Sammy NOTASLIMBOY Foto - foto yoseR

Sammy NOTASLIMBOY

Batas Lu Adalah Nyali Lu!!!

Sammy D. Putra atau lebih dikenal di ranah Twitter dan stand-up comedy sebagai Sammy NOTASLIMBOY. Ya, sesuai dengan namanya tersebut, Sammy memang dianugerahi tubuh yang tidak langsing.

Anugerah lainnya adalah dia memiliki kekritisan terhadap apa saja yang terjadi di sekitarnya. Kekritisannya tersebut dijadikannya bahan dasar untuk materi yang disampaikannya ketika tengah beraksi sebagai seorang komika. Tak jarang, materi yang disampaikannya bisa membuat panas telinga mereka yang tidak terbiasa dengan gayanya yang ceplas ceplos.

Tanpa Batas adalah tajuk pentas stand-up comedy yang telah dua kali melakukan pentas keliling di beberapa daerah di Indonesia. Sammy adalah komika pertama yang “mendarat” di Aceh dengan pentas Tanpa Batasnya tersebut. Sejak 2012, Sammy dipercaya untuk menjadi Ketua Stand-up Indo. Dia semakin membuat berbagai acara untuk kemaslahatan para komika Indonesia. Street Comedy serta Stand-up Fest adalah buah kerja keras bersama teman-temannya.

Newsmusik berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Sammy disela kegiatannya mengisi acara perusahaan di sebuah hotel di kawasan Grogol. Bercerita banyak tentang awal mula menceburkan diri ke stand-up comedy, perlunya nyali besar untuk menyampaikan materi sensitif sampai dengan keinginannya untuk masuk penjara.

Bagaimana awalnya bisa berkecimpung di dunia komedi?
Gue sebenarnya secara finansial sebelum terjun ke stand-up comedy gue gak ada masalah finansial. Gue terjun ke stand-up comedy diajak seorang teman lama, sahabat lama gue dulu kuliah bareng, namanya Isman Hidayat Suryaman. Isman ini sahabat gue waktu gue kuliah di Institut Teknologi Bandung (Jurusan) Informatika, dia juga. Dia sebenarnya lebih dulu terjun ke dunia komedi. Dia salah satu founder Stand-up Indo bersama Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa dan Ryan Adriandhy. Gue bukan founder.

Waktu kuliah dia tau gue orang yang, biasa kalau nongkrong ada orang lucunya, nah gue tuh orang yang gitu, kalau nongkrong gue orang lucunya. Dia bilang, “Lu sebenarnya bisa cocok di sini (stand-up comedy).” Gue gak tertarik. Waktu itu gue lagi ada masalah kerjaan dan sebagainya. Gue lagi hectic di tahun 2011.

Sebenarnya tahun 2010 gue sudah mulai stand-up comedy. Gue punya artikel bagus. Gue menulis 35 cerpen. Gue cukup produktif sebagai seniman indie ya waktu itu. lalu cerpen itu mau gue bukukan. Gue tawarin kemana-mana gak ada yang mau nerbitin. Akhirnya karena gue punya funding gue terbitin sendiri. Gue hubungin percetakan. Ternyata buku itu cuma modal 7 ribu bisa dijual 50ribu. Waktu itu gue cetak 1000, (bisa) laku sekitar 200 eksemplar itu udah (bisa) balik modal. Buku gue gak laku. Cuma laku (terjual) 400 eksemplar tapi udah untung sisanya gue bagiin.

Ketika launching buku itu gue nyoba stand-up comedy. Ya artinya itu dianggap sebagai stand-up comedy. Gue mencoba monolog. Kurang berhasil sih tapi karena gue belum terlalu banyak eksplor juga. Jadi sebenarnya gue kalo bisa dibilang sudah memulai stand-up comedy. Sebenarnya gue bisa mengklaim sebelum ada Stand-up Indo gue udah memulai (stand-up comedy), tapi gue gak mengklaim itu. Jadi gue cuma ngundang teman-teman sambil jualan buku terus gue stand-up comedy. Menurut gue gak selucu sekarang tapi gue udah memulai ya.

Lalu tahun 2011 sekitar bulan Juli, kalo gak salah, Standup Indo didirikan. Mereka bikin pertunjukan. Di situ Isman, Raditya Dika, Pandji naik (namanya). Gue gak ada malah di situ karena gue gak tertarik aja. Terus gue lihat videonya. Oke lucu mereka. Dalam hati gue sih lebih lucu dari mereka. Tapi gue gak tertarik karena lagi ngurusin bisnis. Suatu saat pas gue lagi hectic banget diajak Isman. Akhirnya gue datang, nyoba (stand-up comedy), cukup berhasil. Minggu depannya datang lagi di Comedy Cafe punya Ramon Papana, gue semakin berhasil. (Stand-up comedy) ketiga (juga) berhasil dan gue gak ada niatan pengen masuk tivi atau apa dan gue semakin lucu. Pandji belum mengenal gue. Akhirnya Pandji melihat dan setiap gue open mic materi gue baru terus dan gue mulai ngomong politik. Gue tidak tertarik masuk tivi. Gak ngelamar kemana-mana. Ternyata Pandji merekomendasikan gue ke Metro TV. Karena (waktu itu) Kompas TV udah bikin kompetisi (Standup Comedy Indonesia - SUCI), Metro TV akan bikin sebuah acara yang sifatnya weekly.

Lalu di twitter gue di follow oleh lalu salah seorang manajer Metro TV, Agus Mulyadi. Gue juga kaget, terus follow back supaya jangan di unfollow lagi (tertawa). Lalu tiba-tiba dapat panggilan untuk tapping. Gue senang. Bisa dibilang itulah pendapatan pertama gue dari stand-up comedy karena sebelumnya kita melakukan stand-up comedy keliling sebelum gue di tivi gak dibayar. Waktu itu ya senang-senang aja. Bagian dari hobi. Jadi gue ternyata senang gitu, gak kepikiran bakal masuk tivi terus dapat panggilan. Setelah diselidiki ternyata Pandji yang merekomendasi.

Ternyata di tivi gue disukai. Waktu itu follower gue berapa terus meledak gitu. Gue jadi tiba-tiba tekenal hari itu dan ada beberapa tokoh yang menyukai gaya komedi gue. Maksudnya tokoh-tokoh masyarakat. Waktu itu gue menganggap ya udah gue udah masuk tivi sekali dan gue juga gak tau akan dipanggil lagi. Ternyata repeat gitu dan gue akhirnya jadi regular jadi bisa dibilang akhinya itu adalah sebuah kebetulan akhirnya jadi regular. Bahkan gue diberikan acara khusus di Metro TV namanya Newshow, gue dipercaya untuk menjadi host-nya. Selama sekitar tiga tahun berjalan tiba-tiba gue berada di karir entertainment . Jadi bisa dibilang gak sengaja.

Karena gue orangnya sifatnya total, selalu menganggap bahwa semua harus total. Dalam bisnis gue harus total. Bahwa karena sudah terjun di komedi, gue gak boleh jadi orang yang gagal. Artinya gue bukan mencari uang dulu disini, tapi gue gak boleh gagal. Artinya gue punya tanggung jawab terhadap keluarga gue, bahwa kalo gue sudah menyisihkan waktu keluar dari rumah artinya gue harus membawa balik ke rumah. Jadi kita boleh saja jarang dirumah tapi ada hasil.

Bahkan gue pernah punya acara lagi di TV One, dua acara di tahun 2014, Lain Cerita dan Negeri Setengah Demokrasi. Tahun 2014 itu pencapaian gue paling tinggi. Gue punya tiga acara dalam satu minggu. Hampir stripping berarti kan. Hampir jadi Olga (Syahputra) gue itu (tertawa) tapi di tivi berita. Artinya pencapaiannya tinggi.

(Akhirnya kemudian) gue tidak (terlibat) di Newshow lagi dan gue masih tampil stand-up comedy mingguan. Tapi gue tidak punya showcase regular lagi. Makanya gue memutuskan untuk (tampil stand-up comedy) dengan media mainstream. Tapi tetap bahwa stand-up comedy ini ternyata menurut media mainstream belum begitu laku, gue punya pendapat seperti itu. Tapi ya memang kalah dengan model (lawakan) Yuk Kita Smile atau acaranya Saiful Jamil. Gue gak tau penyebabnya.

SammyFoto - foto yoseR

Gue bilang realitasnya (seperti itu). Ratingnya kalah, revenue-nya kalah. Gue tidak bisa menghasilkan sebanyak Saiful Jamil di tivi. Gue tidak mendatangkan keuntungan. That’s the reality. Gue harus menerima itu. Karena bagi media itu cuma dua R : revenue dan rate. Stand-up comedy tidak begitu menguntungkan bagi media. Bahkan bagi tivi sekelas Metro TV, stand-up comedy tidak semenguntungkan Mario Teguh misalnya. Jadi wajar kalo misalnya tivi punya kepentingan bisnis. Kita tidak boleh memaksa dia untuk rugi dong, mereka harus survive. Ya artinya standup comedy porsi di Metro TV harus dikurangin. memang kita harus terima kenyataannya.

Gue akhirnya memutuskan tahun 2012 aktif di Standup Indo. Gue banyak bikin acara. Gue bikin Street Comedy. Lalu gue propose Standup Fest, tiba-tiba Metro TV mau funding. Gue cuma nawarin proposal bahkan tidak dibaca cuma dikesampingkan oleh Pak Agus Mulyadi. Artinya gue merasa di-appreciate. Jadilah Stand-up Festival pertama tahun 2013, berlanjut 2014 Metro TV masih mau funding. Artinya Metro TV berjasa juga untuk perkembangan stand-up comedy.

Di tahun-tahun sebelumnya gue bikin Street Comedy dengan Isman, Rindra, Lukman Baihaqi, Arief Didu. Kita ada tempat di eX Plaza indonesia mau ngasih tempat dia dan ngasih dana. Terus mau gak mau kita harus bikin audisi. Kita audisi ke komunitas-komunitas lalu akhirnya jadilah itu kompetisi yang akhirnya branding banget. Di situ dilahirkan Adjis Doa Ibu, bahkan Kemal ada disitu. Artinya ada sejarahnya. Ada beberapa nama yang sekarang sudah cukup dikenal. Nama-nama besar di stand-up comedy bukan di dunia entertainment. Saya bilang kita di dunia entertainment masih cemen-lah. Juwi Purwoto, Boris Bokir itu dilahirkan di situ. Akhirnya mereka punya jalan sendiri untuk lebih maju lewat SUCI dan sebagainya. Tapi kita masih membikinkan jalan buat teman walaupun kita di levelnya yang lebih kecil.

Kita bikin lagi yang kedua di Bekasi Square. Di situ dilahirkan Bintang Bete. Di situ dilahirkan Heri Horeh. Di situ ada Pras Teguh yang akhirnya ikut SUCI juga. Bintang Bete sukses dan dia tidak pernah ikut kompetisi lain. Itu membuat namanya terkenal dan dia jadi bintang sekarang. Gue sebenarnya bisa dibilang, gak mau mengklaim tapi, gue senang karena gue bersama teman-teman bisa membuat bintang. Ada terharunya. Di tahun ketiga, gue tawarkan konsep Standup Fest ke Metro TV yang kemudian jalanlah Standup Fest pertama itu tahun 2013. Di situ sekalian gue tumpangi Street Comedi 3. Itu yang awalnya acara iseng, Street Comedy 3 jadi acara yang megah di hall Basket Senayan. Akhirnya tuh jadi Standup Fest 2014 ada Street Comedi 4. Akhirnya jadi kayak acara yang harus berbarengan. Ada banyak kesempatan yang kita kasih dan ini jadi kompetisi pilihan.

Memang harus gue akui kompetisi nomor satu di Indonesia masih SUCI. Tapi ini kayak bisa dibilang, mungkin ya ini berlebihan atau gak ya, kalau misalnya SUCI itu (diibaratkan penghargaan) Oscar, kita (Street Comedy) itu (seperti) Golden Globe-nya. Artinya kayak semacam pilihan. Kalau juara Golden Globe itu boleh berbangga juga. Udah bisa jadi patokan. Karena pencapaian seperti itu itu point of no return. Walaupun gue sekarang kondisinya ada yang acaranya di-drop semua. Karena pencapaian gue dan teman-teman. Ada pencapaian teman-teman tapi ada pencapaian gue secara personal juga. Jadi ini adalah point of no return. Makanya gue terus memutuskan terjun ke sini.

Berawal dari iseng kemudian malah menjadi populer dan selanjutnya dipercaya menjadi Ketua Standup Indo. Dari perjalanan yang sudah dilalui, ada pandangan apa yang berubah mengenai stand-up comedy di Indonesia?
Awalnya itu banyak yang skeptis, terutama seniman-seniman senior. Banyak yang skeptis terhadap stand-up comedy. Gue tidak perlu menyebutkan nama. Tapi ada juga yang skeptis terhadap pribadinya. Bahkan ada wartawan muda cukup kritis yang skeptis tapi dia ternyata orang yang cukup fair. Dia skeptis tapi dia melihat di stand-up comedy ada beberapa orang berkualitas menurut dia. Dia suka Tretan Muslim. Menurut gue, dia fair. Dia tidak suka ini tapi dia memberikan kredit terhadap beberapa orang. Yang gue ingat dia memberikan kredit terhadap gue. Gue tidak tau dia pernah memberikan kredit kepada siapa lagi. Tapi dia memberikan kredit kepada kami berdua. Artinya ada orang-orang yang pandangannya berubah.

Ada seorang perupa senior, gue tidak sebut namanya, yang menyerang beberapa komika. Tapi setelah melihat penampilan gue dia bilang, “Gue suka lu.” Ada beberapa seniman senior juga yang mengkredit saya. bahkan Agus Noor, teman lama gue, dia kasih kredit ke gue. Dia bikin acara sama Butet Kartaredjasa, gue diajak dan itu repeat. Artinya gue dipercaya mewakili stand-up comedy. Gue merasa ada perubahan.

Jadi pencapaian manusia itu bukan hanya masalah uang. Karena misalnya kita tau pasti tahun 1945 ada orang kaya, coba lu bisa sebutin siapa orang kaya di tahun 45? gak ada yg bisa sebutin. Tapi kita bisa sebutin siapa senimannya : Chairil Anwar. Di tahun 70 siapa orang kayanya? Mungkin kamu gak tau. Tapi siapa pelawaknya? Ada Bagio, Jojon. Jadi sekaya apapun gue, suatu saat gue dilupakan. Tapi kalo gue pernah berkarya, nama gue panjang. Siapa orang kaya di tahun 2000-an mungkin orang lupa. Tapi siapa di situ pelawaknya, mungkin dia akan mengingat gue. Dia mungkin akan ingat Pandji. Akhirnya gue mendapat pencerahan itu, bahwa kalo gue punya karya pasti gue dikenang.

Gue orang yg agak mellow juga sebenarnya, tapi gue lucu. Lu liat waktu Tanpa Batas 2 gue nangis itu bukan dibikin-bikin. Artinya bahwa seniman itu punya sisi-sisi mellow-nya. Menurut gue nangis itu bukan cengeng. Cenggeng itu ketika lu gak punya solusi terhadap masalah yang lu hadapi. Ketika lu sakit hati dan nangis, itu gak cengeng menurut gue. Yang cengeng itu ketika lu gak punya solusi terhadap hidup lu dan lu menyerah, itu orang cengeng. Kadang-kadang orang Indonesia tuh gak bisa bedakan. Gue cuma mellow doang. Ketika gue beruraian air mata gue bisa ngajak orang berantem. Gitu loh. Itulah hak gue.

Bokap gue udah meninggal. Gue mengunjungi kuburan kakek gue itu cuma sekali dalam seumur hidup gue.Bukan salah gue. Karena pasti gue ketika mengunjungi kuburan kakek diajak sama bokap. Sekarang bokap gue udah meninggal, gue gak ngunjungain kuburan kakek, (tapi) kuburan bokap gue dong. Gue (mengunjungin kuburan) ngajak anak gue. Bukannya gue melupakan kakek gue, tapi gue lebih ter-attach ke bokap gue dong. Gue mengunjungi kuburan bokap gue ngajak anak gue. Nanti suatu saat meninggal, dia mungkin bisa saja ngunjungin kuburan bokap gue. Tapi dia kan mementingkan ngunjungin kuburan gue. Dia ajak anaknya (ketika mengunjungin kuburan). Jadi kita akan diingat generasi minimal tiga generasi di bawah kita. Itu kalo beruntung. Kalo tidak beruntung, Cuma satu generasi kalo kita tidak punya karya. Tapi kalo kita punya karya, kita masih ingat namanya Karl Marx, Lenin, Tan Malaka, Mark Twain. Makanya akhirnya itu yang menjadikan (pemicu) gue harus punya karya. Gue gak tau kehidupan berikutnya gimana. Tapi gue pengen diingat agak lamalah. Gue yakin dengan pencapaian gue sekarang mungkin agak lama gue diingat (tertawa).

Tapi dulu (awalnya) gue gak sadar (dengan hal tersebut), setelah gue punya uang gue gak sadar itu. Tapi setelah gue terjun dan ternyata gue orang yang suka baca dari dulu, akhirnya gue kayak disadarkan. Kalo gue gak punya karya paling beruntung diingat tiga generasi dan itu pun keturunan gue doang. Ada pencerahan-pencerahan yang gue dapat setelah terjun ke dunia seni. Menurut gue semua orang setuju dan banyak orang yang disadarkan dengan kata-kata gue ini (tertawa).

03 Sammy Yose RFoto - foto yoseR

Tadi diceritakan lu jadi orang yang paling lucu di kalangan teman-teman. Melucu itu sebagai upaya untuk diterima oleh lingkungan atau sebagai pelampiasan atau pelarian terhadap sesuatu?
Itu karena gue orangnya talkactive aja. Orang yang ekstrovert dan lucu. Gue orang yang dominan juga sebenarnya. Tapi dominan sekaligus lucu. Kan ada orang yang dominan tapi memerintah. Gue sama teman-teman gue usahakan gak marah. Gue mendominasi pembicaraan tapi gue tidak pernah mengintimidasi..emang karena gue orangnya ekstrovert, akhirnya lebh banyak bicara.

Lu udah mendapat kesempatan untuk keliling di beberapa daerah di Indonesia untuk stand-up comedy. Apa yang lu liat selama perjalanan tersebut? Apa sih faktor yang membuat banyak bakat yang tidak terekpos? Hingga ada anggapan bahwa untuk menjadi terkenal harus ke Jakarta.
Sebenarnya itu bukan masalah stand-up comedy. Itu masalah Republik Indonesia. Itu salahnya Soekarna dan Soeharto. Kenapa Indonesia dibangun Jawasentris. Bukan salahnya gue. Kenapa tanggung jawab dilimpahkan ke gue. Kalo lu limpahkan tanggung jawab itu ke gue, tunjuk gue dulu jadi presiden dong.

Kenapa pusat pembangunan selalu terpusat di Jawa. Bahwa itu dari jaman Soekarno dan Soeharto begitu. Jadi itu berefek ke semua aspek kehidupan. Jangankan artis, pembantu aja kalo mau sukses (mencari kerja) ke Jakarta. Istilahnya adalah itu masalah Republik Indonesia. Itu yang gak bisa dimengerti anak-anak, kenapa Standup Indo begitu Jakartasentris. Kalo orang ada yang ngomong gitu gue sangat terima. Gue gak pernah marah. Tapi dalam hati gue bahwa mereka itu tidak belajar. Mereka orang-orang yang tidak menganalisa negaranya sendiri. Menurut gue orang yang tidak menganalisa negaranya sendiri, dia adalah orang yg bersalah. Lu tidak menganalisa kondisi lingkungan lu sendiri. Kecuali dia orang yang sangat bodohlah. Tapi dia kan pernah sekolah. Ada yang pernah kuliah. Menurut gue anak SMA harusnya sudah tau. Semua diajarin di sekolah. Lu harus punya analisis Indonesia ini. Kalo menyalahkan masalah stand-up comedy kenapa tidak terekspos, mari kita bareng-bareng tanyakan ke Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur,Megawati, SBY dan Jokowi, kenapa indonesia ini Jakartasentris. udah itu jawaban gue.

Stand-up comedy lu jadikan pelampiasan kekritisan lu terhadap segala hal. Sebenarnya kekritisan lu itu lahir darimana? Dibentuk oleh keluarga atau lu sendiri yang membentuknya?
Ada beberapa hal yang gak bisa gue ceritain. Tapi lu boleh crosscheck ke Isman, dia kenal gue dari SMA. Dari dulu gue punya nyali tapi gue bukan preman. Gue gak perlu masuk gank untuk jago berantem menurut gue. Gue orang berprinsip seperti itu. Di SMA gue hampir berantem dengan orang-orang yang gank-nya agak kuat. Jadi gue itu independen. Gue berantem gak perlu gank. Tapi gue masih terlalu muda waktu itu. Kadang-kadang suka berpikir pendek.

Sama juga waktu di mahasiswa. Gue gak perlu jadi aktivis di organisasi mana pun. Gue cukup di himpunan mahasiswa. Gue gak butuh gank untuk melakukan idealisme gue. Ngapain gue ke Jakarta? Gue berjuang di ITB menyuarakan apa yang gue percaya. Makanya, gue bilang apakah gue ikut-ikutan waktu itu? Ikut-ikutan. Tapi semua mahasiswa juga begitu dan gue sangat megang (apa yang dikatakan) Soe Hok Gie. Dia bilang kalo udah berhasil lu balik. Karena dia juga kecewa sama teman-temannya ketika berhasil gabung dengan penguasa baru. Soe Hok Gie gak. Perjuangan mahasiswa berhasil dia tidak bergabung. Dan gue orang yang seperti itu.

Oke gue gak sementereng Budiman Sudjatmiko gue bilang. Tapi gue ikut berjuang. Gue ikut orasi. Orasi gue mantap waktu itu. Maksud gue, apakah perjuangan gue sehebat Budiman? Gue akuin tidak. Sehebat Pius Lustrilanang? Tidak. Tapi apakah mereka waktu itu berjuang? Gue juga bingung. Karena mereka sekarang ada di pihak yang kita lawan dulu. Kecuali Budiman masih abu-abulah. Kalo gue, gue mencari duit dari (bekerja di bidang) IT.

Gue punya perumpamaan bahwa sebenarnya aktifis itu harusnya seperti Wyatt Earp dan Doc Holiday. Jadi Doc Holiday itu seorang penjudi yang jago tembak, penembak yang paling jitu di jamannya. Jaman Amerika masih tembak-tembakan. Wyatt Earp petani, tukang gembala sapi tapi juga jago menembak. Lalu ada penjahat dulu sangat kuat, gank-nya Curly Bill dan Johnny Ringo. Gak ada sheriff yang berani melawan. Lalu Wyatt melobi Doc. Keduanya menjadi sheriff. Setelah mengalahkan, mereka kembali berkebun.

(Perjuangan Wyatt Earp dan Doc Holiday melawan para penjahat kemudian diangkat ke layar perak dengan beragam interpretasi. Antara lain Gunfight at the O.K. Corral (1957) dan Tombstone (1993)).

Menurut gue, aktivis seharusnya begitu. Lu pake lencana, lu lawan penjahat. Lu bela Jokowi, kalo Jokowi udah menang , lu balik. Lu cari duit sebagai “penggembala”. Gue memang gak mentereng tapi gue berprinsip seperti itu. Mudah-mudahan hidup gue lebih mentereng dari mereka.

Gue tuh pernah nonton dan baca apa aja ternyata gak kebetulan. Karena suatu saat (apa yang dibaca dan tonton) itu menginspirasi gue. Jadi menurut gue ada yang salah dengan sistem kita. apapun alasannya gue gak bisa terima kalo Aktivis 98 sekarang ada di sistem. Kita harus di luar. Kita harus mempekerjakan banyak orang. Silakan (siapa saja) yang jadi politisi, (asal) jangan mantan aktivis deh kalo menurut gue. Tapi kalo dia punya prinsip lain, ya silakan. Mungkin wawasan dia belum pernah nonton Tombstone. Mungkin dia terlalu banyak membaca buku politik yang terlalu berat.

Dari cerita lu, tampaknya banyak sekali keberuntungan yang lu alami dalam hidup. Bisa lu ceritain keberuntungan apa yang lu dapatkan selama menjalani stand-up comedy?
Keberuntungan itu gak pernah akan lu dapat kalo lu gak pernah rugi. Gue yakin itu. Gue sekarang lagi rugi sebenarnya. Tapi gue yakin ada keberuntungan lain. Gue pernah rugi sebelumnya tapi ada keberuntungan yang lebih besar. Jadi kalo lu gak mau rugi, lu gak akan pernah untung. Kalo lu gak pernah salah, lu gak akan pernah bener. Gini ya, ada orang yang keliatannya gak punya salah karena memang dia gak ngapa-ngapain.

Jadi, orang Standup Indo banyak yang gak suka ama gue, gue santai aja. Karena orang yang berbuat banyak pasti akan berbuat salah banyak juga. Tapi akan banyak benarnya juga. Ada orang, dia hebat gak punya musuh. Orang dia gak pernah ngapa-ngapain, gimana mau punya musuh. Tapi gue santai aja punya musuh juga. Gue sebisa mungkin orang gak musuhan ama gue. Tapi kalo ditakdirkan punya musuh, ya ga masalah. Prinsip gue kalo orangnya gak kenal ama gue dan benci gue, gak masalah. Tapi kalo orang yang dekat benci gue , (buat) gue masalah. Tenyata orang yang udah dekat sama gue gak ada yang benci gue.

Jadi prinsipnya gini, kenapa gue beruntung? Karena gue sering rugi. Sering banget gue rugi. Jadi orang yang benar dan berbuat banyak pasti akan banyak salah juga. Iya dong. Itu logika aja.

Berkaitan dengan mendapatkan musuh dan banyak orang yang membenci. Sebenarnya hal apa yang sih yang memicu terjadinya hal tersebut dalam dunia stand-up comedy?
Kalo menurut gue, sebenarnya polemik itu harus dibudayakan di Indonesia. Bukan hanya di stand-up comedy. Kita boleh berpolemik. Noam Chomsky bilang bahwa tidak ada satu orang pun yang boleh dipenjarakan hanya gara-gara apa yang dia katakan. jadi orang itu tidak boleh dihukum karena apa yang dia katakan. kalo dia dihukum gara-gara mukul, boleh. Nah, orang Indonesia tidak biasa itu. Kita gak bisa maju kalo gak terbiasa itu.

Di Jepang, pornografi itu boleh, tapi hanya orang-orang usia tertentu yang boleh menonton. Mark Twain pernah bilang,”Censorship is telling a man he can't have a steak just because a baby can't chew it.” Jadi harusnya antisensor. Ya kalo orang milih kayak rokok aja. Udah tau akibat buruknya, tapi rokok kan bukan barang terlarang. Tapi apakah semua orang merokok? Gitu aja harusnya

SammyFoto - foto yoseR

Dalam stand-up comedy, blue material dengan lekat dengan unsur SARAP (Suku, Agama, Ras, Adat Istiadat, Pornografi), ada yang mengatakan sebaiknya tidak dibawakan di Indonesia karena dinilai sensitif. Bagaimana pandangan lu tentang hal tersebut?
Itu jawabannya balik ke sensor. (Kalo gue) judul komedi gue selalu tanpa batas, karena (komedi) gak ada batasnya. Lu boleh ngomong apa aja kok menurut gue. Tanpa batas. Tapi tanpa batas itu mengajarkan batas lu adalah nyali lu dan lu harus siap dengan konsekuensinya. Udah itu aja. Istilahnya kalo nyali lu sampe harus dipenjara, lakukan. Konsekuensi dibenci masyarakat, ya lakukan. Tanpa batas itu artinya. Fair kan. Kalo lu ngomongin hal berbau SARA biar dibenci masyarakat, ya lakukan. Kalo tidak siap, jangan lakukan.

Boleh ngomong SARA, tapi coba lu liat materi gue. Makanya gue pernah bilang ama teman-teman, lu jangan tiru gue. Gue punya data dan sebagainya. Seorang komika harus berani menanggung resikonya. (Misalnya) jadi gak laku. Tapi gue kan masih laku. Gue orang yang taktis. Tapi gue tidak mau kehilangan idealisme gue. Jadi gue pengen idealis tetap, tapi juga taktis. Gue mau idealis, tapi gue gak mau jadi orang miskin. Banyak kan orang idealis yang miskin. Itu tujuan gue.

Materi sensitif, terutama agama, tidak semua orang bisa menerima menjadi guyonan. Sebenarnya apa batasan lain, selain nyali tersebut? kemudian bagaimana meyakinkan ke orang lain yang mendengarkan atau tidak menerima hal tersebut hanyalah guyonan?
Tidak bisa. Kalo menurut gue, ketika berbicara sesuatu yang sensitif, harus benar-benar lucu. Jadi tidak bisa yang biasa-biasa saja.

Tapi kan meski akhirnya benar-benar lucu, tidak semua orang bisa menerima?
Itu syarat pertama. Kedua emang harus argumentatif. ketiga kalo gak bisa menerima juga, ya udah itu konsekuensi. kalo pun dua hal tersebut sudah terpenuhi tapi masih ada yang gak terima, itu bukan salah kita. Gimana kita bisa ngatur orang? Seperti ada yg bilang, “In your religion, you cannot use your logic, use your faith.” Kalo lu mau menuntut logika dalam agama, lu jangan beragama. Lu belajar sains. Kalo agama itu memang ada hal-hal dogmatis, itu sudah jelas. ada hal yang namanya aksioma dimana lu tidak boleh bertanya dalam satu titik. Udah percaya aja. Tapi orang ada yang mencampurkan faith dan logic. Gue sedang (bermaksud) mencerahkan, tapi orang kadang-kadang tidak bisa menerima, ya udah itu urusan dia. kalo menurut gue itu tanggung jawab komik, tetap harus ada nyali karena tidak semua orang suka.

Menurut pandangan lu, kenapa tidak semua orang bisa menerima hal sensitif diguyonkan? Terutama di Indonesia.
Gak kok. Di semua negara juga gitu kok. Hanya di banyak negara isu sensitifnya lain. Kalo di kita agama, di Amerika rasis masih sensitif. Tapi hal yang sensitif karena dibawakan dengan sangat lucu, jadi malah membuat tertawa. Jadi ya gak apa menurut gue. Ketika kita bicara SARA, tergantung untuk apa tujuannya. Untuk memancing kemarahan atau mencairkan.

(Sammy kemudian memberikan contoh bagaimana Cedric The Entertainer menggunakan materi sensitif rasis dalam komedinya)

Gue gak pernah dalam semua materi gue yang agama itu niatnya untuk memancing kemarahan. Kalo ada yang marah, itu urusan dia. Gue justru untuk mencairkan.

Karikatur termasuk salah satu media untuk menyampaikan humor. Lalu bagaimana lu memandang kasus penembakan yang berujung tewasnya beberapa orang di kantor redaksi Charlie Hebdo di Prancis berkaitan dengan pembuatan karikatur Nabi Muhammad yang memancing amarah kaum Islam radikal?
Kalo kasus itu mungkin bagi dia (karikatur tersebut) untuk memancing kemarahan, kalo menurut gue. Tapi itu kan negara bebas. Negara yang tidak mudah terpancing kemarahan. Nah, kasus tersebut sempat menjadi bit dan dikritik oleh Jimmy Carr. (Dia bilang) kenapa orang bunuh-bunuhan karena karikatur Muhammad. Six man die fight for their imaginary friend. Itu kritik dia.

Kalo gue salah satu quote yang paling bagus menurut gue dari Eddie Griffin. Gue senengin karena (menjadi dasar) buat gue ngomongin SARA tujuannya untuk mencairkan. Dia bukan patokan gue, bukan idola gue. Tapi ada satu bit yang gue sangat idolakan. Dia pernah ngomong gini, “Christian said Jesus is the messenger. Moslem said that Mohammad is the messenger. I dont care who is the messenger. Who the f..k is the messenger. Did you got the message?” Itu gue selalu pakai. Dia pakai kata kasar sih (menyampaikannya), tapi itu good statement kalo menurut gue. Kalo ada orang yang bilang gue memancing kemarahan, ya terserah dia.

Lu punya manajemen sendiri, Tanpa Batas Management. Kenapa sih atau apa yang membuat lu harus membuat manajemen itu?
Gua gak mau temen-temen gua di masa tuanya miskin seperti banyak seniman lawak lain. Gue bikin manajemen bukan karena gue sok phylantropist. Gue pengen untung. Gue pengen bisnis. Karena gue latarbelakangnya bisnis. Gue pengen untung di bisnis gue, tapi gue gak mau serakah di bisnis gue. Makanya gue gak pernah memaksa talent siapapun masuk ke Tanpa Batas dan tiba-tiba setelah gue, ada talent-talent yang secara sukarela masuk. Gue bahkan gak pernah ngajak. Bahkan (termasuk komika) Kelas A.

Gue mengerti bisnis. Gue bukan konglomerat tapi gue ngerti dan gue mau terapkan itu di Tanpa Btas Management. Gue mengajak orang-orang yang tepat. Gue ajak Rindra yang seorang bussinesman dan berwawasan luas. (Manajemen) ini akan mengelola beberapa orang dengan pendekatan yang lebih modern. (Gaya pengelolaan manajemen) operating profit dan non-operating profit akan gue berdayakan. Sisanya rahasia perusahaan. Gabung kalau mau tahu dong.

(Ketika) gue udah kerja sebagai profesional, gue melihat peluang lain. Gue pernah jual mainan. Semua ada saksi matanya, gue gak bohong. Makanya kalo tertarik bikinin film tentang gue, Merry Riana kalah itu (tertawa). Istri gue tau. Gue jualan mainan itu cuma untuk ongkos. Gue orangnya gak pelit tapi perhitungan.

Gue waktu itu punya istri yang sekarang itu, dulu masih kulaih di Bandung di ITB. Gue udah kerja di Jakarta. Setiap minggu gue harus apel ke Bandung. Kalo gak, direbut orang dong. Gue gak percaya konsep long distance relationship. Gue setiap minggu harus ke Bandung. Artinya cost gue tinggi dong bolak balik Jakarta Bandung. akhirnya gue jual mainan. Gue jadi bisnis beneran. Tadinya cuma untuk ongkos malah jadi untung gede. Waktu itu kosan gue penuh dengan kardus (ketawa).

Gue jadi gak fokus kerja. Waktu itu ada tawaran di luar, akhirnya gue berhenti bisnis mainan. Tadinya iseng untuk ngongkosin buat ke Bandung supaya apel. Itulah kenapa gue nikah dengan istri gue. Kita tiga bulan pacaran. Di bulan keempat dia bantuin dagang jadi tukang kembalian. Dia punya inisiatif. Ada kisah cintanya juga. yuk kita filmkan yuk (tertawa).

SammyFoto - foto yoseR

Sempat ngeliat di twitter lu ngeposting foto-foto sedang syuting film. Lagi terlibat proyek film apa?
Gue lagi syuting. Gue coba main di layar lebar karena gue pengen buka jalan aja. Karena kayaknya di tivi, seperti yang gue bilang, kita (stand-up comedy) masih second class entertinment-lah, mungkin third class entertainment. Makanya kita harus mengkritik diri sendiri, bahwa lu jangan soklah, karena kita masih third class. Jadi gue mencoba beberapa peruntungan sebenarnya. Honornya juga tidak telalu besar dengan cost gue kesana. Jadinya impaslah. Tapi gue coba peruntugan dan gue suka karakter gue di situ. Gue agak picky juga. Bukannya sombong, tapi gue tau bahwa ini marathon bukan sprint. Perjalanan masih panjang. Kalo gue merusak karakter, takutnya nanti gak panjang.

(Proyek film tersebut merupakan film ketiga bagi Sammy. Mengawali dengan menjadi cameo di Republik Twitter (2012). Kemudian mendapatkan peran di Tak Sempurna (2013). Dengan gembira dia mengungkapkan kebanggaannya bahwa namanya kini masuk dalam laman online database IMDb)

Sejauh ini, apa keinginan yang belum tercapai sampai sekarang?
Gue gak tau. Tapi gue punya semangat aja. Terus terang keinginan gue tuh yang pengen tercapai sampai sekarang adalah Indonesia punya orang yang dapat hadiah Nobel. India punya yang dapat Nobel, kita belum punya. Apakah gue (yang harus mendapatkannya)? Kayaknya terlalu agung gitu. Tapi kalo orang lain yang dapat hadiah Nobel, gue senang ama orang itu. Gue sih pengennya anak gue yang dapat Nobel. Anak gue jadi orang pertama yang dapat hadiah Nobel untuk orang Indonesia. Lu pikirkan, bangsa sebesar Indonesia tidak pernah dapat hadiah Nobel, entah di bidang fisika, perdamaian, sastra.

Dulu Pramoedya Ananta Toer gimana?
Pram mau dapat penghargaan lain pun, Mochtar Lubis mengancam mengembalikannya. Gimana mau dapat Nobel, kalau kita saling jegal. Berantem di dalem, keluar jangan saling jegal.

(Untuk informasi, Mochtar Lubis menentang pemberian Ramon Magsaysay Award pada tahun 1995 untukPramoedya Ananta Toer. Dimana Mochtar Lubis mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang diterimanya pada tahun 1958, jika hadiah tersebut tetap diserahkan kepada Pram)

Maksud gue, di Indonesia belum ada semangat itu. Kalo misalnya Pandji dapat pengakuan internasional, ya gue senang lah. Gak mesti gue.

Cita-cita pribadi gue pengen dapat hadiah Nobel. Gila gak? Tapi kalo pun gak bisa, ada orang lain yang bisa. Kalo pun gue gak bisa, gue pengen banget anak gue tuh bisa. Gue lagi didik anak gue untuk bisa dapat hadiah Nobel gimana sih caranya? Sebenarnya Malala Yousafzai (peraih Nobel Perdamaian tahun 2014 dari Pakistan) gak layak dapat Nobel. Dia tuh cuma orang beruntung atau tidak beruntung ya? Dia kan korban terus dijadikan ikon. Menurut gue yang lebih layak dapat hadiah Nobel itu si orang Hong Kong yang memicu demo itu (Joshua Wong Chi-fung).

Nah itu ada kritik gue juga ya. Bayangkan, Malala 16 tahun dapat hadiah Nobel. Joshua orang Hong Kong itu, 17 tahun memimpin demo. Raditya Dika, 29 tahun, bikin Marmut Merah Jambu. Itu gue gak terima sebenarnya. Mari Radit, lu bikin karya yang lebih. Lu tuh udah punya massa. Mari kita pinterin massa lu. Tapi itu urusan dia deh. Lu punya tanggung jawab pribadi juga kalo menurut gue.

Menyandang status komedian menjadi beban mental gak sih buat lu? Apalagi dituntut untuk lucu setiap saat.
Kalo dituntut lucu setiap saat ya beban. Kayak sebelum naik panggung gue merasakan beban, berhasil gak ya? Tapi begitu turun panggung, lega. Makanya stressful banget. Tapi bagaimana ya, tuntutannya seperti itu. Makanya harusnya stand-up comedy itu bayarannya harus lebih tinggi. Komika yang bagus ya. Tapi kekurangannya adalah stand-up comedy itu banyak juga yang hanya modal nyali naik panggung. kalo musisi minimal harus punya skill. Nah itu yang salah. Akhirnya membuat kita jadinya cheap.

Apa faktor tekanan itu yang membuat komika atau komedian menjadi depresi?
Ada yang bilang begitu. Karena sebesar apapun masalah kita, kita ternyata... gini, saat kita butuh dihibur ternyata di situ kita malah dapat job dimana kita harus menghibur dulu itu sebenarnya tragis loh. Tragis sebenarnya ketika akhirnya Robin Williams bunuh diri. Gila. Robin itu orang yang jenius. Walaupun dia mati bunuh diri, gue berdoa dia masuk surga loh. Karena dia sudah membahagiakan banyak orang.

Tadi sebelum dan sedang wawancara beberapa kali lu ngebahas tentang keinginan pengen banget masuk penjara. Benar pengen seperti itu?
Takut juga lah masuk penjara, amit-amit, itu lagi bercanda aja. Tapi seandainya itu jalan hidup gua, gue jalanin aja lah, tapi sekarang kan era keterbukaan. Terlalu otoriter pemimpin, elektabilitas akan turun. Intinya begitu. Tapi kalau kita perhatikan, seniman yang dipenjara itu keluarnya tambah hebat. (Contohnya) Koes Plus, Arswendo (Atmowiloto), Pramoedya, Ariel (tertawa). Semua yang masuk penjara keluarnya tambah hebat. Setahun dua tahun (di penjara) gue lakuin. Gue tetap dengan idealisme gue. Tapi gak ada yang kepancing (buat memenjarakan) karena argumennya terlalu kuat kali (tertawa). Ya, gak apalah. /yoseR

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found