Anto Hoed Anto Hoed (Foto: YDhew)

Anto Hoed

Berbicara Mengenai Musik Scoring

Dibalik kesuksesan Melly Goeslaw sebagai Queen of Soundtrack, ada sosok yang tidak bisa dipisahkan dari kesuksesan sang ratu tersebut. Anto Hoed, merupakan sosok pria yang sederhana, ramah dan santun kelahiran  19 Mei 1964, selain sebagai musisi ia juga sebagai penata musik yang diperhitungkan di tanah air.

Banyak sudah karyanya bersama sang istri mendapat penghargaan. Selain keduanya bergabung di group band Potret, Anto juga aktif di berbagai kegiatan musik. Predikat musisi spesialis lagu soundtrack pun melekat didirinya. Baru-baru ini NewsMusik berkesempatan berbincang-bincang dengan Anto Hoed di Gedung Kesenian Jakarta lalu, berikut percakapannya :

Apa khabar Mas Anto?
Alhamdulillah baik

Ada proyek apalagi yang dikerjakan mas Anto?
Saat ini setelah pekerjaan theme song film Kartini, ada kerjaan dengan Malaysia, tapi buat saya film karya Hanung ini sangat menarik dan waktu mengerjakankannya juga sangat hati-hati. Lagu ini adalah Ini lagu perjuangan, tapi bukan perang. Perangnya itu dengan intelektual, kesadaran tinggi bahwa waktu itu perempuan enggak punya otoritas. Ini salah satu lagu tersulit yang saya buat. Cukup lama penyelesaiannya sekitar kurang lebih dua bulan

Boleh diceritakan , bagaimana proses penciptaan sebuah lagu bersama teh Melly?
Melly biasanya membuat melodi dengan chord yang sangat sederhana, melodi dan lirik kemudian disatukan lalu direservasi ke saya untuk dikerjakan lagi dan di aransemen tergantung kebutuhannya. Saya sepenuhnya hanya memproduksi musiknya, masalahnya musiknya itu harus tergantung dengan kebutuhannya.

Seperti pada film Promise kemarin, saya harus buat tidak boleh seperti AADC, dimana dalam segi umur berbeda. Tetapi juga tidak boleh dibuat terlalu sederhana banget, sehingga kadang bila dipasangkan di film kadang-kadang tidak enak.  Kesulitannya disitu, misal kalau saya hanya pakai piano saja, berarti kan penyanyinya harus bagus banget . Masuk nggak kira-kira ke filmnya?. Jadi saya lebih ke design productionnya saja.

Kesulitannya sebagai partner dalam bermusik dengan teh Melly?
Pernah juga kadang saya buat aransemen tidak sesuai dengan yang dibayangkan, kadang kalau gak cocok agak bawel dan itu harus diulang. Misalnya lagu tersebut terlalu sederhana atau kurang megah itu aja sih.

Untuk anak-anak sendirikan sudah besar sekarang dan juga bisa dibilang sebagai musisi saat ini. Apakah mempengaruhi mas Anto dalam mengaransemen lagu?
Kalau untuk di musik soundtrack biasanya mereka tidak pernah terlibat, kalau dimusik lain iya.

 

02 Anto Hoed YDhewAnto Hoed (Foto: YDhew)

Untuk Potret sendiri apakah akan ada karya baru lagi?
Sebetulnya akan ada yang dikerjakan, tetapi masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Maunya habis ini akan ada yang kita kerjakan.

Mas Anto anak keberapa?
Saya anak tunggal dari istri pertama, Bapak saya menikah lagi dan dari istri kedua punya adik kembar Sinta dan Santi

Cita-cita Mas Anto dulu sebetulnya apa dan kenapa tiba-tiba terjun di dunia musik sebagai pemain bass? Apa yang menjadi pertimbangan mas Anto terjun ke bidang ini?
Dulu ayah saya yang mengenalkan musik, karena ayah bermain harmonika. Dari kecil dikenalkan dengan gitar, waktu kita pindah keluar negeri ayah saya ditugaskan di Paris. Saya kebablasan waktu sekolah di Belanda tiba-tiba pulang sudah ada piano, gitar di rumah.

Dirangsang untuk bermain musik oleh ayah saya. Tapi saya belum berfikir untuk sekolah musik. Saya maunya sekolah hukum di London, saya malah pingin jadi lawyer di sebuah perusahaan asuransi yang besar di London. Ayah itu  seorang nasionalis, sebagai seorang Guru Besar di UI, beliau menyarankan untuk mengambil kuliah di UI untuk ambil Hukum.

Akhirnya saya daftar dua, Sinematografi di IKJ dan daftar juga di UI kala itu, .. ndilalah dua-duanya diterima. Akhirnya saya pilih UI, tapi entah kenapa setelah berjalan 3 tahun mulai merasa nggak tertarik ikut kuliah disini. Saya ambil cuti lalu kemudian kuliah di IKJ.

Kenapa awalnya tertarik menjadi Lawyer?
Ya itu karena duitnya banyak.. (sambil tertawa)

Kemudian terjun ke dunia musik sejak kapan?
Mulai di IKJ dan diterima di musik, akhirnya disana mulai kenal dunia musik. Kenal Indra Lesmana dan musisi-musisi lainnya. Di IKJ saya mulai mempelajari teori tentang musik dan menguasai beberapa alat musik.

Kenapa bisa menyukai alat musik bass, punya idola nggak?
Nggak tau juga kenapa bisa suka sama bass, mengalir aja. Idola juga nggak ada ya, ngertinya main musik aja.

Dulu sebelum di Potret pernah punya band lain nggak?
Dulu pernah punya band dan ikut festival tahun 90-an bandnya lupa namanya. Habis itu nggak ada lagi. Lalu bergabung dengan Potret tahun 1995 sampai sekarang.

Ada tidak musisi Indonesia lain yang mempengaruhi permainan musik mas Anto?
Sebetulnya dari dulu pengaruh terbesar dari awal bermain musik sebetulnya Indra Lesmana. Saya sama Indra dekat banget, banyak sekali yang bisa saya tangkap dari dia. Secara musikal mungkin saya tidak sama Indra  karena menurut saya Indra musisi yang terbaik, itu yang saya tangkap sampai sekarang.

 

03 Anto Hoed YDhewAnto Hoed (Foto: YDhew)

Boleh ceritakan waktu pertama kali bergabung di Potret
Dulu pas waktu menikah sama Melly, lalu mulai bercerita tentang album dan menghindari seringnya keluar malam, akhirnya kita bikin potret sama Arie Ayunir waktu itu.

Mengenai lirik potret yang anti mainstream dan sedikit nyeleneh, sebetulnya itu sesuai nggak dengan karakter mas Anto?
Saya asyik aja waktu itu, ada bunyi-bunyian berbeda selain yang ada waktu itu. Dulu kan di Indonesia kebanyakan group band ada GIGI, dan lain-lain yang semuanya mainstream. Nah kita buat supaya laku, berbeda dengan yang lain. Meskipun di awal kita jalan tidak terlalu laku, bisa dibilang jeblok lah dipasaran. Tapi ketika kita berdua, tiba-tiba booming.

Menurut mas Anto lebih nyaman sebagai penata lagu, atau bermain musik saja?
Samua menarik menurut saya, penata musik iya, pemain bass iya semua punya keasyikan sendiri dan itu merupakan bagian dari penataan musik.

Menurut mas Anto apa artinya suatu penghargaan?
Sebetulnya, penghargaan itu adalah suatu akibat dari yang kita bikin, jadi bukan merupakan suatu tujuan. Bahwa berkarya dengan sebuah karya yang kita buat sebaik-baiknya. Tapi bukan bertujuan untuk mendapatkan penghargaan. Jadi saya kira sebuah penghargaan itu adalah bentuk apresiasi dari apa yang sudah dihasilkan, memang bukan semata-mata tujuan. Jangan sampai nanti kalau tidak tercapai jadi suatu kekecewaan.

Pernah merasa jenuh nggak sebagai musisi?
Jenuh sih nggak, cuma kalau jalani prosesnya aja kadang hadeeeuuuh.. Tapi kalau mengerjakan sesuatu dengan merasa jenuh nanti hasilnya akan tidak baik.

Mas Anto kan sudah lama juga menggeluti bidang musik, pingin punya karya sendiri nggak diluar dari proyek teh Melly atau Potret paling tidak untuk fansnya mas Anto?
Nggak pernah kefikiran punya karya sendiri. Saya punya scoring-scoring karya saya yang pernah saya buat, tapi memang belum dijadikan satu. Tapi scoring yang saya buat nanti tulisannya bisa di publish, sehingga orang lain bisa membaca dan menikmati itu untuk kepentingan edukasi. Karena memang musti diturunkan pada suatu saat nanti untuk dibaca atau untuk di sekolah musik.

Warna favorit mas Anto apa?
Saya suka warna putih atau hitam. Kalau putih kelihatannya bersih aja gitu.

 

04 Anto Hoed YDhew(Foto: YDhew)

Untuk kerjasama dengan perfilman Indonesia, teh Melly sempat bilang bahwa ada perbedaan antara pembuat scoring musik dengan produser film itu sendiri. Bisa dibilang bahwa penghargaan atas karya musik scoring tidak sejajar dengan film itu sendiri seperti ada gap.
Sebetulnya bukan ada gap ya.. Kadang-kadang scoring dalam film itu menjadi hal yang ke 13 diantara film itu sendiri. Dalam produksi film Indonesia, musik bukan menjadi salah satu hal yang jadi utama. Masih yang dilihat hanya melulu mengenai gambar, itu nanti yang mesti dirubah.

Menurut saya salah satu penghargaan yang diberikan oleh FFI itu adalah mengangkat harkat dan martabat seluruh penata musik dalam film, jadi bukan hanya saya saja. Saya pernah sampaikan juga mengenai hal ini diatas panggung, bahwa penghargaan yang saya terima sebetulnya untuk seluruh penata musik Indonesia. Sehingga kita menjadi ada nilai untuk sebuah film. Jjadi jangan sampai nanti orang bilang udah deh musiknya seperti ini aja, 25 juta aja cukuplah. Tidak bisa begitu,..

Sebagai contoh, kita buat film dengan modal 100 juta untuk musik sekitar 25 jutaannyalah. Juga harus diberikan keleluasaan dalam pembuatannya. Film Indonesia yang mulai banyak seperti sekarang, pemusiknya juga harus belajar bahwa musik film berbeda dengan musik untuk sinetron karena moodnya beda, cara nempatkannya juga beda.

Harapannya kedepan untuk musik Indonesia sekarang?
Sebetulnya kita semua sudah mencapai yang terbaik, dengan berkembangnya musik sekarang. Yang musti kita tambah adalah bagaimana meningkatkan kepekaan pemusik-pemusik itu terhadap hal-hal yang dia lakukan. Misalnya kalau kita bicarakan mengenai film dia harus lebih peka dari hanya sekedar membuat musik untuk film. Jika di film A kita juga harus memikirkan, apa akibatnya apabila kita buat musiknya seperti ini harus lebih jauh untuk hanya sekedar bikin musik. Jadi orang tau apabila mendengarkan musik ini untuk film si A, atau si B. Harus berintegrasi, bersatu dengan karakter dan musik di film itu.

Saya pinjam kalimatnya Indra Lesmana, contoh AADC itu casenya ada 5 orang. Ada Cinta, dan 4 temannya. Tapi ada case satu lagi yang menjadi karakter  di film itu yaitu Anto dan Melly, artinya saya melihatnya bahwa musik itu juga karakter dari sebuah film sehingga bukan sekedar membuat musik.  Tidak sesederhana itu, kepekaan itu yang harus di miliki oleh rumah produksi dan pembuat musik. Jadi memang harus ada filosofi dalam berkarya, main musik tidak hanya merasa benar bermain musik saja. Harus ada feel nya.Dalam not itu ada draft satu desible itu ngomong, ada kalimat bahwa satu paragraf itu diucapkan dalam satu frase, jadi jauh lebih hanya memainkan kata-kata.

Satu lagi untuk film, mengapa kita harus mengirimkan film kita ke luar negeri? Kita harus lihat dari positifnya, bahwa film-film kita adalah suatu budaya, jadi sebetulnya kita mengirimkan film ke luar negeri itu merupakan suatu pendekatan politis melalui budaya./ YDhew

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found