Exclusive Interview
NewsMusik

NewsMusik

Friday, 21 April 2017 11:19

Mouly Surya

Lolos Seleksi Cannes film Festival

Nursita Mouly Surya, sutradara kelahiran Jakarta 10 September 1980,  yang sejak kecil mempunyai hobby menulis ini namanya memang tidak setenar Hanung Bramantio ataupun Nia Dinata. Namun wanita yang biasa di panggil Mouly ini karyanya tidak boleh di pandang sebelah mata. Karyanya pernah meraih tiga penghargaan Festival Film Indonesia (FFI)  2008 untuk kategori penulis skenario, film dan sutradara terbaik melalui film “Fiksi”.

Mouly mulai mengenal dunia film sejak berkuliah di Melbourne, Australia, bersama teman dan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Australia membuat film amatir. Sejak saat itu Mouly merasa menikmati bagaimana cara membuat film. Padahal di saat itu ia mengambil kuliah sastra dan media, tapi dirinya merasa lebih tertarik untuk membuat film. Cita-cita sejak kecil menjadi penulis buku akhirnya ditinggalkan dan memutuskan untuk meneruskan kuliah S2 dengan mengambil jurusan film. Sejak saat itu dia mantap menentukan pilihan sebagai sutradara.

Berbekal pengetahuan tentang film,  Mouly juga berhasil membawa film "Fiksi" ke dalam festival film internasional Busan (Busan International Film Festival di 2008). Lewat film Fiksi itu juga yang mengantar Mouly menjadi satu-satunya perempuan peraih Piala Citra untuk kategori sutradara terbaik 

Ditahun 2013 Mouly menyutradarai film What They Don't Talk About When They Talk About Love, yang merupakan film Indonesia pertama  masuk seleksi World Cinema Dramatic Competition Sundance Film Festival.

Foto Marlina Cannes 2(Poster Marlina Cannes (Foto: Istimewa)

Karya terbaru Mouly “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak”, Film tersebut menjadi film yang pertama mendapatkan subsidi Aide aux cinemas du Monde dari Kementerian Komunikasi dan Kebudayaan serta Kementerian Luar Negeri Prancis.   Terseleksi di Quinzaine des réalisateurs (Directors Fortnight) yang berlangsung paralel dengan Cannes Film Festival 2017.

Sejak diselenggarakan pertamakalinya di tahun 1969, Directors' Fortnight, yang diselenggarakan pada Festival Film Cannes oleh Société des Réalisateurs de Films (Asosiasi Sutradara Film Perancis), bertujuan untuk mendukung pembuat film dan mendorong talenta baru ke hadapan khalayak umum serta kritikus film pada perlehatan festival film terpenting di dunia ini.

Banyak sutradara dunia yang sebelumnya merintis karier lewat kanal Directors Fortnight, di antaranya Werner Herzog, George Lucas, Martin Scorsese, Jim Jarmush, Michael Haneke, Spike Lee, dan Sofia Coppola.

“Terseleksi di festival ini saya berharap bisa memberikan kesempatan kepada Marlina untuk mendapatkan distribusi yang lebih luas dari film-film saya sebelumnya. Sungguh sebuah kehormatan besar bisa berada di Directors’ Fortnight yang telah banyak menemukan Auteurs dunia dan terkenal dengan karya yang lebih edgy. Sungguh sebuah panggung yang cocok untuk Marlina.“ Kata Mouly lewat keterangan tertulisnya. Saat ini Marlina sedang dalam proses paska produksi di Paris.

Marlina bercerita tentang seorang janda yang melalui perjalanan mencari keadilan setelah rumahnya diserang oleh segerombolan perampok yang kemudian perampok tersebut dipenggal kepalanya oleh Marlina. Perjuangannya membawa kepala sang perampok ke kantor polisi ini yang membuat Mouly tertarik untuk mengangkat kisahnya menjadi sebuah film.

Marlina merupakan film keempat Indonesia yang berhasil masuk seleksi rangkaian Festival Film Cannes, setelah sebelumnya Tjoet Nja’ Dhien (1988, Semaine de la Critique), Daun di Atas Bantal (1998, Un Certain Regard), dan Serambi (2006, Un Certain Regard).

Film ini ditulis sendiri oleh Mouly Surya bersama Rama Adi dan  ide cerita dari Garin Nugroho. Bertindak sebagai produser  Rama Adi dan Fauzan Zidni, dan dibintangi oleh Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama dan Egi Fedly.

Film produksi bersama Cinesurya, Kaninga Pictures (Indonesia), Sasha & Co Production (Prancis), Astro Shaw (Malaysia), HOOQ Originals (Singapura) dan Purin Pictures (Thailand) ini nantinya akan diputar di festival yang diselenggarakan tanggal 18 hingga 28 Mei 2017 di Cannes, lalu akan ada pemutaran di Marseille, Paris, Geneva, Roma, Milan, Florence dan Brussels.

Wednesday, 19 April 2017 14:52

Kunto Aji, Eva Celia dan Jordy Waelauruw

Tour Bersama di Enam Kota

 

Tiga musisi muda berbakat, Kunto Aji, Eva Celia dan Jordy Waelauruw tidak pernah diam dan berhenti dari berkarya.  Ketiganya Kerap berjalan sendiri, sampai suatu saat mereka berkumpul di suatu tempat dan mempunyai ide untuk berjalan bersama.  Ide mereka kemudian diwujudkan dalam sebuah tur enam kota bertajuk MLDSPOT Intimate Tour "3 Cerita, 1 Ruang".

Ide yang sebenarnya berawal dari Kunto Aji beserta team-nya yang mempunyai keinginan menyuguhkan sebuah showcase dengan konsep sederhana. Sambil menunggu waktu yang tepat, perjalanan membawa Kunto Aji bertemu dengan Eva Celia dan seorang musisi, pemain trumpet muda dan berbakat, Jordy Waelauruw.

“Setelah bertemu dan ngobrol lebih jauh bersama Eva Celia dan Jordy Waelauruw, ternyata kami bertiga punya frekuensi yang sama dalam bermusik. Bagaimana kami memperlakukan musik, terlebih kepada karya-karya yang kami buat. Saya, Eva dan Jordy juga sama-sama menjalani album pertama yang punya cerita masing-masing di baliknya dan terus mencari ruang untuk menyebarkannya. Adanya persamaan ini membuat ide awal saya berkembang menjadi sebuah tur,” ungkap Kunto Aji.

Konsep pertunjukan yang telah ada sebelumnya akhirnya berkembang dari segala ide dan masukan tentang visi dan misi tiga musisi ini dalam bermusik. Ide ini kemudian disambut dengan positif oleh MLDSPOT yang kerap kali mendukung acara musik.

02 Intimate Tour Poster IstimewaIntimate Tour Poster (Istimewa)

Konser ini rencananya akan di adakan di 6 titik di Surabaya (Sabtu, 6/5), Malang (Senin, 8/5), Jogjakarta (Rabu, 10/5), Semarang (Jumat, 12/5), Bandung (Minggu, 14/5) dan Jakarta (Selasa, 16/5). Selama 10 hari berturut-turut, Kunto Aji, Eva Celia dan Jordy Waelauruw bersama rombongan lainnya berada dalam satu bis melalui jalan darat menyambangi titik-titik yang telah ditentukan tersebut.

Pertunjukan nantinya mempunyai konsep intimate, dan merupakan tugas dari Kunto Aji, Eva Celia dan Jordy Waelauruw untuk membuat pendengarnya tidak hanya dekat, namun juga bisa menyampaikan pesan-pesan dari setiap materi yang akan mereka mainkan.

Dipilihnya galeri sebagi tempat pertunjukan, pengunjung yang hadirpun dibatasi hanya sekitar 200 orang saja, sehingga pertujukan yang akan berjalan nantinya menjadi lebih intim dari semua panggung yang pernah mereka jalani sebelumnya.

Eva Celia menuturkan bahwa “Seni adalah platform saya, Kunto Aji dan Jordy Waelauruw dalam mengekspresikan diri melalui hal yang kami sukai, musik. Bagaimana saya bisa menggali potensi dalam diri saya dan menunjukannya kepada orang lain. Saya pribadi percaya kalau intimate tour ini tidak hanya bisa memberikan pertunjukan yang impactful melalui passion, cinta dan kejujuran yang saya letakan dalam lagu-lagu yang saya bawakan nanti. Dan terlebih lagi, saya bisa membangkitkan semangat independen untuk jujur dalam berkarya kepada audiens nanti.”

03 Intimate Tour IstimewaIntimate Tour (Istimewa)

“MLDSPOT Intimate Tour ini adalah ruang yang ideal untuk saya pribadi, bisa dekat dengan pemain musik lain dan mereka yang datang. Yang paling utama adalah, saya bisa menyebarkan karya-karya saya,” tambah Jordy Waelauruw singkat.

Tiket  dijual secara ekslusife melalui GO-TIX, dan untuk ticket pre-sale tersedia pada hari sudah bisa di pesan sejak hari Selasa (18/4) hingga Kamis (20/4). /JD

 

Wednesday, 19 April 2017 13:55

BOYZLIFE

Konser Perdana Di Asia Tenggara

Setelah sukses dengan gelaran konser Air Supply bulan Maret 2017 lalu, kali ini promotor Full Color Entertainment menggandeng promotor Tata Enterprise dan Hotel Sultan Jakarta, menggelar konser perdana Boyzlife di Jakarta, pada 21 Mei 2017 mendatang, yang akan menjadi konser perdana Boyzlife di Asia Tenggara.

Brian yang memutuskan hengkang dari Westlife tahun 2004 silam, Keith Duffy pun diajak berkolaborasi dalam grup duo bernama Boyzlife. Brian dan Keith juga saling bertukar informasi soal pop heyday mereka pada masa keemasan boyband kala itu. Nama Boyzlife dipilih menjadi nama grup duo ini, bukanlah tanpa alasan. Baik Brian maupun Keith masih memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap Boyzone dan Westlife yang sudah membesarkan nama mereka berdua. Karena itulah, nama Boyzlife diambil dari penggalan nama boyband Boyzone dan Westlife.

Kerinduan para fans Boyzone dan Westlife, boyband era tahun 1990-an, akan terbayarkan pada Mei 2017 mendatang dengan akan hadirnya grup duo Keith Duffy (personil Boyzone) dan Brian McFadden (ex personil Westlife), dalam konser perdana Boyzlife di Jakarta.

Konser kali ini akan berbeda dengan konser-konser boyband pada umumnya. Karena kedua personil Boyzlife sudah meleburkan pengaruh dari grup musik mereka sebelumnya. Konsep yang akan diusung Boyzlife adalah ‘Story’, ‘Laughter’ dan ‘Music’. Pada konser yang dijadwalkan berdurasi 90 menit itu, Boyzlife akan ‘Bernostalgia’, ‘Bersenda Gurau’ dan yang pasti akan ‘Bernyanyi’ dengan menyanyikan lebih dari 18 buah lagu hits dari Boyzone dan Westlife seperti ‘Flying Without Wings’ (Westlife), ‘No Matter What’ (Boyzone), ‘Love Me for A Reason’ (Boyzone) dan ‘If Let You Go’ (Westlife).

Boyzlife JakartaFoto: Istimewa

"Konsep yang diusung Boyzlife pada konsernya sangat berbeda. Jadinya, selain dapat menjadi ‘obat’ pelepas kerinduan fans Westlife dan Boyzone, konser juga akan berlangsung intimate. Karena baik Brian dan Keith, keduanya ingin bisa lebih dekat dengan fans-fans mereka," ucap David Ananda, Managing Director Full Color Entertainment menurut release yang diterima NewsMusik Selasa (18/4).

Konser yang rencananya akan diadakan dengan tema indoor di dalam Hotel Sultan, Jakarta ini, jumlah ticket yang dijual juga sangat terbatas. Untuk kategori Special Diamond VVIP Meet & Greet  Rp 2.500.000 (including dinner & soundcheck experience), kategori Diamond VVIP  Meet & Greet      Rp 1.950.000, Kategori Diamond VVIP  Rp 1.350.000 (numbered seating), Kategori Gold Rp. 850.000 (free seating), dan kategori Silver di jual Rp. 495.000 (standing).

Ticket juga sudah dapat dibeli secara online di rajakarcis.com, ticket.com mulai hari ini (18/4), dan secara offline tiket dapat dibeli di kantor Full Color Entertainment di Mall Taman Anggrek P2 No.19 Jakarta dan Hotel Sultan Jakarta, serta juga akan menyusul dijual di seluruh gerai Familymart dan Indomaret. /JD

 

 



Saturday, 15 April 2017 12:43

Filosofi Kopi 2: Ben & Jody

Persahabatan di Balik Kedai Kopi

Pertengahan tahun 2015 lalu, "Filosofi Kopi" yang merupakan film karya Angga Dwimas Sasongko yang menggabungkan kombinasi antara aspek artistik dan komersial.  Film ini juga telah memenangkan kategori Penyunting Gambar Terbaik dan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik pada FFI 2015.

Film rumah produksi Visinema Pictures ini menceritakan persahabatan Ben & Jody (diperankan oleh Rio Dewanto dan Chicco Jerikho) menemukan jati diri dalam secangkir kopi, dan drama perdamaian dengan masa lalu. Kisah yang diangkat dari novel karya Dewi Lestari akhirnya sukses meramaikan dunia sinematografi Indonesia, menjadi sebuah kisah inspiratif  dalam balutan pencarian mereka membuat kopi terbaik.

Nah, akhirnya setelah 2 tahun berselang, Ben dan Jody menyadari satu hal bahwa mereka selama ini hanya hidup dalam utopia belaka. Ben dan Jody harus membuat strategi baru, agar dunia kopi yang mereka cintai tetap hidup.

02 Luna Maya IstimewaLuna Maya (Istimewa)

Ada dua tokoh baru dalam Filosofi Kopi 2, Luna Maya (Tarra) dan Nadine Alexandra (Brie) yang nantinya  turut meramaikan film Filosofi Kopi 2 ini. Tokoh Tarra merupakan rekan baru Ben dan Jody. Sementara Brie, adalah barista baru di Jakarta sepulang dari Melbourne.

Lewat teaser yang berdurasi cukup singkat, 'Filosofi Kopi 2' akan menyuguhkan perjalanan Ben dan Jody yang memutuskan untuk kembali membuka kedai di Jakarta.

Sequel yang diperkuat juga oleh hadirnya dua tokoh baru, Jumat (14/4) telah dirilis Filosofi Kopi 2: Ben & Jody dan  'Official Trailer' di kanal Youtube 'Visinema Pictures' akan segera rilis. Filmnya sendiri digadang-gadang kemungkinan akan tayang d bulan Juli 2017. Kita tunggu saja/ YDhew

 

Monday, 17 April 2017 12:34

Nidji

Arti Sahabat dan Pamitnya Giring

Group band Nidji yang berawal dari persahabatan Rama dan Andro yang memang sama-sama menyukai musik. Persahabatan mereka berkembang terus hingga di tahun 2002 mereka sepakat untuk membentuk group band, dimana sebelumnya Rama, Andro dan Ariel yang saat itu baru bergabung dengan mereka menciptakan sebuah lagu yang berjudul ‘Maria’. Namun lagu tersebut belum ada vokal yang mengisi, sehingga mereka bertemu dengan Giring yang akhirnya melengkapi hobby bermusik mereka sebagai vokalis.

Perjalanan bermusik mereka berempat (Ariel, Andro, Rama dan Giring) diawali dengan melakukan jam session bersama, dan akhirnya masuklah Adri menempat posisi sebagai drummer. Sampai pada di awal Februari 2002 kemudian dibentuklah band yang sekarang kita kenal dengan nama Nidji. Kemudian di tahun 2005, Nidji menambah satu orang personil lagi sebagai keyboardist yaitu Randy..  

Dari awal konsep musik yang mereka gunakan sampai sekarang adalah modern rock dengan  memadukan unsur-unsur lain, seperti progresif, funk, alternatif, dan pop. Sesuai dengan namanya yang diambil dari bahasa Jepang yang berarti pelangi, dengan konsep merefleksikan warna musik yang berbeda satu dengan lainnya, namun tetap harmonis.

Dalam karirnya bermusik ada beberapa grup band yang secara tidak langsung mempengaruhi dan menjadi inspirasi terhadap corak musik Nidji, antara lain Coldplay, Goo Goo Dolls, U2, Radiohead, Smashing Pumpkins, The Verve, Dave Matthews, The Killers, dan sebagainya. Gaya Giring sewaktu bernyanyipun membuat band Nidji menjadi band yang unik dan atraktif.

02 Nidji RizalNidji (foto: Rizal)

Album perdana mereka yang bertajuk “Breakthru” dengan single-nya ‘Sudah’, ‘Hapus’, ‘Bila Aku Jatuh Cinta’, ‘Kau Dan Aku’, ‘Disco Lazy Time’ dirilis tahun 2005 dan sukses ketiga tunggalan  tersebut mendudukkannya diposisi ke 1 di MTV Ampuh.

Pada tahun 2007 mereka mengeluarkan album keduanya “Top Up” dengan single yang berjudul ‘Shadow’ kembali menggapai sukses menjadi no 1 di MTV Ampuh dan bertahan selama 13 minggu di posisi tersebut. Tahun 2008, tunggalan yang berjudul ‘Laskar Pelangi’ menjadi salah satu lagu di album kompilasi Ost. Laskar Pelangi yang filmnya mencapai booming di industri film Indonesia.

Di tahun 2011 Nidji kembali merilis sebuah album yang bertajuk “Liberty”, dan sempat ada keinginan untuk go international, ide ini tercetus setelah Nidji mendapat undangan pentas di Australia di tahun berikutnya. Hal tersebut diwujudkan dengan rilisnya album yang berjudul “Victory” di Australia, Jepang, dan beberapa negara Eropa lainnya.

Menginjak usia ke 15, rumor akan bubarnya  group band ini sempat terdengar, terkait pernyataan dari Giring menjelang  konser tunggal Nidji yang akan di gelar  pada tanggal 5 Mei 2017 nanti. “Gue mau ngomong takut salah, takut ngelukain sahabat gue nanti. Gue memang mau break. Tapi akan tetap bermusik kok, tetap bernyanyi meski cuma di kamar mandi” ujar Giring Rabu (14/4) di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan.

03 Nidji RizalNidji (foto: Rizal)

Nidji sendiri mengatakan bahwa konser ini menjadi sebuah konser pertama dan terakhir dalam sepak terjang Nidji  di belantika musik Indonesia. Konser ini selain menandai karir Nidji selama 15 tahun berkarir di dunia musik tanah air, dan bertepatan juga peluncuran album terbarunya lalu yang bertajuk "Love Fake Friendship".

Selain itu konser ini juga tidak menutup kemungkinan menjadi konser yang terakhir buat Nidji bersama dengan Garing, dimana sang vokalis akan melanjutkan studinya di Amerika, dan juga adanya rumor Giring akan fokus beralih ke dunia politik. Namun hal tersebut belum sepenuhnya di bantah oleh Giring.

“Kalau hengkang enggak. Nidji adalah band terbaik bagi saya. The Beatles enggak bisa ngajak saya keliling dunia. Tapi Nidji bisa mengajak saya keliling dunia. Kalau ditanya soal gue di Nidji, gue mau menangis jawabnya. Tapi, liat aja konsernya besok. Semua hasil yang ditanyakan akan dijawab besok saat konser tunggal, Nidjiholic (fans Nidji) akan menyesal jika tidak datang di Balai Kartini Expo” sambungnya.

Konser yang bertajuk ‘Arti Sahabat’ sebagai ceremonial 15 tahun berkarir Nidji dan menunjukan apa sebuah arti persahabatan bagi Nidji. “Sekarang, kita berenam udah 15 Tahun, toleransi kita udah maksimal. Apa pun yang Giring lakukan kita bakal dukung sepenuhnya. Karena kita mau nunjukin arti sahabat yang sesungguhnya,” ujar Andro. /Rizal-YDhew

 

Friday, 14 April 2017 21:50

Rossa

Konser Bersenang Senang

Kamis (13/4) lalu Plenary Hall Jakarta Convention Center, Jakarta sejak jam 5 sore sudah mulai dipadati pengunjung untuk menyaksikan konser Rossa yang bertajuk 'The Journey of 21 Dazzling Years'. Para pengunjung yang sebagian terdiri dari kaum hawa ini tampak antusias untuk menyaksikan penyanyi kesayangan mereka yang terkenal dengan lagu galaunya.

Konser yang baru di mulai pukul 20.00 WIB itu diawali dengan kemunculan penyanyi yang akrab di panggil Ocha berbalut gaun berwarna biru. Sebelumnya panggung memunculkan foto-foto dan video Rossa selama perjalanan karirnya bernyanyi. Kemunculan pertama Rossa menampilkan beberapa lagu secara medley, seperti ‘Kembali’, ‘Malam Pertama’, dan dilanjutkan dengan ‘Tak Sanggup Lagi’ di bawakan dengan tempo upbeat. Sesekali terdengar teriakan penonton di sela-sela Rossa menyajikan lagu, yang ditingkahi juga dengan menyajikan koreografi bersama para penarinya.

"Kata Mas Jay (Jay Subyakto), malam ini saya disuruh bersenang-senang, Karena malam ini  jadi malam yang enggak bisa terlupakan. Apa kabar semua... nyanyi bareng saya ya," ujar Rossa kepada pengunjung yang hadir malam itu.

Hampir 5000 penonton tampak memadati Plenary Hall, terlihat juga di kursi penonton sahabat-sahabat Rossa, seperti Ivan Gunawan, Krisdayanti, Syahrini, Cita Chitata, BCL, bahkan Sheila Madjid pun hadir untuk menyaksikan konser ini.

02 Isyana Sarasvati YDhewIsyana Sarasvati (Foto: YDhew)

Berturut-turut Rossa menyanyikan beberapa lagu lainnya seperti ‘Wanita Yang Kau Pilih’, ‘Kumenunggu’, "Bila Salah", dan ‘Hati Yang Kau Sakiti’. Bintang tamu Tulus hadir melantunkan ‘Nada-Nada Cinta’ dengan aransemen mengikuti suara khas dari Tulus yang di racik oleh Tohpati.

Sesi kedua Rossa tampil dengan gaun serba putih. Ia membuka sesi ini lewat ‘Atas Nama Cinta’, dilanjutkan dengan ‘Sakura’ yang disambut suara penonton bernyanyi bersama. Dilanjutkan dengan tembang ‘Terlalu Cinta’ dan ‘Kini’. Sesi ini diakhiri dengan ‘Ayat-Ayat Cinta’ yang diiringi oleh Yovie Widianto.

Isyana Sarasvati yang menjadi salah satu bintang tamu dalam konser Rossa, menyanyikan lagu ‘Tegar’. Menghadirkan improvisasi dari Isyana sendiri dengan memainkan piano klasik yang memukau. Pada sesi ketiga dihadirkan lagu  ‘Body Speak’, ‘Jangan Hilangkan Dia’, dan ‘Hey Ladies’. Lagu lagu tersebut dibawakan dengan mulus yang disambut koor dari para Pencinta Rossa, sebutan penggemar Rossa.

Keriuhan penonton semakin menjadi saat Afgan naik pentas. Rossa dan Afgan tampil mesra dengan mendendangkan lagu ‘Cinta Dalam Hidupku’ dan ‘Kamu Yang Kutunggu’. Begitulah konser Rossa yang menandai 21 tahun karirnya di industri musik tanah air. Hampir 24 lagu yang terdiri dari beberapa hits Rossa dihadirkan malam itu.

Hampir semua tamu undangan yang hadir memuji penampilan Rossa malam itu, tapi entahlah NewsMusik yang menonton seperti ada sesuatu yang kurang dari konser yang digadang-gadang spektakuler ini.
Memang konser ini sukses dihadiri oleh ribuan penonton, tapi rasanya kurang maksimal sehingga yang ditampilkan kurang greget. Interaksi dengan penonton juga kurang dilakukan sehingga terkesan kaku, meski sesekali Rossa sempat memberikan celetukan-celetukan yang membuat penonton tertawa.


03 Rossa YDhewRossa (Foto: YDhew)

Dalam hal panggung dan lighting  terlihat  megah ditambah dengan adanya giant screen  memanjakan penonton yang hadir malam itu. Suara Rossa yang kala itu tampil pun masih kurang maksimal, terkadang seperti terlihat sedikit kewalahan dalam bernyanyi dan belakangan diketahui bahwa memang Rossa yang belum pulih benar dari batuknya, bahkan ada syair yang Rossa  lupa.

Namun sebagai penyanyi yang professional dan mendapat julukan salah satu diva Indonesia,  hal tersebut mampu ditutupi Rossa dengan apik. Tohpati yang di dampuk sebagai Music Director dengan aransemen orkestra berhasil membuat penampilan Rossa terkesan megah dan  berbeda dengan lagu aslinya.

 "Akhirnya malam ini terjadi juga. Malam ini salah satu malam yang selalu saya mimpikan. Malam ini mengingatkan saya bahwa sudah 21 tahun saya berkarya di industri musik Indonesia. Itu semua karena kamu semua yang ada di sini," ucap  Rossa di ujung penampilannya./ YDhew

 

 


Thursday, 13 April 2017 20:42

Vira Talisa

Membawa Rasa Eropa Singgah di Jakarta

Sekitar 3 Tahun lalu, seorang wanita asal Jakarta Vira Talisa mengunggah sebuah lagu ‘Fly To The Moon’ karya Frank Sinatra melalui akun soundcloud miliknya. Tentu ini bukan hal baru dengan mengcover sebuah lagu yang pernah menjadi hits beberapa waktu silam, namun ini menjadi istimewa karena suara vokal asli Indonesia yang berkomposisi dengan broadway khas Perancis.

Vira Talisa Dharmawan, atau yang kerap disapa Vira ini santer di dengar akhir-akhir ini. Wanita yang bermukim di Renne, Perancis ini mendadak mewarnai industri indie Indonesia karena berhasil menelurkan sebuah single ‘Walking Back Home‘ yang kini sudah tersedia di player digital.

Bagi wanita asli Jakarta ini, sebuah refrensi itu sangatlah penting. “Karena untuk menjadi diri sendiri itu perlu refrensi”, ujarnya ketika bakudapa dengan NewsMusik. Sosok yang menjadi referensi itu tidak lain adalah seorang karakter Uncle Jesse dalam sitkom Full House. Karakter yang diperankan oleh John Stamos ialah tipikal paman idaman. Dia punya berbagai refrensi musik ajaib seperti The Beach Boys, Elvis, dan tentang musik era 1950an.

Wanita yang lahir pada 9 Desember 1993 ini sempat beberapa kali tampil diberbagai acara ketika masih menimba ilmu di Eropa. Dengan mengambil jurusan seni, Vira merasa dirinya bisa menjadi seutuhnya. Meninggalkan Indonesia sekitar 5 tahun tak membuatnya merasa kehilangan arah. Hal itu terlihat ketika dia merasa lebih produktif dan percaya diri untuk membuat karyanya sendiri. Berangkat dari sebuah film animasi yang sering diperlihatkan oleh orang tuanya ketika Vira kecil.

Bakat seni Vira pun tumbuh. Lewat instrumen piano pertama miliknya yang dibelikan oleh ayahnya ketika berumur 5 tahun. Vira jatuh hati dengan music berbagai soundtrack animasi.  Pengagum The Beach Boys ini pun mengaku, bahwa masa muda ialah batu loncatan untuk menemukan sebuah arah kehidupan dimasa muda seperti yang dituangkannya melalui lirik berjudul ‘Get Up, Get Down’.

02 Vira Talisa FikarVira Talisa (Fikar)

Pertengahan 2016, Vira kembali ke Indonesia dari masa studi di Perancis. Semenjak itu ia mulai memberanikan diri dan tampil di berbagai acara untuk memperkenalkan musiknya yang cukup berbeda dengan sebayanya. “Memang dasar rejeki, sebuah label Orang Cliff asal Bandung pun menawari kerjasama untuk menggarap lagu-lagu miliknya secara serius. Ini merupakan kejutan yang menyenangkan”, ungkapnya

Lewt kejutan itupun, akhirnya melahirkan sebuah EP (Extended Playlist) dalam bentuk 5 lagu yg bertajuk EP Self Titled. Sedikit berbeda dengan materi yang ia unggah di soundcloud, EP Vira Talisa ini tersa lebih kaya dengan isian instrumenisasi yg berwarna. Didalam lagu-lagunya, Vira bernyanyi mengenai melankolia romantisme ala Eropa dengan sentuhan pengaruh Broadway.
    
Ketika mendengar ‘If I See You Tommorow’, pendengar akan dibawa mengalun seperti menyusuri jalan-jalan penuh cafe dan berbagai musisi jalanan melewati dinginya iklim ranah Eropa. Vocal yang mengharuskan kita sambil berdansa, meminum teh bersama pasangan, sempurna untuk membangkitkan nostalgi gairah di Indonesia.

‘Into Dust’ cendrung memiliki makna akan kesendirian, setiap mahluk sesibuk apapun pasti suatu saat akan membutuhkan sebuah waktu entah lama atau tidak untuk sekedar mengevaluasi juga berkontemplasi kepada diri sendiri. Karakter gitar string ditambah tipisnya sound ini berhasil membuat suasana layaknya seorang manusia menghadap ke jendela diiringi hujan diluar kamar untuk merenung.

Pada suatu kesempatan, NewsMusik berhasil menyaksikan secara langsung sebuah private concert live bertajuk Authenticity, di Café Rolling Stones Jakarta. Dengan menghadirkan Vira Talisa sebagai pembuka acara. Balutan dresscode hitam ala Eropa klasik dan potongan rambut bob menggambarkan bahwa Vira memang sepenuhnya membawa Irama Eropa ke Jakarta.

03 Vira Talisa FikarVira Talisa (Fikar)

"Suasana dari musik saya secara keseluruhan mungkin bisa dibilang nostalgic karena kebanyakan referensi saya datang dari tahun 30-60an. Eksekusinya sangat organik, dalam artian saya senang menjaga sebuah lagu terkesan mentah, jujur dan rapuh, tanpa tambahan banyak efek maupun edit dalam vokal dan musik," jelas Vira

Tak hanya ingin merilis mini album, Vira pun menuturkan keinginan lainnya. "Ke depannya, pastinya ingin melahirkan karya-karya baru lagi. Mugkin akan mencoba kolaborasi dengan berbagai musisi dari genre yang berbeda-beda. Yang pasti saya akan explore musik lebih dalam dan mencoba lebih kreatif," ujar Vira.

Dan untuk saat ini EP Vira sudah dapat di dengar di player digital seperti iTunes, Spotify, Deezer, dan beragam digital lainnya.  Untuk kedepan semoga Vira Talisa mampu membakitkan gairah broadway dan tidak melupakan Indonesia sebagai identitasnya. Semoga....../ Fikar

Thursday, 13 April 2017 20:31

GIGI

Peremajaan Diri Lewat Manajemen Baru

Memasuki usia 23 tahun dalam berkarir di dunia musik, band yang digawangi oleh Armand Maulana, Thomas Ramdhan, Dewa Budjana dan Gusti Hendy ini selalu mempunyai berbagai cara untuk menjaga eksistensinya di industri musik tanah air. Di usia yang tidak lagi muda untuk sebuah band, GIGI selalu mencoba untuk makin solid sebagai tim. Pada bulan April 2016 lalu, GIGI melakukan penyegaran dengan melakukan re-branding dan membentuk manajemen baru dengan masuknya kembali Aria Baron sebagai manager.

Selain melakukan perubahan manajemen, di ultahnya  ke-23 kemarin (22/3) GIGI juga menggelar mini concert bertajuk “#GOALS” Gigi On Anniversary Stream yang bisa disaksikan secara live streaming di Shoemaker Studio, Cikini. Di tahun 2017 inipun GIGI juga menjalankan proyek barunya dengan meluncurkan website www.gigibandofficial.com. Ini adalah tampilan baru dan kembali memperkenalkan manajemen baru “Rumah Cinta Gigi Kita” yang dipimpin oleh Aria Baron dibantu dengan anak-anak muda yang lebih kreatif. Di manajemen baru melibatkan juga anak dari Thomas Ramdhan, Bounty Ramdhan sebagai Creative Content Creator Management GIGI.

“Dengan adanya tenaga muda ini, kita berharap kedepannya bisa membawa kesegaran  dan energi baru buat GIGI”, jelas Armand di Halfway Bar, Jakarta Selatan (12/4). Perubahan yang terjadi selama 20 tahun kemarin diakui Armand hanya bersifat konservatif yang menjadikan band ini bisa bertahan sampai sekarang.

02 Armand Maulana YDhewArmand Maulana (YDhew)

“Di era digital yang serba cepat sekarang, apabila tidak melakukan perubahan ditakutkan nanti GIGi hanya sebatas  nama saja. Kita kepingin tetap update, dan ini merupakan perubahan yang cukup mendasar bagi manajemen GIGI sendiri”, tambah Armand.

Dalam Rumah Cinta Gigi Kita, GIGI juga memberikan kesempatan bagi anak-anak muda untuk incharge di dalam manajemen lewat website yang mereka luncurkan. Selain itu juga lebih mendekatkan diri dan sebagai ajang silaturahmi pihak GIGI dari masing-masing personil GIGI dengan fans GIGI yang tersebar di seluruh Indonesia yang diberi nama GIGI Kita Fans Club.

“GIGI akan terus berkarya, sampai masing-masing personilnya tidak bisa bermain musik lagi”, tutup Armand./ YDhew

 

Monday, 10 April 2017 15:58

Simfoni Tarling

Mengembalikan Masa Keemasan Musik Tradisi

Bicara seni musik Tarling, artinya kita harus mengembalikan ingatan pada tahun 1930 an.  Tarling merupakan salah satu jenis musik yang populer di wilayah pesisir pantai utara (pantura) Jawa Barat, terutama wilayah Indramayu dan Cirebon. Tarling sendiri identik dengan nama instrumen gitar (gitar) dan suling (seruling). Alunan gitar dan suling bambu yang menyajikan musik Dermayonan dan Cerbonan akhirnya mewabah di berbagai pelosok desa di Indramayu dan Cirebon, sebagai sebuah gaya hidup.

Memasuki tahun 1935, alunan musik tarling mulai dilengkapi dengan kotak sabun yang berfungsi sebagai kendang, dan kendi sebagai gong. Setahun setelahnya, alunan tarling dilengkapi dengan alat musik lain berupa baskom dan ketipung kecil yang berfungsi sebagai perkusi.

Tak hanya sebagai pertunjukan musik, kesenian ini akhirnya disandingkan dengan pergelaran drama. Cerita yang disampaikan berkisah tentang kehidupan sehari-hari yang terjadi di tengah masyarakat. Karenanya muncul lakon-lakon seperti Saida-Saeni, Pegat-Balen, maupun Lair-Batin yang begitu melegenda hingga kini.

Seiring walktu berjalan, musik tradisi terancam punah ataupun berubah imej nya. Diakui memang tarling tidak dapat dipisahkan dari sejarah masyarakat pesisir pantura. Dikarenakan tarling telah mengalir disetiap pembuluh darah masyarakat pantura. Ikut terlibat dipanggung ataupun hanya melihatnya, dan mendengarnya seolah mampu menghilangkan beratnya beban hidup yang menghimpit. Lirik lagu maupun kisah yang diceritakan di dalamnya, juga mampu memberikan pesan moral yang mencerahkan dan menghibur.

02 Penampilan Hj. Ningsih dalam Simfoni Tarling IbonkPenampilan Hj. Ningsih dalam Simfoni Tarling (foto: Ibonk)

Nah, untuk kembali membesarkan dan mengembalikan tradisi ini ditempat yang layak, MESTI (Majelis Seni & Tradisi) Cirebon menghadirkan “Simfoni Tarling”. Pagelaran yang di sutradarai oleh Dedi Kampleng ini diiringi oleh Oeblet Tabuhan Nusantara Orchestra serta   dipertunjukkan selama 2 hari berturut-turut pada  7-8 April 2017 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Pertunjukan yang terbilang besar ini, menghadirkan konsep yang lebih mewah dari pada pertunjukan sejenis di kota asalnya, Cirebon. Melibatkan lebih dari 100-an pemain dan pendukung yang tidak hanya dimonopoli oleh musisi Cirebon lewat dukungan tata suara dan cahaya yang maksmal.

Sutradara pagelaran ini, Dedi Kampleng mengatakan keinginan menghadirkan event ini adalah untuk menahan derasnya gempuran pengaruh budaya dari barat maupun industri hiburan dalam negeri yang dianggap telah terpengaruh budaya asing. Dihadirkan lewat  perpaduan tarling klasik dengan tabuhan nusantara yang dibuat menarik dan kekinian, tanpa mengurangi nilai-nilai mendasar dari tarling itu sendiri.

“Pagelaran ini kami masukkan juga unsur-unsur musik dari berbagai daerah seperti dari Makasar, Yogyakarta, Batak dan lainnya. Kami itu bersilahturahmi nada dari berbagai daerah se-nusantara, yang menggabungkan kekuatan-kekuatan nasional se-nusantara,ujar Dedi menambahkan.

Dalam pantauan NewsMusik yang menyaksikan pementasan ini di hari kedua, sangat terasa dinamis mengikuti keadaan zaman. Tarling sendiri dihadirkan lewat sentuhan dangdut, pop, rock, bahkan reggae lewat iringan  musik orkestra. Lewat sajian yang penuh sentuhan kekinian tersebut, Dedi mengharapkan agar anak-anak muda, mau mengerti dan mencintai tradisi Tarling ini.

03 Simfoni Tarling IbonkSimfoni Tarling (foto: Ibonk)

Pentas yang dibuka lewat nyanyian dan iringan gitar dua maestro yang menggiring penonton lewat narasi bernada. Bercerita tentang musik tradisi ini sejak awal hingga kini dan bagaimana musik ini sendiripun cukup bisa diadaptasikan dengan instrumen modern lainnya.

Lalu dilanjutkan dengan penampilan para diva tarling seperti Hj. Nengsih, Hj. Uun Kurniasih, Nunung Alfi ataupun lantunan suara Diana Sastra yang semuanya memiliki karakter dan mampu menunjukkan poternsi dan keunikan suaranya masing-masing. Bisa dibilang ini merupakan pertunjukan sempurna.

Panggung yang disesaki oleh beragam alat dan banyaknya pemain yang terlibat mampu  mengiri lagu-lagu yang cukup dikenal ditelingan pencinta musik ini diantaranya: ‘Kembang Kilaras’, ‘Sumpah Suci’, ‘Pemuda Idaman’, ‘Aja Melang’, ‘Remang-Remang’, ‘Arjuna Ireng’ sampai ‘Warung Doyong’

Ada sepenggal harap yang sempat terucap oleh Dedi pada pesannya bahwa lewat pertunjukkan ini, orang-orang asli Cirebon yang sudah besar di luar kota menjadi tergugah untuk membangun tanah kelahiran agar lebih maju. Juga dapat menjaga generasi muda Cirebon untuk mewarisi budaya ini agar tidak hilang./ Ibonk

 

Saturday, 08 April 2017 23:35

Anto Hoed

Berbicara Mengenai Musik Scoring

Dibalik kesuksesan Melly Goeslaw sebagai Queen of Soundtrack, ada sosok yang tidak bisa dipisahkan dari kesuksesan sang ratu tersebut. Anto Hoed, merupakan sosok pria yang sederhana, ramah dan santun kelahiran  19 Mei 1964, selain sebagai musisi ia juga sebagai penata musik yang diperhitungkan di tanah air.

Banyak sudah karyanya bersama sang istri mendapat penghargaan. Selain keduanya bergabung di group band Potret, Anto juga aktif di berbagai kegiatan musik. Predikat musisi spesialis lagu soundtrack pun melekat didirinya. Baru-baru ini NewsMusik berkesempatan berbincang-bincang dengan Anto Hoed di Gedung Kesenian Jakarta lalu, berikut percakapannya :

Apa khabar Mas Anto?
Alhamdulillah baik

Ada proyek apalagi yang dikerjakan mas Anto?
Saat ini setelah pekerjaan theme song film Kartini, ada kerjaan dengan Malaysia, tapi buat saya film karya Hanung ini sangat menarik dan waktu mengerjakankannya juga sangat hati-hati. Lagu ini adalah Ini lagu perjuangan, tapi bukan perang. Perangnya itu dengan intelektual, kesadaran tinggi bahwa waktu itu perempuan enggak punya otoritas. Ini salah satu lagu tersulit yang saya buat. Cukup lama penyelesaiannya sekitar kurang lebih dua bulan

Boleh diceritakan , bagaimana proses penciptaan sebuah lagu bersama teh Melly?
Melly biasanya membuat melodi dengan chord yang sangat sederhana, melodi dan lirik kemudian disatukan lalu direservasi ke saya untuk dikerjakan lagi dan di aransemen tergantung kebutuhannya. Saya sepenuhnya hanya memproduksi musiknya, masalahnya musiknya itu harus tergantung dengan kebutuhannya.

Seperti pada film Promise kemarin, saya harus buat tidak boleh seperti AADC, dimana dalam segi umur berbeda. Tetapi juga tidak boleh dibuat terlalu sederhana banget, sehingga kadang bila dipasangkan di film kadang-kadang tidak enak.  Kesulitannya disitu, misal kalau saya hanya pakai piano saja, berarti kan penyanyinya harus bagus banget . Masuk nggak kira-kira ke filmnya?. Jadi saya lebih ke design productionnya saja.

Kesulitannya sebagai partner dalam bermusik dengan teh Melly?
Pernah juga kadang saya buat aransemen tidak sesuai dengan yang dibayangkan, kadang kalau gak cocok agak bawel dan itu harus diulang. Misalnya lagu tersebut terlalu sederhana atau kurang megah itu aja sih.

Untuk anak-anak sendirikan sudah besar sekarang dan juga bisa dibilang sebagai musisi saat ini. Apakah mempengaruhi mas Anto dalam mengaransemen lagu?
Kalau untuk di musik soundtrack biasanya mereka tidak pernah terlibat, kalau dimusik lain iya.

 

02 Anto Hoed YDhewAnto Hoed (Foto: YDhew)

Untuk Potret sendiri apakah akan ada karya baru lagi?
Sebetulnya akan ada yang dikerjakan, tetapi masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Maunya habis ini akan ada yang kita kerjakan.

Mas Anto anak keberapa?
Saya anak tunggal dari istri pertama, Bapak saya menikah lagi dan dari istri kedua punya adik kembar Sinta dan Santi

Cita-cita Mas Anto dulu sebetulnya apa dan kenapa tiba-tiba terjun di dunia musik sebagai pemain bass? Apa yang menjadi pertimbangan mas Anto terjun ke bidang ini?
Dulu ayah saya yang mengenalkan musik, karena ayah bermain harmonika. Dari kecil dikenalkan dengan gitar, waktu kita pindah keluar negeri ayah saya ditugaskan di Paris. Saya kebablasan waktu sekolah di Belanda tiba-tiba pulang sudah ada piano, gitar di rumah.

Dirangsang untuk bermain musik oleh ayah saya. Tapi saya belum berfikir untuk sekolah musik. Saya maunya sekolah hukum di London, saya malah pingin jadi lawyer di sebuah perusahaan asuransi yang besar di London. Ayah itu  seorang nasionalis, sebagai seorang Guru Besar di UI, beliau menyarankan untuk mengambil kuliah di UI untuk ambil Hukum.

Akhirnya saya daftar dua, Sinematografi di IKJ dan daftar juga di UI kala itu, .. ndilalah dua-duanya diterima. Akhirnya saya pilih UI, tapi entah kenapa setelah berjalan 3 tahun mulai merasa nggak tertarik ikut kuliah disini. Saya ambil cuti lalu kemudian kuliah di IKJ.

Kenapa awalnya tertarik menjadi Lawyer?
Ya itu karena duitnya banyak.. (sambil tertawa)

Kemudian terjun ke dunia musik sejak kapan?
Mulai di IKJ dan diterima di musik, akhirnya disana mulai kenal dunia musik. Kenal Indra Lesmana dan musisi-musisi lainnya. Di IKJ saya mulai mempelajari teori tentang musik dan menguasai beberapa alat musik.

Kenapa bisa menyukai alat musik bass, punya idola nggak?
Nggak tau juga kenapa bisa suka sama bass, mengalir aja. Idola juga nggak ada ya, ngertinya main musik aja.

Dulu sebelum di Potret pernah punya band lain nggak?
Dulu pernah punya band dan ikut festival tahun 90-an bandnya lupa namanya. Habis itu nggak ada lagi. Lalu bergabung dengan Potret tahun 1995 sampai sekarang.

Ada tidak musisi Indonesia lain yang mempengaruhi permainan musik mas Anto?
Sebetulnya dari dulu pengaruh terbesar dari awal bermain musik sebetulnya Indra Lesmana. Saya sama Indra dekat banget, banyak sekali yang bisa saya tangkap dari dia. Secara musikal mungkin saya tidak sama Indra  karena menurut saya Indra musisi yang terbaik, itu yang saya tangkap sampai sekarang.

 

03 Anto Hoed YDhewAnto Hoed (Foto: YDhew)

Boleh ceritakan waktu pertama kali bergabung di Potret
Dulu pas waktu menikah sama Melly, lalu mulai bercerita tentang album dan menghindari seringnya keluar malam, akhirnya kita bikin potret sama Arie Ayunir waktu itu.

Mengenai lirik potret yang anti mainstream dan sedikit nyeleneh, sebetulnya itu sesuai nggak dengan karakter mas Anto?
Saya asyik aja waktu itu, ada bunyi-bunyian berbeda selain yang ada waktu itu. Dulu kan di Indonesia kebanyakan group band ada GIGI, dan lain-lain yang semuanya mainstream. Nah kita buat supaya laku, berbeda dengan yang lain. Meskipun di awal kita jalan tidak terlalu laku, bisa dibilang jeblok lah dipasaran. Tapi ketika kita berdua, tiba-tiba booming.

Menurut mas Anto lebih nyaman sebagai penata lagu, atau bermain musik saja?
Samua menarik menurut saya, penata musik iya, pemain bass iya semua punya keasyikan sendiri dan itu merupakan bagian dari penataan musik.

Menurut mas Anto apa artinya suatu penghargaan?
Sebetulnya, penghargaan itu adalah suatu akibat dari yang kita bikin, jadi bukan merupakan suatu tujuan. Bahwa berkarya dengan sebuah karya yang kita buat sebaik-baiknya. Tapi bukan bertujuan untuk mendapatkan penghargaan. Jadi saya kira sebuah penghargaan itu adalah bentuk apresiasi dari apa yang sudah dihasilkan, memang bukan semata-mata tujuan. Jangan sampai nanti kalau tidak tercapai jadi suatu kekecewaan.

Pernah merasa jenuh nggak sebagai musisi?
Jenuh sih nggak, cuma kalau jalani prosesnya aja kadang hadeeeuuuh.. Tapi kalau mengerjakan sesuatu dengan merasa jenuh nanti hasilnya akan tidak baik.

Mas Anto kan sudah lama juga menggeluti bidang musik, pingin punya karya sendiri nggak diluar dari proyek teh Melly atau Potret paling tidak untuk fansnya mas Anto?
Nggak pernah kefikiran punya karya sendiri. Saya punya scoring-scoring karya saya yang pernah saya buat, tapi memang belum dijadikan satu. Tapi scoring yang saya buat nanti tulisannya bisa di publish, sehingga orang lain bisa membaca dan menikmati itu untuk kepentingan edukasi. Karena memang musti diturunkan pada suatu saat nanti untuk dibaca atau untuk di sekolah musik.

Warna favorit mas Anto apa?
Saya suka warna putih atau hitam. Kalau putih kelihatannya bersih aja gitu.

 

04 Anto Hoed YDhew(Foto: YDhew)

Untuk kerjasama dengan perfilman Indonesia, teh Melly sempat bilang bahwa ada perbedaan antara pembuat scoring musik dengan produser film itu sendiri. Bisa dibilang bahwa penghargaan atas karya musik scoring tidak sejajar dengan film itu sendiri seperti ada gap.
Sebetulnya bukan ada gap ya.. Kadang-kadang scoring dalam film itu menjadi hal yang ke 13 diantara film itu sendiri. Dalam produksi film Indonesia, musik bukan menjadi salah satu hal yang jadi utama. Masih yang dilihat hanya melulu mengenai gambar, itu nanti yang mesti dirubah.

Menurut saya salah satu penghargaan yang diberikan oleh FFI itu adalah mengangkat harkat dan martabat seluruh penata musik dalam film, jadi bukan hanya saya saja. Saya pernah sampaikan juga mengenai hal ini diatas panggung, bahwa penghargaan yang saya terima sebetulnya untuk seluruh penata musik Indonesia. Sehingga kita menjadi ada nilai untuk sebuah film. Jjadi jangan sampai nanti orang bilang udah deh musiknya seperti ini aja, 25 juta aja cukuplah. Tidak bisa begitu,..

Sebagai contoh, kita buat film dengan modal 100 juta untuk musik sekitar 25 jutaannyalah. Juga harus diberikan keleluasaan dalam pembuatannya. Film Indonesia yang mulai banyak seperti sekarang, pemusiknya juga harus belajar bahwa musik film berbeda dengan musik untuk sinetron karena moodnya beda, cara nempatkannya juga beda.

Harapannya kedepan untuk musik Indonesia sekarang?
Sebetulnya kita semua sudah mencapai yang terbaik, dengan berkembangnya musik sekarang. Yang musti kita tambah adalah bagaimana meningkatkan kepekaan pemusik-pemusik itu terhadap hal-hal yang dia lakukan. Misalnya kalau kita bicarakan mengenai film dia harus lebih peka dari hanya sekedar membuat musik untuk film. Jika di film A kita juga harus memikirkan, apa akibatnya apabila kita buat musiknya seperti ini harus lebih jauh untuk hanya sekedar bikin musik. Jadi orang tau apabila mendengarkan musik ini untuk film si A, atau si B. Harus berintegrasi, bersatu dengan karakter dan musik di film itu.

Saya pinjam kalimatnya Indra Lesmana, contoh AADC itu casenya ada 5 orang. Ada Cinta, dan 4 temannya. Tapi ada case satu lagi yang menjadi karakter  di film itu yaitu Anto dan Melly, artinya saya melihatnya bahwa musik itu juga karakter dari sebuah film sehingga bukan sekedar membuat musik.  Tidak sesederhana itu, kepekaan itu yang harus di miliki oleh rumah produksi dan pembuat musik. Jadi memang harus ada filosofi dalam berkarya, main musik tidak hanya merasa benar bermain musik saja. Harus ada feel nya.Dalam not itu ada draft satu desible itu ngomong, ada kalimat bahwa satu paragraf itu diucapkan dalam satu frase, jadi jauh lebih hanya memainkan kata-kata.

Satu lagi untuk film, mengapa kita harus mengirimkan film kita ke luar negeri? Kita harus lihat dari positifnya, bahwa film-film kita adalah suatu budaya, jadi sebetulnya kita mengirimkan film ke luar negeri itu merupakan suatu pendekatan politis melalui budaya./ YDhew

Page 8 of 114