Exclusive Interview
NewsMusik

NewsMusik

Wednesday, 16 November 2016 13:48

FUSE 2016

Panggung Musik, Kuliner dan Art Installation

Banyak penyeleggara musik yang menawarkan acara musik dengan berbagai konsep yang berbeda dan menarik. Jadi syah saja jika BIMUS (Binus International Music Society) pada akhir pekan lalu turut menyelenggarakan acara musik yang diberi tajuk “When Art and Sounds Collide”. Ini adalah event tahunan yang diadakan oleh Binus International University, dan selalu menampilkan konsep yang berbeda lewat Art, Fashion dan juga F&B. Terlihat dengan tak hanya menampilkan panggung musik  tetapi juga Bazaar dan Installation Art sebagai tempat para seniman muda berbakat memperlihatkan hasil karyanya.

Acara yang diselenggarakan Jum’at, 11 November 2016 bertempat di Ballroom Kuningan City, Jakarta ini menjadi wadah berkumpulnya pecinta musik dan seni dari dan oleh anak-anak muda. NewsMusik yang berkesempatan hadir di acara tersebut melihat bahwa pagelaran yang diadakan kemarin cukup menarik sebetulnya. Dimulai pada jam 3 sore acara yang dibagi menjadi tiga area, yaitu FUSE main stage, Future Impulse Scenery dan Installation Art. Namun karena cuaca yang akhir-akhir ini sangat tidak mendukung, membuat stage Future Impulse Scenery yang awalnya ditempatkan di outdoor menjadi kurang maksimal karena kondisi lapangan yang hujan, dan dipindahkan tempatnya.

Begitu pengunjung sampai dan masuk ke area keriaan, akan langsung disambut dengan musik-musik upbeat yang disajikan secara akustik di stage outdoor. Tak hanya itu, food bazaar pun ikut menggoda hasrat dan menghentikan langkah untuk akhirnya mengisi perut dahulu sebelum masuk ke area utama.  

Melangkahkan kaki ke area mainstage pengunjung akan dihentikan sejenak untuk menikmati sajikan karya dari beberapa seniman muda berupa lukisan, patung dan karya seni instalasi yang cukup memanjakan penglihatan.

Pada panggung utama, seperti yang terlihat di line up akan diramaikan oleh musisi lokal berkualitas diantaranya Matter Halo, Teza Sumendra, Bara Suara, Purple Duck Tape, Glaskaca, Klav, The Boris Suit, Elephat Kind, Neomora dan Kimokal.

02 Matter Halo RizalMatter Halo (foto: Rizal)

Awalnya panggung dimeriahkan oleh Purple Duck Tape, lalu dilanjutkan dengan  Glaskaca, Klav, dan The Boris Suit. Walau cukup baik secara musikalitas, namun NewsMusik melihat kehadiran band-band tersebut belum membuat pengunjung bersemangat sepenuhnya untuk ikut menyatu dengan aksi mereka diatas panggung.

Selepas maghrib, panggung boleh dikatakan lumayan menggeliat ketika memunculkan duo Matter Halo. Membawakan beberapa lagu termasuk hits mereka seperti ‘Pesawat Kertas’, ‘Jumpylanding[‘ cukuplah bikin panggung bersemangat. Selanjutnya panggungpun dibuat semakin panas oleh penampilan dari Neonomora. Tampil selama 45 menit, Neonomora dan bandnya membuka penampilannya dengan ‘Fight’ dan dilanjutkan ‘Lies’ dan  ‘Too Young’. Pada sesi selanjutnya beberapa nomor lagu seperti ‘Sapphire’, ‘Seeds’, ‘Waves’ turut memanaskan suasana di stage utama dan menutup penampilan mereka lewat lagu ‘Republic 106’.  

Malam semakin jauh meninggalkan waktu, dan suasana juga makin seru dengan tampilnya Teza Sumendra. Cukup komunikatif, dengan mengajak pengunjung untuk ikut bernyanyi mengikutinya. Menghadirkan beberapa lagu orisinil miliknya dan cover yang cukup dikenal kaum muda. Membuka lewat 3 lagu awal ‘If I Could Love Again’, ‘Tonight’ dan ‘Real Love’. Setelah chit chat sejenak bersama penonton dirinya melanjutkan lagi penempilannya termasuk hits nya ‘Satu Rasa’ dan ‘I Want You Love’.

03 FUSE 2016 RizalFUSE 2016 (foto: Rizal)

Lepas Teza, acara dilanjutkan dengan penampilan dari Bara Suara lewat musik yang menjadi ciri mereka. Seperti biasa mereka cukup mampu membius sambil menyuarakan lirik lagu mereka. Lalu FUSE 2016 sukses ditutup lewat kehadiran Kimokal. Duo yang mengusung genre electronic pop tersebut cukuplah menyempurnakan sajian FUSE 2016 malam itu.

NewsMusik melihat bahwa acara ini berpotensi menjadi sebuah event yang menarik di masa datang. Tinggal lagi bagaimana pihak penyelanggara mengemas acara tersebut dengan lebih apik lagi. Banyak contoh yang bisa dijadikan contoh, bagaimana sebuah acara yang di kelola oleh para mahasiswa menjadi sebuah annual event yang mutunya boleh dijamin./ YDhew, Rizal, Ibonk

 

 

Tuesday, 15 November 2016 14:57

Promise

Satu Lagi Karya dari Si Ratu Soundtrack

Pasangan musisi Melly Goeslaw dan Anto Hoed, terakhir kali mendulang sukses sebagai penata musik terbaik di film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2). Sebagai pencetak hits, Melly kembali dipercaya  Screenplay Film untuk menggarap soundtrack film “Promise” yang dibintangi Dimas Anggara, Amanda Rawless, Boy William dan Mikha Tambayong.

Tidak sulit bagi Melly melihat tema film dan cerita film ini. Melly secara khusus mengintrepestasikan tokoh-tokoh yang ada di film ini. Namun sewaktu ditemui di kawasan Plaza Senayan, Jakarta (14/11), Melly mengungkapkan bahwa awalnya sempat kesulitan mencari lirik pertama pada lagu, agar mendapatkan kata-kata yang lazim yang akan diingat orang nantinya. Ternyata ide dari lirik lagu tersebut malah didapatnya dari hal yang biasa ditemukan sehari-hari. Lirik lagu Promise inipun tidak sengaja didapatnya dari kucingnya yang suka ngumpet.

Soundtrack adalah pure karya seni yang didekasikan untuk sebuah film, jadi kita punya ruang terbatas karena betul-betul didedikasikan untuk skrip. Semua elemen yang ada di film harus patuh pada sebuah skenario. Jadi ada beberapa film yang membutuhkan lagu yang berat ada juga yang ringan. Soundtrack adalah rasa dari film. Apalagi film dengan tema cinta harus mampu menguatkan pesan cinta melalui original soundtrack”, jelas Melly.

02 Melly Goeslaw YDhewMelly Goeslaw (foto: YDhew)

Anto Hoed mengaransemen lagu ini dengan sentuhan klasik  ditambah dentingan piano, musik string plus orchestra yang bernuansa Eropa. Sesuai dengan visual film ini yang mengambil gambar  di Italia dan di daerah Yogyakarta dengan nuansa yang berbeda.

Film garapan sutradara Asep Kusnidar ini menceritakan seorang cowok Jawa, Rahman (Dimas Anggara) yang berwajah tampan. Bersahabat dengan Aji yang dikenal playboy dan jauh perangainya dengan sosok Rahman. Rahman yang mengambil kuliah di Milan dari seorang yang lugu dan sederhana kemudian berubah drastis. Ada konflik dan kejutan juga masalah percintaan di film ini. Bagi yang penasaran harus bersabar menunggu film yang akan tayang 5 Januari 2017 mendatang./ YDhew

03 Temu Pers Promise YdhewTemu Pers - Promise (foto: Ydhew)

 

Friday, 11 November 2016 11:15

Dewa Budjana

Konser Dunia via Live Streaming

Gitaris Dewa Budjana akan menggelar konser terbarunya secara live streaming melalui media sosial dengan menggunakan kamera 360. Konser yang bertajuk “Zentuary” tersubut menandakan diluncurkannya album terbaru Dewa Budjana yang akan digelar pada 25 November 2016 dengan mengambil lokasi di Taman Tebing Breksi kawasan perbukitan Prambanan, Kabupaten Sleman, Jogjakarta.

Zentuary sendiri menurut Budjana adalah rangkuman perjalanan batin selama hidupnya menjadi gitaris. Sebuah refleksi dan seluruh makna dari “Zentuary” itu adalah nol atau tak tak terhingga. “Sepanjang perjalanan hidup yang saya lalui dan sepanjang jalur musik yang saya tekuni, setiap awal pasti akan memiliki akhir. Terlepas dari sebuah keinginan yang bertentangan, Saya percaya Zen adalah titik awal dan akan selalu menjadi titik awal di tempat kudus”, ungkap Budjana.

Masih dalam lingkup yang sama, Deasy Miranty Rostianti, produser Lemmon Production, menjelaskan bahwa konser Zentuary ini tak sekedar konser musik biasa. Zentuary disiapkan dengan konsep yang kuat. Ini merupakan  pertama kalinya terjadi di Indonesia.

Wakil penyelenggara, Taufik Rahman Arief Denin juga menambahkan, bahwa konser Zentuary sekaligus menunjukkan kepada dunia, kalau Indonesia juga memiliki musisi berkelas dunia. “Budjana adalah bukti bahwa Indonesia memiliki gitaris kelas dunia, terbukti telah dipilih oleh legenda gitar Steve Vai, untuk masuk dalam label miliknya. Bukti lainnya, Budjana juga pernah berkolaborasi dengan drummer Antonio Sanchez, musisi dibalik illustrasi musik film Birdman,” ujar Taufik.

02 Dewa Budjana dMDewa Budjana (foto: dM)

Dipilihnya Tebing Breksi karena lokasinya yang mirip dengan Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali. Tempat ini dulunya adalah bekas pertambangan, karena alasan lingkungan, kegiatan tersebut dihentikan oleh Pemda Jogjakarta. Sekarang tempat ini dijadikan tujuan wisata baru setelah Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko.

Budjana selama ini juga dikenal sebagai pendiri dan gitaris band Gigi ini. Dalam usia 11 tahun, terbilang masih cukup muda, ia telah jatuh cinta dan mulai menekuni gitar sebagai instrument musik yang akhirnya membesarkan namanya di jagad musik nasional. Budjana sudah menelurkan 8 album, dan akhir tahun ini akan beredar double album darinya yang menjadi album ke 9 dan ke 10.

Album Zentuary sendiri diproduksi dibawah payung Favored Nations Entertainment milik Steve Vai dan akan dirilis di seluruh dunia. Bagi penyelenggara, kota Jogjakarta menjadi pilihan yang tepat untuk meresmikan album dan konser Zentuary, sekaligus membawa pesan dari seorang Dewa Budjana untuk alam semesta.

Tak hanya sendiri, dalam konsernya nanti Budjana akan disukung oleh Sruti Respati, Cabrini Astriska, Irsa Destiwi, Jalu Pratidina, Saat Syah, Shadu Rasjidi, Demas Narawangsa, Marthin Siahaan, Rega Dauna, Singgih Sanjaya String Orchestra, dan Anon Suneko Omah Gamelan/ Ibonk

 

Friday, 11 November 2016 11:08

Java Jazz Festival 2017

Tiket Sudah Bisa Dipesan

Festival musik jazz berkelas internasional Java Jazz Festival (JJF) 2017 akan diselenggarakan untuk yang ke-13 kalinya pada tahun depan. Sama seperti penyelenggaraan di tahun-tahun sebelumnya, JJF 2017 akan dilaksanakan di Jakarta International Expo (JI Expo), Kemayoran, Jakarta pada 3 – 5 Maret 2017.

JJF 2017 mendatang akan mengusung tema Batik Betawi dan juga Ondel-ondel sebagai ikon event kali ini. Cukup banyak musisi dan group dengan nama melegenda pernah merasakan panggung jazz terbesar di di dunia ini seperti Jamie Cullum, Aretha Franklin, David Foster, Basia, Spyro Gyra, Fourplay sampai tahun lalu hadir Sting hingga Chris Botti,

JJF kali ini juga semakin berwarna dengan adanya beberapa musisi kenamaan dari Jepang, Belanda dan juga musisi top ibukota. Musisi yang sudah menyatakan keikutsertaannya untuk tampil diantaranya Adam Hawley, Christina Morrison, Harvey Manson, Incognito, Endah N ‘Rhesa, Fariz RM, Float dan masih banyak lagi.

02 Candy Dulfer JJF 2016 IbonkCandy Dulfer - JJF 2016 (foto: Ibonk)

Seperti kabar yang diterima NewsMusik pada beberapa hari lalu bahwa tiket dengan harga pra-jual yang dibanderol mulai dari harga Rp. 50.000,- sampai Rp. 75.000,- sudah ludes terjual. Tiket Java Jazz Festival 2017 yang tersedia saat ini dijual dengan harga Rp. 300.000,- untuk daily pass dan Rp. 750.000,-. Untuk pembelian tiket secara resmi bisa dipesan melalui situs  www.javajazzfestival.com./ YDhew

 

Friday, 11 November 2016 10:40

Indonesia Kita (I.Ki)

Konser Ulang Tahun dan Semangat Hari Pahlawan

I.Ki bukan dilahirkan, tapi terlahirkan... itu adalah sepenggal kata yang menjadi kunci keberadaan sebuah komunitas para musisi lintas genre yang makin guyub pada saat ini. Kata-kata yang diucapkan oleh Ketua Umum I.Ki, Renny Djajoesman pada saat memperingati hari jadi pertama komunitas ini di Bantara Budaya Jakarta (BBJ) kemarin malam, Kamis 10 November 2016.

Hari ulang tahun yang bertepatan pula dengan Hari Pahlawan ini memang membawa semangat tersendiri bagi komunitas tersebut. Tidak hanya menjadi ajang berkumpul dan berbagi rasa antar musisi, I.Ki juga menjadi sebuah semangat untuk menampilkan karya mereka dan menjadi payung untuk memunculkan generasi baru di industri musik tanah air.

Makna 10 November juga menjadi dedikasi dan kecintaan semua individu yang ada di komunitas ini terhadap negara. Bukti yang telah mereka tunjukkan dimulai dengan pembuatan album Bela Negara yang bernafaskan spirit kecintaan, kepedulian terhadap bangsa ini. Bahkan sebuah lagu karya Jelly Tobing ‘Indonesia Kita’, yang diciptakannya setahun lalu dihari kelahiran I.Ki, telah menjadi theme song Bela Negara oleh Kementrian Pertahanan RI.

“Spirit kebangsaan dan cinta terhadap republik ini sangat luar biasa. Tidak sulit untuk menggelar acara bertema patriotik. Kami sudah membuktikannya di berbagai tempat. Ucapan bung Karno, “Jas Merah” adalah benar. Maka kami coba mengejawantahkan apa yang diucapkan beliau untuk tidak melupakan sejarah. Malam ini kami menggelar konser untuk memperingati hari pahlawan,” lanjut Renny.

Dan malam itu berkumandanglah lagu-lagu yang hampir semuanya dibawa secara kroyokan oleh para musisi yang tergabung di I.Ki. Selain Renny Djajoesman, banyak muka-muka lama turut meramaikan panggung seperti Sylvia Saartje, Ita Purnamasari, Amiroez, Mel Shandy, Connie Dio, Bangkit Sanjaya, Lady Avisha, Willy Sket, Jelly Tobing. Tak ketinggalan pula Candil, Berry Saint Loco, Didi Kemput, Ipunk Power Metal, Anwar Power Slave, Mahir Blues, Damon Koeswoyo, Trison, Rama Moektio, Pallo, Krishna Prameswara, Yoel Vai dan beberapa wajah muda seperti Riffy Putri dan ITZ (Ikmal, Taraz dan Zondy).

02 Konser IKonser I.Ki (foto: Ibonk)

Sekitar 10 lagu bertema kebangsaan seperti ‘Indonesia Kita’, ‘Kita Adalah Satu’ cipt. Sylvia Saartje/ Amiroez, ‘ASAP’ cipt. Amiroez, ‘Indonesiaku’ cipt. Irish Riswoyo, juga lagu ‘Nusantara 1’ cipt. Tonny Koeswoyo yang diangkat dari mini album Indonesia Kita. Ada juga lagu ‘Ibu’ dan ‘Bung Hatta’ karya Iwan Fals , ‘Menjilat Matahari’ karya God Bless serta karya Gombloh ‘Merah Putih’ dan ‘Kebyar-Kebyar’ yang menjadi penutup pesta musik kebangsaan tersebut.

Lewat persiapan yang terbilang cukup singkat, seluruh aransemen dikerjakan sepenuhnya oleh Nita Aartsen. NewsMusik sempat berbincang dengan musisi yang lebih dikanal sebagai musisi jazz tersebut, ketika menanyakan pengalamannya bekerjasama dengan para musisi yang hampir seluruhnya berpredikat rocker. “Pengalaman yang menarik, tapi semuanya berjalan baik dan lancar kok. Tidak banyak perbedaan antara musisi jazz dan mereka. Saya sudah beberapa kali bekerjasama dengan mereka,” ungkapnya.

Pertunjukkan yang hanya memakan waktu satu setengah jam tersebut memang dirasakan cukup singkat untuk sebuah konser musik yang dipenuhi oleh banyaknya jawara-jawara panggung dari berbagai era. Namun kebersamaan dan lagu-lagu yang dinyanyikan diatas panggung, sanggup menunjukkan semangat dan merefleksikan konser yang bertema “Untuk Pahlawan Pengawal Garuda” ini./ Ibonk

 

 

Tuesday, 08 November 2016 09:41

Big Tribute To The Rolling Stones

Mengusung Rock N Roll dan Rasa Persaudaraan

Rasanya pas banget tema yang diusung para Stoners kali ini lewat event yang digelar, “Manifesto Stones: We’re Brothers And Sisters (Kita Semua Bersaudara)”. Mengingat sehari sebelum acara muncul berita simpang siur tentang demo 4 November 2016. Sempat juga terfikir kalau-kalau acara ini bakal batal, karena adanya aksi tersebut. Tapi syukurnya apa yang dikhawatirkan tidak menjadi kenyataan. Tepat pukul 9.30 malam, NewsMusik pun menginjakkan kaki di Exodus Kuningan City, Jakarta Sabtu malam (5/11) dan belum ada tanda-tanda dimulai.

Sambil menunggu dan melihat persiapan dengan duduk di bangku pengisi acara, kebetulan ada Imam Budiono. Nah, Imam ini adalah salah satu penggiat Stones Community yang aktif sampai sekarang. Sambil ngobrol mengenai komunitas ini, dan sesekali berkoordinasi dengan kru yang akan tampil, NewsMusik mencoba mengulik informasi mengenai kegiatan dan acara kumpul-kumpul komunitas ini.

Sedikit mengulas kebelakang bahwa di era tahun 80-an, saat musik rock merajai blantika musik tanah air kehadiran The Rolling Stones pun mendapat tempat tersendiri di hati penggemarnya. Para fansnya yang berada di Indonesia yang biasa disebut dengan para Stoners mulai membentuk komunitas dan kerap mengadakan pentas musik dengan membawakan lagu-lagu dari Rolling Stones. Dari situlah mulai bermunculan band-band yang menjadi epigon dari group legendaris ini, ambillah contoh seperti Acid Speed, Friend’s Stones, Wild Stones, Stones Free, Get Stones, dan masih banyak lagi.

Sampai saat ini, para Stoners masih aktif menyelenggarakan pentas musik di cafe-café. Selain sebagai sarana berkumpul juga sebagai sarana tukar informasi dan tempat sharing. Akar munculnya event Tribute To The Rolling Stones yang digelar sampai sekarang ini juga muncul dari ajang kumpul-kumpul tersebut.

02 Pendukung Big Tribute To Rolling Stones YDhewPendukung Big Tribute To Rolling Stones (foto: YDhew)

“Adanya acara ini juga berkat sumbangan dan juga partisipasi dari para Stoners. Tema kali ini yang mengusung persaudaraan, terbentuk semata-mata untuk mempererat pertemanan antar sesama fans yang sering jumpa di acara-acara tribute seperti ini dan acara ini tidak mewakili komunitas Rolling Stones dimanapun”, jelas Imam.

Tak berapa lama panggungpun mulai menggeliat takkala Pache Kellen, Heri Timbul, Oktree Dell, Daddo Buzz, Denny Lawalata dari Friend’s Stones menyuguhkan instrument pembuka yang langsung disambut tepuk tangan penonton yang sudah tidak sabar menunggu acara dimulai. Tampil pertama ke atas panggung Owe Bandroll menyanyikan lagu ‘It’s All Over Now’, ‘Brown Sugar’, ‘Back Street Girls’, dan ‘Heart Of Stones’. Tak perlu menunggu aba-aba lagi, tanpa membuang waktu meningkahi suasana rock n roll, penonton pun mulai turun ke area panggung satu persatu dan berjoget.

Tak hanya didominasi kaum adam, satu-satunya vokalis perempuan Oca Rosalina turut menghadirkan ‘Gimme Shelter’, ‘Tumbling Dice’, ‘Jumping Jack Flash’ dan ‘Mixed Emotion’. Lewat suara sopran nya, Oca cukup mampu membakar panggung malam itu.

Malam makin merangkak naik, dan suasana makin panas setelah Boy Jagger dan Holdun naik ke atas panggung. Keduanya cukup jumawa untuk menumpahkan semangat Jagger cs di atas panggung.  Diawali oleh Boy dan kemudian dilanjutkan oleh Holdun dengan membawakan 2 lagu. Boy Jagger  yang penampilannya paling ditunggu malam itu, kembali menjadi raja dipanggung lewat total 10 lagu yang dibawakannya. Penampilannya yang tanpa lelah mendapat sambutan para Stoners dengan bergoyang antusias.

Selain Boy, ada juga Doel Jagger yang tampil sedikit nyleneh dengan meniru habis dandanan ala si bibir dower Mike Jagger membawakan 4 buah lagu. Penampilan yang tak kalah heboh juga dilakoni Imam Budiono. Lewat ciri khasnya yang sedikit tipsy, sampai tidur-tiduran di stage dan ada beberapa lirik yang lupa namun cukup menghiburlah. Hadir lewat 4 buah lagu, 2 lagu dibawakannya secara duet dengan Holdun.

03 Big Tribute To Rolling Stones YDhewBig Tribute To Rolling Stones (foto: YDhew)

Terlepas dari hingar bingarnya acara, diselingi juga pembagian doorprice dan pemberian trophy penghargaan kepada Stoners yang berdedikasi terhadap acara tribute-tribute seperti ini. Secara simbolis trophy tersebut dibagi dalam 3 kategori: Kategori Musisi diberikan kepada Acid Speed Band, Kategori EO diberikan kepada The Connected dan Kategori Tokoh Senior diberikan kepada sepasang suami istri Inyonk dan Rina Darsa.

Big Tribute To The Rolling Stones ditutup oleh seluruh pengisi acara naik ke atas panggung dengan membentangkan spanduk “KITA SEMUA BERSAUDARA” dan bersama-sama menyanyikan lagu ‘Ruby Thursday’.

Tak salah rasanya dengan tema yang diusung kali ini, karena sedari awal NewsMusik melihat rasa persaudaraan cukup kuat disini. Tanpa memandang siapa dan berasal dari mana, semua larut dalam rasa yang sama. Satu hal lagi yang patut diacungi jempol adalah musikalitas mereka dalam menampilkan sebuah pertunjukan musik. Band pengiring yang personilnya diambil dari beberapa group band malam itu nyaris nonstop membawakan hampir 40 lagu.  

Selain memberikan apresiasi kepada para Stoners, acara ini juga merupakan sebuah bentuk apresiasi yang tinggi kepada musisi cafe. Bahwa musikalitas musisi cafe tidak kalah dengan band-band yang punya nama sekarang ini, bahkan mereka bisa tampil lebih bagus. Salute! / YDhew

 

 

Monday, 07 November 2016 16:48

Musicology

Konsep Baru Dalam Suguhan Musik

Hadir ditengah-tengah Jakarta, tepatnya di Mal Pacific, Galeries Lafayette yang sejak resmi dibuka pada tahun 2013 ini mengedepankan konsep yang unik, chic dan glamour. Bukan hanya fashion saja yang ditampilkan disini, keunikan dari departement store mewah asal Perancis ini, menyuguhkan konsep musik yang dihadirkan ditengah etalase produk yang dipamerkan.

Disajikan lewat panggung yang tidak begitu besar, namun di tata dengan apik, musik akustik pun dihadirkan disini. Selain menikmati musik secara live, pengunjungpun dapat berinteraksi dengan penyanyi secara langsung bahkan bisa berduet dengan penyanyinya.

NewsMusik juga berkesempatan p melihat langsung event musik yang bertajuk “Musicology”. Hadir pada kesempatan ini penyanyi pendatang baru Sakti, Rega dan Frisca Melissa, yang ketiganya sudah meluncurkan single di bawah payung Royal Prima Musikindo (RPM).

02 Musicology YDhewMusicology (foto: YDhew)

Masing-masing penyanyi menyanyikan 4 buah lagu, baik lagu dari single terbaru mereka ataupun lagu yang sudah sering di dengar diiringi dengan gitar dan dikemas secara akustik. Walau hanya menghadirkan tata suara seadanya, namun panggung yang disuguhkan kali ini terasa istimewa dan cukup enak didengar. Gagasan awal dari konsep ini adalah selalu mendukung perkembangan Indonesia di segala aspek, begitupun dengan musik.

Berbagai genre musik nantinya akan dihadirkan disini, seperti jazz, pop, bahkan seriosa yang nantinya akan hadir setiap minggu. Melalui konsep ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi penyanyi pendatang baru sebagai salah satu sarana untuk tampil disini. Bisa juga sebagai tempat branding untuk karya terbaru mereka./ YDhew

03 Musicology YDhew
Musicology (foto: YDhew)

 

 

Monday, 07 November 2016 16:39

Raffi Ahmad

Membuat Film Khayalan untuk Anaknya “Rafathar”

Raffi Ahmad bersama dengan istrinya Nagita Slavina atau biasa dipanggil Gigi, mulai mencoba peruntungannya di dunia film nasional. Terinspirasi akan film “Home Alone” dan “Baby’s Day Out”, Raffi membuat gebrakan baru untuk dunia perfilman di Indonesia. Bertindak sebagai produser dan bekerja sama dengan Anggy Umbara yang sebelumnya sukses menyutradarai film “Jangkrik Bos” dan “Comic 8”,  membuat sebuah film yang bergenre drama pop keluarga dan dipersembahkan untuk anak semata wayangnya Rafathar Malik Ahmad.

Ditemui di acara jumpa press di kawasan Senayan City, Jakarta (6/11), Raffi mengungkapkan bahwa ia ingin membuat satu film anak-anak yang saat ini kurang di produksi di Indonesia, “Pingin bikin terobosan baru yang bisa ditonton anak-anak, kebetulan Rafathar lagi lucu-lucunya,” ujar Raffi.

Lewat penggunaan teknologi Computer Graphic Image (CGI), film yang dibintangi Rafathar ini bakal dikemas secara lengkap. Film yang shooting-nya dimulai pertengahan November disutradari oleh Bounty Umbara dan didukung oleh Arie Untung, Inggrid Widjanarko, Babe Cabita dan artis Malaysia, Fazura  film ini akan menampilkan sisi keluarga yang juga diselipkan unsur komedi.

02 Raffi Ahmad YDhewRaffi Ahmad (foto: YDhew)

Segala kebutuhan shooting Rafathar nanti akan diambil secara natural. Hal tersebut didasari oleh usia Rafathar yang masih kecil, shooting pun dibatasi maksimal hanya 4 jam. “Makanya kita pakai teknologi yang canggih. Aksinya akan disempurnakan lewat efek computer,” jelas Raffi.

Raffi juga berharap nantinya film ini sebagai kenang-kenangan tentang masa kecil anaknya bila besar nanti, bahwa papanya pernah membuatkan film  untuk Rafathar, tutup Raffi. Kita tunggu saja, akankah film ini nantinya mewakili film anak-anak yang memang sangat kurang di produksi akhir-akhir ini atau sekedar hanya aji mumpung./ YDhew

 03 Keluarga Raffi Ahmad YDhew(foto: YDew)

Thursday, 03 November 2016 09:38

Kla Project

Perayaan 28 Tahun Lewat Musik Etnik

Bicara Band pop era tahun 80-an yang masih konsisten dengan genre musik popnya sampai saat ini menginjak usianya yang ke 28 tahun, Kla Project yang di awaki oleh Katon Bagaskara (vokal,bass,gitar), Lilo (Romulo Radjadin) (gitar, vokal), Adi Adrian (keyboard, piano, synthesizer) selalu bersemangat dan tidak berhenti mencari cara bagaimana tetap konsisten bermain musik. Sempat pula jatuh bangun mengarungi belantara musik Indonesia, bahkan sempat ditinggalkan salah satu personilnya , Lilo  dan akhirnya  bersatu kembali di tahun 2003 sampai saat ini.

“Jaman kita dulu tidak ada group band yang memberanikan diri bilang bahwa mereka band beraliran pop, kebanyakan di zaman itu mereka yang background-nya band pop. Cuma kita group band pop satu-satunya yang berani mengikrarkan diri menjadi band pop. Pop itu sebetulnya sangat luas, tergantung mau jadi band pop seperti apa, kita percaya bahwa sampai sekarang tetap konsisten dengan musik pop”, ujar Katon.

Kla Project tercatat selalu mengeksplorasi musik dari lagu-lagu mereka sebelumnya, dari mulai techno, akustik, orchestra dan terakhir sukses menggelar konser yang bertajuk “The Glamorous Electronic Journey” tahun 2013 silam. Kini mereka kembali akan menggelar konser tunggal untuk menyambut 28 tahun mereka berkarya di dunia musik. Konser yang rencananya akan diadakan tanggal 15 Desember di gelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki ini, akan memasukkan unsur etnik ke dalam hits legendaris mereka dalam panggung musik besar.

“Awal tahun kita selalu datang dengan ide-ide dan terus terang setiap kali awal tahun kita ketemu bahwa kita punya agenda culture, sebenarnya culture ini merupakan adrenalin dari kita bertiga,” ujar Lilo.

Konser yang bertajuk “Passion, Love and Culture” kaya akan musik etnik di setiap lagunya. Inilah kali pertama Katon, Lilo dan Adi bakal mengeksplore lebih dalam lagu musikalitas mereka dengan menggandeng pemusik etnik dari berbagai daerah.

“Senang banget bahwa Kla setelah sekian tahun, kita mulai eksplorasi musik. Eksplorasi dalam bermusik membuat saya bangga. Kami selalu bersemangat, tidak berhenti untuk mencari. Kita bukan sekedar manggung, tapi mencoba disetiap panggung dengan konsep yang berbeda. Ini juga hal yang baru buat Kla, kita belum pernah tahu etnis musik itu apa saja. Jadi terus terang kita memberanikan diri untuk mencoba, sekalian belajar. Dan memang tantangannya itu besar sekali. Musik etnis  Indonesia lebih cenderung pentatonis, sementara lagu Kla itu diatonis. Karena keterbatasan tersebut sangat menyenangkan, dan juga karena seni itu harus ada tantangan yang kita harus jalani’, jelas Adi panjang lebar mengenai konsep yang digunakan untuk konser nanti.

02 Kla Project YDhewKla Project (foto: YDhew)

Sesuai dengan konsep yang akan ditampilkan nanti, akan ada aransemen etnik Kalimantan, Sumatera, Gamelan Bali, Sunda, Batak bahkan Karawitan yang bakal disuguhkan dan membuat musikalitas mereka berkembang di konser ini.

Dengan konsep etnik pop konser, Kla bermaksud tidak melepas akar musik mereka sebagai band pop. Tidak semua lagu akan diaransemen dengan musik daerah, agar penonton dan penggemarnya tetap bisa menikmati. “Tetap ini adalah suatu hiburan tetapi approachnya lewat etnik, tanpa menghilangkan pop. Nantinya ada lagu yang benar-benar lagu asli kita tanpa campuran”, jelas Adi.

Tiket konser dilepas dalam berbagai kelas, Platinum dengan harga Rp. 2.250.000,- Kelas Gold Rp. 1.700.000,- Silver dengan harga Rp. 1.100.000 dan Bronze Rp. 500.000,-.

“Konsepnya membiarkan alat tradisional mengontrol kita. Bermusik itu perlu passion, karena kita sudah 28 tahun bermusik dengan lagu yang itu-itu saja. Kita rombak sana sini, Mau nantinya berhasil atau tidaknya kita kembalikan semua kepada penikmat musiknya,” tutup Katon./ YDhew

 

Thursday, 03 November 2016 09:23

Tompi

Rilis Album Sekaligus Pameran Fotografi

Walau sudah dipasarkan sejak 1,5 tahun lalu, namun baru pada Rabu, (2/11) siang. Tompi melakukan perilisan album terakhirnya “Romansa” secara utuh. Pria multi talented yang  bernama asli Teuku Adifitrian ini memang sengaja menunda perilisan selama itu, karena memang ada unsur kesengajaan. Ia ingin menampilkan sebuah hal yang tidak menarik dan tidak biasa.

“Jangan tanya kalau desakan dari pihak label, saya selalu ditanyakan dengan kata-kata “kapan launching?” Tapi begitulah, saya nggak begitu suka dengan launching yang biasa. Sudah seringlah kalau launching album harus di cafe, press conference, lalu nyanyi-nyanyi,” urai Tompi.

Akhirnya beberapa minggu lalu, Tompi mendapatkan ide untuk melepas alum terbarunya ini dengan sebuah konten menarik. Ia barengi dengan sebuah pameran foto. “Semua ini muncul hanya beberapa minggu terakhir. Ketika saya tercetus ide untuk membuat proyek foto yang disebabkan kegelisahan saya terhadap yang terjadi selama ini,” tambahnya lagi ketika memberikan keterangan pers terkait launching albumnya tersebut di Oktagon, Jakarta Pusat, Rabu (2/11).

Itulah yang akhirnya terjadi, pesta perilisan album Romansa ini dibuat spesial. Pria 38 tahun tersebut mengemas launching studio albumnya berbarengan dengan pameran foto. Dalam pameran ini, Tompi menyuguhkan karya hasil potret analog yang diambilnya yang dibungkus tema besar berjudul “Chinese Ink”.

02 Tompi IbonkTompi (foto: Ibonk)

Dinding galeri Oktagon pun akhirnya dipenuhi sejumlah karya hitam putih dari Tompi yang ditampilkan dalam format cetak analog, canvas dan digital. Pameran foto karyanya tersebut dilakukan mulai 2 hingga 8 Oktober 2016.

Berbicara tentang albumnya sendiri, Tompi juga merilis single kedua dari album Romansa yang berjudul ‘Sandiwara’. Sebuah penggambaran lagu cinta dalam balutan duka. Namun tetap menampilkan sisi indah Tompi merangkai nada dan lirik. “Ini adalah cerita cinta yang sering dialami setiap orang,” jelasnya.

Launching ini juga menjadi penayangan perdana klip video single tersebut. Klip yang dikerjakan oleh Glymps yang merupakan salah satu perusahaan milik Tompi dan 2 rekannya tersebut, menampilkan visual lewat pendekatan fotografi. Inilah sebuah karya indah lain, yang disajikan dari seorang Tompi./ Ibonk

 

Page 18 of 110