Sebuah Pentas Kecil

Di Panggung Minimalis. Dengan Penonton Terbatas

Sebuah pengalaman baru. Bagaimana “menaklukkan” sebuah panggung yang terbilang “mini”, dan tentu saja sangat terbatas daya muatnya. Dengan karakteristik gedung, yang dilengkapi akustik mumpuni. Tapi ini acara launching, mana lagi launching album…progressive-rock lho! Bayangannya hanya satu, gimana ngakalin supaya ga bising dan memekakkan telinga penonton?

Soalnya gini, menggelar sebuah tontonan itu harus kudu diperhatikan banget beberapa hal mendasar. Salah satu yang terpenting, bagaimana yang main asyik dan yang nonton berasa nikmat. Pulang puas, hatipun gembira, lupa duka dan lara, sembuh dari stress de el el… Panjangnya…

Panggung terbatas, akustik “kelewat bagus”. Selama ini, gedung berkapasitas 150 penonton itu terbiasa untuk penampilan resital, format akustik, monolog, tarian, pembacaan puisi. Format band, apalagi berkonotasi rock, rasanya belum pernah.

Seru dong. Apalagi ini juga pengalaman menarik bagi sang show director, yang bersedia menyingsingkan lengan baju. Menangani berbagai musik sudah biasa. Baik konser solo, konser beberapa performers, termasuk festival. Indoor, outdoor, acara pop atawa hura-hura gitulah ataupun apresiatif. Nah kali ini ditambah acara satu ini.

Sejatinya seorang show director harusnya memahami akan bentuk acara yang harus di-directnya. Kebetulan, show director ini, seringkali “kerja rangkap”. Ya show director, ya juga art director. Merancang semua sedari awal, konsep pertunjukkan, mengatur gimana lighting bisa berfungsi dengan maksimal, set-up panggung yang bagus dan enak dilihat. Termasuk, tentu saja, soal sound yang memadai.

Mengoprek konsep, bagaimana membentuk sebuah pementasan musik. Selengkapnya, seutuhnya. Dari awal sampai akhir. Dan harus bisa menyenangkan penonton yang ada. Sekaligus juga menyamankan musisi dan penyanyi yang akan tampil dalam acara tersebut.

Susah-susah gampang. Yang dibutuhkan memang, mengerti dan memahami konsep dasar acara saja. Ok, ini launching ya. Dan oh musiknya progressive rock toh? Penontonnya siapa ya? Eh iya, ada berapa band, peralatan mereka gimana? Maunya gimana acaranya?

INDONESIA MAHARDDHIKA Ibonk 04
INDONESIA MAHARDDHIKA | foto Ibonk

Dasarnya memang launching. Ada performers sebanyak 4 band. Diselingi dengan presentasi dan talk-show. Sebenarnya awalnya, diinginkan ada selipan juga press-conference. Tapi show director melihat, akan ada banyak penonton umum. Belum tentu penonton umum, dapat nyaman dan menikmati tanya jawab wartawan dan artis atau pengisi acara.

Kalau talk-show menjadi selingan, rasanya penonton bisa menikmati. Tinggal bagaimana “eksekusi” dilakukan oleh moderator atau host dari talk-show tersebut. Sehingga acara bincang-bincang itu alurnya menyenangkan dan nikmat untuk didengar dan disaksikan penonton.

Tibalah di Hari-H. Sedari pagi hari, awak produksi dari rental sound dan backlines sudah melakukan loading. Bekejaran dengan waktu. Dilihat waktu sebenarnya terbatas. Apalagi, nah ini yang seru, bersamaan dengan pembacaan pengumuman keputusan Mahkamah Konstitusi atas Pengajuan perkara kecurangan pada Pemilihan Presiden 2014 dari mantan capres dan cawapres yang kurang beruntung itu.

Kemarin itu kan, kuat dugaan akan adanya demonstrasi besar-besaran yang sangat berpotensi rusuh, datang dari simpatisan dan pendukung pihak. Tentunya dari mantan pasangan capres dan cawapres yang kurang beruntung itu. Jadi, memang diarahkan untuk sudah loading pagi hari, agar lebih aman.

Loading dan penataan panggung segera dilakukan. Show director langsung memimpin didampingi seorang stage manager. Awak kru rental peralatan yang disewa itu bekerja cukup sigap. Sebelum persis tengah hari, semua rampung. Dan sukses menyiasati keterbatasan areal panggung.

INDONESIA MAHARDDHIKA Ibonk 05
INDONESIA MAHARDDHIKA | foto Ibonk

Lalu selepas jam makan siang, segera dilakukan checklines. Check lines hanyalah mengatur channel-channel pada main-mixer atas peralatan yang dipakai. Dalam hal ini adalah untuk semua alat, lewat amplifiers. Kemudian miking untuk drums dan alat lain, yang digunakan. Tentu saja termasuk mike untuk vokal.

Kemudian setelah penempatan selesai, diaturlah frekwensi suara, kemudian mencoba balancing minimal. Tentu dengan semua personil, termasuk vocal mencoba bermain bersama. Begitu didapat, channel “dikunci” per-band.

Dalam hal ini, peran stage manager menjadi penting, pada acara kemarin itu. Apalagi kapasitasnya memang sang stage manager tersebut, sudah berpengalaman dan mengenal betul secara tehnis, mengenai sound untuk sebuah acara musik. Sehingga stage manager itu langsung bertindak sebagai seorang co-engineer.

Ada 4 band yang tampil. Dilakukan urutan check-line yang terbalik dari urutan performers yang akan tampil. Jadi band yang akan tampil pertama, mendapat giliran checkline terakhir. Sehingga memudahkan sound-engineer menjalankan acara, dan “memainkan” peran sound-nya.

Yang mendapat urutan pertama, The Miracle. Combo band ini dengan cukup cepat melakukan checkline. Kibordisnya juga lantas memahami keadaan gedung dan memutuskan, ia tak terlalu perlu menggunakan amplifier. Gitarisnyapun memahami bahwa sound gitarnya tak boleh berlebihan.

Kemudian giliran Imanissimo. Ini grup yang paling kompleks peralatannya. Karena selain alat konvensional barat seperti kibor (membawa sendiri synthesizer selalin laptop), bass dan gitar serta drums. Mereka mengajak seorang pemain kendang, merangkap memainkan bedug yang hanya dimainkan di pembuka lagu. Ditambah 2 vokalis.

Butuh waktu agak panjang untuk menangani band ini. Secara keseluruhan seluruh personil grup ini dapat bekerjasama dengan baik. Termasuk kedua vokalisnya, Kadri Mohamad dan Andy /rif. Namun siang itu, Andy /rif belum tiba di tempat acara.

Hanya perlu sedikit waktu, memberikan pengertian pada pemain kendangnya yang awalnya menegaskan ia harus memakai beberapa miking. Ditambah condenser-mike Ditambah juga mike untuk bedug-nya. Show director, berkoordinasi dengan stage manager dan juga sound engineer mencoba “memahami” keinginan pemain kendang. Dan juga melihat dan mendengar permainannya.

Begitu didengar dan diketahui, maka diputuskan dengan “diam-diam”, bahwa semua mike untuk perkusi etnik tersebut di mute. Alias ga ada yang dihidupkan. Karena dilihat, frekwensi untuk kendang dan bedug terlalu tinggi dan keras, kalau dengan mike pasti semua alat musik hingga vokal akan tenggelam dan “kalah”.

INDONESIA MAHARDDHIKA Ibonk 01
INDONESIA MAHARDDHIKA | foto Ibonk

Hal begini, juga menjadi tanggung jawab dari soerang show director, bekerjasama dengan stage manager. Karena seperti sudah disampaikan di atas, kenikmatan penonton juga harus diperhatikan. Kalau ada sound ataupun suara yang berpotensi mengganggu kenyamanan, harus dapat diminimalisir, diambil jalan keluarnya.

Seringkali dalam hal beginian, musisi ataupun penyanyi tak terlalu memahami. Contoh kasus memang kebetulan didapat dari penampilan kelompok musik ini. Keinginan grup band untuk tampil “berbeda” dan unik. Memang pastilah ide menarik. Ada kendang Sunda, bedug dan angklung! Tapi bagaimana bentuk dan luas panggung, apa mungkin “menerima” seluruh peralatan itu?

Lantas, dengan karakteristik akustik ruangan yang spesifik itu, bagaimana mengolah semua alat yang anda dapat berfungsi “maksimal”. Dalam kata lain, bagaimana alat-alat itu dapat dimainkan dengan efektif dan efisien. Mana sebenarnya, yang harus ditonjolkan? Masak vokal, dengan sudah mengundang 2 orang bintang tamu itu, “terpaksa” dikalahkan oleh bunyian kendang misalnya?

Hal seperti itulah yang seringkali menjadi pengalaman seru, dalam menata selengkapnya sebuah pentas musik. Dan syukurlah, semua dapat diatasi dengan sebaik-baiknya. Walau ya begitulah, ada tindakan yang terpaksa dilakukan diam-diam. Bukan sabotase sebenarnya, karena diyakini suara kendang dan bedug tanpa mike, akan tetap keras terdengar.

Masuk ke sore hari, seluruh kegiatan checklines telah selesai. Semua pengisi acara diminta menyiapkan diri. Kelompok Imanissimo secara khusus memakai kostum dan menata wajah mereka. Asyik juga melihat ide mereka untuk penampilan tersebut.

Checklines tersebut memang penting, karena mengingat pihak pengelola hall tersebut meminta sound tidak terlalu keras. Sehingga sejak awal, ke-4 band performers sudah diwanta-wanti, usahakan semaksimal mungkin bermain tidak terlalu keras. Salah satunya, upayakan low-tones pada gitar dan bass, dan juga drums.

Yang tak kalah seru, direncanakan jam 19.30 acara akan berlangsung. Tapi di sekitar jam 18.00 ada kabar bahwa pihak pengelola mall, dimana hall pertunjukan itu berada, memutuskan menutup pintu masuk ke seluruh areal mall. Bahkan berniat mengevakuasi semua pengunjung yang ada di dalam mall! Wah!

INDONESIA MAHARDDHIKA Ibonk 09
INDONESIA MAHARDDHIKA | foto Ibonk

Hal itu dikarenakan, ada bentrokan antara para pendukung atau simpatisan pendemo dengan pihak aparat keamanan, di areal yang hanya sekitar 2 kilometer dari mall. Maka pihak penyelenggara langsung melakukan negosiasi ketat. Hasilnya, mall dibuka kembali dan batal dilakukan evaluasi. Alhamdulillah.

Acarapun bisa dimulai sesuai target. Sementara itu, show director punya tugas lain, menjaga agar acara dapat selesai sebelum jam 21.30. Acara itu diisi pula oleh “permainan” minimal dari multimedia. Berupa penayangan slide-show, untuk mengisi giant-screen yang tersedia 3 buah di sisi belakang dan kiri dan kanan belakang panggung.

Ketika acara berlangsung, show director menjaga intensitas dan konsentrasi dari sound engineer, lighting operator serta operator multimedia. Selain itu, terus berkomunikasi dengan stage manager. Berpegang pada rundown yang sudah disusun. Jadi seluruhnya harus dapat mematuhi rundown yang telah disusun.

Acara syukurlah berlangsung bisa dibilang lancar, tanpa kendala. Host adalah jurnalis senior, Bens Leo. Yang antara lain mengundang naik untuk bincang-bincang di atas panggung, Lilo “KLa” Romulo, Roni Harahap (penggubah lagu Indonesia Maharddhika, bersama Guruh Soekarnoputra), Yeni Fatmawati, Hendronoto Soesabdo dan Kadri Mohamad.

Kemudian juga Yovie Widianto, bergantian dengan Once Mekel. Sebelumnya, diajak naik panggung juga Fadhil Indra, drummer Atmosfera dan kibordis Discus serta Hayunaji, drummer dari Discus dan The Kadri Jimmo. Sebelumnya sempat tampil, Ayip Budiman, art-designer sampul album menjelaskan visi dan misi atas kreasi disainnya.

Acara selesai sedikit di atas jam 21.30. Dan acara tersebut adalah launching dari album kompilasi bertemakan kebangsaan dan cinta tanah air, Indonesia Maharddhika. Dimana album tersebut diproduksi oleh tiga sekawan dari YenNinotz-Journey.

Dimana album tersebut menampilkan 10 karya lagu yang datang dari 9 grup band. Grup band yang memainkan karya mereka adalah Cockpit, The Kadri Jimmo, The Miracle, Atmosfera, Van Java, Discus, Vantasma, Imanissimo dan In Memoriam.

Serta lagu “andalan”, yang dijadikan judul album ini, ‘Indonesia Maharddhika’. Dimana musiknya dikerjakan berupa re-aransemen atau “menafsirkan ulang” lagu karya Guruh dan Roni Harahap yang dimainkan Guruh Gypsi di album mereka yang dirilis pada 1976. Lagu itu melibatkan banyak nama, antara lain Keenan Nasution, Marcell, Kompiang Raka, Indra Lesmana, Ubiet hingga Rick Wakeman. Selain banyak nama lainnya.

Sejatinya, acara launching ini relatif kecil. Tapi unik, tentu saja karena tema albumnya itu sendiri. Penanganan acara dapat berlangsung lancar, tak lain karena kerjasama seluruh pihak yang terlibat. Seluruh pihak yang kerja bareng untuk menjalankan acara ini, dari awal hingga selesai dengan sebaik-baiknya.

Sound dan backlines ditangani oleh Aryo Mantaram. Stage manager dipegang oleh Riva Pratama. Terima kasih untuk seluruh pihak yang terlibat. Salam Merdeka! / dionM

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found