Fans dan Idola

Kesetiaan dan Apresiasi

Dan, apa jadinya grup idola tanpa fans atawa penggilanya? Lalu, sebaiknya, bagaimanakah si artis atau grup idola, memperlakukan para penggemarnya? Ini ada contoh kecil, dimana Singo Tj, kontributor NM di Yogyakarta secara “kebetulan” melihat dan merasakan Sheila on 7 dan para fansnya.

Tersebutlah,Sheila Gank alias SG. Mereka ini sudah mengikuti sejak awal So7 berkarir tapi juga termasuk para fans yang baru tumbuh.Band yang sudah terbilang senior untuk ukuran masa karir ini, tentu saja melihat waktu sekarang ini, pertunjukannya selalu dipenuhi penonton khususnya mereka yang menamakan diri SG.

Jika menghitung usia para fans yang mengikuti awal karir mereka pada tahun 1996 dan kemudian pada tahun 1999 berhasil menembus dunia industri, kebanyakan usia mereka sudah di atas 30 tahun. Tentu saja, dari sekian juga SG, ada yang tetap bertahan mengikuti mereka, ada pula yang sekedar menjadi penikmat musiknya tanpa ngotot mendatangi pertunjukannya karena alasan keluarga dan lain-lain.

Di antara sekian SG yang selalu hadir di tiap pertunjukan So7, mereka yang berusia belasan, berstatus siswa dan mahasiswa pasti menjadi angka terbanyak. Bagi band yang sudah berusia hampir dua dekade, tentu menarik untuk diketahui bagaimana fans mereka begitu setia dan bagaimana mereka bisa mendapatkan fans baru. Tentu saja, So7 bukanlah satu-satunya band yang mengalami hal ini.

Tak mudah bagi sebuah band senior untuk mendapatkan pasar atau penggemar baru mengingat kadang para ABG mendapat stempel “old fashioned” jika mengikuti band-band lawas. Tapi, yang harus diingat adalah penggemar baru merupakan pasar potensial pembeli produk alias fisik (baca : CD) karya mereka yang sekarang ini pembeli fisik dianggap orang antik.

Dan, fans yang usianya belasan itu tak jarang dianggap adalah die hard yang memiliki fanatisme luar biasa. Sekedar informasi saja, pasar musik terbesar, di seluruh dunia itu adalah memang pencinta musik ABG alias remaja! Mereka konsumen sangat aktif, tapi memang seringkali tidak setia. Maklum, begitu banyak band baru bermunculan, dan semuanya rata-rata “mendekati” mereka kan?

Jadi menarik kan, apa sih kunci So7 bisa berhasil merengkuh para ABG menjadi fans baru mereka? Dalam obrolan dengan Brian, sang drummer, NM menanyakan bagaimana itu terjadi dan sejak kapan. Fans baru yang sekarang kebanyakan siswa SMA mulai menyukai So7 ketika mereka merilis album Menentukan Arah tahun 2008. Lagu ‘Betapa’, ‘Yang Terlewatkan’ dan ‘Mudah Saja’ adalah lagu-lagu hits dari album itu yang membuat mereka mengidolakan So7.

Kekaguman ini berlanjut ke album Berlayar tahun 2011. Lagu ‘Hujan Turun’ dan ‘Hari Bersamanya’ semakin membuat mereka nempel pada So7. Jika di satu album ada sepuluh karya dan 2 atau 3 lagu bisa membuat pendengarnya menjadi suka, itu artinya karya tetap menjadi bagian penting untuk meraih pasar baru. Setelah mereka kenal dan menyukai sebuah band, dipastikan mereka juga akan mencari karya-karya lamanya.

Pada sebuah kesempatan, Duta sang vokalis pernah mengatakan pada NM bahwa album fisik tetap perlu ada. Album fisik bisa menjadi tanda bahwa karya mereka akan selalu ada. Nah….. itulah perlunya sebuah karya dalam bentuk fisik. Tak hanya sekedar sebuah digital file yang bisa hilang ketika komputer atau gadget rusak, bukan?

Fanatisme dan kesetiaan fans menjadi salah satu kunci penting sebuah band untuk tetap eksis. Lihatlah bagaimana ketika sebuah band manggung dan dipadati para fans yang mengerti betul lagu-lagu mereka lalu ikut bernyanyi sepanjang pertunjukan. Ini bisa menjadi sebuah energi bagi sang musisi untuk mendapatkan adrenalin dalam berkarya baik itu ketika berada di atas panggung atau membuat album.

Bagaimana dengan fans yang lama? Di pagelaran Econostra kemarin itu di Yogyakarta, penonton yang datang berkisar 2000 orang atau bahkan lebih. Dari mana saja mereka? NM bertemu dengan seorang SG bernama Aris Azwar dari Tangerang! Dia sengaja datang karena selain So7 memang idolanya, dia ingin menyaksikan pagelaran yang jarang terjadi. Musik So7 ditampilkan dalam bentuk orkestra.

Azwar yang jatuh cinta pada So7 sejak tahun 2002 yaitu pada album 07 Des datang bersama teman-teman lain dari Jakarta. Jumlahnya sekitar 20 orang. 20 hanyalah sekian persen dari 2000 penonton malam itu. Tapi, selain Azwar, ada kelompok lain dari luar Yogya. Mereka datang dari sekitaran Yogya seperti Klaten, Solo, Sragen, Sukoharjo, Wonogiri dan Kartasura yang disebut kelompok Pandawa Lima. Menurut Denny, road manager So7, Pandawa Lima merupakan die hard So7. Ketuanya seorang dokter.

Sementara, kelompok lainnya datang dari Kebumen, Purwokerto, Banyumas, Banjarnegara, Magelang. NM bertemu empat remaja yang datang dari Banjarnegara yang datang ke Yogya dengan menggunakan sepeda motor! Sementara dari Purwokerto, sekitar sepuluh orang berada di satu mobil keluarga, rela berdesak-desakan demi menonton sang idola.

Tak hanya itu, masih ada kelompok lain yang jumlahnya kecil-kecil datang dari Palangkaraya, Makassar dan Lampung. Mereka rela mengeluarkan uang dari kantong mereka dan membeli tiket pesawat atau kapal laut, menginap di hotel hanya untuk menonton acara spesial ini.

Tanpa kesetiaan dan fanatisme, akankah hal ini terjadi? Cukupkah kesetiaan dan fanatisme membuat mereka rela mengorbankan uang, tenaga, waktu dan pikiran untuk sekedar menonton sang idola? Tentu tidak! Lalu apa yang membuat mereka bersedia melakukan pengorbanan?

Ketika pagelaran Econostra selesai, banyak SG yang menunggu personil So7 untuk bertemu dan berfoto bersama idolanya. Ketika melihat para idolanya turun dari tangga, mereka langsung menyerbu dan minta berfoto. Panitia yang mencoba menghalangi mereka melakukan tugas sesuai prosedur. Tak ada yang salah karena itu memang tanggung jawab panitia. Tapi, para SG tak berputus asa.

Toh, kesetiaan mereka terbayar ketika para idolanya memberi ruang dan waktu untuk bersalaman, ngobrol dan foto bersama. Lebih dari setengah jam aktivitas ini berjalan tanpa henti. Namun, Adam, Brian, Duta dan Eross tak menunjukkan rasa lelah dan kesal. Mereka dengan sabar melayani permintaan SG. Sesekali mereka menggoda SG dengan menirukan dialek bahasa tempat mereka berasal.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan para fans itu? Menonton idola mereka lalu bisa berinteraksi langsung. Puas dan makin cinta. Itu yang diungkapkan dari salah satu SG. Asyiknya kan, kalau idola kita, mau ngobrol saja. Iya, ngobrol bentaran aja, wuiiiih....! Muahaaal tuh momennya.

Apa yang membuat personil So7 bersedia melayani mereka meskipun mereka sudah lelah setelah lebih dari satu jam berada di panggung? Jawabnya adalah apresiasi. Bagi mereka, SG adalah energi. Mereka sudah memberi apresiasi sehingga pantas jika mereka mendapatkan reward. Bagi personil So7, melayani SG adalah bagian dari apresiasi untuk mereka. Mereka sudah datang dari jauh untuk So7. So7 tak ingin SG pulang dengan kecewa.

So7 sadar SG adalah bagian dari karir mereka. Tanpa SG, mereka tak mungkin bisa bertahan sampai sekarang. Selesaikah acara berfoto bersama So7 malam itu? Tidak. Sebagian SG yang malam itu tak bertemu idolanya mendatangi markas So7 esok harinya untuk bercengkrama bersama idolanya. So7 pun tetap melayani mereka sampai sore hari.

Tak mengherankan jika So7 tetap bertahan sampai sekarang. Mereka tak hanya berkarya, membawakan lagu-lagunya tapi mereka juga bersedia melayani fans nya berkomunikasi. Bukankah kebahagiaan seorang fans adalah bisa menikmati penampilan idolanya dan mengenal lebih dekat?

Berhasil berfoto dan minta tanda tangan jelas bisa menambah kebanggaan dan kesetiaan seorang fans. Bisa jadi, ada orang menilai, hal begituan remeh temeh sifatnya. Tapi eits tunggu dulu, itu momen puentiiing dan mungkin “sakral” buat para fans fanatik terhadap idolanya. Bayangin, what a dream comes true, biasanya cuma bisa dengerin suaranya doang atau lihat di layar kaca, sekarang lagi ngobrol sama kita?

Dan, So7 yang bersedia melayani SG semakin dicintai dan semakin eksis. Sebuah hubungan mutualis yang mudah diucapkan tapi tak mudah dijalankan. Tapi, So7 bisa melakukannya! Tentu saja, grup-grup band dan artis lain, mungkin juga melakukan hal sama. Itu kalau kepengen “berusia” panjang.

Karena kan, apa jadinya artis penyanyi sepopuler apapun, begitupun grup band sekeren apapun, tapi tanpa penggemar? Macam, mata uang tak lengkap saja, cuma satu sisi! Yaaa....ga bisa dipakai buat beli apapun dong.... / dM

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found