Exclusive Interview
NewsMusik

NewsMusik

Thursday, 08 December 2016 11:16

Under Grunge

Gema Suara Kaum Anti Mainstream

Seattle, Washington DC, sekumpulan pemuda beramai-ramai berkumpul dalam sebuah gigs. Nirvana menggelar mini konser untuk para pecinta musk Grunge. Sebuah istilah, yang sanggup mengakhiri invasi Glam Rock yang melejit pada pertengahan 80 an silam. Nirvana akhirnya berhasil mendobrak sebuah stigma bahwa musik harus melahirkan sebuah harmonisasi tingkat tinggi dan dibarengi dengan tipe yang mainstream.

Distorsi kasar, teriak penuh amarah, riff sangat berantakan, juga lirik kritis. Sebuah warna yang mendominasi musik grunge. Jauh dari Seattle, beberapa band Indonesia juga tersihir akan kekuatan fenomena ini. Bisa dilihat lewat kehadiran Navicula, Besok Bubar, Freak, Dal Del Dol, dan masih banyak segilintir band yang juga mengusung genre ini .

Nah, akhir pekan lalu dengan mengambil tempat di Grand Depok City, 4/12/2016, dibuatlah acara bertajuk Under Grunge yang didominasi pelaku serta penikmat musik ini. Dilengkapi line up seperti Navicula, Marcello Tahitoe, dan beberapa lainnya unjuk diri meramaikan acara ini. Merujuk kepada semangat Satu Indonesia, para penikmat musik ini berkumpul dari berbagai penjuru Indonesia. Berbagai ras sibuk berasyik masyuk dengan berbincang, saling mengenal satu dan lainnya lewat bingkai musik grunge itu sendiri.

02 Under Grunge 2016 FikarUnder Grunge 2016 (foto: Fikar)

Dibuka dengan penampilan band Daily Feedback, salah satu pengisi acara dari luar Depok ini berhasil menjadi jembatan untuk menghadirkan band-band grunge lainnya. “Grunge!! inilah sebuah genre yang dipenuhi kaum minoritas. Jarang tersaji secara khusus di Indonesia, tapi ternyata bisa juga membuat Indonesia bersatu”, ucap Fikri salah satu penikmat yang hadir diacara tersebut.

Seperti biasa, waktu bergulir tanpa terasa hingga tersadar sudah dipenghujung waktu. Dengan Navicula, Besok Bubar, Marcello Tahitoe yang menjadi 3 penampil penutup, meninggalkan antusias yang meledak-ledak disetiap jiwa penonton yang hadir. Semangat yang sama juga ternyata menular ke pihak penyelenggara yang berjanji akan membuat acara bertema serupa sebagai kelanjutan dari event ini. Karena mereka semua tidak rela kalau grunge harus redup dan akhirnya mati./ Fikar

 

Wednesday, 07 December 2016 13:15

Brian McKnight

Penyanyi dan Multi Instrumentalis Yang Rendah Hati

Brian McKnight adalah seorang musisi asal Buffalo, New York. Dirinya lahir pada 5 Juni 1969 dan dibesarkan dari sebuah keluarga yang memainkan ataupun mendengarkan musik secara otodidak dan natural. Kariernya dalam bermusik sebenarnya berawal ketika ia menjadi anggota paduan suara di gereja. Sejak itu, bersama keluarganya, Brian mencoba mengekplorasi berbagai genre musik dengan panduan yang didapatnya dari injil.  

Menginjak masa remaja, perhatiannya terhadap musik semakin besar. Ini terbukti ketika dirinya mencoba dan mulai belajar untuk menulis instrumental jazz yang lembut dan mudah untuk didengarkan, Dari hal itulah kemudian ia mencoba belajar memainkan beberapa instrument. Semangatnya makin terpacu ketika sang kakak, Claude V. McKnight III bersama dengan kelompok musiknya “Take 6” menandatangani kontrak dengan major label.

Tak menunggu lama, ia pun mengirimkan sejumlah demo ke berbagai perusahaan rekaman. Disinilah akhirnya dewi fortuna melemparkan keberuntungannya. Pada usia 19 tahun, demo yang dikirimkannya menarik minat pimpinan dari Mercury Records, Ed Eckstine (putra Billy Eckstine). Ed sangat terkesan dengan suara Brian dan mulai melakukan penandatangan kerjasama.

Begitulah awalnya, pada tahun 1992 rilis lagu pertama Brian McKnight dinaungi dibawah label Mercury Records ‘The Way Love Goes’. Lagu ini berhasil menduduki peringkat ke 11 tangga lagu Billboard R & B selama 19 minggu. Dua single lainnya masuk ke tangga lagu Billboard R & B Top 60 adalah ‘Love Is’ yang  berduet dengan Vanessa Williams dan tampil di Beverly Hills 90210.

02 Brian McKnight IstimewaBrian McKnight (Istimewa)

Namun, lagu yang benar-benar melambungkan namnya dan menjadi hits di dunia adalah ‘One Last Cry’. Lagu inijuga yang berhasil membawanya menjadi salah satu musisi yang di perhitungkan di industri musik dunia. Prestasinya di album self titled dengan single ‘One Last Cry’ ini berhasil menduduki peringkat 8 Billboard 200 chart. Kesuksesan ini dilanjutkan melalui album berikutnya dengan judul “I Remember You” pada tahun 1995 dan “Remember The Magic” di tahun 1997. Di tahun 1999 disebutkan juga menjadi masa kemasan Brian McKnight. Saat itu ia melepas album “Back At One” dan terjual lebih dari 3 juta kopi di seluruh dunia.

Di tahun 2001 ia juga mendulang kesuksesan lewat album “Superhero”.  Mendapatkan lima nominasi Grammy Awards. Seperti mesin yang tidak dapat dihentikan, pada tahun 2003 kembali dirinya mengeluarkan karya lewat album yang bertajuk “U Turn”. 2 tahun berikutnya di 2005 ia melepas “Gemini”, “Evolution of A Man” di tahun 2009, “Just Me” pada 2011, “More Than Words” pada 2013 dan yang terbaru adalah album berngaran  “Better” di tahun ini.

Tidak hanya mempunyai kemampuan luar biasa lewat vokalnya, Brian McKnight dikenal pula sebagai penulis lagu, arranger, produser, dan memiliki banyak kerjasama dengan musisi dunia lainnya, seperti;  Mase, Sean ’Puffy’ Combs, Mary J. Blige, Justin Timberlake, Nelly, Vanessa Williams dan banyak lagi.  Brian juga seorang multi instrumentalis, yang piawai memainkan beragam alat musik, seperti piano, gitar, bass, perkusi, trombone, tuba, flugelhorn dan terompet.

Sepak terjangnya tercatat kalau dirinya telah 16 kali masuk dalam nominasi Grammy Awards, meskipun belum pernah menang, Nominasi MTV Music Awards, BET Awards dan American Music Awards yang  berhasil memenangkan  penghargaan Image Awards.

Begitulah seorang Brian McKnight, secara pribadi ia termasuk orang yang bersahaja. Walaupun orang mengenalnya namun dia tetap tidak pernah merasa menjadi seorang superstar, Penampilannya yang selalu ramah menyapa penggemarnya menjadi nilai tambah tersendiri baginya.

03 Brian McKnight YDhewBrian McKnight (foto: YDhew)

Seperti kedatangannya ke Jakarta kali ini untuk tampil di acara konser bersama Boyz II Men yang bertajuk “The 90’s Soul Ace” pada esok hari, Kamis (8/12) di The Kasablanka Hall, Jakarta. Brian merasa begitu terharu dengan antusiasme yang ditampakkan oleh penggemarnya di Indonesia. “Gegap gempita di media sosial seperti instagram dan twitter, namun semua lebih terasa dengan melihat dan berinteraksi langsung dengan penggemar. Saya merasakan betapa besar cintanya negara ini terhadap lagu tahun 90-an,” ujar Brian sewaktu ditemui di acara presscon konser The 90’s Soul Ace, Hotel Mulia, Jakarta (7/12).

Dalam konser ini nanti, baik Brian McKnight ataupun Boyz II Men adalah dua legenda dalam musik soul dan R&B tersebut. Keduanya akan membawa semua penikmat musik untuk mengingat semua cerita dalam keseharian mereka di era 90-an yang diwarnai oleh musik hits dari mereka.

Brian pun tak segan untuk mengakui bahwa ia tak sabar untuk disandingkan dengan Raisa. Walau belum pernah bertemu dengan Raisa secara langsung, namun Brian merasa jatuh cinta dengan suara khas Raisa. “Dia salah satu penyanyi terbaik yang saya pernah dengar, dan rasanya tak sabar untuk berduet dengannya besok”, tutup Brian./ YDhew

 

Wednesday, 07 December 2016 14:47

White Collar Rock

Rock Yang Tak Sekedar Untuk Orang Kantoran

Suasana Hard Rock Cafe pada Senin malam awal pekan (5/12/16) ini sedikit berbeda dari malam-malam sebelumnya. Lewat tajuk White Collar Rock, 2 band yang cukup seksi The Kadri Jimmo (TKJ) dan State Of Groove (S.O.G) sepakat untuk meramaikan malam tersebut dipanggung. Walau sedikit berbeda aliran, TKJ yang lebih memilih musik progressive sebagai menu utama band ini dan S.O.G lewat gaharnya musik rock.

Pagelaran White Collar Rock sendiri lebih membidik penonton dari kalangan pekerja kantoran. Sengaja dibuat demikian karena secara garis besar, banyak fans dari kedua band ini berasal dari kalangan tersebut. Seperti beberapa hari sebelumnya Kadri, vokalis TKJ sempat bertemu NewsMusik dan menyampaikan bahwa event ini akan dipenuhi oleh para orang kantoran, agak berbeda dari gelaran sejenis. “Sengaja dibikin lebih sore, ketika mereka balik dari kantor. Yaa yang datang lebih wangi laahh....”

Benar saja, jarum jam belum juga menyentuh pukul 20.00 WIB, HRC yang malam itu sudah kedatangan penonton sekitar 200 an orang. Panggung langsung disuguhi tayangan video clip ‘Tanah Sang Pemberani’ milik TKJ. Dipanggung seluruh personil TKJ, lewat double vokalisnya Kadri dan Jimmo lalu Popo Fauza (keyboard), Subroto Harry (bass), Noldy (gitar) dan Hayunaji (drum) tampak bersiap dan selepasnya membuka pertemuan lewat lagu ‘Energy Cinta’.

02 Bonita IbonkBonita (foto: Ibonk)

TKJ pede mengusung hampir semua lagu dalam album baru kelompok ini. Lewat kemasan musik progressive pop yang lebih antemik, mereka sengaja menampilkan beberapa lagu cinta di nomor-nomor awal. Mengalirlah syair cinta yang terkesan tak biasa lewat lagu ‘Manies’, ‘Lelaki’, ‘Bertiga’, Tak Terkalahkan ataupun ‘Istriku’. Tak hanya itu, seperti di lagu ‘Bertiga’ TKJ sengaja menambah porsi panggung lewat kehadiran Windy Setiady pada akordion, lalu tambahan vokal dari Mian Tiara serta petikan akustik gitar Chiko S.O.G, sehingga terciptalah sebuah nada akustik nan romantis dan syair puitis yang menghanyutkan.

Masih dari panggung TKJ, semangat wanita Indonesia juga dihembuskan lewat lagu ‘Srikandi’, yang merupakan kolaborasi mereka dengan Sri Mulyani Indrawati sebagai single proyek album Indonesia Maharddhika beberapa waktu lalu. Panggung semakin berwarna ketika akhirnya hadir Bonita sebagai bintang tamu lewat lagu ‘Badai Pasti Berlalu Medley’ dan ‘Laron Laron’ dari tenggorokan Andy /rif  yang merupakan tembang lawas Makara band.  

Malam masih terlalu pagi, ketika sesi kedua White Collar Rock dilanjutkan dengan kehadiran S.O.G. Hadirnya Ariyo Wahab, Emil Abeng, Chiko, Tomo dan Djoko Sirat langsung merubah suasana yang tadinya penuh cinta menjadi lebih rock n roll.

Ditilik sedikit kebelakang, S.O.G sendiri memang bukan anak baru di alam musik Indonesia. Inilah band yang muncul diakhir 90-an lalu, walaupun hanya seumur jagung dengan satu album tapi paling tidak telah menjadikan kesan yang dalam untuk masing-masing mereka.

Membuka lewat tembang ‘Tahan Diri’, ‘Bayang-Bayangmu’, ‘Maafkan’ yang agak melankolis  ataupun ‘Inilah Aku’ dari album perdana mereka di tahun 1999 tetap menjadikan panggung cukup riuh. Nggak usah ditanyalah gaya panggung mereka, cukup diketahui saja S.O.G itu sajak awal merupakan group rock yang sooo..... groovy.

03 S.O.G IbonkS.O.G (foto: Ibonk)

Tak hanya membawakan lagu sendiri, 2 lagu RHCP yang sedikit mereka aransir seperti ‘Blood Sugar Sex Magik’ dan ‘Suck My Kiss’ juga dilantunkan. Tak lupa lagu ‘Oh Yeah’ yang bakal dimasukkan di album selanjutnyapun dikumandangkan.

Begitulah kemasan White Collar Rock di kemas dengan baik. Dua band dalam satu rasa bermusik. Walau sedikit berbeda genre namun keduanya tetap memiliki ruh yang sama. Semuanya memuaskan penonton yang datang pada malam itu. Terlihat wajah-wajah familiar seperti Once, Shelomita, Sys NS, Keenan Nasution ataupun Yockie Suryo Prayogo dan beberapa lainnya tampak sumringah. Agak kaget juga ketika di antara penonton terlihat Fahmi Idris dan Setiawan Djody turut hadir sampai tuntasnya acara./ Ibonk

 

Tuesday, 06 December 2016 17:21

Krakatau Reunion

Babak Baru Super Group Fusion Indonesia

Selalu ada perasaan membuncah setiap kali mendengarkan lagu ‘Kau Datang’ atau mungkin ‘Kembali Satu’ yang menjadi hits di era silam oleh Krakatau band. Kenangan masa muda dan juga semangat masa lalu seperti hidup kembali mendekap hati siapapun yang pernah terlibat secara emosi dengan lagu ini. Walaupun sebenarnya, tidak hanya dua single itu saja yang menjadi hits, banyak diantaranya juga cukup akrab ditelinga para penggemarnya.

Kini setelah 25 tahun berlalu, keenam sahabat Indra Lesmana, Trie Utami, Gilang Ramadhan, Dwiki Dharmawan, Donny Suhendra dan Prasadja Budi Dharma ternyata masih memiliki semangat yang cukup besar untuk melahirkan satu album terbaru. Ini adalah buah kesabaran mereka memaknai arti persaudaraan yang tetap melekat pada diri masing-masing. Membawa nama Krakatau Reunion lewat album “Chapter One”, mereka masih punya daya tarik sebagai super group . Album ini seperti sebuah bab lain dari album yang sudah pernah mereka telurkan seperti Krakatau First Album (1985), Krakatau Second Album (1987), Mini Album (4 lagu dengan hit ‘Kau Datang’ 1989), serta Krakatau Kembali Satu (1990).

Krakatau yang pernah hilang dari kancah musik nasional disaat mereka tengah di puncak ketenaran. Namun kekosongan tersebut tidak berarti mereka berenam tidak berkarya. Justru masing-masing terus bermusik dan tampil di berbagai konser dan festival. Dwiki Dharmawan misalnya, terkenal sebagai pemusik jazz etnik yang tak henti menggali potensi musik etnik Indonesia untuk dibawa ke panggung jazz nasional dan internasional. Indra Lesmana yang jadwal manggungnya sangat padat serta banyak memproduseri artis jazz muda. Begitupun juga dengan Pra, Donny, Dwiki ataupun Trie Utami. Itulah yang membedakan mereka dengan group lain yang ada.

Berkumpulnya kembali mereka berenam, diawali pada reuni mereka pada September 2013 lalu di Jogja, dan benar-benar pecah pada saat menaklukkan panggung Java Jazz Festival 2014, pada saat itu Krakatau menambahkan kata-kata Reunion sebagai trade mark super group ini. Mereka seperti tersadar penuh, bagaimana sebuah konser kembalinya mereka tersebut tanpa pernah menduga disambut ribuan orang dengan antusiasme yang begitu besar. Ujungnya keharuan yang terjadi, menjadi sebuah keyakinan tersendiri bagi mereka untuk terus melanjutkan kiprah di blantika musik dalam negeri.

Berbicara mengenai album Chapter One ini, kita kembali pada Desember 2014. Keenamnya mengambil basis workshop di Bali dan selama sepekan masing-masing membawa konsep karya lagu. Lalu dibahas bareng di 3 tempat, Hotel Chedy - Tanjung Benoa, di home studio Indra Lesmana di Sanur dan home studio Trie Utami di Batubulan - Gianyar, Bali.

02 Krakatau Reunion IbonkKrakatau Reunion (foto: Ibonk)

“Krakatau Reunion memang harus punya pilihan, harus memiliki sesuatu yang beda, karena kami sudah 17 tahun nggak merilis rekaman baru atau lebih 25 tahun nggak main bareng. Dalam album Chapter One, ada tiga lagu teks Inggris, yakni ’Family’, ‘Let My Heart Free’ dan ‘Lingers On My Mind’ serta satu lagu instrumental ‘Moon Stone’. Pada rekaman ini, Pra Dharma banyak berkontribusi bikin lirik juga,“ kata Gilang.

“Indra Lesmana juga ditugasi teman-temannya melakukan mixing di InLine Studio, Bali, mastering di Masterdisk, New York, oleh Scott Hull, sound engineer yang membuat master rekaman Sting. Ini juga atas referensi Indra Lesmana,“ ungkap Donny Hardono Eksekutif Produser dan Manajer Krakatau Reunion pada saat press conference perilisan album ini akhir pekan lalu.

Akhirnya, Krakatau Reunion merilis album rekaman lewat 11 lagu, 10 lagu baru dan satu lagu lama yang di re-aransemen. “Kerja keras menghadapi tingkat kesulitan tinggi mengumpulkan teman-teman Krakatau utuk bereuni direkaman dan panggung. Mendapatkan hasil sebagus ini, buat DSS Records, ini sudah berkah yang luar biasa, “ kata Donny Hardono,.

Lagu-lagu ini beberapa diantaranya memilliki karakteristik fusion band Krakatau masa lalu, seperti pada lagu ‘Aku Kamu Kita’ yang sangat kental fusion pop-nya, Lagu ini menjadi first single, dan diharapkan bisa menjadi lokomotif penjualan Chapter One baik dalam bentuk fisik ataupun digital.

NewsMusik sempat berbincang dengan Indra Lesmana dan Prasadja Budi Dharma,  mengenai karateristik musik yang mereka kemas pada album ini. Keduanya sepakat bahwa mereka memang sedikit banyak memasukkan unsur baru dalam musik Krakatau Reunion, namun tidak sampai merubah secara keseluruhan. Alasan terbesarnya adalah agar karya mereka tetap dapat dinikmati kaum muda tapi tetap tidak meninggalkan fans mereka di masa lalu.

03 Krakatau Reunion IbonkKrakatau Reunion (foto: Ibonk)

Meneruskan derap langkah album Chapter One, pada Sabtu 3/12/16 silam, Krakatau Reunion menggelar konser pertama mereka untuk memperkenalkan album ini. Digelar di Motion Blue, Fairmont Hotel, Jakarta, mereka mempresentasikan sekitar 15 lagu dengan komposisi 7 lagu lama dan 8 lagu baru.

Konser yang memang dilakukan dalam edisi terbatas ini, sengaja dibuat dalam 2 sesi agar  lebih mudah menjalin komunikasi antara band dan fans nya. Guliran semangat persahabat dan kekeluargaan tercermin dari ungkapan Trie Utami yang berulang kali mengungkapkan betapa kuatnya rasa tersebut di dalam diri mereka. Tercermin pula lewat beberapa judul lagu yang dibawakan.

Konser dibuka lewat single lawas berjudul ‘Kemelut’, dilanjutkan dengan lagu di album baru Krakatau Reunion ‘Hanya Dapat Melihat’, Lalu lagu ‘Cita Pasti’, ‘Mata ke Mata’ ataupun ‘Dirimu Kasih’. Banyak cerita digulirkan disela-sela lagu yang ditampilkan. Kepiawaian mereka dalam memainkan nada-nada instrument jazz yang njlimet juga dipertontonkan kala membawakan ‘Moonstone’ dan memang menunjukkan kualitas sebenarnya kelompok ini.

‘Cerita Persahabatan’ menjadi lagu pembuka di sesi kedua konser ini.  Lagu yang pantas menjadi perekat dalam diri band sendiri dan fans abadinya. Lalu dilanjutkan dengan ‘Aku, Kamu, Kita’, ‘Family’ dan beberapa hits lainnya.

Konser ini merupakan babak baru dari perjalanan Krakatau Reunion, mereka akan melanjutkan konser lainnya diawal tahun 2017 di Malang dan Surabaya yang diharapkan akan menjadi konser yang lebih akbar lagi, menyusul penampilan berikutnya yang akan menyibukkan mereka seperti dulu sebagai sebuah super group fusion yang paling berhasil di tanah air./ Ibonk

 

Thursday, 01 December 2016 14:56

Bebi Romeo

Album Kompilasi dengan Glenn Fredly

Tak banyak terekspose persahabatan antara Bebi Romeo dan Glenn Fredly, dua musisi dan pencipta lagu yang sudah mempunyai nama di industri musik tanah air, yang ternyata bukan hanya akrab secara personal tetapi juga masalah pekerjaan. Keduanya terjun di industri dan dunia yang sama dan sama-sama saling mengagumi karya keduanya membuat mencetuskan ide untuk membuat suatu karya kolaborasi dengan menggandeng beberapa musisi lainnya.

“Kerja sama lebih ke bisnis dan pribadi, karena, kita sering banget kerjasama dalam membuat lagu walau tak banyak. Berteman juga cukup lama. Aku juga mengagumi karya dari Glenn. Sama-sama bahkan pernah jalan bareng mengulik karya-karya dan saling berbagi ilmu,” ujar Bebi dalam jumpa pers peluncuran album kompilasi mereka (30/11) di kawasan Kemang, Jakarta.

Dari ide untuk membuat sesuatu karya yang bersifat seru-seruan ini, lahirlah sebuah album kompilasi yang diproduksi oleh Mega Music, yang berisi 4 lagu hasil ciptaan dan produksi Bebi Romeo, dan 4 lagu ciptaan dan produksi Glenn Fredly. Di dalam album ini Bebi Romeo menghadirkan 3 hits lamanya, serta satu lagu yang berduet dengan Judika. Sedangkan Glenn Fredly menghadirkan 2 hits lamanya, serta 2 hits baru yang berduet dengan penyanyi muda Yura Yunita.

Tak hanya berdua, keduanya juga melibatkan Andi Rianto sebagai music arranger, juga menggandeng sosok-sosok lainnya seperti Irwan Simanjuntak, Bowo Soulmate, dan Stephan Santoso. Walau sempat sebal dengan Bebi Romeo karena seringnya Glenn harus menunggu moodnya, Glenn mengungkapkan bahwa Bebi merupakan sosok yang unik. “Nggak banyak musisi yang punya pemikiran dari konsep album sampai soal bisnisnya”, jelas Glenn.

Yang unik dari album ini adalah duet dan kolaborasi dengan Judika, lewat single ‘Oxigen’ yang khusus dipilih untuk album ini dan dinyanyikan langsung oleh Bebi. Beda karakter vokal keduanya membuat lagu ini istimewa, selain lagu ini diciptakan oleh Bebi sendiri dan merupakan pengalaman pertama buat Judika.

02 Yura, Bebi Romeo, Judika & Glenn Fredly YDhewYura, Bebi Romeo, Judika & Glenn Fredly (foto: YDhew)

Sosok Judika yang memiliki karakter yang berbeda, yang piawai menyanyikan lagu rock, pop ataupun melayu menjadi sebuah tantangan buat Bebi. “Aku kepingin suara yang bisa nyaplok kemana-mana, tetapi punya karakter. Akhirnya kepikiran Judika ini cocok buat lagu ini”, jelas Bebi sewaktu ditanya alasannya kenapa memilih Judika untuk berduet dengannya.

Kolaborasi pertama dan juga lagu pertama Bebi yang nadanya tinggi karena menyesuaikan suara lengkingan  Judika. “Ini kolaborasi pertamaku dan luar biasa dalam industri musik. Meski sempat mikir kalau berduet bagaimana mengingat lagunya romantik begini dan dengan suara yang berbeda, lembut tidak terlalu njlimet, tapi juga nggak gampang dinyanyikan dan enak lagunya,” tutur Judika. Selain ‘Oxygen’, album ini juga menghasilkan single ‘Cinta & Rahasia’ yang dinyanyikan oleh Yura dengan Glenn dan lagi-lagi ini merupakan duet mereka yang pertama kali juga.

Dalam album ini, pemilihan lagu bukanlah perkara mudah, mengingat karakter keduanya yang berbeda, Bebi sendiri selain banyak mengeluarkan single yang menjadi hits, di dalam album ini mencari materi lagu yang bertujuan untuk mejadi suatu nafas baru bagi karya Bebi Romeo.

Glenn mengaku senang dengan album kompilasi yang mereka hasilkan bersama ini. Menurutnya, ini merupakan impian lama keduanya untuk menghasilkan album bersama. “Musik Indonesia itu punya kekuatan yang luar biasa, bahwa musik Indonesia nggak harus berkarya ke luar negeri tapi bisa mendunia dari Indonesia sendiri. Semua tergantung bagaimana orang-orang menghargai karya dari dalam negeri itu sendiri karena itu bagian dari kita memproteksi masa depan musik industri”, tutup Glenn./ YDhew

03 Yura Yuita & Glenn Fredly YDhewYura Yuita & Glenn Fredly (foto: YDhew)

 

Thursday, 01 December 2016 14:22

Daddy’s Day Out

Serunya Rock N’ Roll  

Mari kita sedikit flashback ke tahun lalu, Daddy’s Day Out (DDO) adalah sebuah band rock kolaborasi 4 musisi yang sebelumnya cukup dikenal di blantika musik dalam negeri. Mereka adalah sahabat-sahabat lama yang tetap mengandalkan Rock N Roll sebagai tarikan nafas yang menyegarkan, menebarkan semangat dan menampakkan jati diri mereka.

Emil Abeng, pada akhir 1990 an dulu cukup dikenal lewat bandnya S.O.G (State Of Groove), lalu 1001, dan turut membidani berbagai band yang lebih muda. Kemudian ada Rico, yang dulunya juga drummer S.O.G, lalu Ivan Godic dan Iskandar. Lewat keyakinan mereka, akhirnya muncullah sebuah sajian rock n’ roll yang cukup segar dengan pengaruh unsur hip metal serta garage rock.

Selanjutnya, pada 2014 perpaduan mereka tersebut menghasilkan double single sebagai unjuk diri DDO lewat ‘Penny In My Pocket’ dan ‘ Devil’s Bossa’. Setahun berikutnya mengambil momentum di gelaran Rock In Celebes 2015 keduanya sengaja dirilis dalam bentuk sample CD dan diedarkan terbatas dan cukup mendapat respon yang baik.

Begitulah, DDO tak lepas dari semangat yang menggunung seorang Emil Abeng. Kiprahnya sebagai musisi yang sejak muda tetap memelihara semangatnya, ditunjang pula dengan berbagai macam peluang yang ada menjadi obat kuat untuk membangkitkan rock di tanah air. Akhirnya, semua terjawab takkala sebuah album bertajuk “Silver” pun bisa diselesaikan. Album yang melengkapi 2 single sebelumnya yang dikomplitkan menjadi 8 buah lagu secara keseluruhan. Pesta musik untuk menandakan peluncuran album dan video klipnya sengaja diadakan di Beer Brother, Kemang pada 29 November 2016 kemarin.   

NewsMusik sempat berbincang dengan Emil pada kesempatan yang sebenarnya cukup sempit, sebelum Emil dan teman-temannya beraksi di panggung. Pada kesempatan tersebut, Emil banyak menyampaikan obsesinya untuk dapat terus berkarya. Apalagi saat ini dirinya sudah begitu siap dengan segalanya, baik itu teman-teman musisi, manajemen, label, teknologi dan semua hal yang bisa mendukung keinginannya.

02 Daddy's Day Out IbonkDaddy's Day Out (foto: Ibonk)

Tapi menurutnya semua itu akan tidak akan bisa berjalan baik, jika semangat perseorangan ataupun kelompok yang peduli untuk memajukan musik tanah air tidak mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Masih hanya sebatas slogan dan hanya berbentuk perhatian-perhatian temporer.

Yaa... itulah keadaanya, dan kita kesampingakan sejenak, kita liat saja bagaimana hingar bingarnya penampilan DDO dalam acara yang dikemas dalam tajuk “Daddy’s Day Out and Jammin’ Session with Daddy’s Friends”.

Membuka penampilannya lewat intro dan langsung memainkan single ‘Desire’ dan dilanjutkan dengan ‘Leave It’ dan ‘Devil’s Bossa. Selepas itu Emil mecoba untuk berdialog dengan para pengunjung dan fansnya yang hadir. Selanjutnya berkumandanglah ‘Penny in My Pocket’, ‘Now I Know’, ‘You’ dan ‘Stand’ yang artinya hampir semua lagu dialbum ‘Silver’ dibawakan. Tak hanya sebatas itu, kehadiran Ezra Simanjuntak mengisi instrument gitar dalam salah satu penampilan mereka ataupun beberapa penayangan testimoni baik langsung ataupun rekaman, video klip dan behind the scene menambah warna warni pesta malam itu.

Yup, inilah sebuah hidangan rock yang modern, yang tak hanya mengandalkan sajian musik rock yang keras tapi juga bisa dikemas dalam berbagai cita dan rasa bermusik. Welcome Daddy’s.... play your music and keep rock n’ roll.../ Ibonk

 

Wednesday, 30 November 2016 17:13

Steven Jam, Berry Saint Loco dan The BRAD

Siap Bermusik sambil Mengedukasi

Setelah meraih sukses dengan sejumlah roadshow party di beberapa kota, San Miguel kembali mengadakan kemeriahan yang sama. Dikemas lewat tajuk San Miguel Midnight Groove, festival musik ini memang sengaja dibuat untuk semua pecinta musik tanah air.

Sambil menikmati suasana dan berbagi cerita dengan sahabat dan orang terdekat, event ini akan menampilkan sejumlah musisi ternama era 90-an yang tentunya tidak asing lagi ditelinga ara pencinta musik “keras”. Diantaranya yang akan ikut terlibat adalah Steven Jam, Berry Saint Loco, serta The BRAD yang terdiri dari Yukie dan Richard Mutter dari Pasband, Wima J-Rocks, Mplay Utopia, dan Andi Bachrie Vota.

"Kami ingin menjalin relationship yang kuat, melalui bintang tamu yang dihadirkan mengusung campaign “drink responsible” dengan pesan-pesan positif didalamnya,” ungkap  Brand Manager San Miguel, Jaka Sebastian dalam keterangan persnya.

Deretan para musisi ini dipastikan juga akan hadir dengan membawa semangat yang sama dalam roadshow yang diadakan di Bandung, Jakarta, dan Bali. Disamping itu untuk lebih memanaskan event ini dibuka juga kesempatan yang diberi julukan  “Take The Mic”. Ini adalah peluang bagi pengunjung yang hadir untuk manggung dan bernyanyi bersama para musisi tersebut. Akan dipilih satu yang terbaik nantinya.

02 SanMig Midnight Groove IstimewaSanMig Midnight Groove (foto: Istimewa)

Dipilihnya Bandung, Jakarta dan Bali menurut pihak penyelenggara karena merupakan kota yang bisa dijadikan scene trendsetter lifestyle yang saat ini sangat berkembang. “Ini adalah basis generasi Y Millenials yang cukup besar dan memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi perekonomian Indonesia," tutup Jaka.

Berikut jadwal San Miguel Midnight Groove yang telah dan akan menggelinding di ketiga kota tersebut:

  1. Rabu, 30 November di Backroom Bandung dengan performance dari The BRAD feat. Berry Saint Loco.
  2. Jumat 2 Desember di Beer Garden Wahid Hasyim, Jakarta, dengan performance dari The BRAD feat. Berry Saint Loco dan
  3. Jumat 9 Desember di Rumahan Bistro, Bali, performance dari Steven Jam./ Ibonk

 

Monday, 28 November 2016 16:33

We Love Bogor Festival

Sebuah Pesta Selebrasi

Festival ini digelar tepat pada hari Minggu 27 Oktober 2016, bertempat di Plaza Balaikota Bogor bertajuk We Love Bogor (WLB) Festival. Festival ini dilatarbelakangi atas keberhasilan kota Bogor yang berhasil menjuarai ajang “The Most Valuable Cities” versi WWF beberapa waktu lalu. Keramaian yang melibatkan sekitar 200 peserta, mereka terdiri dari para siswa sekolah yang tergabung dalam Paduan Suara dan Rampak Gendang, Marching Band, dan beberapa band lokal seperti Life Cicla dan Lepas Landas.

Di luar konteks diatas, WLB Festival ini juga memiliki maksud untuk memberikan wadah ekspresif kepada seluruh lapisan warga Bogor agar lebih menumbuhkan rasa kepedulian juga kreatifitas untuk membangun kota bersama.

“Acara itu harus memiliki substansi yang berkaitan bagi kemajuan dan kepedulian terhadap Kota Bogor” ucap Bima Arya selaku Walikota Bogor dalam membuka acara WLB Festival.

Sejak awal pi¬hak penyelenggara mengajak siapa pun warga Bogor untuk bergabung menjadi volunteer atau sebuah komunitas sukarela yang menjadi bagian penting dalam rangka terpilihnya kota Bogor dalam ajang tersebut.

02 We Love Bogor Festival 2016 FikarWe Love Bogor Festival 2016 (foto: Fikar)

Festival semakin terlihat bermanfaat lewat hadirnya pojok berbagai stand khusus untuk membagikan sumbangan berupa pakaian bekas, alat tulis dan berbagai bentuk bantuan sosial lainnya. Juga menampilkan berbagai macam perlombaan untuk anak serta keluarga, seperti Kids Zone dan Family Zone.

Kegiatan ini juga tidak dipungut biaya masuk bagi para pengunjung, namun bagi para pengunjung yang ingin mendapatkan beberapa aksesoris berupa “Winning Bracelet" yang dijual dengan harga yang terjangkau. Festival inipun berjalan dengan cukup baik dan menghibur, namun seperti namanya kota hujan, selama berjalannya festival ini pun rintik hujan tampak selalu setia menemani./ Fikar

03 We Love Bogor Festival 2016 FikarWe Love Bogor Festival 2016 (foto: Fikar)

 

Sunday, 27 November 2016 16:20

Festival Budaya 31

Keriaan Tahunan FIB UI

Ini merupakan annual event ke 31 yang rutin digelar dipelataran Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Untuk tahun ini festival seni tahunan terbesar dari Fakultas Ilmu Budaya itu mengambil tajuk “Hidupkan Dongengmu“. Diselenggarakan selama 2 hari, melalui rangkaian Karnaval Budaya, Battle Dangdut, Gelar Sastra, dan Festival Musik.

Festival ini dibuka dengan karnaval Budaya, yang tidak lain menghadirkan beberapa jurusan di UI. Tampak beberapa mahasiswa dari berbagai jurusan yang berbeda, menaiki mobil pick up, lalu pawai melintasi kampus sembari mengenakan pakaian adat yang ada di Indonesia. Battle Dangdut pun melengkapi hari pertama, banyak dari mahasiswa internal mengambil peran serta ikut berkontribusi untuk memeriahkan acara ini. Hari pertama pun berakhir dengan antusiasme cukup tinggi, Karena pagelaran ini telah mencapai angka ke 31 yang juga sudah menyentuh rasa nyaman terhadap penikmatnya.

Gelaran Sastra pun membuka hari kedua dengan menghadirkan beberapa stand yang telah dihias sedemikian rupa lewat tema berbagai adat Indonesia. Beragam suku, budaya, ras disusun dengan menggunakan unsur kreatifitas khas anak muda untuk membuat kesan stand menjadi meriah.

Yang tidak mungkin terlupa adalah peran musik yang mengambil bagian dari pagelaran tersebut. Lewat  line up beberapa band internal dan bintang tamu seperti The Upstairs dan Tiga Pagi memastikan peran musik jadi obat kuat menambah antusiasme masyarakat untuk turut hadir. Tidak hanya mahasiswa UI, tetapi pagelaran tersebut disesaki berbagai mahasiswa dari kampus lain.

02 Festival Budaya 31 IstimewaFestival Budaya 31 (Istimewa)

Seperti yang NewsMusik rasakan sendiri ketika menyaksikan band Tiga Pagi. Lewat nuansa folk etnik, band ini menemani malam dengan syahdu. Lewat single andalan ‘Batu Tua’, Tiga Pagi mampu membuat festival musik terasa damai juga tentram. Penonton pun dengan tekun menyaksikan penampilan Tigapagi, sembari menikmati malam penuh ketenangan.

Mengamini ucapan salah seorang penyelenggara, bahwa banyak harap agar acara ini dapat terus terselenggara bahkan membudaya untuk tahun-tahun berikutnya, Karena dengan mengingat budaya yang kita miliki, sebuah bangsa akan bertahan dari berbagai ancaman. Benerkan?? / Fikar

03 Festival Budaya 31 FikarFestival Budaya 31 (foto: Fikar)

Thursday, 24 November 2016 13:33

Jakarta City Philharmonic

Memperkenalkan Musik Klasik

Musik klasik merupakan musik yang berakar dari tradisi kesenian Barat, termasuk orkestra mulai dikenal dan digunakan sekitar abad ke 16. Musik bisa menjadi sebuah alat diplomasi karena bersifat universal.  Tidak mudah memang bagi orang awam untuk menerjemahkan musik klasik yang identik dimainkan secara orkestra. Dalam pengertian sebenarnya, musik ini adalah komposisi yang lahir dari budaya Eropa sekitar tahun 1750-1825. Biasanya digolongkan melalui periodisasi tertentu, mulai dari periode klasik, diikuti oleh Baroque, Rococo, dan Romantic. Pada era inilah nama-nama besar seperti Bach, Mozart, atau Haydn melahirkan karya-karyanya yang berupa sonata, simfoni, konserto solo, string kuartet, hingga opera.

Ada pula pengertian lain dari musik klasik (walaupun yang ini jarang dipakai), yaitu semua musik dengan keindahan intelektual yang tinggi dari semua jaman, baik itu berupa simfoni Mozart, kantata Bach atau karya-karya abad 20. Musik dari era modern seperti Kitaro, Richard Clayderman, Yanni, atau bahkan Enya, juga bisa digolongkan sebagai musik klasik, tergantung dari sisi mana kita menikmatinya. Kalau kita lebih banyak menikmati elemen intelektual dalam pengertian melodi, harmoni, atau aspek komposisi lainnya, maka jadilah ia musik klasik.

Sejak zaman Soekarno dahulu, musik klasik tidak dipandang sebagai musik Nekolim atau musik karya penjajah. Menariknya musik klasik kala itu terhindar dari segala situasi politik. Dimana sejak zaman dahulu kesenian  dimanfaatkan oleh golongan politik sebagai identitas bangsa dan sebagainya tetapi tidak halnya dengan musik klasik.  

Lewat latar belakang tersebut, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bersama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) ingin kembali memperkenalkan sebuah program musik yang berkualitas Jakarta City Philharmonic (JCP). Mereka adalah sebuah kelompok simfoni orkestra yang bertujuan membangun ekosistem musik klasik di Jakarta.

02 Irawan Karseno Ketua Umum DKJ & Anto Hoed Ketua Komite Musik DKJ YDhewIrawan Karseno Ketua Umum DKJ & Anto Hoed Ketua Komite Musik DKJ (foto: YDhew)

Mengambil tempat di Gedung Kesenian Jakarta (23/11), pertunjukan JCP yang bertema “Lanskap Skandinavia” digelar pertama kali sebagai perkenalan kepada pecinta musik di Ibukota. Kelompok musik ini berfokus menampilkan repertoar-repertoar periode tahun 1850 sampai sekarang, yang bisa dibilang sejak era neoklasik hingga klasik kontemporer.

Anto Hoed selaku Ketua Komite Musik DKJ, menjelaskan bahwa dipilihnya musik klasik karena kurangnya gawean sejenis ini. Sehingga banyak pemain atau musisi yang bagus malah berkiprah di luar negeri. Dengan adanya event ini selain dapat mengedukasi pemain yang baru dan juga sebagai ajang menemukan pemain dengan kualitas musik yang bagus.

“Kami mempunyai perencanaan besar dengan pemerintah daerah sebagai mitra strategis Gubernur DKI Jakarta untuk membuat DKI Jakarta menjadi kota terbaik untuk kesenian. Paling tidak di Asia Pacific dan salah satunya ini bisa dijadikan sebagai icon. Dua atau tiga tahun lagi saya tidak mau kalah dengan orkestra Berlin, baik dari segi jumlah, dan kualitas. Jakarta sudah sepatutnya memiliki ekosistem musik klasik atau Orchestra”, jelas Irawan Karseno Ketua Umum DKJ kepada NewsMusik sebelum acara.

Acara yang diisi oleh kurang lebih 54 orang musisi yang sebagian besar adalah pemain baru namun cukup bagus secara implementasi dan permainan. Mereka datang dari Jakarta dan daerah lain di Indonesia ini, memainkan tema geografi yang bersumber dari berbagai negara atau wilayah tertentu. Menghindari top forty musik klasik. Pilihan-pilihan repertoar-nya sulit dibawakan bahkan lebih complicated dan jarang dibawakan oleh group orkestra manapun. Sehingga secara psikologis, penonton akan disuguhkan dengan berbagai jenis tingkat kesulitan agar tidak monoton untuk ditonton.

Acara yang dimulai pada pukul 19.00 WIB ini, dibuka dengan karya dari Matius Shan-Boone yang berasal dari Indonesia dengan karyanya yang berjudul ‘Thrilling Point’. Karya Matius yang dibuat tahun 2010 ini menceritakan tentang suasana hati dengan ketegangan yang berbeda-beda, moment-nya berbeda, naik turun dimana disesuaikan dengan kondisi dan situasi saat ini. Kadang tenang atau bisa tiba-tiba agresif.

03 GR Jakarta City Philharmonic Lanskap Skandinavia YDhewGR Jakarta City Philharmonic - Lanskap Skandinavia (foto: YDhew)

Oleh Eric Awuy, selaku senior trompetis, menjelaskan satu persatu repertoar dari acara Lanskap Skandinavia ini, seperti dipilihnya karya komponis asal Denmark, Carl Nielsen  yang di Indonesia justru jarang sekali dimainkan karena sulit dipahami dan didengarkan. Karya dari Carl Nielsen ini dipilih menjadi pertunjukan ke-dua dalam musik Simfoni no. 1 dalam G Minor Opus 7 (1892) yang berjudul ‘Allegro Argoglioso, Andante, Allegro Comodo-Andendante Sostenute-Tempo 1, dan Finale, Alegro con fuoco’.

Dipertunjukan ketiga ditampilkan karya Jean Sibelius yang merupakan salah satu tokoh dari Skandinavia.  Ia juga seorang komponis yang karyanya sukar sekali dimainkan, seperti ‘Allegro moderato’, ‘Adagio di Molto’, dan ‘Allegro, ma non tanto’. Simfoninya naik turun kadang orang yang mendengarnya kehilangan jejak karena sifatnya yang sakartik, suka humor dan jail.

Selanjutnya karya dari Edvard Grieg musisi dari Norwegia menjadi penutup dari pertunjukan ini. Karyanya yang berjudul ‘Morning Mood’, ‘Death of Ase’, ‘Anitra’s Dance’ dan ‘In The Hall of The Mountain King’. Lewat intensitas yang lembut dan makin lama makin keras, cocok bagi pemula untuk mendengarkan musik klasik.

“Wadah ini diharapkan menjadi ancaman bagi negara lain, seperti Beijing yang memiliki kelompok orkestra yang bagus meski sudah tua umurnya. Tujuan utamanya adalah edukasi selain memberikan identitas buat yang moderat. Kita mau mengembangkan ini, menjadi tempat yang membanggakan dan ada rangkingnya. Juga musisi yang terlibat, terutama yang muda-muda dapat menjadikan ini sebagai wadah untuk belajar musik klasik. Ini bisa jadi mata pencaharian baru untuk mereka,” jelas Anto Hoed lagi.

Sebagai tanggapan, bahwa acara sperti ini di dukung oleh pemerintah secara penuh dan terus menerus, Sehingga menjadi wadah bagi para musisi klasik dan menciptakan even-even musik klasik yang tidak mudah dilupakan. Seperti yang dimiliki oleh Malaysia ataupun Singapore, yang sudah punya acara seperti ini meskipun baru  di dukung oleh swasta. Sedangkan Jakarta, meski dulu pernah punya group seperti ini tapi akhirnya tidak berjalan dengan baik. Event kedua rencananya akan diselenggarakan  tanggal 8 Desember 2016 dan akan diadakan secara regular mulai tahun depan./ YDhew

 

Page 18 of 112