Event Organizer
NewsMusik

NewsMusik

Friday, 17 March 2017 06:44

OM PMR

Tak Pernah Gengsi Mengusung Musik Parodi

Nyleneh, mudah diingat, dan sering bikin cengar cengir sendiri dengar lirik lagunya, simak saja lirik lagu “Neng.. ayok neng.. kita main pacar-pacaran” atau “Yang hujaan turun lagi, angkatin jemuran yang engkau cuci…”. Itulah sekelumit lirik lagu dari ‘Judul-judulan’ dan ‘Antara Cinta Dan Dusta’ ini sampai sekarang fasih  dinyanyikan anak muda beda zaman dari mereka.

Pada Rabu (15/3) NewsMusik berkesempatan mendatangi acara peluncuran single yang terbarunya ‘Too Long To Be Alone’ yang merupakan plesetan dari lagu Kunto Aji ‘Terlalu Lama Sendiri’ di bilangan  Jakarta Selatan. Tiba di acara, band yang dari penampilan terkesan garang namun bergenre orkes komedi ini di gawangi oleh Johnny Madu Mati Kutu (vokal), Boedi Padoekone (gitar), Yuri Mahippai (mandolin), Imma Maranaan (bass), Ajie Ceti Bahadur Syah (perkusi) dan Harri Muke Kapur (kendang) tampak berbaur dengan pengunjung yang datang. Sesekali terdengar canda dan tawa dari mereka, seakan tak ada jarak dengan penggemarnya.

Aksi panggung mereka yang kocak tidak mudah dilupakan begitu saja. Lihat saja Jhony, yang sampai sekarang tetap setia dengan senjatanya alat musik berupa sisir berlapis plastik seperti harmonika yang diberi nama harmonisir.  Lalu Harry Muka Kaphour sering belingsatan di antara penonton, dan aksinya memukul kendang yang terkadang membuat orang tertawa.

Hampir 40 tahun perjalanan karir mereka di dunia musik tanah air, lagu yang mereka bawakan tak lekang oleh waktu. Perjalanan karir band ini tak lepas dari ikut andilnya almarhum Kasino, yang kala itu mencari band pengiring untuk group band mereka. Almarhum Kasino, jugalah yang memberi nama Pengantar Minum Racun (PMR), dan sekaligus memberi nama masing-masing personilnya dengan nama yang berbau India dan terus digunakan sampai sekarang. Sejak saat itu nama mereka mulai dikenal, hampir satu tahun OM PMR jalan bareng bersama Warkop Prambors dan melakukan pertunjukan keliling Indonesia.

02 OM PMR YDhewOM PMR (foto: YDew)

Mengusung tema komedi, band yang awalnya dibentuk tahun 1977 dari sekelompok anak muda yang berasal dari sekolah yang sama mulai memisahkan diri dari Warkop. Di Tahun 1987 band ini selain menampilkan lagu “Judul-Judulan”, dalam album debut OM PMR yang dirilis MSC Record ini juga memparodikan banyak lagu-lagu hits baik pop maupun dangdut seperti ‘Antara Cinta dan Dusta’, ‘Bintangku Bintangmu’, ‘Istilah Cinta’ hingga ‘Gubuk Derita’ serta ‘Pergi Tanpa Pesan’ yang sempat dipopulerkan oleh  Ellya Khadam. Sejak saat itu mereka berhasil dan meraup sukses besar.

Sejak tahun 1987 dan sampai era tahun 90-an, OM PMR tercatat sudah menelurkan 15 album yang rata-rata memparodikan lagu-lagu yang tengah hits kala itu. Sampai sekarang mereka tetap konsisten dengan genre yang mereka bawakan.  “Saya selalu ingat akan pesan almarhum agar tidak usah neko-neko untuk tetap mempertahankan dan tetap berdiri diatas genre komedi seperti ini. Tidak perlu gengsi” jelas Harri kepada NewsMusik.

Ditanya mengenai resep rahasia mereka hingga langgeng dan tetap konsisten dengan tidak ada pergantian personil dari awal, Harri menjelaskan bahwa tidak adanya kecemburuan sosial diantara mereka. Juga selalu bertindak dibawah bendera PMR. Dalam menciptakan lagupun mereka selalu berembuk dan mendiskusikan bersama-sama.

Selain aksi panggung yang membius penonton dengan aksi kocaknya, dan lagu yang dibawakan diambil dari lagu orang lain, namun lirik yang mereka ciptakan bukan sembarangan mereka buat. Terkadang ide muncul dari kejadian yang terjadi saat itu, misalnya saja lagu ‘Antara Cinta dan Dusta’ dan ‘Malam Jumat Kliwon’ yang terinspirasi dari tragedi kereta api Bintaro pada waktu itu.

Cara mereka menciptakan suatu lirik cukup unik, berawal membaca syair aslinya baru kemudian mencari lirik/ syair yang pantas untuk lagu tersebut, baru kemudian musiknya. “Kebiasaan PMR sebelum merekam lagu, kita bawakan lagu tersebut untuk ngamen kira-kira suka atau tidak orang mendengarnya,” jelas Johnny

Band yang sebelumnya bernama Orkes Melayu Kurang Gizi ini sempat vakum merilis lagu, karena memang tidak mudah memplesetkan atau menemukan lirik lagu yang pas. Usia mereka yang tidak muda lagi, namun aksi panggung dan musikalitas mereka sampai saat ini masih energik. Celetukan dan kegilaan mereka di atas panggung hampir tidak berubah.

03 OM PMR YDhewOM PMR (foto: YDew)

Di era tahun 80-an sempat muncul beberapa kelompok musik Orkes Moral yang mengikuti jejak mereka, namun tidak ada yang bertahan lama dan tidak terdengar gaungnya sampai sekarang.  Rasanya terlalu panjang kalau membahas debut band yang dijuluki “Raja Lagu Parodi” ini, hibernasi mereka yang cukup lama dari mulai lintas generasi sampai lintas genre mereka lakukan. Sebut saja lagu ‘Orkeslah Kalau Bergitar’ sampai memplesetkan lagu dari group rock Seringai ‘Mengadili Persepsi’ semuanya diubah dengan lirik yang bernuansa humor dan jenaka.

Bisa dibilang bahwa merekalah yang menyatukan musik dangdut dengan genre lainnya, sehingga orang yang awalnya anti dengan musik dangdut mulai melirik dan bahkan menjadi fans terberat mereka yang sampai sekarang mendapat selalu mendapat sambutan yang hangat.

Disinggung mengenai penjualan single mereka yang baru saja dirilis dengan kondisi musik tanah air saat ini mereka menjawab “Bodo amat mau laku atau ngganya, yang penting karya kita bisa menghibur pencita musik tanah air. Itu aja”, tutup Johnny. Orkeslah kalau begitu om, kita tunggu karya selanjutnya berupa album baru./ YDhew

 

Friday, 17 March 2017 06:36

Giring

Politik Dan Musik

Saat ini dirinya cukup tertarik dengan dunia politik dan akhirnya membuat Giring Ganesha yang awalnya kuliah dibidang studi politik berencana melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda 12 tahun. “Saya sudah masuk, cuma mau lanjutin. Udah 12 tahun cuti,” katanya saat ditemui di acara Asus ZenCreator di kawasan Gunawarman, Jakarta Selatan, Rabu 15 Maret 2017.

Giring mengatakan kalau dirinya bukan mengejar gelar doang, Ia ingin mendapat pengalaman yang hanya bisa didapat jika kembali ke kampus sebagai mahasiswa. “Mungkin beberapa tahun lalu saya bilang bahwa pendidikan, gelar enggak pentinglah. Tapi ternyata begitu sampai sini, bukan masalah gelarnya, tapi pengalaman. Semakin kita belajar semakin tahu hal baru. Gelar mah, santailah,” ujar Giring.

Giring yang saat ini, rajin dan gemar memperhatikan perkembangan politik di Tanah Air. “Saya lagi hobi menganalisa politik, menganalisa strategi ini itu”, ucapnya. Lantas apa tanggapan teman-teman Nidji? Mungkikah Giring meninggalkan band yang telah membesarkan namanya? “Enggak lah, (kemungkinan vakum) enggak tau deh. Cuma mereka juga sudah mengerti kok,” katanya.

Meski belum yakin terhadap keputusannya nanti, Giring tetap mendorong para personil lain yakni Rama, Randy, Adri, Ariel dan Adro terus total dalam menggarap album terbaru Nidji. “Makanya ini adalah salah satu album terbaik yang kita buat, karena dari mulai aransemen, sound, pendewasaan, tema dan keberanian kita dalam mencoba hal-hal baru. Terus kita juga beruntung banget dapat berkolaborasi dengan musisi-musisi hebat seperti. Guruh Soekarno Putra, Tulus, Petra Sihombing, Ryan D’Masiv, dan Pongky,” ucap Giring

02 Giring Ganesha RizalGiring Ganesha (Foto: Rizal)

“Album ini cukup lama digarap, sampai lima tahun dan produsernya ada banyak seperti. drummer Barasuara, Markol, Opung Simanjuntak dan produsernya Tulus,”kata Giring. “Proses pembuatan album ini memang agak beda dari album yang sudah-sudah”.

Proses untuk pembuatan satu lagu bisa dikulik sampai satu hingga dua tahun dari mulai tambah layer merubah lirik. Terus ada satu lagu malah kita bikin dengan waktu singkat, karena request untuk soundtrack filmnya Raditya Dika. Jadi bisa didenger tuh mana yang kerjanya buru-buru sama yang kerjanya benar-benar detail. Total lagu dalam album ini ada sebelas lagu,” kata Giring.

Giring yang hadir dalam acara ZenCreator Notebook Produk Asus sempat berkometar mengenai kelebihan-kelebihan Zenbook. Ia mengatakan udeh punya dua Asus untuk menemaninya berkarya dan berinpirasi dalam bidang musik dan kreatif lainnya”, ujar Giring./Rizal

 

Wednesday, 15 March 2017 15:14

Beady Belle

Perpaduan Acid, Funk, Soul dan Disco

Tampil sederhana dengan kaos oblong warna hitam di Festival Java Jazz 2017 lalu, band yang berasal dari Oslo, Norwegia ini digawangi oleh Beate S. Lech (vokal dan composer), Marius Reksjø (Bass) dan Erik Holm (drum). Dibentuk tahun 1999, Beate yang bersama-sama dengan Marius belajar musik di kampus yang sama, University of Oslo. Kerap bermain musik dan tampil bersama. Beate dan Marius yang menjadi sepasang kekasih akhirnya menikah setelah beberapa tahun bermain musik bersama.

Dari awal kemunculannya musik yang mereka mainkan kerap memanfaatkan ketukan upbeat dan downbeat akar elektronik dengan sentuhan denting piano, susunan string yang manis serta harmonisasi vokal. Tak jarang mereka juga menonjolkan beberapa elemen-elemen dari genre berbeda yang mereka tampilkan. Mengusung jazz dan acid-jazz, band ini kerap memadukan elemen-elemen musik soul, funk dan disco, terkadang sedih, murung, menggoda atau bisa tiba-tiba riang.

Vokal yang dimiliki oleh Beate yang unik kerap membuat decak kagum para pendengar dan penikmat musiknya. Satu hal dalam penampilan, ada salah satu unsur yang selalu ada dan total ditampilkan, yaitu penjiwaannya dalam setiap membawakan lagu-lagunya. Perpaduan acoustic antara bass, drum dan sentuhan electronik ditambah vokal yang sensual menjadi lebih mudah dicerna baik harmoni dan liriknya. Terkadang sentuhan folk lebih terasa di dengar.

Tampil di Java Jazz kemarin NewsMusik melihat bahwa mereka menampilkan kualitas suara yang konsisten dan disiplin dalam penampilan serta pemilihan musiknya. Hal ini dilihat dari begitu lamanya mereka setting sound agar benar-benar prima pada saat mereka tampil. Dan memang benar, sewaktu tampil harmonisasi ketiganya dalam memainkan sebuah lagu terdengar sempurna, ditambah dengan penampilan yang penuh penjiwaan dan juga terkadang sang vokalis sampai meliuk-liukan badannya mengikuti irama.

02 Beady Belle Band YDhewBeady Belle Band (foto: YDhew)

Dalam perjalanannya, bernaung di label Jazzland Recording dari awal karier sudah menelurkan sebanyak 7 album, diantaranya: “Home”, “Cewbeagappic”, “Closer”, “Belvedere”, “At Welding Bridge”, “Cricklewood Broadway”, dan “Songs From a Decade” . Diantara album yang mereka keluarkan selalu mendapat respon bagus dari para kritikus musik jazz.

“Home” yang dirilis tahun 2001 dikeluarkan di seluruh Eropa dan juga di Jepang, Korea dan Kanada. Kemudian juga di Australia. Sejak saat itu Beady Belle diberikan penghargaan oleh Universal International sebagai band European Priority dan dari situ Beady Belle melakukan perjalanan ke seluruh dunia  untuk pertunjukan musik mereka.

Album “Cewbeagappic” dirilis tahun 2002, album ini muncul sebagai upaya untuk mendeskripsikan musik Beady Belle yang komplit tapi mudah, hitam dan putih, dengan sentuhan acoustic dan groovy dengan improvisasi yang lebih teratur.

Di album yang ke-3, “Closer” dirilis tahun 2005, Beate dan Marius semakin menyempurnakan kreatifitas mereka. Suara bass yang lebih tajam dan lebih jelas dan mencoba untuk membuat sebuah album yang lebih mudah lagi dipahami sehingga lebih dekat dengan penggemarnya. Selain dalam hal musik para anggota band juga  mengalami sejumlah perubahan, hal ini disebabkan karena Beate menjadi seorang ibu  yang sedikit banyak mempengaruhi album terbarunya. Perubahan besar lainnya adalah bertambahnya anggota band baru, dengan masuknya  Erik Holm sebagai drummer.


03 Beady Belle Band YDhewBeady Belle Band (foto: YDhew)

Karier internasionalnya berawal sejak menjadi band pembuka pada tour Jammie Cullum di tahun 2005 yang pada waktu itu mengadakan tur di Eropa. Pertemuan itu akhirnya membawa band Beady Belle muncul di beberapa konser di Jerman, Prancis, Norwegia, Swedia dan Denmark.

Ditengah menikmati dukungan dan dorongan dari beberapa musisi dan seniman internasional, pada tahun 2006 mereka berkolaborasi dengan India Arie dan berduet funky dengan single ‘Self-Fulfilling’ yang ada di album keempat Beady Belle “Belvedere”. Single pertamanya menampilkan Jammie Cullum dengan judul ‘ Intermission Music’

Di album ke-lima “At Welding Bridge” yang dirilis tahun 2010 bulan September, merupakan perpaduan atau penjelasan antara tiga album pertama, dan sisi lain pada album ke empat. Di album ini musik yang ditampilkan kebanyakan memasukan unsure musik country dengan melihat dari negara asalnya, dengan menambahkan gaya jazz murni terkini dengan getaran yang lebih smooth dan keren.

Lagu dari band ini cukup dikenal juga di Indonesia seperti ‘Marbels’, ‘Almost’, ‘Incompatible’, ‘Ghosts’, ‘Castle’, ‘Closer’ dan ‘One and Only’, seperti yang dibawakan di Java Jazz lalu. Dalam perjalanannya bermusik, band ini selalu menghasilkan musik yang berbeda, berevolusi dengan menambah elemen dan unsur baru, dan perlahan menciptakan sebuah karya musik yang semakin solid dan percaya diri namun tetap konsisten sampai sekarang./ YDhew

 

Wednesday, 15 March 2017 14:50

Aprofi

Upaya Mengatasi Pembajakan Film

Fenomena pembajakan dengan tujuan untuk mengejar popularitas saat ini sudan cukup meresahkan, apalagi muncul beberapa media sosial seperti bigolive, instagram story, snapchat, dan sejenisnya yang tanpa sengaja terkadang mengupdate film atau karya lainnya di media sosial tersebut.

Meski pembajakan bukan lagi menjadi hal baru di Indonesia, seiring dengan perkembangan zaman dan juga era digital yang semakin bertransformasi, terkadang sangat sulit untuk  memantau hal tersebut.

Pada tanggal 13 Maret 2017, Direktorat Penyidikan dan Penyelesaian sengketa telah melakukan rekomendasi penutupan situs sebanyak 324 situs baik lagu maupun film. Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) yang peduli terhadap hal tersebut, pada tahun ini sudah kali keempat melakukan pelaporan 176  situs website yang melanggar hak cipta kepada Kementrian Hukum dan Ham, untuk melakukan pemblokiran dan penutupan akses 85 situs illegal. APROVI juga memantau beberapa situs yang masih menggunakan hak cipta orang lain.

“Tujuannya adalah agar bisa memberikan kesempatan kepada situs-situs yang legal yang saat ini bermunculan untuk tumbuh secara bisnis, jelas Fauzan Zidni, Ketua Umum Aprofi  dalam jumpa pers di Kota Kasablanka, Selasa (14/3).

Aprovi bekerjasama dengan Motion Pictures Association (MPA), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Cinema XXI, CGV dan Cinemaxx membuat iklan anti pembajakan film sebagai bentuk sosialisasi pentingnya menghargai hak kekayaan intelektual yang akan diputar dibioskop-bioskop dan di sosial media.

02 Chico Jerricho YDhewChico Jerricho (foto: YDhew)

“Iklan ini akan menjadi program tahunan kami dengan menggunakan IP milik produser anggota Aprovi. Untuk pertama kali, kami menggunakan tema dari film Filosofi Kopi dengan bintang Chicco Jerikho, Bebeto dan Tyo Pakusadewo. Semoga inisiatif ini bisa memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembajakan.“ jelas Angga Sasongko sutradara muda yang juga sebagai salah satu pengurus.

"Konten yang disebar lewat jalur medsos mungkin penyebar tidak akan mengurangi komersil, tapi nilai film. Kami ingin memberikan informasi ke penonton itu juga salah," tambahnya lagi.

Populernya situs-situs penyedia konten bajakan perlu diwaspadai oleh pengguna internet. Hasil riset Massey University menujukan situs ilegal meraup keuntungan besar lewat pemasangan iklan beresiko tinggi, yaitu 84% dari total iklan. Perinciannya adalah 75% berasal dari iklan judi, 5,6% iklan aplikasi komputer berbahaya, 8,87% iklan penipuan, dan sisanya iklan pornografi.

Beberapa waktu lalu Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya menangkap Merlina Adiah yang menyiarkan film Me vs Mami milik MNC Pictures lewat akun bigolive-nya. Merlina dijerat dengan pasal 32 dan 48 UU ITE dan pasal 113 UU Hak Cipta dengan ancaman hukuman sembilan tahun.

Semoga saja upaya ini sudah benar-benar terlaksana bukan hanya sekedar angin lalu saja, mengingat lesunya pasar musik Indonesia juga dipengaruhi oleh pembajakan yang dari dahulu sampai sekarangpun masih bisa kita lihat.

"Dengan adanya pasal pelanggaran, semoga pembajak makin sadar dan bisa beralih mengapresiasi karya yang orisinil," tutup Chicco./ YDhew

 


Friday, 10 March 2017 17:27

Ungu

Kembalinya Pasha

Dua dekade sudah Ungu berkarya di dunia musik Indonesia, band yang digawangi Pasha, Enda, Rowman, Makki dan Onci ini sempat dilanda kabar miring akan kepergian Pasha. Seperti di ketahui, sejak Pasha memilih terjun ke bidang politik sebagai Wakil Walikota Palu, band ini sempat vakum selama satu tahun. Ketiadaan sang vokalis Pasha sangat memberi dampak bagi  band yang mengusung genre pop, pop rock dan slow rock walaupun mereka berdalih vakumnya sebagai istirahat mereka.

Menjawab semua pertanyaan yang diajukan padanya, Pasha menuturkan bahwa sebelumnya sudah menjadi kesepakatan mereka untuk istirahat dari hiruk pikuknya dunia musik tanah air. Sempat timbul masalah secara internal, namun pada akhirnya mereka sepakat untuk terus berkarya.

Sejak didirikan tahun 1996 band ini telah melahirkan 12 album yang lagu-lagunya pernah menjadi hits dan bisa diterima penikmat musik Indonesia, diantaranya seperti ‘Bayang Semu’, ‘Demi Waktu’, ‘Tercipta Untukmu’, ‘Kekasih Gelap’, ‘Hampa’, ‘Sejauh Mungkin’, ‘Andai Ku Tahu’, ‘Tanpa Hadirmu’ dan banyak lagi.

Sampai saat ini band ini masih mampu menunjukkan eksistensinya bermusik, hingga ke negara tetangga. Popularitas Ungu pun sudah sangat dikenal seperti di Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. Berbagai penghargaanpun  kerap diterima dan membawa mereka sebagai salah satu band papan atas tanah air.

Diakui oleh Pasha bahwa ada kekesalan yang melanda dirinya karena di cap sebagai orang yang terjun ke dunia politik hanya bermodalkan background-nya sebagai seorang penyanyi dan artis. Hal ini membuatnya  berfikir untuk berhenti bernyanyi, bahkan diminta sebagai bintang tamu di acara apapun tetap tidak mau bernyanyi.

02 Pasha YDhewPasha (foto: YDew)

Saat isi bubar mendera, band ini membuktikan bahwa mereka tetap bertahan dan tak berhenti berkarya. Lewat sebuah rilisan album yang berjudul “Mozaik” di tahun 2014, Enda sebagai gitaris sekaligus pencipta lagu sempat mengeluarkan single baru yang berjudul ‘Tanpa Hadirmu’, tanpa kehadiran Pasha sebagai vokalis

“Kalau mungkin  ada single yang kita keluarkan tanpa Pasha, itu menjaga agar band ini sebetulnya ada kerjaan aja. Kan nggak enak kalau kita nganggur-nganggur gitu. Tapi Intinya Ungu ya tetap berlima”, ungkap Enda.

Kembalinya Ungu dengan formasi lengkap ini, bertepatan dengan Hari Musik Nasional yang dirayakan tanggal 9 Maret kemarin, Ungu pertama kalinya membuka tahun 2017 ini dengan merilis single terbaru yang berjudul  ‘Setengah Gila’ dengan nuansa pop balada.

“Setelah hampir 1 tahun Ungu mencoba mecari sesuatu yang lain dari yang biasa kami lakukan. Akhirnya kami memutuskan untuk memulai kembali debut dari Ungu versi 2017 dengan new song dan new album”, tutur Pasha.

Single terbaru inipun terasa special dikarenakan video klipnya dilakukan di Palu, Pasha yang tidak pernah terpikir akan mengambil lokasi di Palu, sangat berterima kasih sekali lagu ini mengambil lokasi shooting di sana dan menjadi  suatu penghargaan bagi masyarakat kota Palu.

Terkait dengan hari Musik Nasional, dengan banyaknya aksi pembajakan yang terjadi saat ini Pasha berharap sebagai musisi memberi himbauan kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan musik dan karya musisi Indonesia. "Buat kita musisi ini sangat penting. Siapapun yang duduk di Kementrian terkait harus bertindak. Jangan sampai negara Indonesia tidak perhatian terhadap musik Indonesia sendiri. Musik Indonesia selayaknya bahasa juga harus dipertahankan dari gerusan budaya asing,” tutup Pasha./ YDhew

 


Wednesday, 08 March 2017 15:55

BFF 2017

Dukung Penuh Musisi Lokal

Blibli Fun Festival (BFF) yang akan dilangsungkan tanggal 8-9 April 2017 di Eko Park, Ancol, Jakarta bakal menghadirkan sebuah festival yang menggabungkan antara Art, Music dan Market. Selama dua hari berlangsung, ajang yang baru pertama kali diadakan Blibli.com ini akan diisi oleh talenta kreatif di bidang seni, beberapa musisi maupun group band baik lokal maupun musisi internasional. Selain itu ada juga beberapa merchant yang tergabung dalam Blibli.com.

Musisi tanah air yang akan tampil di festival BFF 2017 rencananya adalah: Maliq & D’Essentials, Naif, Kahitna, Rendy Pandugo, Sore Band, White Shoes & The Couples Company, DJ RBA, Danilla, DJ Osvaldo, Deaf People Project by Andin Komalla, Naura, Endah N Rhesa, Teza Sumendra, dan Dipha Barus.

Kemeriahan festival musik ini bukan hanya menampilkan musisi lokal, juga bakal diisi artis internasional seperti Panama, Blonde, Goldroom, dan RAC. Blibli.com yang mempunyai komitmen salah satunya adalah selalu mendukung brand lokal, bukan hanya produk dalam negeri tetapi juga men-support musisi dalam hal penjualan album.

“Keselarasan pemikiran dalam hal penjualan, data yang sering kita anggap tabu kita coba disini dan ter-report dengan. Kita juga tahu siapa saja yang sudah beli album kita. Dari situ kita usul untuk diadakan festival karena Maliq sudah menjual beberapa ribu album dengan menggunakan fasilitas e-commerce ini”, jelas Angga vokalis dari Maliq D’Essentials.

02 Teza Sumendra YDhewTeza  Sumendra (foto: YDhew)

‘Festival ini bisa menjadi pintu dalam penjualan CD yang sekarang agak sulit ditemui dimanapun. Ini akan cukup membantu penyanyi-penyanyi untuk survive dengan penjualan CD selain penghasilan dari off-air maupun on-air saja. Tujuan saya ingin berpartisipasi untuk menjual CD seperti yang Maliq lakukan juga’, jelas Teza Mahendra.

BFF 2017 merupakan kesempatan masyarakat melihat langsung produk berkualitas merchant Blibli.com sekaligus pengalaman berbelanja, dipadu kemeriahan festival musik dan seni. Melalui festival ini Blibli.com berharap bisa mendorong potensi brand lokal untuk memperluas pasar melalui e-commerce sekaligus memberikan sebuah pengalaman festival yang menyenangkan, baik bersama teman, sahabat, maupun keluarga.

Penjualan pre-sale tiket BFF berlangsung antara 1-16 Maret 2017 dengan harga dan pilihan tiket yaitu untuk dewasa Rp. 125.000 (1 hari) dan Rp. 199.000 (2 hari). Sementara untuk tiket anak dijual langsung dapat digunakan untuk 2 hari yaitu Rp. 79.000. Setelah pre-sale berlaku harga tiket Rp. 325.000 dan Rp. 449.000. Khusus untuk pelajar dan mahasiswa diberikan discount Rp. 100.000/hari. Untukpenjualantiketdan update informasiseputar BFF 2017 bisadenganmengakses situs https://bff.blibli.com. / YDhew

 

Friday, 10 March 2017 15:50

Musik Bagus Day

Diskusi Tentang Hoegeng Iman Santoso

Bertepatan dengan Hari Musik Nasional, acara bulanan Musik Bagus Day kembali mengangkat tema menarik dalam workshop Kata Pahlawan. Dilaksanakan di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, tema yang diangkat adalah sejarah soal Hoegeng Iman Santoso. Kali ini merupakan acara yang keempat kali, setelah sebelumnya sempat mengelar Kata Pahlawan tentang Soekarno, Ismail Marzuki, dan Suyoso Karsono.

Kata Pahlawan adalah upaya kembali menggali narasi dari para perintis Republik Indonesia dan menginterprestasi dalam bentuk kreatifitas masa kini. Kali ini Hoegeng Iman Santoso atau yang lebih dikenal dengan Pak Hoegeng menjadi tokoh sentral dari tema Kata Pahlawan. Hoegeng adalah Kapolri legendaris yang terkenal tegas dan jujur, multitalenta, pecinta seni sejati. Beliau adalah penggiat musik Hawaiian.

Selain menampilkan para musisi Hawaiian Jakarta, acara ini juga diisi dengan bincang-bincang dengan para narasumber yang sangat dekat dengan kehidupan Pak Hoegeng, seperti: Ibu Merry Hoegeng, Aditya S. Hoegeng, Henny Purwonegoro, Marini Sumarmo, Bob Tutupoly dan sahabat-sahabat yang lainnya.

“Beliau adalah pelopor berkembangnya musik Hawaiian di Indonesia. Dia mantan Kapolri di era Soekarno dan Soeharto. Beliau dikenal media internasional sebagai The Singin’ Jenderal. Menjadi sebuah hal yang tepat di Hari Musik Nasional, pak Hoegeng dijadikan tokoh sentral diskusi sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa beliau dalam membangun seni musik di Indonesia,” kata Glenn Fredly sebagai penggagas Musik Bagus Day yang bekerja sama dengan Demokreatif, Irama Nusantara, dan Yamaha Music Pacific Place.

02 Musik Bagus Day RizalMusik Bagus Day (foto: Rizal)

Beliau juga bercita-cita menjadikan musik Indonesia sebagai tuan rumah di negerinya sendiri, salah satunya adalah turut mendirikan Yayasan Musik Indonesia. Di mana banyak bibit-bibit penyanyi berprestasi Indonesia lahir dari sini, sering maraknya berbagai festival yang rutin diadakan di era 80-an.

Menurut Glenn lagi, bahasan Pak Hoegeng sangat penting untuk menambah wawasan soal musik. Terutama soal musik Hawaiian yang juga berkembang pesat di Indonesia di era tersebut. “Hawaiian ini bisa dibilang sangat dekat dengan orang-orang di wilayah Timur Indonesia. Musik ini disebut Hoegeng sebagai irama Lautan Teduh. Secara geografis dan kultural sangat dekat dengan Indonesia bagian timur terutama Maluku, malah jadi budaya di sana./ Rizal

 

Friday, 10 March 2017 15:40

Trinity: The Nekad Traveler

Cinta Negeri Lewat Traveling

Ingin melihat film dengan hamparan keindahan alam negeri ini, tanpa konflik yang mendebarkan dan dibentang dengan cerita aman? Segera saja saksikan film Trinity: The Nekad Traveler yang akan segera tayang di bioskop tanah air pada 16 Maret 2017 mendatang. Sebuah film yang diangkat dari pengalaman nyata Perucha Hutagaol yang ditulisnya dalam buku perjalanan dan menjadi bestseller.

Film besutan Rizal Mantovani, yang merupakan karya rumah produksi Tujuh Bintang Sinema, dibantu oleh penulis skenario Rahabi Mandra dan Piu Syarif. Mereka mencoba mengangkat awal petualangan si penggemar jalan-jalan tersebut dan kegalauan hatinya untuk memuaskan hasratnya agar bisa piknik kemanapun.

Sedari awal, penonton sudah digiring lewat tutur seorang Trinity (Maudy Ayunda) yang tengah menikmati suasana liburan diatas hamparan laut dengan pemandangan menawan. Trinity menceritakan bagaimana dengan menjadi seorang traveler, ia dapat memuaskan hatinya dan menjadi mata telinga bagi pembaca blog-nya ketika mengunjungi sebuah destinasi yang diulasnya.

Lalu seperti yang telah diduga... ceritapun di flashback ke tahun-tahun awal seorang Trinity menjadi traveler sejati. Awalnya ia hanya seorang wanita kantoran biasa yang hobi traveling. Bersama dengan kawan-kawannya, ia sering berpetualang ke berbagai lokasi, lalu menuturkan pengalamannya dalam sebuah blog. Tapi, akibat hobi tersebut ia sering mengalami kesulitan keuangan, kehabisan jatah cuti dan bermasalah dengan atasannya (Ayu Dewi).

02 Trinity, The Nekad Traveler IstimewaTrinity: The Nekad Traveler (Istimewa)

Lain lagi permasalahan dirumah dimana sang ayah (Farhan) dan ibunya (Cut Mini) terus menerus menanyakan kapan dirinya akan menikah. Sementara niat untuk menikah tengah jauh dari targetnya, karena otaknya masih disibukkan dengan bucket list, yang berisikan daftar hal-hal yang harus ia lakukan sebelum tua. Walau kebanyakan sih isinya (lagi-lagi) tentang tempat target jalan-jalan.

Mungkin, hal semacam ini sering terjadi di kehidupan nyata pada diri light traveler yang kerap menggunakan waktu luangnya untuk mendatangi destinasi wisata di penjuru negeri ini. Bekerja di perusahaan sebagai sebuah cara untuk mengumpulkan uang agar bisa jalan-jalan diakhir pekan atau tanggal yang tepat dengan waktu yang terbatas. Nah, disini keunggulan seorang Trinity ditampilkan, dengan bagaimana ia mendapatkan cara untuk liburan dengan biaya minim, memotivasi diri untuk mencapai target kantor agar mendapatkan izin ataupun tambahan waktu cuti.

Keindahan alam dan beberapa destinasi ditampilkan dengan apik sekali oleh sang sutradara. Mata penonton di manja lewat visualisasi dari drone, sehingga menghasilkan keindahan yang maksimal. Bohong saja kalau hati para penonton tidak terpesona. Seperti bagaimana Rizal mampu membungkus kota Lampung dengan begitu indahnya lewat tempat-tempat menarik dan pemandangan Anak Gunung Krakatau yang spektakuler. Juga tempat-tempat lainnya di Makassar, Nusa Tenggara Timur, Filipina dan Maldives.

Begitu juga dengan sedikit bumbu kisah cintanya dengan Paul (Hamish Daud) seorang fotografer tampan yang juga hobi traveling. Walaupun sepertinya hanya sebagai pelengkap, namun sedikit banyak cukuplah untuk meyekap perasaan romantis sambil menikmati keindahan pantai Maldives dengan resort mewahnya.

Pada dasarnya, film Trinity: The Nekad Traveler tidak begitu jauh berbeda dengan apa yang tersaji dari acuannya. Namun saking fun-nya, sehingga melupakan detail bagaimana menjadi seorang backpacker atau light traveler dadakan. Salah satu contoh kecil, NewsMusik sendiri cukup tahu, bagaimana perjuangan perjalanan yang harus dilakukan mencapai anak gunung Krakatau. Minimnya transportasi air kesana menyebabkan tingginya harga sebuah perahu wisata yang tak mungkin ditanggung sendiri oleh seorang traveler ber-budget terbatas. Apalagi untuk mencapai destinasi di timur Indonesia yang tak kalah menguras isi dompet.


03 Trinity, The Nekad Traveler IstimewaTrinity: The Nekad Traveler (Istimewa)

Yaaa sudahlah, secara keseluruhan semua patut diapresiasi karena film ini sendiri akhirnya menjadi semacam etalase cantik pariwisata negeri ini untuk menarik wisatawan. Wajar saja, jika Kementrian Pariwisata dan Pemda Lampung merasa wajib untuk men-support film ini. Para pemain juga cukup pas membawakan karakter masing-masing.

Juga suara indah Maudy Ayunda sang pemeran utama yang dapat kita nikmati dalam lantunan lagu lawas milik Dee Lestari ‘Satu Bintang Di Langit Kelam’ yang menjadi soundtrack film ini. Pesan yang disampaikan dalam film ini juga cukup jelas, bagaimanapun juga Indonesia merupakan surga wisata dunia. Negara yang kaya matahari, pemandangan alam dan kuliner yang tidak terbandingkan, maka kita wajib menjejakkan kaki disetiap jengkal tanah di Nusantara ini sehingga memunculkan rasa cinta dan keinginan untuk menjaganya.. Ehh, satu lagi ransel kakak Trinity (Maudy Ayunda) pakai bagus dehhh... / Ibonk

 

Tuesday, 07 March 2017 17:15

Iwan Fals

Lupa Lirik Lagu Sendiri

Penyanyi legendaris Iwan Fals mengaku sering menggunakan fitur di google untuk membantunya mencari fitur tentang musik maupun untuk dirinya sendiri. Iwan yang bernama lengkap Virgiawan Listanto ini menjadi artis nomor satu yang sering dicari di Google Indonesia oleh penikmat musik megalahkan Justin Bieber yang berada diurutan kedua.

Iwan yang merupakan seorang penyanyi beraliran Balada, Pop, Rock, dan Country, sejak hadir di industri musik Indonesia mempunyai penggemar dari semua usia sampai saat ini. Lagu yang diciptakannya terkadang  merupakan kritik atas perilaku sekelompok orang seperti judul lagu ‘Wakil Rakyat’, ‘Tante Lisa’ maupun tentang kehidupan itu sendiri.

Lagu yang diciptakannya juga sesuai dengan kondisi dan keadaan yang terjadi baik di luar ataupun di Indonesia, sebut saja seperti judul lagu ’Ethiopia’, ‘Bento’ dan ‘Bongkar’ yang makin melejitkan namanya. Terkadang juga tema lagu yang diciptakannya merupakan empati bagi kelompok marginal contohnya lagu ‘Siang Seberang Istana’ dan ‘Lonteku’, namun Iwan juga tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya sendiri tetapi juga ciptaan dari sejumlah musisi lainnya.

Sejak meninggalnya sang anak Galang Rambu Anarki, warna dan gaya bermusik Iwan Fals terasa berbeda. Dia tidak segarang dan tidak seliar dahulu. Lirik-lirik lagunya lebih mendalam dan religius. Iwan Fals juga sempat membawakan lagu-lagu bertema cinta baik karangannya sendiri maupun dari orang lain. Dari penampilanpun berubah lebih bersahaja dengan rambut yang tersisir rapi.

02 Iwan Fals & Anji YDhew.jpgIwan Fals & Anji (foto: YDhew)

Pencapaiannya saat ini bisa dilihat dari seringnya orang mencari namanya di google, bahkan sampai saat ini penyanyi kelahiran 3 September 1961 ini menjadi sosok seorang penyanyi yang disegani di tanah air. Selain menciptakan banyak lagu, Iwan juga mengaku sering menggunakan fitur pencarian di google untuk menciptakan lirik dari lagu-lagunya, bahkan lucunya terkadang dia sering menemukan ejaan namanya yang salah. “Kadang juga suka cari lagu sendiri, maklum suka lupa lirik lagunya”, ujar Iwan sambil tertawa sewaktu di temui di peluncuran fitur terbaru Google di Jakarta.

Iwan  yang saat ini tengah melakukan tur konser di 9 kota dan baru-baru ini hadir di Festival Jazz terbesar di Indonesia, menyambut baik peluncuran fitur terbaru ini. "Saya tahu pasti kalau penikmat musik di Indonesia kerap memanfaatkan Google untuk mencari kabar terbaru seputar artis favorit mereka. Sekarang kita sebagai musisi bisa langsung memberikan informasi yang mereka inginkan di halaman pertama Google, jadi lebih cepat dan praktis buat kita semua. “Misalnya, saya akan memberikan jadwal konser saya yang berikutnya lewat post di google ini”, tutup Iwan./ YDhew

Wednesday, 08 March 2017 10:10

Mezzoforte

Gaung Abadi Pengusung Funk Fusion

Jazz yang dalam perkembangannya menjadi suatu bentuk seni musik, baik dalam komposisi tertentu maupun improvisasi, terkadang juga merefleksikan melodi-melodi secara spontan. Musik jazz juga adalah musik yang bisa dirasakan dalam hati. Musisi yang memainkan suatu melodi terkadang menunjukkan ketidakjelasan ekspresi seorang musisi itu sendiri. Sehingga bagi penikmat musik jazz tidak dapat mendeskripsikan kenapa menyukai jenis musik ini.

Musik jazz banyak menggunakan instrumen gitar, trombon, piano, terompet, dan saksofon dan juga merupakan jenis musik yang tumbuh dari penggabungan beberapa genre musik seperti blues, musik Eropa dan beberapa penggabungan jenis musik lainnya.

Pengaruh dan perkembangan musik blues tidak dapat ditinggalkan saat membahas musik jazz di tahun-tahun awal perkembangannya. Ekspresi yang memancar saat memainkan musik blues sangat sesuai dengan gaya musik jazz. Kemampuan untuk memainkan musik blues menjadi standar bagi semua musisi jazz, terutama untuk digunakan dalam berimprovisasi dan ber-jam session.

Dalam perjalanannya  musik jazz juga digemari oleh para rocker yang sebelumnya bermain dalam musik blues. Di era tahun 70-an muncul beberapa band-band yang beraliran funk fussion, yang banyak menghilangkan alat-alat musik akustik, walau terkadang muncul dengan tetap memainkan alat musik akustik. Penggunaan alat electric/ electronic seperti gitar electric, bass electric, dan synthesizer sering menggantikan alat musik tradisional jazz seperti, saxophone, trumpet dan bass betot.

Fusion merupakan cabang dari jazz yang didalamnya sudah diinprovisasi dengan genre musik rock dan funk. Mengacu pada namanya, fusion mengkombinasikan kebiasan-kebiasaan & energi dari musik rock dengan harmonisasi yang sempurna dan kebebasan improvisasi Jazz. Bagi para kritisi musik ataupun penggemar jazz, sejak kemunculannya hingga saat ini terkadang maih menjadi perdebatan diantara mereka.

02 Mezzoforte YDhewMezzoforte (foto: YDhew)

Sebagian besar dari mereka kurang bisa menerima permainan “keras” dari jenis jazz atau funk fusion. Nasib dari musisi ataupun group yang memainkan genre tersebut menjadi tidak menentu, karena sebagian dari kritikus dan penggemar musik jazz dengan tegas menolak kehadiran mereka.

Salah satu group band yang masih bertahan dan memainkan jazz fusion adalah Mezzoforte. Group band asal kepulauan di ujung utara bumi ini (Islandia) ini masih bertahan di tengah group band lainnya yang timbul tenggelam seiring dengan kesuksesan albumnya. Band ini  mengusung musik instrumental tanpa adanya vokalis diantara mereka. Beberapa hari lalu NewsMusik berkesempatan untuk menonton aksi mereka di acara Java Jazz Festival 2017, di Jakarta.

Tak pelak lagi, tahun ini merupakan kali ke enam mereka tampil di ajang festival tersebut.  Kiprah mereka pada musik jazz dimulai sejak 1977. Sejak awal mereka berkarya, sampai sekarang paling tidak sudah merilis 15 album dan tampil di berbagai panggung jazz di dunia, termasuk Indonesia.

Band yang digawangi dengan formasi aslinya, Eythor Gunnarsson (keyboards), Fridrik Karlsson (gitar), Johann Asmundsson (bass) dan Gulli Briem (drums) dari hits single-nya ‘Garden Party’ mulai diperhitungkan dunia sebagai salah satu group musik yang penting dengan mengusung genre jazz fusion. Band ini didirikan di Reykjavik sejak berdirinya belum kehilangan gaungnya sampai saat ini.

Mulai tahun 2005 formasi yang awalnya hanya 4 orang bertambah dengan masuknya Brunno Muller (gitar), Jones Wall (saksofon), Thomas Dyani (perkusi), Sebastian Studnitzky (trumpet), Oscar Gudjonson (saksofon), Staffan-William-Olsson (gitar), Kare Kolve (saksofon).

Alur melodi yang dimainkan oleh mereka membawa warna yang berbeda. Harmonisasi dari masing-masing alat musik sedikit lebih abstrak dan bernuansa dance ambient music. Unsur improvisasi jazz-nya lebih menonjol dari pada aransemen yang manis dan mudah diraba. Tidak mudah memainkan beberapa alat musik berbeda menjadi suatu melodi yang harmonis. Musik yang dihasilkan merekapun selalu mengikuti perkembangan zaman sehingga unsur improvisasi jazznya lebih menonjol dengan aransemen yang manis dan mudah diraba.

03 Mezzoforte YDhewMezzoforte (foto: YDhew)

Tampil beberapa kalinya di ajang JJF kemarin, band ini sukses membawa penonton yang hadir ikut bergoyang mengikuti irama lagu, sesekali terdengar teriakan dari penonton karena permainan mereka.  Mezzoforte yang mempunyai anggota dengan rentang usia beragam, dari muda hingga paruh baya, kali ini membawakan deretan lagu mulai dari ‘Mezzoforte’, ‘High Season’, ‘Day Break’, ‘Rollercoaster’, ‘Suprise Surprise’, ‘Garden Party’ hingga  ‘Blast from the Past’ yang cukup dikenal penonton saat itu.

Duet terompet dan saksofon dari personilnya ditambah petikan bass dari Johann Asmundsson yang memukau dengan tempo middle up-beat sanggup membuat penonton terpukau kala itu. Bukan waktu yang sedikit bagi Mezzoforte untuk menjaga keutuhan band fusion ini.

Bagaimanapun mereka harus bisa mensejajarkan diri dengan kemunculan kelompok-kelompok band baru dan mereka akan terus berusaha tetap berkembang dan menyesuaikan karya dengan perkembangan zaman. Diakui juga oleh Eyþór Gunnarsson bahwa sebagian penggemar terbesarnya berasal dari Indonesia, dan band yang sudah berusia 40 tahun ini akan tetap berusaha menyapa penggemarnya yang berada di Indonesia.

Luar biasa.../ YDhew

Page 9 of 112