Exclusive Interview
NewsMusik

NewsMusik

Thursday, 04 May 2017 13:39

Nidji

Mendadak Undur Konser "Arti Sahabat"

Didasari oleh kondisi dan situasi politik yang berkembang di Indonesia khususnya di DKI Jakarta saat ini,  walau terkesan mendadak, PT. Catur Nawa Lintasswara, Musica Studio selaku penyelenggara konser Nidji “Arti Sahabat” memandang perlu untuk merubah jadwal konser tersebut.

Hal ini tentu saja bukan kabar yang diharapkan, apalagi bagi fans Nidjiholic. Dua hari menjelang konser, Nidji malah mengumumkan pengunduran jadwal konser. Ada apa? “ini merupakan keputusan yang dibilang mendadak. Tapi kami dari pihak promotor memutuskan untuk megundurkan atau mengubah jadwal konser dari waktu yang ditentukan,” jelas Theresia Caesar Sebastian, perwakilan PT. Catur Nawa Linsswara di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Rabu (3/5/2017).

Keputusan besar ini bukan tanpa sebab. Menurut Theresia, fakor kondisi dan situasi politik yang berkembang di Indonesia khususnya Jakarta, yang membuat mereka terpaksa menunda konser. Namun, untuk fans yang sudah membeli tiket tak perlu khawatir dan panik. Pihak penyelenggara telah memiliki opsi, bagi penggemar yang sudah terlanjur membeli tiket konser bisa langsung menghubungi pihak promotor untuk pengembalian tiket atau diganti dengan tiket baru.

02 Nidji RizalNidji (foto: Rizal)

“Bagi yang sudah punya tiket akan kami hubungi dan kami tukar. Mekanisme bagaimana akan kami komunikasikan lebih lanjut. Besar harapan kami juga yang menonton jangan kecewa,“ sambung Theresia.

Giring sang vokalis mengaku tidak kecewa dan justru mendukung keputusan penundaan konser tersebut. “Sebetulnya sih lebih buruk kalau kita memaksakan tapi tiba-tiba pada akhirnya ada banyak hal yang tidak diinginkan terjadi. Menurut saya, promotor, manajer, dan Musica Studio sudah melakukan hal yang benar agar semuanya bisa positif,“ kata Giring Nidji.

Namun sayangnya, baik pihak promotor, maupun Nidji sendiri belum tahu kapan konser tersebut akan dilangsungkan. Namun yang pasti, penyelenggara berjanji akan menginformasikan secepatnya. / Rizal

Friday, 28 April 2017 14:03

The Curse

Mereka Datang dengan Pesan

Sangat menarik tentunya untuk melihat bagaimana perpaduan antara budaya mistis Indonesia dengan latar tempat di negara dengan budaya barat, hal inilah yang coba untuk di tampilkan dalam film The Curse. Mengisahkan protagonis bernama Shelina (Prisia Nasution), seorang pengacara Indonesia yang bekerja di sebuah kantor hukum ternama di Melbourne, Australia, yang banyak menangani kasus – kasus pembunuhan.

Suatu hari Shelina didatangi roh halus di tempat tinggalnya, dan semakin hari penampakan roh itu semakin terlihat dengan jelas. Hal ini membuat Shelina yang semula tidak percaya dengan hal-hal mistis, menjadi paranoid dan depresi. Tidak tahan dengan gangguan yang dihadapinya, Shelina akhirnya memutuskan untuk mengundang paranormal khusus dari Yogyakarta, untuk mencari tahu mengapa roh tersebut terus mendatanginya.

Singkat cerita, sang paranormal kemudian menjelaskan bahwa roh yang sering menghantui Shelina, datang karena ingin menyampaikan sebuah pesan yang penting. Pesan tersebut berujung dengan pengungkapan misteri dari sebuah kasus yang pernah ditangani Shelina, dimana kliennya adalah seorang wanita bernama Lienn (Shareefa Danish).  Hal ini kemudian menyeret Shelina ke dalam sebuah petualangan yang penuh teka-teki dan hal mistis.

Setelah sekian lama diisi dengan film-film horor yang hanya menjual wanita-wanita seksi, The Curse bagaikan angin segar bagi perfilman Indonesia. Ditulis dan disutradarai oleh Muhammad Yusuf, film ini cukup berhasil menggabungkan elemen horor klasik, dengan gaya penceritaan yang modern. Ini yang akan memberikan sensasi berbeda bagi pecinta film horor Indonesia.

02 The Curse IstimewaThe Curse (Istimewa)

Aspek visual juga merupakan poin penting yang menambah keunikan film ini. Di luar suasana mencekam yang sudah pasti menjadi porsi utama, The Curse juga memanjakan mata dengan menyajikan pemandangan dan keindahan alam dari negara bagian Victoria.

Sayangnya,  plot cerita The Curse masih menggunakan formula film horor yang sering ditampilkan film Indonesia. Kemudian pengembangan karakter di film ini juga terkesan  terburu-buru. Selain itu elemen - elemen horor yang tersaji terlalu ringan, dengan tone yang kadang tidak konsisten. Satu hal kuat yang mengisi film ini adalah akting dari Prisia Nasution yang patut diacungi jempol. Prisia berhasil menampilkan peran yang dibawakannya dengan baik, seingga membuat karakter Sheila menjadi sosok yang hidup, unik dan memorable.

Disamping itu semua, The Curse merupakan sebuah film yang patut untuk disimak, khususnya bagi penonton yang ingin merasakan sensasi baru dalam meninkmati genre film horor Indonesia. Penggabungan unsur misteri dan horor, dengan realita kriminalitas yang ada di Australia, akan menyajikan ketegangan dari awal hingga akhir film. The Curse tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 April 2017./ Fattah

03 The Curse IstimewaThe Curse (Istimewa)

Tuesday, 25 April 2017 15:48

Fourtwnty

Memaksimalkan Kenyamanan

Menjadi salah satu pengisi soundtrack sequel film Filosofi Kopi 2: Ben & Jody, akhirnya  Fourtwnty resmi merilis single merena berjudul ‘Zona Nyaman’. Sebuah lagu yang memberikan pesan kepada masyarakat agar jangan terlalu dimanja oleh zona nyaman mereka sehari-hari.

Fourtwnty percaya bahwa ketika zona nyaman bisa diatur secara dinamis, maka akan banyak pengalaman baru didapatkan. Suatu pengetahuan yang mungkin tidak kita dapatkan kecuali kita keluar dari zona nyaman kita masing-masing. Menurut Ari Lesmana, sang vokalis bahwa ‘Zona Nyaman’ memberikan pesan bahwasanya melakukan pekerjaan dari hati akan lebih mendekatkan kita dengan kebahagiaan.

Dalam single ini kita bisa merasakan kekhasan Fourtwnty dalam memberikan kenyamanan melalui musiknya. Tidak hanya memanjakan panca indera, tetapi juga untuk memuaskan jiwa.

Lewat penggabungan antara seni visual dan musik, lagu ini menjadi lagu pembuka untuk mini-album kedua mereka yang berjudul “Jangan Minta Nambah”. Lagu ini diluncurkan pada tanggal 20 April 2017 bertepatan dengan ulang tahun Fourtwnty yang ke-7.

02 Fourtwnty IstimewaFourtwnty (Istimewa)

Kelompok yang diprakarsai oleh Ari Lesmana, Nuwi dan Roots, Fourtwnty telah mengembangkan proyek mereka selanjutnya, setelah mini-album “Setengah Dulu” pada Desember 2014 dan dilanjutkan setahun kemudian dengan rilisan full album “Lelaku” pada Mei 2015.

Mereka berhasil memanjakan pendengarnya lewat nada-nada santai dan nyaman. Berisikan para musisi multi-intstrumentalis yang mendedikasikan dirinya untuk menyebarkan pesan toleransi, kedamaian dan pluralisme melalui musik dan konsep yang matang./ Ibonk

 

Thursday, 27 April 2017 15:39

Direct Action

Single Anyar Lewat Konsep Beda

Perjalanan karier  bermusik dari grup band Direct Action bukanlah seperti aspal mulus yang dapat digeber dengan kecepatan tinggi dan menang. Namun adalah jalan sebaliknya, yang tak rata dan penuh lubang. Meskipun sudah terbentuk sejak 2009 silam, band yang beranggotakan Joseph Saryuf (vokal, Keyboard dan gitar) lalu Tyo Nugros sebagai drummer dan juga Sulung Koesuma untuk art director, mengakui hal tersebut.

Terbentuk pertama kali terbentuk pada tahun 2009 – 2012, beranggotakan Joseph Saryuf (Santamonica) & Sulung Koesuma (C'mon Lennon). Duo ini tampil beberapa kali dengan format DJ set & Live PA, membawakan remix lagu dari Bayu Risa, The Brandals dan lainnya.

Memasuki bulan April tahun 2013, Joseph Saryuf memutuskan untuk meneruskan proyek ini menjadi musik dengan aliran Rock dengan nama Direct Action dan merilis sebuah single free download di situs soundcloud yang berjudul ‘The Chills’.  

Hingga pada akhir 2016 Joseph bertemu dengan Tyo dan beserta Sulung Koesuma memutuskan untuk melanjutkan proyek ini. Semuanya tak lepas dari kesamaan visi dan jenis musik yang mereka sukai, yakni penggabungan dari beberapa genre diantaranya adalah , electronic rock, post rock dan math rock.

“Kami selalu berusaha menciptakan lagu yang bisa membuat orang-orang ingin mendengarkannya setiap saat. Kita senang membuat musik, dan ingin pendengar musik kita juga merasakan hal yang sama”, ungkap Joseph Saryuf atau sering disapa Iyub seperti yang dikutip dari  siaran pers mereka.

02 Direct Action IstimewaDirect Action (Istimewa)

Pada pertengahan bulan ini, tepatnya 12 April 2017, Direct Action akhirnya meluncurkan single terbaru mereka berjudul ‘Blush Blush’. Sebuah lagu yang mengandung metafora sederhana sifat dan perasaan manusia dalam kehidupan sehari hari.

Pada hari itu juga, grup rock yang berdiri dibawah naungan Sinjitos Records tersebut juga secara resmi meluncurkan klip video musik dari single pertama mereka di Youtube. Video yang disutradarai oleh para pengajar dari UNIC SSR yaitu Patrick Tadashian dan David Jimenez.

“Secara konsep, video ‘Blush Blush’ ini banyak terinspirasi oleh nuansa tahun 90-an. Efek-efek pernuh warna dan kita mencoba memasukan tema women boxing, karena sekarang ini MMA (Mixed Martial Arts) selain disukai kaum pria juga telah menjadi tren bagi para wanita.  Kami selalu menyuguhkan yang berbeda, karena kami akan selalu keluar dari zona nyaman bermusik untuk kreatifitas yang berbeda”, ujar Tyo Nugros./ Ibonk

03 Blush Blush IstimewaBlush Blush (Istimewa)

Sunday, 23 April 2017 10:28

Bonita & The Hus Band

Perayaan Sewindu Dan Lahirnya Album Kedua

Hijau dan merah. Dua warna itu yang selalu identik dengan cabe. Setidaknya begitu orang-orang memang lebih mengenalnya. Sehingga ketika menemui cabe dengan selain dua warna tersebut, sudah pasti bertanya: ini benar-benar cabe atau bukan. Setidaknya ini yang kemudian menjadi pembahasan NewsMusik bersama Bonita dan Silir Pujiwati.

Cabe ornamental magenta, begitu keterangan yang tertulis di sebuah kertas yang ditancapkan di tanah dalam pot. Terletak di teras di luar auditorium Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis di bilangan Rasuna Said, Jakarta. Menimbulkan pertanyaan apakah cabe ini hanya hiasan dan tidak bisa dimakan.

Bisa jadi karena terlalu malas bertanya pada mbah Google, akhirnya berujung pada berkomentar asal-asalan. Mulai dari cabenya dicat sampai menarik kesimpulan sendiri tidak bisa dimakan. Serta menyisakan pertanyaan kalau tukang gorengan memberikan cabe itu sebagai pelengkap gorengannya bakal dimakan atau tidak.

Pembahasan masalah cabe terlupakan ketika membahas rencana babak berikutnya rangkaian keliling beberapa kota dengan tajuk Belong To Each Other Tour 2017. Salah satu kota yang akan disinggahi adalah Nias. Dimana berkaitan dengan daerah tersebut, ternyata baru beberapa hari sebelumnya Bonita mengetahui kalau dia ternyata memiliki darah Nias dari buyutnya.

Obrolan di teras itu dilakukan sembari menunggu alat-alat musik tengah disiapkan di dalam auditorium. Hari itu, Rabu (12/04), Bonita bersama Bonita & the Hus Band (BNTHB) akan menggelar pentas pada malam harinya. Dalam rangka merayakan ulang tahun kedelapan sekaligus perayaan perilisan album kedua BNTHB, Rumah.

Peralatan yang akan digunakan untuk pentas sendiri sudah tiba sejak jam 1. Tapi baru diizinkan untuk dibawa masuk ke auditorium mulai jam 2. Untuk mengisi waktu, kru beserta personil BNTHB, minus Bonita yang belum datang, memutuskan untuk mengisi perut. Selesai makan, perut pun kenyang. Pas dengan saatnya untuk memasukkan peralatan dan kemudian soundcheck.

“Gue penasaran banget. Udah lama nih gue pengen banget mainin pianonya,” ujar Andie Jonathan Palempung, atau biasa dipanggil Jepe. Piano yang dimaksud adalah grand piano dengan merek Bosendorfer. Sebuah nama yang sudah berkecimpung dalam pembuatan piano dari Austria sejak 1828.

02 Bonita And The Hus Band Klandesti NBonita And The Hus Band (foto: Klandesti N)

Tak perlu menunggu perintah, Jepe langsung menghampiri dan memainkan piano idamannya. Denting piano mengisi seantero auditorium Erasmus Huis. Sekaligus mengiringi kesibukan kru dan personel BNTHB mempersiapkan perlengkapan untuk pentas.  “Asyik juga kali ya kalo punya piano di rumah. Tapi mau ditaruh mana ya di rumah gue hehehehe,” kata Petrus Briyanto Adi alias Adoy, gitaris sekaligus penyanyi latar, berkhayal ketika melihat Jepe asyik memainkan piano.

Semua sibuk dengan aktifitas masing-masing. Jimmy Tobing mempersiapkan saxofon dan menyempatkan memainkannya sejenak. Bharata Eli Gulo tentu menyusun perkusinya. Di sebelahnya tak kalah sibuk Agung Budiman yang biasanya mendokumentasikan, ikut menyiapkan perkusinya. Di ruang sebelah auditorium, Ira Humairah yang kemudian dibantu Ruth Priscilla Hutabesy sibuk mendata pemesanan tiket.

Ruth datang bersama tunangannya, Gabriel Mayo. NewsMusik mengucapkan selamat atas rencana peluncuran mini album bertajuk Hari Ini. Digelar dua hari setelah pentas BNTHB di Paviliun 28. Mayo hanya sebentar singgah di Erasmus Huis karena harus bertemu dan berlatih dengan kelompok Celtic Room di Plaza Festival.

Sembari menunggu waktu untuk soundcheck, paling asyik menikmati segelas teh atau kopi hangat. Berkumpul di meja yang sama dengan Ira dan Ruth masih berkutat dengan urusan tiket. Sementara Bonita lebih memilih berjalan-jalan sambil melatih dan melemaskan jari-jarinya memainkan ukulele.

Sekitar pukul empat sore, BNTHB formasi lengkap soundcheck membawakan beberapa lagu. Formasi untuk pentas ini selain dilengkapi oleh Jepe dan Agung, ada Yusuf Dharmayan Soerachmadi memainkan bass serta Butong Olala dengan akordionnya. Tak lupa penyanyi diimpor dari Yogya yang merupakan biduan kelompok Kua Etnika, Silir Pujiwati.

Awalnya Bonita, Adoy dan Silir sempat kesulitan menemukan nada yang tepat bagi tembang berbahasa Jawa yang dinyanyikan. Tapi setelah beberapa kali akhirnya ditemukan kunci yang pas untuk lagu tersebut. “Aku gak mau nyanyi, aku maunya liat kamu nyanyi,” ujar Bonita dengan nada manja seperti anak kecil.

03 Bonita And The Hus Band Klandesti NBonita And The Hus Band (foto: Klandesti N)

Ucapannya itu ditujukan kepada Silir yang sukses membuatnya tak bisa menyembunyikan kekaguman. Bahkan ketika Silir menembangkan lirik berbahasa Jawa, Bonita tak kuasa menyembunyikan rasa terharu. Matanya berkaca-kaca menyimak Silir menembang.

Soundcheck berhenti ketika jarum jam hampir menyentuh pukul enam. Jimmy beranjak keluar auditorium untuk menghampiri istri dan anak perempuannya yang baru datang. Jimmy menggendong Truly Sofia Tobing menuju ke dalam auditorium dan mendekat ke Jepe yang tengah memainkan piano.

Kehadiran Truly menambah semarak suasana. Bonita yang gemas tak puas-puasnya menciumi meski bayi berumur 10 bulan itu tengah belepotan makanan pipinya. Silir pun juga tak kalah gemas. Dia lalu menembangkan lagu ‘Lelo Ledung’ yang dijelaskannya sebagai lagu pengantar tidur. “Ada ya suara-suara kayak gitu ya,” ucap Jimmy sambil menggeleng-gelengkan kepala dan wajah penuh kekaguman. Sebuah ekspresi kekaguman mendengarkan suara Silir yang memesona.

Truly yang murah senyum dan senang tertawa memang mencuri perhatian setiap orang dewasa yang ada. Tambahkan satu bayi lagi, maka semakin semarak lagi. Dia adalah Rubina Kalila Semesta. Merupakan anak pertama Candisa dan Agus Leonardi. Tak lain adalah keponakan Bonita.

Di luar Erasmus Huis hujan tiba-tiba datang dengan derasnya. Tentu saja ini menimbulkan kekhawatiran akan membuat menghalangi penonton untuk datang. Belum lagi ditambah kemacetan Jakarta yang beberapa minggu belakangan ini semakin menggila. Kebetulan pula Erasmus Huis tidak jauh dari perempatan Kuningan yang terkena “basian” kemacetan di Pancoran.

“Tenang aja yang gak bakalan sepi kok, paling dikit (penonton) yang datang,” canda Adoy menjawab pertanyaan apakah ada penonton yang datang. Bonita tertawa tapi tampaknya bercampur sebal juga mendengar jawaban Adoy.

Kehadiran satu orang lagi semakin membuat suasana meriah. Windra Benyamin atau akrab disapa Bontel yang menjadi biang keroknya. Saling cela dengan Adoy, Bonita dan Bharata. Mengaku heran kenapa dia senewen padahal BNTHB yang pentas. “Lo pasti rindu manggung ya? Eh bukan. Rindu manggung sama Float ya?” goda Adoy. Sementara yang digoda cuma cengengesan.

Beberapa menit menjelang pentas, semua berkumpul membentuk lingkaran. Adoy memberikan kata pengantar dan sekaligus memberi semangat untuk semua yang hadir dan terlibat. Terbukalah sebuah fakta bahwa ulang tahun BNTHB sebenarnya di bulan Mei. Jadi selama beberapa tahun sebelumnya keliru.

BNTBH muncul ke atas panggung setelah disebutkan oleh pembawa acara dadakan. Direncanakan awalnya adalah Donny yang bertindak sebagai penata cahaya untuk mengumumkannya. Tapi kemudian malah suara perempuan yang berkumandang. “Hujan tiada henti membasahi bumi. Ia membiarkan rintiknya. Rintihan tangis ibu pertiwi. Tanah, rumput, daun dan bunga. Tumbuh indah beraneka ragam. Lalu hujan turun tiada henti,” demikian Bonita menyanyikan lagu pembuka konser.

NewsMusik sempat bingung mencari di album terbaru lagu yang mana dinyanyikan sebagai pembuka tersebut. Sehari setelah konser via Whatsapp diperoleh informasi dari Adoy. Judulnya Insert I tapi berbeda dengan versi album yang tidak ada liriknya. Judulnya pun menjadi ‘Hujan’ dengan lirik yang baru dibuat Bonita.

04 Bonita And The Hus Band Klandesti NBonita And The Hus Band (foto: Klandesti N)

Sepanjang konser Bonita berusaha menahan diri untuk tidak banyak berbicara. Takut emosional, begitu alasannya. Alhasil Adoy banyak mengambil alih berbicara. Menjelaskan tentang lagu yang dibawakan, sekelumit kisah tentang BNTHB dan juga tidak ketinggalan bercanda. “Terima kasih yang sudah datang ke sini malam ini. Daripada nonton debat pilkada yang gak jelas itu, memang lebih baik di sini saja,” kata Adoy.

Malam itu memang tengah berlangsung debat terakhir Pilkada DKI Jakarta. Dan ada pemandangan menarik di FOH malam itu. Donny yang sibuk dengan berbagai tombol di depannya mengatur cahaya ternyata menyimak debat tersebut melalui gawainya. Matanya memandang ke perangkat penata cahaya. Tapi telinganya menyimak debat yang didengarkannya melalui earphone.

Konser selain dimeriahkan oleh tepuk tangan penonton, juga disemarakkan dengan pekikan riang Truly di beberapa kesempatan. Di bagian lain terlihat juga seorang anak kecil yang asyik menari-nari mengikuti lagu yang tengah dibawakan.

Silir kembali memukau dengan suaranya. Terungkap kemudian bila tembang Jawa yang dibawakan sebagai pembuka lagu ‘Rumah Temanku’ dibuatnya di atas kereta api dalam perjalanan Yogya menuju Jakarta. Dia memberi kejutan pula dengan menyanyikan lagu ulang tahun berbahasa Jawa sebelum silam.

Di antara penonton yang hadir terlihat orang tua, handai taulan dan sahabat. Usai konser, BNTHB menghampiri mereka untuk mengucapkan terima kasih. Air mata haru Bonita tak terbendung ketika mengucapkan terima kasih sambil memeluk sang ayah, Koes Hendratmo. Selamat sewindu Bonita & the Hus Band. Sukses untuk babak kedua rangkaian Belong To Each Other Tour 2017. /Klandesti N

 

Tuesday, 25 April 2017 09:35

Nonaria & Danilla

Bersenang-senang Bersama

Baru belajar dan perut lapar. Dua hal tersebut adalah dari sekian banyak penyebab seseorang mudah lupa. Setidaknya ini yang bisa NewsMusik simpulkan ketika melihat Nesia Medyanti Ardi, Nanin Wardhani, Yasintha Pattiasina dan Danilla tengah soundcheck di Galeri Indonesia Kaya pada Sabtu (15/04) silam. “Aduh, ini kunci F gimana ya?” keluh Danilla sambil berusaha mengingat. Bagi yang kerap melihat Danilla pentas, pasti sudah tahu kalau Danilla selalu memainkan pianika. Tapi kali ini tidak. Kali ini dia memainkan bass yang baru saja dipelajari beberapa hari sebelumnya di studio ketika latihan.

Untuk pentas di Galeri Indonesia Kaya, Danilla berkolaborasi dengan grup Nonaria yang beranggotakan Nesia, Nanin dan Yasintha. Mereka tampil dalam acara bertajuk Wanita Kekinian. Maklum, bulan April di negara ini identik dengan acara yang mengedepankan perempuan. Apalagi kalau bukan karena Hari Kartini setiap 21 April.

Soundcheck yang digelar sebenarnya santai sekali. Nesia yang mulutnya “bocor halus” kerap melontarkan kalimat-kalimat yang menggelitik. Tapi juga kerap melontarkan ide cemerlang. Seperti memberi masukan untuk adanya solo piano.

Tapi seperti yang disebutkan di awal tulisan ini, perut lapar menyebabkan gampang lupa. Begitu yang dialami Nesia. Beberapa kali dia sempat lupa lirik dan bagiannya. Dia pun sadar kalau ternyata perut keroncongan yang membuatnya lupa. Soundcheck diputuskan disudahi. Waktunya makan.

Menuju ke ruang rias dahulu sebelum menuju tempat makan. Di depan ruang rias terlihat 10 nasi kotak dengan menu ayam goreng dan rendang. Tidak jelas buat siapa. Karena ragu-ragu akhirnya memutuskan makan yang lain saja. Nesia pengin ayam gorengnya Kolonel Sanders.

Akhirnya kaki-kaki melangkah ke foodcourt dengan banyak pilihan. Nesia dan Nanin memilih makanan yang direbus. Lafa, rekan satu band Danilla, memilih makanan rumahan komplit dengan kerupuknya. Sedangkan Danilla memesan ayam hainan yang tidak jauh dari meja tempat mereka makan.

02 Nonaria & Danilla Klandesti NNonaria & Danilla (foto: Klandesti_N)

“Hah, Inem?” tanya Nanin dengan wajah penuh kebingungan sambil memandang Nesia yang juga bereaksi sama. Penyebabnya karena mereka mendengar Danilla dipanggil untuk mengambil pesanannya. Ternyata salah dengar. Karena yang benar adalah ayam hainan. Bukan Inem.

Setelah habis menyantap makanannya Nesia ternyata masih ngidam ayam gorengnya Kolonel Sanders. Tapi kemudian berubah niatnya. Bubar jalan dari foodcourt menuju lantai atas untuk mencari tempat santai. Sepanjang jalan Nesia, Nanin, Yasintha dan Danilla sibuk membahas pembagian peran. Danilla jadi anak majikan, sementara mereka bertiga jadi peran pembantu.

Karena tempat ngopi kesukaan Nesia sedang direnovasi akhirnya diputuskan turun ke Ground Level ke tempat ngopi dengan logo warna hijau bergambar putri duyung berekor ganda. Sambil menunggu pesanan mulailah perbincangan ngalor-ngidul. Dari ketakutan terhadap kecoa, cacing dan tikus, membahas penyebab meninggalnya January Christy, menentukan ukuran “sesuatu” berdasarkan penampakan hidung, sampai salah penulisan nama di gelas pesanan.

“Gue pernah mesen tapi namanya salah. Gue udah bilang nama gue, Lafa. Tapi tau gak jadinya apa? Hamdan,” cerita Lafa yang sontak membuat semua tertawa.

Menjelang pukul dua siang, Newmusik mengingatkan untuk segera naik. Jaga-jaga mal ramai karena long weekend sehingga sulit menuju ke atas dengan dengan lift karena harus antri. Juga berjaga-jaga bertemu penggemar yang meminta foto bersama. Khususnya dengan Danilla. Dan benar saja, ketika tengah menunggu lift, seorang lelaki muda meminta foto bersama Danilla dan Lafa. Terlihat jelas sekali rona puas dan senang bukan kepalang dapat berfoto bersama mereka.

Sampai di ruang rias ritual memulas wajah agar semakin memesona pun dimulai. Dilengkapi dengan celotehan-celotehan yang mengocok perut. Tidak afdal rasanya bila tidak ada musik. Nesia pun memutar musik melalui gawainya. Salah satunya adalah lagu penutup anime Dragon Ball.

03 Nonaria & Danilla Klandesti NNonaria & Danilla (foto: Klandesti_N)

Dika Chasmala yang sehati dalam urusan saling mencela dengan Nesia datang. Sudah bisa ditebak suasana semakin ramai dengan berbalas celaan antara mereka berdua. Lalu datang juga Hendrawan Revianto alias Cak Hend. Ini dia orang yang berhasil memaksa Danilla untuk belajar kilat memainkan bass.

Urusan merias wajah sudah selesai. Saatnya salin pakaian. Trio Nonaria kompak mengenakan kebaya berwarna merah dan bertelanjang kaki. Sementara Danilla berkebaya putih dengan Converse putih menutupi kakinya. “Kan dia anak majikan,” ujar Nesia mengenai perbedaan berpakaian mereka.

Masih ada waktu beberapa menit sebelum pentas dimulai. Newsmusik meminta mereka untuk berfoto bersama memanfaatkan waktu kosong. Karena mereka asyik untuk diajak bertingkah gila-gilaan, kamar mandi yang ada di ruang ganti menjadi lokasi pemotretan. Bersempit-sempitan ria berlima di kamar mandi yang kecil. “Duh gue deg degan nih,” ungkap Danilla yang tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Ternyata pengalaman manggung berpuluh-puluh kali tidak menjamin menunggu waktu naik panggung akan baik-baik saja.

Semenit menjelang masuk ke dalam auditorium Galeri Indonesia Kaya, Nonaria masih berdebat urutan siapa yang harus masuk duluan. Akhirnya disepakati urutan masuk berdasarkan letak instrumen masing-masing. Pentas pun dimulai oleh Nonaria dengan lagu ‘O Sarinah’ karya Ismail Marzuki.

Nonaria lalu berturut-turut membawakan dua karya orisinal mereka, ‘Antri Yuk’ dan ‘Santai’. Nesia pun pamer dan dengan berlagak sombong mengabarkan ‘Antri Yuk’ akan resmi dirilis via iTunes pada 20 April.

Penonton yang datang boleh jadi mayoritas adalah penggemar Danilla yang disebut Penelisik. Tapi Nonaria tak gentar. Toh Nesia tetap saja tampil santai dan kenes. Unjuk kebolehannya ber-scat singing ria membuahkan tempik sorak dan tepuk tangan penonton. “Selama ini saya selalu bersenang-senang di atas panggung. Tapi dengan mereka, saya belajar bagaimana bercanda di panggung,” ujar Danilla ketika akhirnya naik panggung bergabung dengan Nonaria.

04 Nonaria & Danilla Klandesti NNonaria & Danilla (foto: Klandesti_N)

‘Melayang’ milik January Christy menjadi lagu pertama kolaborasi mereka. Hampir terjadi insiden ketika setelah selesai hampir saja bass jatuh dari penyangga ketika diletakkan Danilla. Untunglah semua aman terkendali.

Berturut-turut kemudian dibawakan lagu milik Danilla, ‘Junko Furuta’ dan ‘Love is A Losing Game’ milik Amy Winehouse. Diterangkan kemudian bahwa lagu-lagu yang dibawakan kolaborasi itu dipopulerkan dan tentang perempuan yang telah meninggal. Dari sini kemudian ditanyakan kembali apa penyebab meninggalnya January Christy. Suasana pun riuh dengan penonton yang memberi jawaban.

Pentas Wanita Kekinian yang menampilkan kolaborasi Nonaria dan Danilla diakhiri dengan ‘Ibu Kita Kartini’ karya Wage Rudolf Supratman. Setelahnya mereka berfoto bersama penikmat seni, sebutan bagi mereka yang datang ke Galeri Indonesia Kaya. Kemudian bisa ditebak Danilla menjadi incaran penggemarnya untuk berfoto bersama yang diladeni dengan sabar. Nonaria juga dong.

Nesia terlihat terburu-buru mengemas peralatannya. Maklum dia harus segera menuju ke tempat lain buat “mencangkul” rejeki di bilangan Menteng. Laris manis nih. /Klandesti_N

 

Friday, 21 April 2017 11:19

Mouly Surya

Lolos Seleksi Cannes film Festival

Nursita Mouly Surya, sutradara kelahiran Jakarta 10 September 1980,  yang sejak kecil mempunyai hobby menulis ini namanya memang tidak setenar Hanung Bramantio ataupun Nia Dinata. Namun wanita yang biasa di panggil Mouly ini karyanya tidak boleh di pandang sebelah mata. Karyanya pernah meraih tiga penghargaan Festival Film Indonesia (FFI)  2008 untuk kategori penulis skenario, film dan sutradara terbaik melalui film “Fiksi”.

Mouly mulai mengenal dunia film sejak berkuliah di Melbourne, Australia, bersama teman dan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Australia membuat film amatir. Sejak saat itu Mouly merasa menikmati bagaimana cara membuat film. Padahal di saat itu ia mengambil kuliah sastra dan media, tapi dirinya merasa lebih tertarik untuk membuat film. Cita-cita sejak kecil menjadi penulis buku akhirnya ditinggalkan dan memutuskan untuk meneruskan kuliah S2 dengan mengambil jurusan film. Sejak saat itu dia mantap menentukan pilihan sebagai sutradara.

Berbekal pengetahuan tentang film,  Mouly juga berhasil membawa film "Fiksi" ke dalam festival film internasional Busan (Busan International Film Festival di 2008). Lewat film Fiksi itu juga yang mengantar Mouly menjadi satu-satunya perempuan peraih Piala Citra untuk kategori sutradara terbaik 

Ditahun 2013 Mouly menyutradarai film What They Don't Talk About When They Talk About Love, yang merupakan film Indonesia pertama  masuk seleksi World Cinema Dramatic Competition Sundance Film Festival.

Foto Marlina Cannes 2(Poster Marlina Cannes (Foto: Istimewa)

Karya terbaru Mouly “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak”, Film tersebut menjadi film yang pertama mendapatkan subsidi Aide aux cinemas du Monde dari Kementerian Komunikasi dan Kebudayaan serta Kementerian Luar Negeri Prancis.   Terseleksi di Quinzaine des réalisateurs (Directors Fortnight) yang berlangsung paralel dengan Cannes Film Festival 2017.

Sejak diselenggarakan pertamakalinya di tahun 1969, Directors' Fortnight, yang diselenggarakan pada Festival Film Cannes oleh Société des Réalisateurs de Films (Asosiasi Sutradara Film Perancis), bertujuan untuk mendukung pembuat film dan mendorong talenta baru ke hadapan khalayak umum serta kritikus film pada perlehatan festival film terpenting di dunia ini.

Banyak sutradara dunia yang sebelumnya merintis karier lewat kanal Directors Fortnight, di antaranya Werner Herzog, George Lucas, Martin Scorsese, Jim Jarmush, Michael Haneke, Spike Lee, dan Sofia Coppola.

“Terseleksi di festival ini saya berharap bisa memberikan kesempatan kepada Marlina untuk mendapatkan distribusi yang lebih luas dari film-film saya sebelumnya. Sungguh sebuah kehormatan besar bisa berada di Directors’ Fortnight yang telah banyak menemukan Auteurs dunia dan terkenal dengan karya yang lebih edgy. Sungguh sebuah panggung yang cocok untuk Marlina.“ Kata Mouly lewat keterangan tertulisnya. Saat ini Marlina sedang dalam proses paska produksi di Paris.

Marlina bercerita tentang seorang janda yang melalui perjalanan mencari keadilan setelah rumahnya diserang oleh segerombolan perampok yang kemudian perampok tersebut dipenggal kepalanya oleh Marlina. Perjuangannya membawa kepala sang perampok ke kantor polisi ini yang membuat Mouly tertarik untuk mengangkat kisahnya menjadi sebuah film.

Marlina merupakan film keempat Indonesia yang berhasil masuk seleksi rangkaian Festival Film Cannes, setelah sebelumnya Tjoet Nja’ Dhien (1988, Semaine de la Critique), Daun di Atas Bantal (1998, Un Certain Regard), dan Serambi (2006, Un Certain Regard).

Film ini ditulis sendiri oleh Mouly Surya bersama Rama Adi dan  ide cerita dari Garin Nugroho. Bertindak sebagai produser  Rama Adi dan Fauzan Zidni, dan dibintangi oleh Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama dan Egi Fedly.

Film produksi bersama Cinesurya, Kaninga Pictures (Indonesia), Sasha & Co Production (Prancis), Astro Shaw (Malaysia), HOOQ Originals (Singapura) dan Purin Pictures (Thailand) ini nantinya akan diputar di festival yang diselenggarakan tanggal 18 hingga 28 Mei 2017 di Cannes, lalu akan ada pemutaran di Marseille, Paris, Geneva, Roma, Milan, Florence dan Brussels.

Wednesday, 19 April 2017 14:52

Kunto Aji, Eva Celia dan Jordy Waelauruw

Tour Bersama di Enam Kota

 

Tiga musisi muda berbakat, Kunto Aji, Eva Celia dan Jordy Waelauruw tidak pernah diam dan berhenti dari berkarya.  Ketiganya Kerap berjalan sendiri, sampai suatu saat mereka berkumpul di suatu tempat dan mempunyai ide untuk berjalan bersama.  Ide mereka kemudian diwujudkan dalam sebuah tur enam kota bertajuk MLDSPOT Intimate Tour "3 Cerita, 1 Ruang".

Ide yang sebenarnya berawal dari Kunto Aji beserta team-nya yang mempunyai keinginan menyuguhkan sebuah showcase dengan konsep sederhana. Sambil menunggu waktu yang tepat, perjalanan membawa Kunto Aji bertemu dengan Eva Celia dan seorang musisi, pemain trumpet muda dan berbakat, Jordy Waelauruw.

“Setelah bertemu dan ngobrol lebih jauh bersama Eva Celia dan Jordy Waelauruw, ternyata kami bertiga punya frekuensi yang sama dalam bermusik. Bagaimana kami memperlakukan musik, terlebih kepada karya-karya yang kami buat. Saya, Eva dan Jordy juga sama-sama menjalani album pertama yang punya cerita masing-masing di baliknya dan terus mencari ruang untuk menyebarkannya. Adanya persamaan ini membuat ide awal saya berkembang menjadi sebuah tur,” ungkap Kunto Aji.

Konsep pertunjukan yang telah ada sebelumnya akhirnya berkembang dari segala ide dan masukan tentang visi dan misi tiga musisi ini dalam bermusik. Ide ini kemudian disambut dengan positif oleh MLDSPOT yang kerap kali mendukung acara musik.

02 Intimate Tour Poster IstimewaIntimate Tour Poster (Istimewa)

Konser ini rencananya akan di adakan di 6 titik di Surabaya (Sabtu, 6/5), Malang (Senin, 8/5), Jogjakarta (Rabu, 10/5), Semarang (Jumat, 12/5), Bandung (Minggu, 14/5) dan Jakarta (Selasa, 16/5). Selama 10 hari berturut-turut, Kunto Aji, Eva Celia dan Jordy Waelauruw bersama rombongan lainnya berada dalam satu bis melalui jalan darat menyambangi titik-titik yang telah ditentukan tersebut.

Pertunjukan nantinya mempunyai konsep intimate, dan merupakan tugas dari Kunto Aji, Eva Celia dan Jordy Waelauruw untuk membuat pendengarnya tidak hanya dekat, namun juga bisa menyampaikan pesan-pesan dari setiap materi yang akan mereka mainkan.

Dipilihnya galeri sebagi tempat pertunjukan, pengunjung yang hadirpun dibatasi hanya sekitar 200 orang saja, sehingga pertujukan yang akan berjalan nantinya menjadi lebih intim dari semua panggung yang pernah mereka jalani sebelumnya.

Eva Celia menuturkan bahwa “Seni adalah platform saya, Kunto Aji dan Jordy Waelauruw dalam mengekspresikan diri melalui hal yang kami sukai, musik. Bagaimana saya bisa menggali potensi dalam diri saya dan menunjukannya kepada orang lain. Saya pribadi percaya kalau intimate tour ini tidak hanya bisa memberikan pertunjukan yang impactful melalui passion, cinta dan kejujuran yang saya letakan dalam lagu-lagu yang saya bawakan nanti. Dan terlebih lagi, saya bisa membangkitkan semangat independen untuk jujur dalam berkarya kepada audiens nanti.”

03 Intimate Tour IstimewaIntimate Tour (Istimewa)

“MLDSPOT Intimate Tour ini adalah ruang yang ideal untuk saya pribadi, bisa dekat dengan pemain musik lain dan mereka yang datang. Yang paling utama adalah, saya bisa menyebarkan karya-karya saya,” tambah Jordy Waelauruw singkat.

Tiket  dijual secara ekslusife melalui GO-TIX, dan untuk ticket pre-sale tersedia pada hari sudah bisa di pesan sejak hari Selasa (18/4) hingga Kamis (20/4). /JD

 

Wednesday, 19 April 2017 13:55

BOYZLIFE

Konser Perdana Di Asia Tenggara

Setelah sukses dengan gelaran konser Air Supply bulan Maret 2017 lalu, kali ini promotor Full Color Entertainment menggandeng promotor Tata Enterprise dan Hotel Sultan Jakarta, menggelar konser perdana Boyzlife di Jakarta, pada 21 Mei 2017 mendatang, yang akan menjadi konser perdana Boyzlife di Asia Tenggara.

Brian yang memutuskan hengkang dari Westlife tahun 2004 silam, Keith Duffy pun diajak berkolaborasi dalam grup duo bernama Boyzlife. Brian dan Keith juga saling bertukar informasi soal pop heyday mereka pada masa keemasan boyband kala itu. Nama Boyzlife dipilih menjadi nama grup duo ini, bukanlah tanpa alasan. Baik Brian maupun Keith masih memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap Boyzone dan Westlife yang sudah membesarkan nama mereka berdua. Karena itulah, nama Boyzlife diambil dari penggalan nama boyband Boyzone dan Westlife.

Kerinduan para fans Boyzone dan Westlife, boyband era tahun 1990-an, akan terbayarkan pada Mei 2017 mendatang dengan akan hadirnya grup duo Keith Duffy (personil Boyzone) dan Brian McFadden (ex personil Westlife), dalam konser perdana Boyzlife di Jakarta.

Konser kali ini akan berbeda dengan konser-konser boyband pada umumnya. Karena kedua personil Boyzlife sudah meleburkan pengaruh dari grup musik mereka sebelumnya. Konsep yang akan diusung Boyzlife adalah ‘Story’, ‘Laughter’ dan ‘Music’. Pada konser yang dijadwalkan berdurasi 90 menit itu, Boyzlife akan ‘Bernostalgia’, ‘Bersenda Gurau’ dan yang pasti akan ‘Bernyanyi’ dengan menyanyikan lebih dari 18 buah lagu hits dari Boyzone dan Westlife seperti ‘Flying Without Wings’ (Westlife), ‘No Matter What’ (Boyzone), ‘Love Me for A Reason’ (Boyzone) dan ‘If Let You Go’ (Westlife).

Boyzlife JakartaFoto: Istimewa

"Konsep yang diusung Boyzlife pada konsernya sangat berbeda. Jadinya, selain dapat menjadi ‘obat’ pelepas kerinduan fans Westlife dan Boyzone, konser juga akan berlangsung intimate. Karena baik Brian dan Keith, keduanya ingin bisa lebih dekat dengan fans-fans mereka," ucap David Ananda, Managing Director Full Color Entertainment menurut release yang diterima NewsMusik Selasa (18/4).

Konser yang rencananya akan diadakan dengan tema indoor di dalam Hotel Sultan, Jakarta ini, jumlah ticket yang dijual juga sangat terbatas. Untuk kategori Special Diamond VVIP Meet & Greet  Rp 2.500.000 (including dinner & soundcheck experience), kategori Diamond VVIP  Meet & Greet      Rp 1.950.000, Kategori Diamond VVIP  Rp 1.350.000 (numbered seating), Kategori Gold Rp. 850.000 (free seating), dan kategori Silver di jual Rp. 495.000 (standing).

Ticket juga sudah dapat dibeli secara online di rajakarcis.com, ticket.com mulai hari ini (18/4), dan secara offline tiket dapat dibeli di kantor Full Color Entertainment di Mall Taman Anggrek P2 No.19 Jakarta dan Hotel Sultan Jakarta, serta juga akan menyusul dijual di seluruh gerai Familymart dan Indomaret. /JD

 

 



Saturday, 15 April 2017 12:43

Filosofi Kopi 2: Ben & Jody

Persahabatan di Balik Kedai Kopi

Pertengahan tahun 2015 lalu, "Filosofi Kopi" yang merupakan film karya Angga Dwimas Sasongko yang menggabungkan kombinasi antara aspek artistik dan komersial.  Film ini juga telah memenangkan kategori Penyunting Gambar Terbaik dan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik pada FFI 2015.

Film rumah produksi Visinema Pictures ini menceritakan persahabatan Ben & Jody (diperankan oleh Rio Dewanto dan Chicco Jerikho) menemukan jati diri dalam secangkir kopi, dan drama perdamaian dengan masa lalu. Kisah yang diangkat dari novel karya Dewi Lestari akhirnya sukses meramaikan dunia sinematografi Indonesia, menjadi sebuah kisah inspiratif  dalam balutan pencarian mereka membuat kopi terbaik.

Nah, akhirnya setelah 2 tahun berselang, Ben dan Jody menyadari satu hal bahwa mereka selama ini hanya hidup dalam utopia belaka. Ben dan Jody harus membuat strategi baru, agar dunia kopi yang mereka cintai tetap hidup.

02 Luna Maya IstimewaLuna Maya (Istimewa)

Ada dua tokoh baru dalam Filosofi Kopi 2, Luna Maya (Tarra) dan Nadine Alexandra (Brie) yang nantinya  turut meramaikan film Filosofi Kopi 2 ini. Tokoh Tarra merupakan rekan baru Ben dan Jody. Sementara Brie, adalah barista baru di Jakarta sepulang dari Melbourne.

Lewat teaser yang berdurasi cukup singkat, 'Filosofi Kopi 2' akan menyuguhkan perjalanan Ben dan Jody yang memutuskan untuk kembali membuka kedai di Jakarta.

Sequel yang diperkuat juga oleh hadirnya dua tokoh baru, Jumat (14/4) telah dirilis Filosofi Kopi 2: Ben & Jody dan  'Official Trailer' di kanal Youtube 'Visinema Pictures' akan segera rilis. Filmnya sendiri digadang-gadang kemungkinan akan tayang d bulan Juli 2017. Kita tunggu saja/ YDhew

 

Page 4 of 110