memang bukan untuk kali pertama Jakarta Undercover diangkat ke layar lebar. Di tahun 2007, film adaptasi ini pertama dirilis lewat sutradara Lance Mengong dan skenarionya ditulis Erwin Arnada serta Joko Anwar. Kalau di lihat segi plot, film yang dibintangi Luna Maya tersebut, tidak berkaitan langsung dengan isi buku Jakarta Undercover karena dibuat sebagai drama kriminal. Walau masih mengambil tema dunia malam yang dibahas di buku tersebut.

Nah, lewat film ini semuanya dibuat hampir seperti yang ada pada bukunya. Tentu saja ini bukan hal mudah, karena harus merubah bahasa tulisan dari bahasa gambar. Itulah sebab, Fajar Nugros berhati-hati dalam memvisualkan apa yang tertulis di dalam buku karya Emka.

Ceritanya sendiri mengisahkan keinginan seorang wartawan untuk membuat tulisan tentang kehidupan malam Jakarta, dan terjebak konflik yang melibatkan hubungan cinta kaum kelas atas. Pras (Oka Antara) yang demi mengejar cita-citanya menjadi wartawan. Lalu ia berangkat ke Jakarta  dan berguru pada Djarwo (Lukman Sardi) pemimpin redaksi sebuah majalah berita. Awalnya antusias dengan status barunya, namun ujung-ujungnya idealismenya pun mulai luntur.

02 Jakarta Undercover IstimewaFoto: Istimewa

 

Semua berawal saat Pras mulai menyadari bahwa kecemerlangan tulisannya dimanfaatkan oleh kantornya untuk tujuan tertentu. Ia makin memberontak setelah bertemu Awink (Ganindra Bimo) penari malam yang merasa dirinya terjebak terjebak dalam tubuh lelaki. Bersama Awink, iapun dibawa berkenalan dengan Yoga (Baim Wong), yang menjadi tokoh penting di dunia bisnis ‘gelap’ Jakarta.

Begitulah, tanpa sadar Pras semakin terjebak semakin dalam ia menggali, semakin dalam dan makin jauh dalam pusaran ketidaktahuan. Apalagi saat ia bertemu dengan Laura (Tiara Eve) model yang membuat hidupnya berbeda.

Seperti yang ditangkap NewsMusik dari apa yang disampaikan Fajar Nugros bahwa film ini lebih mengedepankan kemasan drama. Fokus mengambarkan bahwa dunia malam Jakarta itu ada dan juga nilai-nilai kemanusiaan, bukan untuk mengumbar sisi vulgar secara visual.  Tinggal lagi bagaimana pendapat kita selepas menyaksikan film ini..., monggo./ Ibonk

 


Wednesday, 22 February 2017 08:47

Air Supply

Dipastikan Hadir di Jakarta

Setelah batal manggung di saat mendekati hari-H pada Desember 2016 lalu, duo Graham Russel dan Russel Hitchcock yang tergabung dalam Air Supply menyatakan kesiapan mereka untuk segera tampil dihadapan penggemarnya di Jakarta. Sebelumnya duo ini batal manggung dikarenakan Russel Hitchcock kelelahan akibat jadwal tur yang padat.

Kepastian kedatangan tersebut disampaikan keduanya lewat video greeting yang dikirimkan kepada pihak penyelenggara. “Akhirnya yang kita tunggu-tunggu datang juga, video greeting dari Air Supply ini untuk memastikan kedatangan mereka nanti 100% confirmed akan konser di Jakarta”, ungkap David Ananda selaku Managing Director Full Color Entertainment.

Air Supply sendiri akan tiba di Jakarta lebih awal dari jadwal manggungnya. Mereka akan tinggal di Jakarta selama 5 hari dan 4 malam (dari tanggal 28 Februari hingga 4 Maret 2017) untuk melaksanakan persiapan konser juga Press Conference dan serangkaian media Interviews.

 

02 Air Supply Istimewa Foto : Istimewa

 

Jakarta akan menjadi kota pertama dari rangkaian tur Air Supply di South East Asia. Selepas itu mereka akan tampil di Singapore tanggal 4 & 5 Maret , Cebu 7 Maret  dan Manila 8 Maret”, lanjut David. Konser yang bertajuk “Bringing Back The Memories” nanti akan merangkum lagu-lagu hits Air Supply pada konser  tanggal 3 Maret 2017, di The Kasablanka Hall, Mall Kota Kasablanka, Jakarta.

Berdasarkan rilis yang diterima NewsMusik bahwa harga tiket Silver (standing) sudah habis terjual. Tiket yang tersedia saat ini tinggal Diamond VVIP (numbered seating) seharga Rp 2.500.000,-, Platinum (free seating) Rp 1.500.000-, dan kelas Gold (free seating)   Rp 1.000.000,- Untuk informasi lebih lengkap dapat dilihat di website resmi Air Supply di http://www.airsupplymusic.com/tour./ YDhew

 

 

Tuesday, 21 February 2017 13:18

Buka’an 8

Drama Komedi Keseharian

Film drama komedi romantis garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko ini bercerita tentang Alam (Chicco Jerikho) dan Mia (Lala Karmela), pasangan millenial yang bertemu dan jatuh cinta di dunia maya. Hubungan mereka tidak direstui oleh keluarga Mia karena menganggap Alam hanya bermain sosmed dan tak punya pekerjaan tetap. Di momen kelahiran anak pertama mereka, Alam ingin membuktikan kepada orang tua Mia, bahwa ia adalah seorang suami idaman.

Dalam film ini Chicco beradu peran dengan Tio Pakusadewo sebagai Abah (ayah Mia) yang berakting total. Abah, dalam film ini akting Tio Pakusadewo sebagai orang tua yang menderita stroke dengan aksi yang konyol cukup berhasil disini.  Ditambah lagi sosok abah dipasangkan dengan Sarah Sechan yang berperan sebagai Umbu (ibu Mia) sebagai sosok ibu yang lugu dan selalu sinis dengan komentar yang diucapkannya cukup membuat penonton terhibur.

Alam sebagai calon ayah berkarakter santai dengan gaya seorang seniman. Kata-kata mengumpat  yang sering dijumpai dikehidupan sehari-hari, digulirkan secara jenaka dan terkadang serius. Konflik yang muncul sewaktu mempersiapkan persalinan Mia, dimana Alam tidak mampu membayar rumah sakit, cukup berhasil membuat penonton tergelak karena tingkah konyolnya.

Film Buka’an 8 ini mempertemukan kembali Angga dengan duet dua produser Anggia Kharisma dan Chicco Jerikho, yang sukses dengan 2 film sebelumnya, Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014) dan Filosofi Kopi The Movie (2015). “Buka’an 8 merupakan film komedi pertama yang saya buat mengangkat cerita generasi millenial yang addictive pada media sosial dan internet. Film ini terinspirasi dari proses menanti kelahiran anak pertama saya yang kebetulan pada saat itu ditemani oleh Chicco Jerikho dan tercetuslah ide untuk membuat film ini”, tutur Angga Dimas Sasongko.

02 Bukaan8 IstimewaBuka'an 8 (Foto: Istimewa)

Film yang memotret problematika pasangan muda yang tengah berjuang mendapatkan restu dari orang tua.  Menceritakan kedekatan emosional yang tercipta antara anak dan orang tua pada proses kelahiran dengan genre komedi. Mengombinasikan realita, cerita pribadi, dan berbagai kekonyolan yang terjadi di keseharian.

Akhirnya film ini mampu menghantar cerita yang sangat dekat bagi mereka yang sangat menikmati hiruk – pikuk media sosial. Cukuplah membawa angin segar di sela-sela hiruk pikuk suasana politik yang memanas akhir-akhir ini.

Para pemain yang terlibat selain yag telah disebut sebelumnya adalah Dayu Wijanto, Uli Herdiansyah, Ary Kirana, Melissa Karim, Maruli Tampubolon, TJ, Ivy Batuta, Marwoto, Roy Marten, Nadine Alexandra dan Adriano Qalbi.

Soundtrack Film 'Buka’an 8’ diisi oleh lagu dari band indie Payung Teduh berjudul ‘Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan’ dan band asal Yogyakarta FSTVLST untuk lagu ‘Ayun Buai Zaman’. Bagi yang butuh hiburan untuk sekedar mengocok perut, film Buka’an 8 ini akan tayang di bioskop mulai 23 Februari 2017./ YDhew

 


 

Page 9 of 110