Exclusive Interview
NewsMusik

NewsMusik

Wednesday, 19 July 2017 15:14

PassionVille 2017

Tantang Generasi Muda Berpotensi untuk Berkarya

Kurangnya wadah yang memadai bagi generasi muda Indonesia untuk menunjukkan kreatifitas dan mewujudkan mimpinya terkadang dapat menimbulkan persoalan. Hal ini timbul karena terbentur dengan beragam kendala tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya. Berdasarkan hal tersebut Wismilak Foundation kembali menyelenggarakan PassionVille2017.

Tahun ini adalah penyelenggaraan ke-5 PassionVille dan semakin kukuh sebagai rangkaian festival passion bidang kreatif terbesar di Indonesia. Dengan memperluas konten program lebih banyak, untuk menciptakan peluang yang dapat diambil anak-anak muda Indonesia lewat karya-karya barunya sesuai passion-nya masing-masing.

Tahun ini lewat tagline “Passion for Nation” diharapkan akan menjadi semangat baru bagi para passioners.  Masih melalui program #ProjectPassion, tantangan bagi para Passioners akan terasa lebih menarik karena nantinya akan dicari ide-ide proposal dari project yang lebih kreatif, inovatif, dan diharapkan mempunyai dampak positif serta menginspirasi untuk lingkungan sekitar, kota, bahkan bangsa Indonesia. Ide dan kreativitas yang nantinya akan diikutsertakan tidak harus besar dan massif, karena dengan ide kecilpun akan memberi dampak positif dan pengaruh besar bagi sekitar.

Menariknya di tahun ini, PassionVille menghadirkan narasumber sebagai inspiring people, ada vokalis band Payung Teduh Mohammad Istiqomah (Is), Arina Ephipania yang juga seorang vokalis band dari band Mocca, serta di meriahkan dengan Komunitas Institut Musik Jalanan yang didirikan oleh Andi Malewa. PassionVille juga berkolaborasi dengan musisi Endah N Rhesa melalui program ‘Passionville X Endah N Rhesa, Indie Ride – Journey of Passion.

02 Endah Rhesa IstimewaEndah & Rhesa (Istimewa)

“Banyak sekali anak muda Indonesia yang memiliki passion di bidang kreatif, tetapi sering menemui kendala. Kami sangat senang sekali dapat terlibat dalam aktivasi yang penuh inspirasi seperti Passionville ini. Kami berharap PassionVille 2017 dapat menciptakan para Passioners dengan ide-ide fresh yang tentunya dapat membawa perubahan dan dampak posisitif untuk Indonesia. Apalagi dengan tema Passion for Nation, ini adalah tantangan bagi para passioners yang datang dari berbagai latar belakang yang berbeda”, ungkap Is dan Arina sesuai dengan rilis yang diterima NewsMusik Selasa (19/7).

#ProjectPassion ini dapat diikuti oleh perorangan maupun beregu, pria atau wanita warga negara Indonesia dengan usia 18 tahun. Pendaftaran telah dibuka melalui website www.passionville.id sejak bulan Mei 2017 hingga tanggal 14 Oktober 2017, dan sejauh ini kualitas submission para calon passioners menunjukkan peningkatan.

Proposal terpilih akan mendapatkan mentoring session dari para tokoh inspiratif. Setelah sesi mentoring, para peserta terpilih akan menjalani ‘Kelas Kreatifitas & Passion’ dan mendapatkan coaching dari para ahli di bidang kreatif, sebelum mereka mempresentasikan project mereka masing-masing kepada dewan juri. Pemenang nantinya akan mendapatkan pendanaan untuk merealisasikan ide kreatifnya, serta untuk pemenang utama juga akan memperoleh experience grant, bisa dalam bentuk mentoring, workshop atau exhibition.

Rangkaian acara PassionVille 2017 yang juga turut dimeriahkan dengan Campus Roadshow serta Mini Concert yang telah berjalan selama bulan April hingga Mei 2017 lalu di 5 kota besar di pulau Jawa (Semarang, Solo, Yogya, Malang dan Surabaya). Acara tersebut menampilkan Rene Soehardono, Yoris Sebastian, Erix Soekamti, Andi Malewa dan Ryan “The Popo” serta art performance dari banyak seniman berbakat di Indonesia seperti Rendy Pandugo, Adhitia Sofyan, Superman is Dead, Kelompok Penerbang Roket, The S.I.G.I.T., Seringai, dan banyak lainnya./ YDhew

 

Tuesday, 18 July 2017 22:25

Elly Kasim

Jangan Malu Jadi Penyanyi Daerah

Tak banyak penyanyi daerah yang masih eksis sampai sekarang. Bisa diambil contoh penyanyi Minang yang tetap konsisten sampai kini.  Fenomena lagu asing yang masuk ke Indonesia, telah menggeser popularitas lagu daerah di negerinya sendiri. Padahal kalau boleh dibilang, tak sedikit negara luar yang  mengapresiasi lagu daerah bukan hanya lagu Minang saja.

Elly Kasim, yang sudah hampir 57 tahun berkarya di dunia musik dengan mengusung lagu daerah Minang sangat menyayangkan hal tersebut. Banyak penyanyi Minang yang putar haluan dan meninggalkan karirnya bermusik daerah sehingga tak ada yang bisa meneruskan jejaknya sebagai penyanyi Minang.

“Sebenarnya tak ada yang sulit kalau kita konsisten dengan lagu yang kita bawakan. Banyak yang bagus-bagus, tetapi kebanyakan dari mereka beralih ke dangdut atau musik lainnya. Mereka malu sepertinya membawakan lagu Minang. Kadang sudah populer lalu mereka berhenti”, ujar Elly Kasim Senin (17/7) kepada NewsMusik   di sela latihan untuk konsernya nanti.

Penyuka cabe rawit ini tetap konsisten sampai sekarang membawakan lagu daerahnya sendiri. Elly yang lahir di  Tanjung Mutiara, Agam, Sumatera Barat sampai saat ini tercatat telah merilis hampir 100 album solo. Sejak kecil dirinya sangat menyukai lagu Minang, dan mulai SMP mendengar lagu Minang dari Orkes Gumarang yang populer di waktu itu, Iapun mulai mengikuti festival lagu-lagu pop dan lagu Minang mulai tahun 1957-an dan selalu keluar sebagai juara.

02 Elly Kasim Judika YDhewElly Kasim dan Judika ((Foto: Istimewa)

Di tahun 1960, ia hijrah ke Jakarta dan memulai karirnya dengan mengikuti kejuaraan menyanyi pop di RRI dengan juri Titiek Puspa dan almarhum Bing Slamet. Tak dinyana, Elly dinobatkan menjadi juara pertama. Sejak itulah namanya mulai dikenal di industri musik tanah air. Selanjutnya ia mulai rekaman lagu Minang yang pada era itu sedang berkibar. Makin booming, setelah ia bergabung dengan orkes band Kumbang Cari pimpinan almarhum Nuskan Syarif.

Kepopulerannya sebagai penyanyi Minang tidak hanya di pelosok Nusantara, namuni sampai ke seluruh negara Asia, Eropa, bahkan Amerika dengan membawa kesenian Minang sebagai Duta Musik. Sejumlah lagu-lagunya menjadi hits. Tidak  hanya sebagai penyanyi solo, tetapi juga dipasangkan dengan penyanyi daerah lainnya seperti Tiar Ramon, Yan Bastian, Syamsi Hasan kian mengukuhkan namanya sebagai penyanyi Minang yang belum ada saingannya kala itu.

Ditengah kepopulerannya Elly sempat bergabung dengan Gumarang dan menelurkan hits ‘Bapisah Bukanyo Bacarai’, ‘Nan Bagala/ Reuni Gumarang’ pada tahun 1971. Tercatat beberapa lagunya masih terdengar sampai sekarang seperti ‘Kasiah Tak Sampai’, ‘Mudiak Arau’, ‘Ai Lap You’, ‘Kusiah Bendi’, ‘Surek Dari Rantau’, ‘Saganggam Piciang’, ‘Kasih Ndak Sampai’, ‘Tanah Jao’, ‘Ayam Den Lapeh’ dan masih banyak lagi.
 
Penyanyi berjuluk Si Ayam Den Lapeh ini, bukan hanya dikenal sebagai penyanyi Minang semata tetapi Melayupun dikuasainya. Bahkan Elly pernah tercatat di daerah Pasundan sebagai penyanyi Minang pertama kali yang mempopulerkan lagu yang berjudul ‘Peuyeum Bandung’.

03 Elly Kasim IstimewaFoto : Istimewa

Bukan hanya sekedar bernyanyi, Elly juga menambahkan musik tradisional  Minang yang kental dengan alunan tradisi saluang (suling khas Minang) ditambahkan dengan sedikit sentuhan modern, seperti lagu ‘Sinar Riau’ sehingga menjadi lebih berwarna.

Elly juga tidak hanya menyandang gelar, tetapi juga beragam penghargaan sudah diraihnya karena konsistensinya bermusik. Di usianya yang menginjak 73 tahun, Elly bukan hanya melestarikan budaya tanah kelahirannya dengan senandung lagu saja, tetapi juga sebagai duta seni. Ia berusaha melestarikan budaya Minang dengan melestarikan adat istiadat dan kebudayaan Minangkabau melalui sanggar tari asuhannya yaitu Sangrina Bundo dan Sanggar Bundo Kanduang hingga saat ini.

Jelang konsernya yang bertajuk “Menjulang Bintang 57 tahun Elly Kasim Berdendang” yang akan dilaksanakan tanggal 29 Juli 2017 di Taman Ismail Marzuki mendatang, ia masih memiliki kualitas vokal yang stabil. Konsernya ini adalah salah satu cara untuk memperkenalkan lagu-lagu Minagkabau yang populer menjadi lebih berwarna. Dimana nantinya akan dihadirkan dalam balutan bermacam genre seperti rock n roll, blues, hip hop, jazz dan lainya sehingga dapat lebih diterima oleh generasi muda sekarang.

“Jangan malu menyanyikan lagu Minang,  tidak boleh mempunyai sifat sombong, selalu rendah hati dan bersosialisasi kepada siapapun. Tetap konsisten dengan lagu daerah dengan ciri khas kalian. Jangan berubah-ubah”, pesannya kepada penyanyi muda khususnya penyanyi Minang yang sedang merintis karir./ YDhew

Tuesday, 18 July 2017 09:49

Luis Fonci

Fenomena Despacito

Ada sebuah tren yang sempat booming belum lama ini di jagat hiburan. Sebuah lagu dengan tempo cepat  sering terdengar dimana-mana.. Tak peduli dengan liriknya, lagu ini ngetop hampir di 45 negara di dunia. ‘Despacito’ pun diketahui merajai disetiap tangga lagu, begitu juga di Indonesia. Lewat lirik   “nakal” tersebut, kepopuleran tunggalan ini mampu duduk selama beberapa minggu di tangga lagu Billboard. Walaupun sebenarnya kita harus mengerenyitkan dahi, karena lirik lagu Despacito bermakna ajakan bercinta dengan kata-kata vulgar.

Sejak dirilis Januari tahun ini, media sosial pun tak kalah ramainya dengan menggugah lagu Despacito dari beragam versi,  meski  berbahasa Spanyol dan tak mudah dinyanyikan, di Indonesia lagu ini tidak hanya dinyanyikan di kalangan artis saja tetapi pengamen jalananpun kerap menyanyikan lagu ini .

Versi pertama Despacito dinyanyikan oleh Luis Fonsi featuring Daddy Yankee. Selanjutnya dimunculkan versi kedua dalam versi remix dan berbahasa Inggris, disini Luis menggandeng Justin Bieber namun tetap dinyanyikan bersama Daddy Yankee. Versi ini juga mampu menduduki puncak tangga lagu Hot 100 Billboard selama delapan minggu berturut-turut.  Lagu inipun merupakan lagu pertama Amerika Latin yang menduduki puncak lagu Billboard Hot 100.

Siapa sih sebetulnya Luis Fonsi? Luis Alfonso Rodríguez López-Ceper penyanyi tampan kelahiran Puerto Rico adalah individu yang menciptakan lagu ini, Fonsi sendiri awalnya tidak menyangka lagunya akan menjadi hits di dunia. Berawal dari dirinya mendapatkan kata Despacito, lalu mulai merekam lagu tersebut di studio miliknya sendiri. Hanya butuh waktu kurang dari tiga jam, lagu ini mampu dia selesaikan. Alunan gitar Spanyol sangat terasa di awal lagu, namun instrument khas Puerto Rico tersebut (Cuarto) yang digunakan belum memuaskan Fonsi. Maka dari itu, Fonsi pun mengajak  Daddy Yankee untuk menyempurnakan lagu ini. Yankee yang sama-sama berkebangsaan latin berhasil memberi warna dilagunya.

02 Luis Fonsi & Daddy Yankee IstimewaLuis Fonsi & Daddy Yankee (Istimewa)

"Aku mendapatkan hook melodinya menggunakan gitar. Beat lagu itu baru muncul setelah aku membuat lirik lagunya. Dalam sebuah sesi menulis lagu bersama temanku Erika Ender, aku berkata kepadanya, bagaimana kalau bagian  chorus lagu ini dibuat dengan menciptakan lagu yang sensual, menyenangkan, membangkitkan, dan membuat orang menari . Dan aku sendiri menganggapnya lagu ini merupakan lagu pop jenis baru," ujarnya bersemangat.

Lelaki berusia 39 tahun ini sejak kecil mulai bermimpi menjadi bintang seperti idolanya kelompok populer Menudo dan meniru gaya mereka. Beranjak dewasa Fonsi bergabung dengan paduan suara anak San Juan.

Kehidupan berlanjut ketika dirinya tinggal di daratan Amerika Serikat selama sepuluh bulan. Fonsi mulai bernyanyi di pentas sekolah dan festival lokal serta berpartisipasi dalam kelompok musik yang dinamakan “Big Guys”. Dari group ini salah satu anggotanya adalah Joey Fatone yang kemudian bergabung dengan group musik NSYNC.

Di tahun 1995, Fonsi  kemudian belajar musik di sekolah Florida State University, dan bergabung dengan paduan suara di sekolahnya bersama City of Birmingham Symphony Orchestra. Fonsi yang selalu berfikir bahwa musik merupakan sesuatu yang penting bagi hidupnya, dengan mengambil jurusan Vocal Performance, Fonci memulai perjalanannya bermusik dengan tampil di seluruh dunia dengan kelompok paduan suaranya, dan mulai membuat dan merekam demo suaranya di Miami. Dari sini karir bermusiknya dimulai. Ia pun mulai mendapat rekaman oleh Universal Music Latin.

Di tahun 1998, album perdananya di rilis, dengan tajuk “Comenzaré (I Will Begin)”  berhasil mendapat nomor 11 di tangga lagu Billboard’s Top Latin. Dengan singlenya ‘Si Tú Quisieras’, ‘Perdóname’, ‘Dime Como’,  dan ‘Me Iré’ dan menjadi hits di tempat kelahirannya dan juga Amerika Latin.

Debutnya di dunia musik semakin dibuktikan dengan rekaman duetnya bersama Christina Aguilera, untuk album Spanyol berbahasa Spanyolnya, “Mi Reflejo” di tahun 2000. Dan pada tahun 2002, Fonsi menjadi pembuka untuk konser Britney Spears “Dream Within a Dream Tour” di AS dan Meksiko.
Sampai saat ini Fonsi telah menelurkan 8 album dan 4 album kompilasi. 8 album tersebut diantaranya; Comenzare (1998), Eterno (2000), Amor Secreto (2002), Abrazar la Vida (2003), Paso a Paso (2005), Palabras del Silencia (2008), Tierra Firme (2011) dan 8 (2014). Beragam penghargaan beberapa kali diterima Fonsi yang mulai terkenal sejak albumnya di tahun 2000 (Eterno).

03 Luis Fonsi IstimewaLuis Fonsi (Istimewa)

Di album keenam, Palabras del Silencia, ia mampu membuktikan dengan menempati posisi pemuncak  selama beberapa minggu. Luis Fonsi memecahkan Billboard Hot 100 AS untuk pertama kalinya pada bulan September 2008 dengan lagunya ‘No Me Doy por Vencido’. Memulai debutnya di nomor 98 dan memuncak di nomor 92. Album ini mencapai nomor satu di tangga lagu Billboard Hot Latin Tracks. Salah satu dari hit terbesarnya sampai saat ini adalah ‘No Me Doy por Vencido’ yang menjadi "Lagu Pop Latin dalam Dekade" Billboard, dan menghabiskan 21 minggu di nomor satu di tangga lagu Hot Latin Songs.

Pada tahun 2014, Fonsi merilis album 8, dan kemudian melakukan tur betajuk "Somos Uno" pada 2014-2015. Dia juga menyebutkan bahwa dunia seni peran akan berada di jalur karirnya. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak akan keberatan berakting dengan aktor dan aktris Meksiko. Padahal di tahun 2004, Fonsi sempat mencoba untuk berakting di serial telenovela Corazones al Limited dan berperan sebagai Roy.

Begitulah karirnya di dunia musik akhirnya membuahkan hasil di tahun 2017 ini, dengan tanpa sengaja menemukan kata Despacito dan akhirnya menjadi lagu yang bercorak reggaetón. Dengan menggunakan fasilitas You Tube, lagu ini tercatat sebagai lagu Spanyol pertama yang diunggah dan langsung mendapat 5 juta viewer dalam hitungan 24 jam saja. Terlepas dari pro kontra mengenai lirik lagunya, memang lagu ini asyik untuk didengar.

Pasito a pasito, suave suavecito
Nos vamos pegando, poquito a poquito
Que le ensenes a mi boca
Tus lugares favoritos
Pasito a pasito, suave suavecito
Nos vamos pegando, poquito a poquito/ YDhew

 

Monday, 17 July 2017 09:49

Danilla

Berbicara Album Kedua

Perempuan ini tercatat memulai debutnya di dunia musik pada 2013 lalu. Bukan dalam usia yang terbilang sangat belia, sehingga dirinya sangat mudah untuk merebut hati penggemarnya lewat buaian syair dan suaranya yang penuh penghayatan. Lewat musik yang boleh dikata sangat sederhana, disitulah dirinya mekar, tumbuh wajar lewat debut single-nya, 'Buaian' yang kabarnya benar-benar membuai siapapun yang mendengarnya.

Danilla, kelahiran 12 Februari 1990 itu enggan disebut penyanyi apalagi musisi,. Ia kerap menyebut dirinya hanya orang yang hobi mendengarkan musik dan bernyanyi, atau malah  pernah dia menyebut dirinya sendiri sebagai pengantar pesan.

Memiliki nama lengkap Danilla Jelita Poetri Riyadi, ia telah memiliki sebuah album yang dirilis pada Maret 2014 silam. Lewat album tersebut, Danilla semakin menancapkan namanya di blantika musik tanah air.

Proses dirinya dalam menyerap dan bermusikpun sangat terkait dengan kebiasaannya sedari belia sudah mendengarkan Antonio Carlos Jobim, Joao Gilberto, Frank Sinatra, Billie Holiday, ataupun Ella Fitzgerald. Atau ketika beranjak dewasa, ia mendengarkan diantaranya Diana Krall, Sophie Ellis Bextor Coldplay, Radiohead, dan Portishead.

02 Danilla IbonkDanilla (Foto: Ibonk)

Begitulah, NewsMusik sempat bertemu dengannya pekan silam pada saat press conference sebuah event musik yang akan diikutinya. Benar saja, ketika disinggung sedikit kapan dirinya akan meluncurkan album terbaru, iapun memberi bocoran bahwa album tersebut bakal dirilis dalam waktu dekat.

Peluncuran album itu sendiri ditargetkan bisa diadakan sebelum festival Soundrenaline 2017 digelar. Sebab dirinya akan tampil dan ingin membawakan materi baru di sana. "Mudah-mudahan sebelum Soundrenaline sudah rilis, biar orang-orang pada nyanyi nanti di sana," ungkapnya berharap.

Masih berbicara album barunya, ia mengungkapkan bahwa materi lagu yang dipersiapkan adalah ciptaannya. “Lagunya rata-rata tentang kesedihan, kalau sedih gue nggak bisa curhat, jadinya gue nulis lagu," ungkapnya lagi.

Album ini juga diyakininya menjadi sangat personal. Disamping akan didominasi tempo lambat pada aransemen musiknya, Danilla mengakui bahwa perihal lirik banyak ungkapan hatinya tertuang disana. Mulai dari pandangannya terhadap kehidupan, cinta, bahkan soal kepeduliannya terhadap binatang.

03 Danilla IbonkDanilla (Foto: Ibonk)

Sebelumnya sebagai prolog album ini, Oktober tahun lalu, Danilla telah merilis sebuah tunggalan berjudul ‘Kalapuna’. Sebuah kegundahan seputar hubungan percintaan, lagu yang  bercerita tentang waktu di mana hubungan yang sudah seharusnya punah.

Kalau kita sedikit balik kebelakang, di album perdananya Danilla memang tidak ikut menulis lagu. Semua dilakukan Lafa, yang juga mengiringi Danilla menyanyi dengan gitar. Dikatakannya bahwa album kedunya ini didorong oleh refernsi musik yang berbeda. “Overall masih yang down tempo, namun instrumennya tidak sehalus album yang dulu," tukasnya.

Seperti apa nanti suguhan pesan yang dilantunkannya, baiknya kita tunggu saja. Tinggal lagi bagaimana kita mendukung potensi dan mengapresiasi segala upaya yang dilakukan oleh para musisi tanah air ini./ Ibonk

Saturday, 15 July 2017 09:26

Shane Filan

Segera Sambangi Bandung

Sejak membubarkan diri di tahun 2011, para personil boy band asal Irlandia, Westlife kemudian mulai menentukan karir mereka masing-masing, demikian halnya dengan Shane Filan. Sebulan setelah bubarnya band tersebut, Filan merupakan salah seorang artis solo yang dikejar oleh label rekaman. Sebagai vokalis utama di Westlife, suara lembutnya banyak disukai penggemarnya yang kebanyakan wanita.

Bernama lengkap Shane Steven Filan mengawali karir sejak usia 7 tahun melalui ajang kontes bernyanyi dengan menyanyikan lagu Billy Joel,  ‘Uptown Girl’. Beberapa tahun kedepannya, lagu ini pula kemudian kembali dinyanyikan ulang  oleh grup band Westlife.

Sebagai bintang Irlandia terbesar setelah Ronan Keating, Filan sempat mengalami pasang surut kehidupan, baik di dunia keartisan maupun di kehidupan pribadinya. Di tahun 2013, ia merilis album solo perdananya, “You And Me”, dengan single andalan ‘Everything to Me’. Namun sayangnya album tersebut lesu dipasaran, begitupun dengan dua single sesudahnya, ‘About You’ dan ‘Knee Deep in My Heart’, malah tak mampu menembus angka sepuluh besar di Irlandia.

Dari keterpurukannya, Filan akhirnya menulis buku “My Side of Life” yang begitu inspiratif, dan mengadakan pertunjukan musik yang tidak pernah sepi penontonnya. Pesona Filan masih menjadi daya tarik penggemarnya, karena hampir dipastikan konsernya selalu mendapat sambutan yang meriah dari para Filaners.

Begitupun di Indonesia namanya tidak asing lagi, terakhir di bulan Maret 2017 silam, Filan menggelar konser di Jakarta. Penampilannya masih memukau para Filaners dengan membawakan 15 lagu hits dari Westlife, seperti ‘Flying Without Wings’, ‘Uptown Girl’, dan ‘Swear It Again’.

02 Shane Filan Love Always Tour 2017 IstimewaShane Filan "Love Always Tour 2017" (Foto: Istimewa)

Dalam rangka mempromosikan album terbarunya yang bertajuk “Love Always”, Filan kembali ke Indonesia tanggal 19 Agustus 2017 mendatang dengan menggelar konser serupa. Namun kali ini konsernya diadakan di Bandung. Ia yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Bandung nanti akan menyapa penggemarnya dengan tema “Love Always Tour 2017”.  Konser yang akan di helat di Trans Studio Bandung dengan promotor Full Color Entertainment.

Bandung merupakan kota yang dipilihnya dalam rangkaian tour promo albumnya, sebelum ke Inggris dan Irlandia. “I have never been to Bandung. I’m really looking forwards to it. I love coming to Indonesia. The people are always so friendly and I love to perform here. “The Love Always” concert in Bandung will be very special”, jelas pria 38 tahun ini melalui rilis yang diterima NewsMusik (13/7).

Managing Director Full Color Entertainment, David Ananda menjelaskan, pihaknya mengusung Shane Filan untuk kembali konser di Indonesia, bukanlah tanpa alasan. Sebagai mantan lead singer dari Westlife ini  berhasil meraih 28 disk platinum dan menjual lebih dari 40 juta kopi rekaman ke seluruh dunia.


"Kesuksesan Shane Filan sebagai lead singer membuktikan bahwa ia mampu membawa Westlife menjadi boydband yang sukses di pada masa kejayaannya dulu. Jadi, karena itulah, Full Color Entertainment bekerja sama dengan Trans Studio Bandung, ingin mengajak para Filaners dan penggemar Westlife di Kota Bandung untuk bernostalgia bersama. Sambil menikmati lagu-lagu baru Shane Filan di album terbarunya, “Love Always”," papar David.

Buat penggemarnya di Bandung yang ingin menyaksikan aksi panggungnya, tiket dibuka mulai harga Rp. 350.000,- (Kelas Festival/ Standing), VIP Rp. 800.000,- (Seating) dan VVIP Meet and Greet Rp. 1.500.000,- (photo session dan signed poster). /YDhew

03 Seat Plan Istimewa

Seat Plan (Istimewa)

Friday, 14 July 2017 14:08

Speaker First

Panggung Woodstock 2017 dan Karir Internasional

Perjalanan karier baik individu ataupun kelompok memang tidak akan pernah dapat diprediksi secara tepat. Banyak hal yang menjadi momentum sebuah keberhasilan, meskipun ujung-ujungnya faktor keberuntungan menjadi kunci akhir. Seperti yang dialami oleh band rock n roll asal Bandung, Speaker First yang kini di gawangi oleh Mahattir Alkatiry (vocal), Beny & Bony Barnaby (gitar), dan Daud (additional drum).

Saat ini mereka terlihat perkasa dengan mendapat kesempatan unjuk taring di industri musik Internasional. Sejak awal berdiri , mereka konsisten menawarkaan ruh rock n roll dalam karyanya sehingga menjadi pilihan alternatif dan dibawakan sesuai ciri mereka. Seperti yang kerap didengungkan, bahwa lesunya industri musik di tanah air akan sangat mempengaruhi band-band yang mempunyai idealisme baik dalam performing atau lagu-lagunya agak sulit dicerna. Apalagi jika harus bersaing dengan band yang lebih dahulu eksis, makin beratlah tantangan yang harus mereka jalani.

Band ini awalnya di bentuk tahun 2003 lewat formasi Reda (vokal), Bony & Beny (gitar, vokal), Sandy (bass) serta Anton (drum). Seiiring perjalanan waktu group band ini tiba-tiba harus kehilangan oleh sang vokalis yang memutuskan mundur. Tapi akhirnya terselamatkan dengan hadirnya Atiir yang datang membawa warna baru bagi band mereka dengan karakter vokal yang khas. Sebelum pergantian vokalis tersebut,  band ini sempat membuat album perdana di tahun 2004 di bawah label Sony Music Indonesia bertajuk “Whatever You Say”.

Di tahun 2007, barulah Attir resmi menjadi vokalis di Speaker First dan menyelesaikan album “Dunia Milik Kita” (Duta Music Indonesia) serta mini album “Muda dan Berani” (Phoenix Rising, 2011). Saat itu mereka cukup mapan dan matang dengan mengusung musik berciri black musik ala James Brown serta  memasukkan nuansa era tahun 50-an. Beberapa single pun sempat mereka hasilkan seperti ‘Mr. Ego’ yag merupakan daur ulang tembang ‘Like a Rolling Stone’ milik Bob Dylan yang mengisi soundtrack film GIE.

02 Speaker First IstimewaSpeaker First (Istimewa)

Walaupun sempat membubarkan diri di tahun 2013, tercatat selama 15 tahun mereka bertahan dan akhirnya bangkit kembali. Setelah di depak dari label musik Sony Music Indonesia, di tahun 2016 silam mereka bangkit dengan mengadakan rangkaian tour di Amerika dan Inggris. Tak hanya tour, mereka juga melakukan rekaman di studio ternama, Air Studio London.

Air Studio sendiri, merupakan perusahaan rekaman bergengsi yang banyak dipakai oleh grup ternama di Inggris, seperti Pink Floyd, Coldplay, dan Oasis. Lewat rekaman tersebut, mereka menghasilkan lima buah lagu baru, seperti ‘The Anthem’ yang menjadi single pertama mereka, lalu ‘Break My Soul’, ‘Rock N Doll’, ‘If It Ain't You’, serta ‘Angel's Robe Devil's Cape’.

Jauh dari yang mereka bayangkan sebelumnya, ternyata disana mereka mendapat sambutan yang luar biasa. Pengunjung dibuat terkesima akan penampilan band yang hits dengan lagunya ‘Dunia Milik Kita’ dan berhasil mencuri perhatian pelaku industri musik Amerika dan Inggris.

Beberapa waktu lalu di tahun ini, Speaker First baru saja pulang dari rangkaian tour dan show di 7 kota di USA; San Diego, Orange Country, Los Angeles, Fresno, Napa Valey, Portland, dan Seattle dalam acara MUSEXPO 2017, di Hollywood, Los Angeles. Kabarnyapun mereka sudah teken kontrak dengan label internasional dari Amerika dan juga akan mengadakan rangkaian tour di 5 negara (Polandia, Finlandia, Scandinavia, Swedia dan Inggris) pada Agustus mendatang. Hal ini merupakan usaha dan lobbying dari Willy Hidayat sebagai manager.

03 Speaker First YDhewSpeaker First (YDhew)

“Ini merupakan kerja keras dari anak-anak Speaker First yang memang tahan banting. Juga konsep mereka dalam bermusik yang konsisten di jalur rock n roll yang memang disukai. Mudah-mudahan ini menjadi pioneer band yang ingin merentangkan karir bermusiknya di dunia internasional”, ujar Willy di Pisa Café, Kamis (13/7).

Dewi fortuna tak hanya sampai disitu saja menghampiri mereka, di tahun ini Speaker First kembali mendapat kesempatan emas tampil di salah satu festival musik bergengsi dunia yakni Woodstock Festival pada 3 Agustus 2017 mendatang. Menjadi band pertama asal Indonesia dan salah satunya di Asia yang pertama kali hadir di Woodstock Festival tanpa jalur audisi. Semua berkat karya mereka yang sempat memimpin chart didengar panitia, juga live performance mereka selama tour di US.

“Alhamdulillah kami akan main di Woodstock 2017. Sebuah anugerah dan impian bagi kami band rock umumnya. Rasa bangga dan bersyukur pastinya. Terbukti lewat musik walau berbeda bahasa, tetapi dapat melewati semua batasan wilayah, negara, ras dan sebagainya. Musik itu universal. A good song is always a good song, wherever you come from, whoever you are, it doesn’t matter, the secret is always in the song”, ujar para personil Speaker First berfilosofi./ YDhew

 

Thursday, 13 July 2017 10:12

Bunga Citra Lestari

Melibatkan Sahabat dalam Album Terbaru

Ada kejutan di dalam album Bunga Citra Lestari yang bertajuk ”It’s Me” ini, selain harus menunggu selama 5 tahun lamanya, Unge begitu biasa dia disapa mengungkapkan bahwa proses yang dijalankan dalam merampungkan album ini tidak mudah dan membutuhkan kesabaran.

“Aku ingin membuat sesuatu yang baru yang enak dinikmati. Sehingga album ini membutuhkan proses bagaimana caranya agar lagu di tahun 2000-an masih bisa dinikmati. Sebagian besar materi lagunya adalah konser “It’s Me” kemarin. Ya inilah aku, yang telah berevolusi dan membuat sesuatu yang aku suka dan aku mau”, jelas Unge di KFC Kemang Rabu (12/7).

Hal ini dibenarkan oleh Iman Sastrosatomo dari Aquarius Musikindo, bahwa betapa sabarnya seorang BCL dalam merampungkan albumnya. Ia memiliki keyakinan dan komitmen untuk fokus dan bertanggung jawab tanpa pamrih dalam memberikan yang terbaik. Album ini merupakan identitas diri BCL yang diakui sebagai titik baliknya didunia musik”, ujar Iman.

Selain menggandeng beberapa sahabat musisi diantaranya Andi Rianto, Dewiq, Pay, Melly Goeslaw, Ade Govinda, ia juga melibatkan sahabatnya baik dari kalangan aktor dan juga DJ ternama, diantaranya ada Joe Taslim, Reza Rahardian,dan Dipha Barus.

“Aku kaget sewaktu mendengar suara Joe Taslim. Tidak sesuai dengan ekspektasi, karena ternyata suaranya bagus dan bisa bernyanyi, begitu juga dengan Reza”, jelas BCL sewaktu ditanya alasannya mengajak kedua sahabatnya tersebut untuk bergabung di album barunya.

02 BCL RizalBCL (Foto: Rizal)

Album ini juga merupakan kilas balik dari konser yang bertajuk “It’s Me” kemarin, yang menyambungkan waktunya ke dunia musik dan juga moment sudah saatnya mengeluarkan album baru. Album ini juga berisi lagu yang berbeda-beda. Single terakhir yang direkam berjudul ‘Jangan Gila’ dan menggadeng Reza Rahardian untuk berduet. “Ada sesuatu dari konser yang harus aku masukkan di album ini, akhirnya dipilihlah lagu ini,” ujar BCL.

Selain bekerja sama dengan penyanyi tenor, Daniel Kristanto dalam lagu ciptaan Yongki Suwarno, BCL juga menggandeng Yovie Widianto dan beberapa lagu diaransemen oleh Andi Rianto seperti lagu ‘Jera (Hatiku Masih Milikmu)’.

“Berduet dengan beberapa orang sahabat, merupakan moment yang saya tunggu. Apalagi sewaktu berduet dengan Reza Rahardian di konser kemarin. Itu sebuah hal yang sulit dilupakan dan mendapat sambutan yang sangat baik. Saya berharap album ini dapat diterima penggemar musik Indonesia”, kata BCL menutup pembicaraan.

Album yang sarat nuansa pop ini, dan dibuat sesuai dengan ciri khas BCL. Berisi sepuluh lagu yang berjudul ‘Aku Wanita’, ‘Jera (Hatiku Masih Milikmu)’, ‘Rindu Kamu’, ‘Tundukan Dunia’, ‘Aku Bisa Apa?’, ‘Jangan Gila’, ‘Trauma’, ‘Persepsi Cinta’, ‘Akulah Cinta’, dan ‘Hari Bahagia’. / YDhew

 

Wednesday, 12 July 2017 11:26

Soundrenaline 2017

Rayakan Keragaman Ekspresi dan Karya

Sub tema diatas tak lain adalah letupan semangat dari salah satu festival musik yang masih tetap eksis di nusantara raya ini. Soundrenaline 2017 adalah festival musik tertua tanah air yang saat ini memasuki tahun ke 15 pertunjukannya. Dengan mengusung tema besar #UnitedWeLoud, Soundrenaline ajak para penikmat musik untuk saling menghargai keragaman, khususnya dalam hal mengekspresikan diri dan berkarya.

“Soundrenaline memahami bahwa soul dari sebuah festival musik terletak pada orang-orang yang hadir dan mendukung jalannya Soundrenaline. Maka, kami mengajak setiap orang yang terlibat dalam Soundrenaline untuk benar-benar mengekspresikan diri mereka. Berlaku bagi para musisi dan tentunya juga para penikmat musik yang akan hadir di Soundrenaline pada tanggal 9 dan 10 September nanti di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali,” jelas Novrial Rustam selaku Managing Director KILAU Indonesia, pada Talkshow Soundrenaline 2017 #UnitedWeLoud di Baxter Smith – Dining, Lounge & Roofbar, Jakarta.

Selain itu, terkait dengan pemakaian GWK yang sudah berulangkali menjadi tempat dilangsungkannya pesta musik tahunan ini, Novrial Rustam mengatakan bahwa ini adalah bentuk konsistensi pihak penyelenggara. Karena sebisa mungkin mereka berusaha untuk selalu mengadakan Soundrenaline ditempat dan bulan yang sama.

02 Beberapa musisi yang terlibat dalam project kolaborasi Soundrenaline 2017 Ibonk
Beberapa musisi yang terlibat dalam project kolaborasi Soundrenaline 2017 (foto: Ibonk)

Untuk tahun 2017 ini, Gelaran Soundrenaline 2017 akan dibuat lebih berisik dengan penampilan musisi papan atas seperti JET, Sheila on 7, Tulus, Payung Teduh, Elephant Kind, HMGNC, Lolot, Kotak, Burgerkill, Stars & Rabbit, Kelompok Penerbang Roket, Bottlesmoker ataupun Rendy Pandugo.

Lebih lanjut lagi, nantinya akan dihadirkan kolaborasi beberapa nama musisi kondang seperti, Neonomora dengan Homogenic, ataupun Mondo Gascaro dengan Danilla Riyadi. Selain itu, Iga Massardi yang dikenal sebagai pentolan Barasuara akan menggawangi sebuah proyek kolaborasi bertajuk Rhythm of The People yang akan melibatkan Kikan, Coki (NTRL), Stella Gareth (Scaller), dan Marco Steffiano (Barasuara).

Keragaman yang dirayakan di Soundrenaline tidak berhenti pada deretan line-up ataupun kolaborasi musik. Event kali ini juga dirancang menjadi ajang pamer bagi para penggiat seni visual mural. Bujangan Urban. Ia akan bertindak sebagai “arsitek” karya seni mural yang dipamerkan di Soundrenaline.

Juga tidak melupakan para pecinta fashion dan style untuk mengekspresikan diri mereka melalui gaya padu padan busana yang unik. Untuk itu dilibatkan juga fashion stylist kenamaan Indonesia, Ajeng Svastiari yang akan pamer karya.

03 Andien Ibonk
Andien (foto: Ibonk)

Andien yang nantinya akan berkolaborasi dengan Scaller menyebutkan bahwa dirinya juga tidak membayangkan seperti apa hasil jadi kolaborasi mereka. “Terus terang saya bersemangat sekali. Nggak tau seperti apa hasil dari kolaborasi saya dengan sebuah band alternative ini”, ungkapnya.

Adib Hidayat, selaku seorang penulis dan pengamat musik, menuturkan bahwa geliat industri musik masa kini menuntut musisi untuk terus bereksplorasi dan produktif. Ia sangat antusias atas visi Soundrenaline yang ingin mengukuhkan keragaman musik Tanah Air. “Saya rasa ini saat yang tepat bagi musisi untuk mengekspresikan kemampuan bermusik mereka dengan berbagai ide-ide gila yang menjadi identitas mereka,” katanya./ Ibonk

 

Monday, 10 July 2017 10:51

Liam Gallagher

Menampilkan London dalam Video Terbaru

 

Beberapa waktu lalu, Liam Gallagher, mantan vokalis Oasis tampak berjalan menyusuri jalanan London. Hal tersebut terkait dengan pembuatan video minimalisnya yang diperuntukkan untuk lagu solo akustik terbarunya, "Chinatown".

Dalam pembuatan video tersebut, Liam tampak bersandar di sebuah jalan bawah tanah yang  bertabur coretan dinding dan memandang penuh ke Palace of Westminster. Saat matahari terbenam, melewati pikuknya restoran dan supermarket, ditingkahi oleh aksi Charlie Lightening, sang director yanhg menyoroti sekitar dengan kameranya.

Kesan yang ditaangkap dalam pembuatan video ini mengingatkan kita pada melodi manis klasik ‘Champagne Supernova’ milik Oasis. Lagu ini menyoroti album debut solo penyanyi tersebut, As You Were yang juga terdapat single ‘Wall of Glass’ didalamnya.

02 Liam Gallagher IstimewaLiam Gallagher (Foto: Istimewa)

Album yang akan diluncurkan pada 6 Oktober mendatang, sedikitnya akan menampilkan empat lagu selain ‘Wall of Glass’, kemudian ‘Paper Crown’, ‘Come Back to Me’, dan bonus ‘Doesn"t Have to Be That Way’ yang ditangani oleh produser pop Greg Kurstin. Sementara sisa lagu lainnya ditangani oleh Dan Grech-Marguerat.

Dalam pernyataan mengenai albumnya tersebut, Liam menjanjikan pendekatan terbuka sesuai dengan yang ia kerjakan sebelumnya. "Saya tidak ingin menemukan kembali sesuatu atau bereksperimen dengan jazz ruang angkasa," tutupnya. / Ibonk

Wednesday, 05 July 2017 12:39

Filosofi Kopi 2: Ben & Jody

Lanjutan Petualang Dua Sahabat

Kalau masih ingat dengan film Filosofi Kopi pasti tokoh Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) sudah tak asing lagi.  Dua sosok sahabat yang mencoba peruntungannya dengan membuka kedai kopi yang bernama Filosofi Kopi. Film garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko ini menceritakan perjuangan keduanya, bagaimana cara meracik kopi dan jatuh bangunnya membuka kedai kopi di Jakarta.

Film drama ini kemudian dilanjutkan dengan judul Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody,  diceritakan bahwa keduanya sengaja menutup kedai Filosofi Kopi mereka di Melawai. Mereka lebih memilih berkeliling Indonesia demi membagikan “kopi terbaik” dengan kendaraan VW Kombi. Waktupun berlalu, sampai pada sebuah takdir yang kerap dijumpai, bahwa tak ada pesta yang tak usai. Satu persatu karyawan mengundurkan diri dengan alasan masing-masing, Sampai pada keputusan, keduanya  putar haluan untuk balik ke Jakarta dan  membangun kedai kopi.

Sekuel Ben & Jody ini memunculkan tokoh baru diantara mereka berdua yakni Luna Maya yang berperan sebagai Tarra serta Nadine Alexandra sebagai Brie. Singkat kata ditengah perjuangan mereka mencari investor yang cocok untuk membangun kembali kedai kopi, bertemulah dengan sosok Tarra yang bersedia membeli sebagian saham Filosofi Kopi.

Diwaktu yang lain, Jody juga bertemu dengan Brie, seorang perempuan lulusan Melbourne yang ingin menjadi barista (bartender peracik kopi) handal. Brie bukan orang baru dalam dunia kopi, ia telah mempelajari kopi dan mengetahui seluk-beluk kopi dari mulai benih hingga siap dihidangkan. Dengan  idealisme yang sedikit berbeda, akhirnya Brie terlibat konflik dengan Ben. Namun tak lama Brie mulai memperlihatkan kemampuannya sebagai barista handal yang sesuai dengan filosofi yang dimiliki Filosofi Kopi.

02 Nadine Alexandra Brie Luna Maya Tarra IstimewaNadine Alexandra (Brie) & Luna Maya (Tarra) (Istimewa)

Hadirnya Tarra ditengah Ben & Jody memiliki rahasia yang mengancam keberlangsungan kedai kopi mereka. Tidak seperti Filosofi Kopi yang lalu dimana penonton disuguhi dengan seputar kopi, seperti istilah, jenis dan alat pembuat kopi serta meraciknya, di film Filosofi Kopi 2: Ben & Jody ini lebih banyak menceritakan konflik kedua sahabat tersebut dengan tokoh baru dan kehidupan mereka masing-masing.

Film yang ditulis oleh 3 orang penulis skenario ini seperti Jenny Jusuf, M. Irfan Ramli dan Angga Dwimas Sasongko menghadirkan pesan moral yang cukup baik meski samar ditampilkan. Seperti misalnya adanya adegan bagaimana kesalnya Ben sewaktu ayahnya wafat dan dikirimi bunga oleh orang yang telah membunuh perekonomian keluarganya karena perebutan lahan petani kopi dengan pengusaha kelapa sawit. Konflik itu pula yang menyebabkan ibunya terbunuh.

Cerita yang dirangkai inipun, sebenarnya banyak terjadi di zaman sekarang.  Petani kopi yang tergusur oleh oknum-oknum pengusaha perkebunan lainnya  yang dengan seenaknya membabat lahan perkebunan mereka tanpa pandang bulu. Dari sisi cerita, apalagi ditulis oleh 3 orang penulis skenario, seharusnya film ini lebih banyak menampilkan dialog yang segar dan konflik yang lebih banyak.

Penasaran dengan film sekuel dua sahabat ini? Saksikan perjalanan Ben dan Jody di bioskop mulai tanggal 13 Juli 2017/ YDhew

 

Page 1 of 113