Exclusive Interview
NewsMusik

NewsMusik

Wednesday, 31 May 2017 10:40

Isaac

Merilis Single Perkenalan

Isaac, adalah kuartet bergenre alternatif asal Jakarta yang dimotori oleh Marhain Williams (gitar, vocal), Nyoman Agastyasana (gitar), Akbar Prihartama (bass), Reinardus Suryandaru (drum) bersiap-siap untuk merilis single perdana mereka berjudul ‘Sphere’. Tunggalan ini juga salah satu lagu yang turut mengisi EP yang rencananya akan dirilis dalam tahun ini.

Penggarapan EP ini sendiri direncanakan akan selesai dalam pertengahan tahun dan menceritakan tentang keresahan seseorang yang harus menghadapi pertempuran antara logika dan intuisinya.

Lagu ini sendiri bolehlah dikatakan mewakili kegelisahan dari orang-orang muda pada usia pertengahan 20-an, yang bimbang antara mendengar kata hati atau mengikuti dogma masyarakat pada umumnya.

02 Sphere Artwork IstimewaSphere Artwork (Istimewa)

Tunggalan ini juga menjadi ajang perkenalan dari keempatnya kepada pencinta musik dalam negeri setelah membentuk Isaac pada tahun 2015. Kabar lainnya adalah sebelum meluncurkan EP yang akan berisikan 5 lagu tersebut, singlenya sendiri dapat di unduh secara bebas di Soundcloud Isaac, atau juga dapat di dengar lewat YouTube dan bandcamp dari Isaac./ Ibonk

 


Saturday, 27 May 2017 10:26

Connie Nurlita

Come Back dengan Warna Berbeda

Bagi pecinta musik asoy geboy, pasti takkan lupa dengan nama penyanyi era 90an Connie Nurlita yang melejit namanya berkat lagu ‘Cinta Karet’.  Sebagai biduanita yang berkecimpung di dunia dangdut, keberaniannya untuk kembali kedunia rekaman bolehlah dikatakan berani.

Bayangkan, lepas melayangkan album ke-5 nya yang bertajuk ‘Gendang Joged’ pada tahun 1998 silam, Connie Nurlita mendadak menghilang dari dunia rekaman. Syukurnya, vakumnya Connie tidak berlanjut di kegiatan off air. Ia masih cukup sering tampil dipanggung-panggung akbar di dalam ataupun luar kota.

Begitulah, lepas 19 tahun, akhirnya Connie pun turun gunung dan come back lewat  kolaborasinya dengan Didi Kempot menggarap album kompilasi berjudul “Connie Nurlita”. Proses penggarapan albumnya sendiri hampir memakan waktu tiga bulan. Diakuinya bahwa ia mendapatkan sesuatu yang berbeda dengan kala mengawali karirnya di tahun 1991.

Album bergenre musik popdhut yang menjagokan single ‘Baru 6 Bulan’ ini, cukup banyak dijejali lagu recycle yang diaransemen ulang yang dipadukan dengan campursari, sehingga musiknya lebih semarak lagi. Ada sepuluh lagu yang dinyanyikan diantaranya ‘Anak Medan’, ‘Balada Pelaut’, ‘Cinta Karet’, ‘Polo Pakita’, ‘Stasiun Balapan’ dan 4 lagu yang dinyanyikan Didi Kempot sendiri.

02 Didi Kempot & Connie Nurlita IbonkConnie Nurlita (foto: Ibonk)

Conny memang sengaja mengandalkan lagu ciptaan Wahyu WHL tersebut sebagai lagu jagoan. Karena pada lagu  ‘Baru 6 Bulan’ tersebut Connie bisa bernyanyi dengan lugas, dan bisa menunjukkan kelebihannya dalam berolah vokal dan cengkok dangdut yang sangat pas.

Lahirnya album kompilasi dengan single perdana ini dipersembahkan Connie untuk para fansnya yang selama ini merindukan dan menantikan kehadiran dirinya.  Para penggemarnyapun kini bisa menyaksikan Connie tampil dengan warna musik yang berbeda dan jauh lebih fresh.

Sementara itu Didi Kempot juga merasa senang bisa terlibat dalam proyek kolaborasi dengan Connie Nurlita, "Saya merasa ada ketulusan ketika mendengar pinta Connie untuk menyanyikan lagu" Stasiun Balapan ", jelas Didi Kempot./ Ibonk

Thursday, 25 May 2017 13:49

Hybrid

Sambut Ramadhan Rilis Single Religi

Pada saat menjelang bulan Ramadhan 2017/1438H pekan lalu, Hybrid sebuah kelompok band muka baru yang mengusung genre alernatif pop rock telah merilis single religi berjudul ‘Kembali PadaNya’. Ini merupakan single yang menceritakan kisah seorang manusia yang tidak luput dari khilaf dan dosa sampai jatuh menerima keterpurukan, putus asa. Hingga akhirnya terketuk hatinya, dan mendapat petunjuk pintu hidayah, menyadari akan kebesaran kekuasaan pencipta.

Komposisi musik di lagu ini dibuat dengan komposisi yang minimal lewat nuansa petikan gitar akustik berbalut dengan iringan simponi orkestra dan beat looping yang ringan. Sementara  kekuatan lagu ini disuguhkan lewat tema, syair lagu dan karakter vokalis yang dibuat matang dalam menghayati lagu tersebut.

Single religi ini sendiri diproduksi secara digital dibawah payung Cadazz Pustaka Musik yang akan menjadi jembatan Hybrid untuk segera melepas full album mereka yang sudah di persiapkan sejak lama.

02 Hybrid IstimewaHybrid (foto: Istimewa)

Nama Hybrid sendiri diambil dari arti Kombinasi yang menyatukan beberapa jenis genre musik yang berbeda dari setiap player sehingga menjadi ciri khas band Hybrid. Didirikan pada tanggal 11 November 2011 dengan formasi :  Kahfi (Vokal),  Smith (Guitar),  Dry (Guitars) dan Awink (Drum) ini berharap  single ‘Kembali PadaNya’ ini dapat diterima oleh masyarakat pecinta musik Indonesia.

Mereka juga berharap tunggalan ini menjadi salah satu alternatif lagu religi pilihan umat muslim untuk menemani aktifitas puasa di builan Ramadhan tahun ini./ Ibonk

 

Friday, 26 May 2017 13:42

Album Philosophy Gang

Resmi Dirilis Dalam Format Cakram Padat

Setelah dirilis ulang pada tanggal 17 Maret lalu oleh La Munai Records, album dari grup band legendaris asal Bandung, The Gang of Harry Roesli yang bertajuk Philosophy Gang yang dicetak dalam bentuk piringan hitam atau vinyl sejumlah 500 keping kini telah habis terjual. Antusiasme para penggemar Harry Roesli masih sangat besar walaupun beliau telah meninggalkan para penggemarnya di tahun 2004 silam.

"Bukan semata-mata untuk memenuhi demand saja, dirilisnya piringan hitam ini juga bertujuan untuk memperluas informasi bahwa Indonesia punya musisi jenius seperti Harry Roesli dan album ini.” ungkap  Rendi Pratama, Lamunai Records.

Karena pentingnya album ini untuk diapresiasi secara luas, maka terhitung tanggal 25 Mei 2017, album Philosophy Gang milik The Gang of Harry Roesli secara resmi dirilis dalam format cakram padat/ Compact Disc (CD) untuk diedarkan di pasar Indonesia.

Kabar baiknya, selain di Indonesia cakram padat dari album ini juga akan dicetak dan diedarkan versi Jepang. Demi mengenalkan sosok Harry Roesli dan musiknya yang khas lewat album ini, maka akan juga secara resmi tersedia dalam format digital lewat layanan musik streaming. Fungsinya adalah, agar penikmat musik, terutama generasi muda tetap tahu akan keberadaan album-album Indonesia di masa lalu, termasuk album Philosophy Gang ini.

02 Philosophy Gang IstimewaPhilosophy Gang (foto: Istimewa)

Dan tentu saja, tak hanya berhenti di sini saja, dalam rangka program reissue atau rilis ulang album The Gang of Harry Roesli - Philosophy Gang ini, La Munai juga berkoordinasi dengan Irama Nusantara, sebuah yayasan pengarsipan musik populer Indonesia, telah mempersiapkan sebuah film dokumenter tentang perjalanan atau proses di balik album tersebut dengan tajuk Your Fantasy Right Here, yang di jadwalkan akan dirilis di akhir tahun ini.

Album Philosophy Gang milik The Gang of Harry Roesli adalah salah satu bukti sejarah musik rock kontemporer tanah air. Albumnya, ‘Malaria’ salah satu single dalam album ini, dan Harry Roesli sebagai musisi legendaris pernah terpilih menjadi yang terbaik versi sebuah majalah musik populer di tanah air.

Album ini pertama kali dirilis oleh Lion Records, sebuah label dari Singapura pada tahun 1973, tapi ternyata tidak dijual secara umum, Baru pada 44 tahun kemudian, tapatnya pada 17 Maret 2017, album ini secara resmi dirilis dan diedarkan secara luas kepada publik musik di Indonesia dalam format piringan hitam, menyusul CD dan versi digitalnya.

Selain Indonesia ataupun Jepang, album ini juga dicetak dan disebarluaskan untuk pasar penggemar musik di beberapa negara di benua Eropa dan Amerika Serikat./ Ibonk

 

Friday, 26 May 2017 13:58

Perfilman Nasional

Mengangkat Gengsi Lewat Kearifan Lokal

Ada sebuah hal menarik yang bisa diambil dari hasil dialog perfilman yang mengangkat tema  kearifan lokal. Begitu pentingnya hal tersebut ditonjolkan di setiap kelok karya film anak bangsa untuk menghadapi budaya asing. Hal tersebutlah yang dibeberkan secara panjang lebar oleh Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Maman Wijaya di Jakarta, Rabu lalu (24/5).

Disamping itu Maman menjelaskan pula bahwa pemerintah saat ini tengah berupaya mendukung perkembangan film Indonesia dengan berbagai cara seperti bentuk apresiasi film dengan mengadakan festival film. Lainnya dengan peningkatan kompetensi bagi insan perfilman lewat workshop, dan loka karya, juga pemberian bantuan beasiswa bagi para sineas yang ingin melanjutkan pendidikan sarjana satu dan dua ke luar negeri.

Diharapkan tradisi mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dalam perfilman Indonesia akan terus menuai hasil positif di ajang internasional, seperti yang diraih oleh film Ziarah lewat  penghargaan Best Screenplay & Special Jury Award - ASEAN International Film Festival & Awards (AIFFA).

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Tino Saroengallo, yang lebih dahulu memaparkan materi dialognya terhadap tema yang ditetapkan. Ia menyampaikan bahwa salah satu nilai kearifan lokal yang dapat dimasukkan dalam film-film Indonesia adalah nilai bahasa daerah. Salah satu contoh film yang menggunakan bahasa daerah, lanjut Tino, adalah film Turah. "Film itu di dalamnya secara menyeluruh memakai bahasa Jawa Ngapak (Tegal)," ungkapnya.

02 Tino Saroengallo IbonkTino Saroengallo (foto: Ibonk)

Ia mengatakan bahwa penggunaan bahasa daerah dalam film nasional adalah salah satu upaya pelestarian bahasa daerah. Karena ditengarai juga, bahwa saat ini kondisi bahasa daerah juga sudah semakin mengkhawatirkan.

Tino juga memaparkan film lainnya yang pada saat kemarin tengah diperkenalkan dan diputar di Cannes Film Festival karya Mouly Surya. Film berjudul Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak ini secara gamblang  memperkenalkan unsur kebudayaan lokal. Film ini mengangkat budaya kekerasan di Sumba Barat yang patut diacungi jempol.  "Jangankan di luar negeri, masyarakat Indonesia sendiri tidak banyak yang tahu bahwa budaya kekerasan ala parang sebagai senjata yang dibawa sehari-hari masih berlaku di Sumba Barat," katanya.

Diskusi yang dilakukan dalam 2 sesi tersebut, menyampaikan juga opini lain dari penggiat perfilman seperti produser, Ichwan Persada. Dalam pemaparannya ia bersiasat lewat  keragaman dan kekayaan budaya yang kita miliki. "Perfilman nasional hanya butuh strategi, kemauan, dan dukungan kebijakan yang berpihak kepada satu tujuan, yakni bersama-sama menyebarluaskan (kekayaan dan keragaman budaya) secara tepat dan cerdas lewat film nasional".

Secara garis besar, Kepala Bidang Perizinan dan Pengendalian Perfilman Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud, Kholid Fathoni sebagai penyelenggara dialog ini berharap agar pelaku perfilman terus memasukkan nilai-nilai kearifan lokal di dalam film-film nasional.

03 Maman Wijaya Ibonk Maman Wijaya (foto: Ibonk)

Beberapa jenis kearifan lokal yang bisa dimasukkan ke cerita film bisa apa saja seperti  bahasa, dialek, makanan, busana, kesenian (baik itu seni pahat, seni kerajinan tangan, seni suara, seni tari) ataupun pola berpikir masyarakat.

Ia juga menyampaikan keluhan terkait dengan minimnya dukungan pemerintah, termasuk regulasi dan biaya. Sangat dibutuhkan keberpihakan pemerintah secara total untuk membantu menyebarluaskan kearifan lokal tersebut lewat alokasi dana untuk membantu upaya perekaman event kebudayaan di masyarakat. Sehingga film benar-benar dapat dipergunakan sebagai alat penetrasi budaya dan alat menyebarkan budaya nasional kepada dunia luar./ Ibonk

 

Monday, 22 May 2017 11:41

Boyzlife

Tak Kesal Dengan Insiden Mikrofon

 Konser Boyzlife yang berlangsung pada Minggu (21/5) di Lagoon Garden The Sultan Hotel & Residence, Senayan, Jakarta kemarin meraih sambutan meriah dari penggemarnya. Keith Duffy salah satu personil Boyzone dan Brian McFadden yang merupakan mantan personil Westlife akhirnya mampu mengembalikan memory era keemasan 2 boyband era 90an tersebut diatas panggung.

Panggung yang awalnya menghadirkan Delon sebagai local hero mampu membuka kemeriahan malam itu. Ia sadar betul sepertinya sebagai bridging kesuksesan malam itu, dan mengalirlah dari tenggorokannya lagu-lagu yang cukup dikenal diantaranya ‘You Raise Me Up’, ‘Karena Cinta’, ataupun  ‘Indah Pada Waktunya’.

Sekitar pukul 20.00 WIB, Brian dan Keith pun naik ke atas panggung. Lagu ‘World of Your Own’, langsung saja berkumandang. Lagu yang dipopulerkan Westlife tersebut, dipilih mereka sebagai pembuka. Keith memang agak terlihat sedikit “terganggu” akan insiden tidak berfungsinya beberapa saat mikrofon yang digunakannya. Namun secara cepat ia mampu menemukan ritmenya  kembali.

Di lagu kedua ‘Picture Of You’, Keith tiba-tiba berlari ke tengah-tengah penonton dan meminta untuk membuka pembatas yang membatasi penonton yang berada di belakang untuk maju ke depan panggung. Keruan saja semua berebut mengambil posisi dekat panggung, suasana sempat panas karena penonton yang berada di kursi VVIP terhalangi oleh orang yang berdiri memadati arena depan panggung.

02 Kayla YDhewBoyzlife dengan Kayla (Foto: YDhew)

“Semua yang hadir disini harus bersenang-senang, jadi kita bisa membuat memori malam ini”, ujar Keith disambut dengan teriakan penonton. Di lagu ketiga ‘Words’, Brian sempat melihat seorang anak kecil yang terhimpit di kerumunan penonton, sambil menangis bocah kecil bernama Kayla kemudian menyanyikan lagu Words bersama-sama dengan disambut teriakan penonton. Kayla yang hafal lirik lagu ‘Mandy’ pun kemudian kembali diajak bernyanyi bersama Boyzlife.

Tidak begitu banyak yang dikatakan Brian dan Keith pada malam itu. Sekitar 14 lagu yang dibawakan keduanya terlihat mulus dan bisa melemparkan penonton untuk bernostalgia kembali ke era silam ketika Boyzone dan Westlife merajai anak tangga lagu terpopuler di dunia.

Berturut-turut kemudian mereka membawakan lagu ‘ I Love The Way Love Me’, ‘Queen Of My Heart’, ‘You Needed Me’, ‘No Mater What’, ‘Swear It Again’, ‘Love Me For A Reason’, ‘Flying Without Wings’, ‘Father and Son’, ‘Going Gets Tough’, dan ditutup dengan lagu “Uptown Girl”.

Setelah selesai lagu ‘Uptown Girl’ mereka pun pamit. Ada kesan bahwa lagu tersebut adalah lagu terakhir yang mereka nyanyikan. Seperti biasa di setiap pertunjukkan, penonton pun enggan meninggalkan area panggung karena durasi yang mereka tampilkan hanya sebentar. Ketika penonton sebagian akan beranjak dari venue, mendadak Brian dan Keith muncul kembali diatas panggung dan menyanyikan beberapa lagu hits dari Boyzone dan Westlife secara medley seperti ‘If I Let You Go’ dan ‘Season in the Sun’.

03 Boyzlife YDhewBoyzlife (Foto: YDhew)

Namun kembali disayangkan, penampilan terakhir mereka diwarnai oleh kembali matinya mikrofon dan lagu yang tersendat-sendat. Keith yang dari awal agak kelihatan kesal, kemudian mensiasati dengan tiba-tiba kembali berlari kearah penonton, dan disusul oleh Brian secara bergantian. Sontak penonton yang memadati area konser pun berteriak histeris.

Namun yang jelas insiden tehadap mikrofon bermasalah tersebut tidak ditanggapi penonton sebagai  persoalan besar. Apalagi keduanya mampu menutupi dengan candaan. Seperti Brian yang tiba-tiba berjoget menggoyangkan pinggulnya sewaktu mikrofon mati mendadak di tengah-tengah lagu. Keprofesionalan mereka dengan tidak menunjukkan rasa kesal dan tetap meneruskan show patutlah diapresiasi. “It’s nothing to do, everything gonna happen in life, It’s call live”, jelas keduanya sewaktu di konfirmasi NewsMusik setelah selesai konser

Konser Boyzlife kali ini memang di setting secara intimate, dimana penggemar dapat berinteraksi langsung dengan keduanya. Sedikit kaget sewaktu mereka meminta membuka pembatas antara penonton yang sudah dibagi beberapa kelas tersebut. Walau agak menuai protes dari pembeli tiket premium, namun menjadi keuntungan bagi media yang meliput. Biasanya media peliput hanya diberikan tempat nun jauh dibelakang atau para fotografer liputan yang dijatah 3 lagu awal dimana sang musisi belum sampai dalam performa terbaiknya, terutama artis atau musisi dari luar negeri.

“Sangat senang bisa kembali kesini, dimana animo penonton cukup bagus ke kami. Setiap lagu yang kami nyanyikan, semua dapat diterima dan semua senang bisa menikmati konser kami”, tutup Brian./ YDhew

Thursday, 18 May 2017 12:20

Soundsations Arena Rock 2017

Konser di 10 Daerah

Rangkaian tour dengan tajuk “Arena Rock” resmi dimulai, digagas oleh Go Ahead People, salah satu penyelenggara yang memang cukup sering mengadakan event musik pada saat ini. Dengan slogan “10 Daerah 10 Kali Bersenang-Senang“ dalam kurun waktu Mei – September 2017.

Kota Depok adalah menjadi tempat pertama sebagai pembuka konser berkesinambungan ini, yang mengambil lokasi di rooftop ITC Depok dibilangan Margonda Raya. Ini adalah salah satu tempat yang cukup sering dipakai untuk gelaran gigs dikawasan Depok. Antusiasme sudah terlihat ketika acara belum dimulai. Penonton yang didominasi oleh anak muda serta remaja tanggung ini tampak sabar dalam menunggu.

Tercatat pada hari Rabu 17/5/ 2017, sekitar pukul 17.00 WIB band pertama pun naik panggung, Jimmy The Bandit yang digawangi 5 pemuda ini menggebrak panggung Arena Rock. Mengusung garage rock penampilan mereka begitu ciamik. Disusul dengan band yang sudah lama berkecimpung di industri tanah air, Monkey To Millionaire.

Kemudian disusul dengan hadirnya empat lelaki gondrong asal Bandung dan menggempur Arena Rock, The SIgit. Tak lama berselang, setelah The Sigit turun terlihat Bagus menaiki panggung, tepat dibelakangnya Coki dan Eno. NTRL kamuflase dari Netral ini meneruskan menggebrak panggung. Disaat lagu ketiga, ada sedikit kegaduhan terjadi di moshpit area, saling pukul antar penonton terjadi.

“Woy.. Woy udah lah ini lagunya emang begitu. Kena tampol sedikit ngga apa apalah. Namanya juga laki”, himbau Bagus dari atas panggung. Begitu kericuhan usai, lagu selanjutnya pun dimulai dan suasana kembali kondusif.

02 Sounsations Arena Rock 2017 FikarSounsations Arena Rock 2017 (foto: Fikar)

Ada sebuah hal yang jarang terjadi muncul di acara ini. Kemunculan Kelompok Penerbang Roket feat. Rekti Yoewono yang dikenal juga sebagai front man dari The Sigit. Mereka berkolaborasi dengan saling membawakan lagu dari keduanya, cukup enak dan mudah di dengar.

Selepas pesta rock di Depok ini, selanjutnya Soundsations Arena Rock 2017, akan berlangsung pada hari Kamis, bertempat dikawasan Pulo Gadung Jakarta Timur, “Ya... kita akan terus membuat acara-acara lanjutan yang seperti ini. Memang kelihatan kok, anak muda itu sebenernya haus akan suguhan yang bertemakan musik. Untuk itu, kita akan tetap mengusakan terus menghibur mereka” ucap salah satu panitia.

Semoga apa yang dilakukan oleh para penyelenggara event musik di tanah air, bisa selalu menyuguhkan acara sejenis. Tidak pernah capek untuk membangkitkan semangat anak muda yang memang haus akan musik./ Fikar

03 NTRL FikarNTRL (foto: Fikar)

Monday, 22 May 2017 14:37

Siti Nurhaliza

Single Terbaru dari sang Dato’

Dato’ Siti Nurhaliza Tarudin saat ini dikenal sebagai penyanyi, penulis lagu, produser rekaman, presenter televisi dan pengusaha di Malaysia. Bakat seninya di bidang tarik suara yang menempatkannya kepada posisinya sekarang. Anak keempat dari delapan bersaudara dari pasangan Tarudin Ismail seorang perwira polisi dan Siti Salmah Bachik kelahiran 11 Januari 1979 ini merupakan ikon seni di negaranya

Ia datang dari keluarga yang akrab dengan musik, saudaranya Saiful Bahri Tarudin, dan dua saudarinya Siti Norsaida dan Siti Saerah juga merupakan seorang penyanyi. Kakeknya adalah seorang pemain biola terkenal, dan ibunya adalah seorang penyanyi tradisional lokal.

Dibesarkan di Kuala Lipis, Pahang ini sejak usia belia sudah terjun ke bidang menyanyi, Siti begitu biasa ia di panggil sering mengikut beragam kejuaraan menyanyi di sekolahnya. Memulai karir bernyanyinya sejak usia 6 tahun, ia menyanyikan lagu ‘Sirih Pinang’ di acara perpisahan sekolahnya. Di usia 12 tahun ia mengikuti kejuaraan Nyanyian Hari Kemerdekaan sebuah kompetisi lagu lokal dan akhirnya mendapat juara pertama dengan membawakan lagu ‘Bahtera Merdeka’.

Meskipun bidang seni suara bukanlah hal yang baru bagi Siti, namun, gemerlap di bidang seni tarik suara dimulai pada saat mengikuti kejuaraan Bintang HMI di tahun 1995. Sejak saat itu Siti mulai serius untuk terjun ke bidang yang disukainya ini.

Karirnya di Indonesia di mulai sejak tahun 1997, dimana pada waktu itu Siti muncul dalam salah satu majalah terbitan Ibu Kota, Pos Kota dalam edisi bulan April. Siti yang menceritakan pengalamannya mulai dikenal dan menjadi seorang public figure di Indonesia, dimana saat itu artis-artis Malaysia sulit masuk ke industri musik tanah air.

02 Siti Nurhaliza IstimewaSiti Nurhaliza (Istimewa)

Siti merupakan penyanyi Malaysia pertama yang mengadakan konser secara live di salah satu stasiun TV swasta. Ia menjadi salah satu artis Malaysia yang paling berpengaruh di Indonesia, dan mulai mengadakan serangkaian konser berskala besar di beberapa daerah seperti, Bandung, Jakarta dan Yogyakarta.

Dedikasinya kepada dunia seni, dibuktikan juga dengan berhasilnya album-album yang di release nya. Selalu mendapat tempat tersendiri di negaranya maupun di Indonesia. Melalui seni suara, jerih payahnya juga mendapat penghargaan sebanyak dua kali dalam “The Malaysia Book Of Records” dan dianugerahkan Darjah Indera Mahkota Pahang (DIMP) yang membawanya mendapat gelar  Dato’ oleh DYMM Sultan Pahang. Selama 20 tahun berkarir di dunia musik, Siti sudah mengadakan lebih dari 40 kali konser baik di dalam maupun luar negeri.

Sampai detik ini, lebih dari 200 penghargaan dari dalam dan luar negeri selama 20 tahun kiprahnya di bidang tarik suara. Menyanyikan lagu yang bergenre pop, tradisional, rohani, serta beberapa album dalam bahasa Inggris. Pada tahun 2017 ini, ia kembali mengeluarkan album terbarunya yang bertajuk  “SimetriSiti” dengan singlenya ‘Sagala Perasaan’ yang diluncurkan pada bulan Mei 2017 tahun ini.

Lagu ciptaan Ivan Lahardika mengangkat tema cinta yang sangat luas dan dengan melodi yang mudah diterima oleh penggemar musik. Dalam rilis yang diterima NewsMusik, Siti mengatakan bahwa ini adalah lagu yang penuh tantangan, karena terdapat nada rendah dan tinggi serta perlu penjiwaan yang penuh dalam lirik dan nyanyiannya.

Dalam pengharapannya terkait diluncurkannya single ini, ia berkeinginan agar karyanya  dapat diterima oleh para peminat dan penggemarnya. Ini sebagai pemanasan sambil menantikan kemunculan album penuh berjudul 'SimetriSiti' yang diterbitkan oleh Universal Music Malaysia dan Siti Nurhaliza Productions (M) Sdn. Bhd./ YDhew

 

Monday, 22 May 2017 13:23

Leo Kristi

Dalam Sebuah Ingatan

Dalam waktu yang tak terpaut jauh, 2 musisi senior tanah air Bartje Van Houten dan Leo Kristi mendadak berpulang ke sisi sang Khalik. Kepergian para maestro tersebut tentunya meninggalkan kesan yang teramat dalam. Bayangkan saja sedikit banyak kiprah yang mereka lakoni semasa hidup cukup memberi warna di dalam perkembangan musik tanah air.

Mari kita sedikit mengulas tentang seorang Leo Kristi, pria yang bernama asli Leo Imam Sukarno ini 4 hari sebelum kepergiannya sempat bertemu dengan NewsMusik di RS. Immanuel Bandung. NewsMusik yang berangkat bersama beberapa teman wartawan, salah satunya, Bens Leo sengaja mengunjungi mendiang untuk melihat langsung keadaannya sekaligus memberikan tali asih dari teman-teman musisi di Jakarta.

Terlihat kurus dan sedikit lemah secara fisik, namun semangat menyala-nyala tersirat dari pancaran matanya. Dengan lugas, Leo menjawab sapa kami dan menceritakan sepintas penyebab dirinya kenapa harus dirawat.  Boni, kakak Leo, mengatakan bahwa Leo dirawat di rumah sakit karena menderita disentri amoeba atau radang usus yang disebabkan oleh bakteri entamoeba histolytica.

“Sebelumnya  Leo mengeluh diare dan tekanan darahnya turun drastis. Lalu segera dibawa ke rumah sakit, dan tidak diizinkan pulang. Sempat masuk ICU beberapa hari dan sekarang sudah ditempatkan di kamar regular. Dari pertama dirawat, total sudah ada 22 hari," ucap Boni kala itu.

02 Leo Kristi IstimewaLeo Kristi (Istimewa)

Begitulah, seperti yang dilansir di banyak berita, ia yang lahir di Surabaya, 8 Agustus 1949 tersebut akhirnya tutup usia sekitar pukul 01.00 dinihari pada hari Minggu, 21 Mei 2017. Leo meninggal dunia dalam usia 67 tahun.

Semasa hidupnya, Leo dikenal sebagai pemusik pengelana. Ia melegenda kala membentuk grup musik bernama Konser Rakyat Leo Kristi (KRLK) dengan basis penggemar yang menyebut diri LKers (Komunitas Pecinta Musik Konser Rakyat Leo Kristi). Namun sebelumnya, cukup beken kala bersama Gombloh dan Franky Sahilatua, ketika mengusung rock progresif, Lemon Trees. Namun kemudian, Leo memilih keluar dan mengembara bersama musiknya.

Menyukai musik sejak kanak-kanak, ia kerap menyimak setiap irama yang dimainkan tiap subuh oleh ayahnya, Raden Ngabei Iman Soebiantoro, yang juga merupakan seorang musisi dan seorang pensiunan pegawai negeri. Mengecap kursus musik di tahun 1964 ketika duduk dibangku SMP, lewat Kursus Musik Dasar yang dikomandani oleh Syam Kamaruzaman. Lalu, ia masuk kursus Tony Kerdijk, Direktur Sekolah Musik Rakyat di Surabaya. Mengasah vokal, ia belajar pada Nuri Hidayat dan John Garang. Ia juga pernah kursus gitar pada Poei Sing Gwan dan Tan Ek Tjoan. Dua gitaris yang diakuinya cukup memberi pengaruh pada musiknya.


Lalu melanjutkan sekolah di SMAN 1 Surabaya pada tahun 1967, Ia bergabung dengan band sekolah bernama Batara yang mengusung lagu-lagu The Beatles. Anggotanya sendiri adalah  teman-temannya dari SMA seperti Ratno, Karim, Soen Ing, John Kotelawala, Andre Muntu, dan Harry Darsono (kini menjadi desainer nasional). Lepas SMA, ia melanjutkan berkuliah di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik ITS pada tahun 1971 namun tidak selesai. Pada masa inilah ia bertemu Gombloh dan mengawali karier sebagai pemusik keliling (trubadur).

03 Leo Kristi IstimewaLeo Kristi (Istimewa)

Walau tidak begitu lengkap, namun masih cukup banyak ulasan yang menjelaskan sepak terjang mendiang terhadap musik rakyat yang diusungnya. Seperti dari sisi album, lewat KRLK ia telah menelurkan beberapa album seperti: Nyanyian Fajar (1975), Nyanyian Malam (1976), Nyanyian Tanah Merdeka (1977), Nyanyian Cinta (1978), Nyanyian Tambur Jalan (1980), Lintasan Hijau Hitam (1984), Biru Emas Bintang Tani (1985) yang gagal beredar, Deretan Rel Rel Salam Dari Desa (1985, aransemen baru), (Diapenta) Anak Merdeka (1991), Catur Paramita (1993) dan Tembang Lestari (1995, direkam pada CD terbatas), Warm, Fresh and Healthy (2010), dan terakhir album Hitam Putih Orche (2015).

Dalam penggarapan albumnya, Leo juga banyak melibatkan musisi dan berbagai bermacam genre seperti folk, country yang didapatkannya dari pelbagai daerah di nusantara. Seperti di album ke-8 KRLK yang merupakan aransemen baru dari sejumlah lagu sebelumnya. Ia melibatkan Titi Manyar, Yana dan Nona Vanderkley, Mung Sriwiyana, Ote Teguh Abadi, Markis Alkatiri dan Wahab, serta beberapa pendukung lainnya.

Atau pada album ke-9 (Diapenta Anak Merdeka), yang dikerjakannya di Bali dan memakan waktu lama melibatkan Cecilia Mars, Jimmy Sila’a, Boge, Dore, Sinyo, Kennedy Gobel, Tjok Bagoes (Habil) Suparba dan lainnya.

Itulah Leo Kristi, kepergiannya tentu meninggalkan duka bagi keluarga dan kerabat dekat. Yang lebih menyedihkan lagi,, kepergiannya tepat setelah konser penggalangan dana yang dimotori oleh LKERS untuknya digelar.

Pria kelahiran Surabaya ini dikenal sebagai musisi kelana yang banyak menghabiskan karirnya di jalanan. Namun, ia kerap menghadirkan kegembiraan lewat tembang rakyat dan hentakan rasa patriotisme yang terselip di syair maupun alunan musiknya. Ia tetap konsisten mengusung musiknya tanpa mau berdamai dengan pasar. Tetap bersama kaum akar rumput, yang rentan, kerap terlindas oleh zaman./ Ibonk

04 Leo Kristi IstimewaLeo Kristi (Istimewa)

 

Friday, 19 May 2017 16:27

Afgan

Mengajak Memahami Al Quran

Siapa yang tak kenal dengan Afgan Syahreza, penyanyi berdarah Minangkabau yang dilahirkan dari keluarga yang menyukai musik. Karyanya banyak  dipengaruhi oleh beragam genre, seperti pop, soul, R&B, dan jazz. Tentunya tidak ada yang ragu pada  kemampuan dan kedudukannya sebagai penyanyi papan atas pria di tanah air pada saat ini.

Nah, menyambut bulan Ramadhan kali ini, Afgan terlihat melibatkan diri dalam Qur’an Indonesia Project (QIP) sekaligus ingin mengajak generasi muda untuk lebih memahami isi Al-Qur’an. Walau sudah mengisi suaranya namun pada awalnya ia sempat merasa tidak puas dan sempat beberapa kali take. Namun belakangan ia lebih puas karena selama pengambilan vokal, selalu didamping oleh guru mengaji yaitu Drs. H. Uci Armisi.

Ada kebanggaan sendiri dalam dirinya menjadi yang pertama di project ini dan di rekam suaranya dengan membacakan surat Al-Fatihah. “Rasanya bangga karena saya termasuk yang paling pertama ikut dan mendapat surat Al-Fatihah. Dari awal saya percaya dengan visi dan misi dari Qur’an Indonesia Project. Baru dengar idenya saja saya sudah terinspirasi, dimana hal ini dapat mengajak generasi muda untuk lebih memahami isi Al-qur’an dengan platform yang unik dan dengan cara yang tidak biasa. Saya bangga banget”, ujar Afgan saat ditemui di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan.

QIP sendiri adalah sebuah project untuk menyambut bulan Ramadhan yang diluncurkan di tahun 2015  silam yang digagas oleh Archie Wirija. QIP ini bertujuan untuk berbagi nilai Al-Qur’an melalui rekaman audio dan disertakan arti secara Indonesia dan Inggris. Hasilnya adalah telah didengarkan sebanyak 1,5 juta kali di 50 negara sejak 2015. Selain Afgan, ada juga Raisa dan Andien yang mewakili 230 kontributor dari berbagai bidang.

02 Andien YDhewAndien (YDhew)

Afgan juga menambahkan bahwa lewat aplikasi ini, bisa lebih mendorong banyak orang untuk lebih memahami dan mempelajari isi Al-Qur’an. Apalagi sebentar lagi akan mulai memasuki bulan Ramadhan. "Ada moment merindingnya,  kita juga baca artinya. Enggak bisa datar saja, harus menghayati ayatnya  juga”, ujar pria usia 27 tahun tersebut.

Pada kesempatan ini QIP hadir lebih dekat kepada masyarakat produktif dengan mobilitas yang dinamis.  Audio rekaman Qur’an dan terjemahannya yang semula hanya bisa di unduh melalui QuranindonesiaProject.com, sekarang ini sudah dapat didengarkan langsung oleh pengguna iOS dan Android dengan mengunduhnya secara gratis./ YDhew

 

Page 11 of 121