Back Stage Story
NewsMusik

NewsMusik

Thursday, 22 December 2016 15:16

Tantowi Yahya

Lagu Untuk Kerukunan Bangsa

Kondisi bangsa Indonesia yang belakangan ini terjadi diindikasikan mengancam Bhinneka Tunggal Ika. Hal tersebut membuat insan musik turut prihatin. Keprihatinan itu kemudian dituangkan melalui sebuah lagu yang berjudul 'Satu Indonesiaku'. Musisi sekaligus politisi, Tantowi Yahya mengatakan ide tersebut digagasnya bersama dengan Gumilang Ramadhan yang merupakan Ketua Umum ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia) dan mendapat dukungan penuh dari Erwin Gutawa dan Toni Sianipar.

"Sebagaimana yang kita tahu, Pancasila dan Bhinneka sedang dalam cobaan yang sangat besar. Kalau kita tidak terpanggil untuk melakukan sesuatu, maka ada kekhawatiran kondisi akan memburuk dan Indonesia yang Bhinneka tinggal kenangan," kata Tantowi di Ballroom Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Selasa (20/12).

Tantowi menjelaskan singel 'Satu Indonesiaku' terdiri dari empat lagu yakni 'Rayuan Pulau Kelapa', 'Kolam Susu', 'Zamrud Khatulistiwa' dan 'Pemuda'. Tidak tanggung-tanggung, 30 musisi papan atas di antaranya Raisa, Ariel, Afgan, Rossa, Glenn Fredly, dan Bimbo diminta  untuk menyanyikan lagu tersebut.

"Saya pun minta supaya lagu ini dinyanyikan artis-artis top semua. Perhitungan kami kalau satu artis punya lima juta fans, 20 artis saja sudah 100 orang yang mendengarkan lagu ini," ujar Ketua PAPPRI itu.

Selanjutnya terhitung sejak hari itu, singel tersebut diperdengarkan di 680 radio swasta di Indonesia. Selain itu video klip 'Satu Indonesiaku' juga ditayangkan di 80 layar Cinema XXI sebelum film dimulai. "Besok atau lusa kita akan upload di Youtube. Kita doakan semoga bisa menjadi viral," harap pria yang tidak lama lagi akan menjadi Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru tersebut.

02 Launching Satu Indonesiaku IstimewaLaunching Satu Indonesiaku (Istimewa)

Banyak tokoh ternama hadir dalam acara rilis single ini, terlihat antara lain, Kepala Polisi Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan mantan Menteri Perindustrian Saleh Husin. Mereka rata-rata berjanji menyebarkan lagu itu ke lembaga masing-masing.

Arief Yahya juga sepakat bahwa pendekatan budaya bersifat lebih cair untuk menembus batas dan perbedaan. Ia optimis setiap orang Indonesia akan tersentuh saat mendengar lagu ini. “Saya akan meminta hotel serta pihak-pihak yang bersentuhan dengan destinasi wisata untuk memutar lagu ini.”

Tanto dengan senyum terkembang menyebut lagu ‘Satu Indonesiaku’ tidak diniatkan untuk dikomersialisasikan. Tanto malah mengijinkan ‘Satu Indonesiaku’ untuk disebarkan seluas-luasnya dan mengiijinkan dibajak. "Khusus lagu ini, makin dibajak makin bagus. Karena dengan begitu akan semakin banyak yang mendengarnya dan semoga juga bisa tergugah untuk menjadikan Indonesia damai dan bersatu.” ungkapnya./ Ibonk

Tuesday, 20 December 2016 14:45

God Bless

Album Serba 7

Group band rock legendaries yang personilnya terdiri dari Ahmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah Gagola (bass), Abadi Soesman (keyboard), dan Fajar Satritama (drum) di usianya yang sudah memasuki tahun ke 43 kembali menunjukkan eksistensinya di industri musik Indonesia. Sempat vakum selama tujuh tahun tidak membuat musikalitas mereka surut, diusia yang sudah tidak muda lagi mereka tetap berkarya dengan kembali meluncurkan album yang bertajuk “Cermin 7”.

“Cermin” seperti yang diketahui adalah album yang telah dirilis pada tahun 1982, di dalam album yang diluncurkan Sabtu (17/12) di studio Indosiar  berisi 12 lagu. Sembilan di antaranya merupakan lagu lama seperti ‘Selamat Pagi Indonesia’, ‘Anak Adam’, ‘Cermin’, ‘Musisi’, ‘Balada Sejuta Wajah’, dan lainnya. Tiga lagu lainnya adalah materi baru yaitu ‘Damai’, ‘Kukuh’, dan ‘Bukan Mimpi Bukan Ilusi’.

“Album ini merupakan respon dari permintaan beberapa musisi yang memang kesulitan untuk mencari album Cermin, dan merupakan tantangan juga buat kita untuk berkreativitas dengan menggarap ulang album ini”, jelas Iyek sapaan dari Ahmad Albar.

Album yang pada era 80-an sempat menjadi inspirasi bagi band-band rock kala itu, juga perwujudan idealisme dari masing-masing personil. Cermin 7 ini merupakan kejujuran dan idealisme mereka dalam bermusik. Kejujuran dalam bermusik mereka tumpahkan di album ini dengan bermain sesuka hati, “Semacam menemui jati diri,  setelah sekian puluh tahun banyak saluran banyak warna yang kita mainkan tetapi kami masih di sini," kata Donny Fattah menambahkan.

02 God Bless IstimewaGod Bless (istimewa)

Angka 7 yang menjadi nuansa dari album ini adalah secara kebetulan  “Kita absen tidak mengeluarkan album 7 tahun, usia God Bless 43 yang jika dijumlahnya menjadi 7 tahun, pada tahun ini juga  usia saya berkepala 7,” jelas Iyek. Jumlah CD pun dibuat dengan bernuansa 7 dan terbatas dengan jumlah hanya 777 keping, jadi memang special tambah Iyek lagi.

Album yang dirilis dalam format double album ini lebih segar dan berwarna dibandingkan dengan album Cermin sebelumnya walaupun tanpa mengubah bagian utama lagu. Sebagai single terbaru ‘Damai’ ada pesan moral yang ingin disampaikan disaat kondisi negeri saat ini. Damai  dibuat oleh Ian Antono dan liriknya ditulis oleh seniman Teguh SH.

Proses rekaman pun terbilang singkat hanya sekitar 3 bulan, dengan mengandalkan alat rekaman serba analog, proses rekaman album ini merupakan pembuktian bahwa skill mereka masih layak diperhitungkan./ YDhew

 

Tuesday, 20 December 2016 11:32

Bimbo

Berdakwah dengan Lagu

Berikut sebuah cukilan berita tentang band legendaris asal Bandung yang memang banyak masuk keberbagai genre musik selama karirnya. Sampai kini Bimbo masih eksis dengan membawa beragam karya bagus yang tetap lekat di hati para penggemarnya.

Banyak yang curiga terhadap Bimbo pada saat mereka merilis album terbarunya. Pasalnya lagu-lagu mereka tidak pernah konsisten dengan tema. Kadang ringan dan menyejukan hati, namun di lain waktu Bimbo tiba-tiba muncul dengan lagu kritik sosial, atau kemudian berubah jadi jenaka. Jadi mau kemana sebenarnya Bimbo?

"Terus terang kami memang tidak atau belum punya warna yang pasti," kata Syam. "Kami hanya mencoba agar lebih dekat ke masyarakat dulu.".Syam juga mengakui Bimbo kini lebih mengarah ke komersial. "Karena kami butuh duit, sehingga kami mencoba semua tema lagu yang cepat laku dipasaran musik Indonesia."

Bimbo selalu ingin menciptakan sesuatu yang baru untuk disodorkan kepada para pecinta musik pop Indonesia. "Seperti halnya saat kami lari ke lagu-lagu berlanggam Melayu. Namun kami punya ciri." timpal Djaka. Menurutnya semua patut digaris bawahi bahwa apapun musik Bimbo tetap bisa diketahui ciri-cirinya.

Menurut Acil semua lagu-lagu Bimbo bisa dikenali dari liriknya yang tak sekedar asal tulis. "Kami tidak malu meminta lirik yang bertema dakwah pada Thaufik Ismail yang kebetulan menyukai musik Bimbo. Sehingga beliau pernah bilang pada sebuah harian di Jakarta, bahwa mendengar musik Bimbo seperti menikmati musik klasik".

“Terhadap musik dangdut yang disukai masyarakat menengah kebawah , kami pun mencoba mengikuti trend yang saat ini digemari tersebut. Musik dangdut ibarat musik rakyat, tapi kami memolesnya agar berbeda seperti rekaman lagu-lagu Melayu tadi. Dan Bimbo tak kecil hati, ditulis banyak mass media kalau Bimbo sekarang sudah jadi grup peniru, latah ikut-ikutan mencari duit lewat musik yang saat ini sedang membumi di Indonesia,” ungkap Aci lagi.

02 Bimbo IstimewaBimbo (Istimewa)

Bimbo juga menyadari bahwa musik pop Indonesia cenderung anjlok mutunya. Penyanyi maupun grup musik menjadi latah menciptakan lagu serta menyanyikan dengan pertimbangan komersil belaka. "Kami menyikapi hal tersebut dengan melibatkan Iwan Abdurahman untuk menulis lirik lagu-lagunya Bimbo supaya jangan terkesan murahan".

Syam mengambil contoh ketika penyanyi atau grup membuat album Melayu, semua ramai-ramai bikin album Melayu. "Kami memang termasuk yang ikut latah, namun Bimbo mempertahankan ciri khasnya sehingga Bimbo tampil beda. Anggaplah ini sebagai lonjakan ide dari Bimbo yang komersil.”

Selama ini penggemar musik Indonesia sudah menetapkan Bimbo sebagai kelompok penyanyi lagu-lagu manis, Oleh sebab itu Syam, Acil dan Djaka mencoba menciptakan lagu-lagu bertema jenaka. "Terus terang Benyamin S juga punya pengaruh terhadap musiknya Bimbo. Kami menilai figur Benyamin sebagai seorang seniman rakyat yang menggarap musik/ lagu kocak karena keseharian gaya hidupnya. Bukan suatu hal yang mudah membuat lagu-lagu kocak ala Benyamin. Seorang musikus kalau tak punya bekal membuat lagu-lagu jenaka,  jangan nekad bikin lagu gituan, Nanti hasilnya pasti bakal norak. Lagu-lagu jenaka, kocak juga tak bisa dijiplak begitu saja. Ini tentunya merupakan tantangan bagi Bimbo untuk mencobanya dan kami mengajak Rudy Djamil biang bobodoran di kota Bandung".

Menurt Syam, Rudy Djamil yang berprofesi sebagai pembawa acara yang lebih sering tampil dipanggung musik rock itu diminta untuk menciptakan lagu-lagu jenaka ala Sunda "Kami tinggal bikin aransemen musik serta menyanyikannya. Hasilnya? Diluar dugaan kami,  album jenaka nya Bimbo ternyata cukup digemai masyarakat.”

Syam mengambil contoh lagu ‘Siomai’ yang dibuat Rudy Djamil sebagai gambaran kehidupan masyarakat kebanyakan, dimana Rudy secara spontan rekaman tanpa menulis liriknya terdahulu."Dia menyanyi diluar kepala, terkesan asal jadi dengan pemakaian bahasa Cina. Disini kami menyenggol, mengkritik penyanyi-penyanyi kita yang latah ber-Mandarin ria bikin album berbahasa Cina, seakan-akan sudah tak ada lagi lagu berbahasa Indonesia".

Tatkala Bimbo muncul dengan lagu-lagu bertema dakwah, masyarakatpun bertanya-tanya  mau kemana lagi Bimbo ini? Namun dengan arif, Syam menjelaskan bahwa itu bagian dari iman. "Kami pun tak sembarangan membuat liriknya. Bahkan bisa dibilang syair-syairnya Taufik Ismail yang lebih banyak diambil untuk dijadikan lagu. Jadi anggaplah Bimbo berdakwah dengan lagu kali ini”. / Buyunk

 

Monday, 19 December 2016 16:41

Aleta Molly

Semangat Yang Melampaui Keterbatasan

Muda dan penuh semangat begitu kesan pertama melihat remaja berusia 16 tahun ini, Aleta Molly yang merupakan cicit dari pahlawan wanita Aceh, Cut Meutia. Walaupun mempunyai keterbatasan karena sakit yang dideritanya namun tidak menyurutkan hobby nya bermusik. Ketertarikannya akan dunia seni khususnya dunia tarik suara sudah tampak sejak masih ia kecil.

Penyakit diabetes akut yang dideritanya sejak usia 13 tahun, berangsur-angsur membaik tatkala diperkenalkan berbagai macam musik oleh pelatih vokalnya Edo Vilano. Selama lebih dari 2 tahun mengikuti kursus vokal, di tahun 2015 Aleta mampu meluncurkan single perdananya yang berjudul ‘Indonesia Ku Bangga’. Disini dirinya berkolaborasi bersama dengan pelatih vokalnya Edo dan Eyojose.

Berturut-turut dengan ketekunannya bermusik, Aleta kembali membuahkan beberapa single yang telah  diluncurkan  seperti ‘Mama Papa’, ‘Cahaya Cinta’, ‘Ramadhan Oh Ramadhan’, ‘Jas Merah’, dan ‘Berbagi Kasih’. Berikutnya, dipenghujung tahun 2016 ini, Aleta kembali meluncurkan singlenya yang terbaru yang berjudul  ‘Metropolitan’. Berbeda dengan apa yang dihasilkannya terdahulu, dalam single terbarunya ini Aleta mencoba memasukan unsur EDM (Electronic Music Dance) yang dibalut hip hop.

02 Aleta Molly YDhewAleta Molly (foto: YDhew)

Ditemui sewaktu peluncuran album “Metropolitan” Jum’at (16/12) di kawasan SCBD, Jakarta Aleta mengatakan bahwa lagunya ini terinspirasi dari kesukaannya jalan-jalan, terutama melihat gedung-gedung tinggi di Jakarta. Sebagai mentor sekaligus pelatih vokalnya, Edo Vilano menambahkan musik yang diusung kali ini lebih modern dan mengikuti perkembangan zaman.  

Album ini berisi tujuh buah lagu yang semuanya adalah karya Aleta yang berbeda tahun yang dirangkum dalam satu album. Aleta yang kini beranjak dewasa memberikan pesan moral dalam lagu ini. Pesan tersebut agar lebih mencintai budaya ketimuran Indonesia dan menjaga diri dalam pergaulan terutama pengaruh narkoba.

Happy OK, Say No To Drugs”, tutup Aleta./ YDhew

 

Monday, 19 December 2016 15:02

Arthur Kaunang

Sudah Waktunya Cari Bibit Muda Untuk Musik Rock

Sosoknya yang tinggi besar dengan raut muka terkesan garang, membuat Arthur Kaunang cepat dikenal sebagai rocker pemain bass bertangan kidal grup AKA menggantikan Lexy Rumagit yang juga bertangan kidal. Padahal menurut pengakuannya ia adalah seorang pianis. "Saya lebih suka menjadi pemain keyboard, karena saya punya dasar musik sebagai pemain piano," sahut Arthur Kaunang. "Sementara untuk menjadi bassis, saya harus banyak belajar, khususnya penguasaan bass saat beraksi dipanggung".

Berikut cukilan wawancara dengan Arthur Kaunang di tahun 1978...

Sejak kecil sudah belajar piano?

"Saya belajar pada tante Tino Kerdijk pemilik sekolah musik di Surabaya yang bergaya orthodox. Beliau mengajarkan saya musik klasik  yang konservatif. Sedangkan untuk teknik permainan piano modern, saya belajar pada nona Elsye Rehatta yang galaknya bukan main. Kalau saya salah tekan tuts langsung jari-jari  saya dipukul dengan dengan penggaris".

Setelah merasa cukup menguasai permainan piano, Arthur berguru lagi pada Bubby Chen. "Saya belajar musik jazz dan saya mendapat banyak pengetahuan tentang penguasaan permainan keyboard. Dari sini saya memahami bahwa fungsi keyboard lebih dominan untuk membuat aransemen sebuah lagu menjadi full".

Arthur sendiri mengaku dirinya sulit untuk mengatakan dia lebih menguasai keyboard dari pada bass. "Sebagai musisi saya harus bisa menguasai semua alat musik dengan baik. Sebagai bassis saya dituntut bermain sebaik mungkin, karena bass merupakan instrumen utama untuk menghidupkan situasi panggung".

Arthur Kaunang bergabung dengan AKA sejak tahun 1969 hingga 1973

"Ada pola pikir yang berbeda antara Ucok Harahap dengan kami bertiga, saya, Soenatha Tandjung dan Syech Abidin. Ucok tetap mempertahankan musik underground padahal perkembangan musik rock dari tahun ke tahun terus meningkat pesat. Kalau AKA bertahan disitu terus, kita akan tertinggal jauh oleh God Bless, Giant Step, Rollies dan Superkid. Namun Ucok tetap bersikeras untuk mempertahankan musik underground, sampai akhirnya kami bertiga memutuskan untuk berpisah dengan Ucok & AKA".

Dengan nama SAS dari Soenatha Tandjung, Arthur Kaunang & Syech Abidin, ia berkeyakinan sebagai trio mereka mampu mengangkat dirinya dalam blantika musik rock Indonesia. "Kami bertiga semua bisa nyanyi, jadi tak ada masalah kalau menggelar konser. Bedanya dulu kami mengiringi  Ucok. Sekarang kami tampil tanpa seorang penyanyi yang beraksi heboh, jungkir balik kayak Ucok. SAS punya tekad yang besar bahwa kami bertiga bisa jadi sebuah grup yang enak ditonton serta dinikmati permainan lagu-lagunya".

02 SAS IstimewaSAS (Istimewa)

Arthur berniat untuk main musik hingga umur 40 tahun. "Tapi kalau dituntut harus main terus, cukup sampai umur 45 tahun. Kenapa? Faktor umur seseorang ada batasannya terutama kekuatan fisik, Apa lagi kalau seorang rocker yang gaya hidupnya dihabisi dengan menenggak miras atau nekad mengkonsumsi narkoba. Rasanya tak bakal bisa lebih dari umur 50 tahun. Jadi sekarang ini sudah waktunya  mencari bibit muda untuk musik rock sebagai generasi penerus".

Setelah itu anda terus mau kemana?

"Saya ingin menjadi guru musik klasik atau akustik. Sekaligus mengajari anak-anak muda untuk menjadi seorang musisi atau seorang rocker yang baik. Saya akan terapkan disiplin yang ketat, karena saya yakin kalau kita bisa disiplin dalam segala hal.Semua apa yang kita hendakinya bisa tercapai".

Kembali ke SAS yang dipandang banyak penggemar musik sebagai grup paling tangguh di Indonesia,apa tanggapan anda?

"Saya pribadi sejak SAS dibentuk memang harus tangguh, Apa lagi yang berkomentar bahwa kami bertiga tanpa Ucok & AKA bakal tumbang dalam waktu sekejab. Buktinya? Hingga sekarang SAS masih kokoh berdiri. Salah satu penyebabnya karena kami bertiga sejak awal berkomitmen untuk kompak selalu. Kompak dalam arti segalanya, mulai dari bersikap, membuat lagu beserta aransemennya, penentuan busana panggung hingga lagu-lagu yang dimainkan semua dipilih dan ditentukan bersama.".

Lalu siapa yang bertindak sebagai leader atau pimpinan band?

"SAS adalah singkatan nama kami bertiga, Jadi pimpinannnya ya kami bertiga. Pokoknya semua keputusan ada ditangan kami bertiga. Kadang-kadang saya lebih sering bicara mewakili Soen dan Syech. Kedua sahabat saya itu memang kagok kalau menghadapi wartawan, dari pada salah omong,saya diminta sebagai juru bicara SAS tapi itu cuma buat cuap-cuap bukan sebagai pimpinan."

Kalau begitu menurut SAS siapa penyanyi, musisi atau grup terbaik?

“Ini pertanyaan yang penuh jebakan. salah omong bisa termakan sendiri. Bagi SAS semua grup yang ada semua baik, Mereka punya kelebihan sendiri-sendiri seperti God Bless, Sekalipun suka bongkar pasang pemainnya, Achmad Albar tetap bisa menjaga kekompakan grupnya. Begitu pula Giant Step, mereka berhasil mempopulerkan lagu-lagu rock Indonesia berbahasa Inggris.

Superkid yang sering disebut-sebut musuh bebuyutan kami karena sama-sama bertiga pemainnya. Mereka luar biasa, dalam waktu singkat bisa kesohor. SAS perlu aktu hampir setahun untuk bisa dikenal masyarakat".

03 SAS IstimewaSAS (istimewa)

Musik dangdut kini merajalela, konser-konsernya selalu dipenuhi penonton, Apakah hal itu berpengaruh bagi musik rock?

"Bagi saya dangdut itu punya penggemar tersendiri. Oma Irama untuk merangsang orang suka musik dangdut, dia sisipkan musik rock. Tidak ada masalah serius buat SAS karena dangdut punya penonton yang berbeda".

Anda dan Donny Gagola silih berganti menjadi bassis terbaik dan banyak yang mengusulkan kalau SAS satu panggung dengan God Bless. Bikin duel meet Arthur Kaunang VS Donny Gagola, Apakah anda siap?

"Tanpa harus duel meet sewaktu saya masih bersama AKA sudah berapa kali show bersama Gods Bless, Penontonpun menyambutnya sama meriah. Memang sejak ada SAS belum pernah satu panggung lagi dengan God Bless. Prinsipnya SAS siap untuk bermain bersama God Bless tentukan saja kapan dan dimana, asal jangan buat diadu-adu segala kayak ayam".

Terakhir anda kelihatannya seorang musisi yang sangat jauh berbeda dengan penampilan dan kehidupan sehari-hari. Apa penyebabnya.

"Saya seorang Kristriani yang sejak kecil ditanamkan oleh orang tua saya, agar jadi manusia yang berguna buat semua orang. Punya tanggung jawab dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh agama seperti menenggak minuman keras dan mencoba obat-obat setan".

Satu lagi mumpung masih teringat. Musik rock identik dengan sex. Kalau tadi anda bilang menjauhi miras dan narkoba, bagaimana dengan urusan sex atau groupies?

"Lagi-lagi saya disodori pertanyaan yang menjebak. Terus terang saya sangat takut sama perempuan. Takut dalam arti kalau harus berhubungan sex, Sebagai  laki-laki saya memang suka terangsang oleh karena itu saya melenyapkannya dengan bermusik sehingga saya bisa melupakan urusan sex. Kalau groupies memang banyak yang suka dan mengejar saya, tapi saya hadapi mereka sebagai teman baik.”/ Buyunk

 

Monday, 19 December 2016 14:48

Equator Child

Pindah ke Jakarta untuk Menggusur Atauw

Berikut sebuah cerita perjalanan Equator Child (EC), sebuah band yang berasal dari Pontianak dan kiprahnya di Ibukota. Di kota asalnya, mereka merupakan rajanya band setempat dengan gitaris andalan Atauw,  yang kesohor dengan kecepatan jari jemarinya memetik gitar. Sehingga Atauw sering di juluki Ritchie Blackmore-nya Indonesia. awalnya beranggotakan Atauw (gitar), Joseph (bass), Jusuf (gitar pengiring), Jimmy Wemay (drums), dan Imron (vokal).

EC juga bangga bisa mengiringi artis penyanyi ibukota yang show di Pontianak, namun lama kelamaan Atauw merasa kalau terus berada di Pontianak EC cuma jadi band jago kandang. Lalu mereka hijrah ke Jakarta. Namun tidak sebagus harapan mereka yang cepat dapat tawaran show di Taman Ria, Monas, TIM Cikini atau Istora Senayan, Akhirnya AtEquator Child (EC)auw menggiring EC masuk kelab malam Blue Moon di seputaran Hayam Wuruk, Jakarta Pusat selama 1 bulan percobaan. Karena penampilannya bagus, EC diperpanjang kontraknya untuk mengiring tamu berdansa selama 3 bulan.

Menjelang memasuki bulan ketiga di Blue Moon, terjadi pertentangan dikalangan musisinya. Imron sebagai vokalis keberatan kalau terus menerus menjadi anak band yang melihatnya cuma para hostess dan tamu-tamu Blue Moon."Kalau hanya main di night club, buat apa jauh-jauh ke Jakarta, di Pontianak hampir tiap malam EC main dari kelab ke kelab malam lainnya," keluh Jusuf.

Atauw menangkis tuduhan teman-temannya, bahwa EC juga pernah show di Taman Ria, Monas serta mendampingi Panbers show di Semarang. "Equator Child sudah bagus bisa dikontrak Blue Moon. Kalau tidak, kita mau punya uang dari mana lagi?"

02 Atauw IstimewaAtauw (Istimewa)

Apa yang dikatakan Atauw dibenarkan oleh semua personel EC. "Tapi diam-diam Atauw suka jalan sendiri. Dia sering menjadi gitaris kalau ada penyanyi rekaman. Mestinya Atauw ajak EC yang mengiringi penyanyi-penyanyi itu. Kami yakin produsernya mengenal EC," timpal Imron. "Bagaimana saya bisa mengajak EC untuk rekaman, produsernya cuma minta saya sendiri. Dan saya tidak pernah meninggalkan tugas sebagai gitaris EC," sahut Atauw.

Karena tak ada kata sepakat, akhirnya EC mengambil keputusan untuk jalan sendiri-sendiri  setelah kontraknya di Blue Moon berakhir. "Jimmy Wemay, Jusuf dan Josef memilih pulang kandang ke Pontianak. Atauw melanjutkan karirnya sebagai gitaris studio rekaman. "Sebetulnya saya menolak untuk terus-terusaan di studio. Tapi karena semua kebutuhan saya dijamin. Mau tak mau saya harus memilih mana yang terbaik. Saya bersikap profesional saja.”

Imron yang bercita menjadikan EC sebagai band panggung musik rock lantas mengajak Frans Wemay adik Jimmy Wemay yang sengaja datang ke Jakarta. Kemudian ia mengontak Emmand Saleh gitaris BigMan Robinson yang saat itu kelimpungan ditinggal cukong. Emmand setuju bergabung asal EC mau merubah warna musiknya menjadi rock & blues. Imron pun setuju. Emmand kemudian mengajak Donny Gagola bassis Fancy Jr, serta Ibhunk sobat lamanya semasa gabung di Hips sebagai pemain keyboard.

03 Donny Gagola IstimewaDonny Gagola (Istimewa)

Berkat hubungan baiknya dengan beberapa orang di Jakarta Emmand berhasil mendapatkan cukong baru untuk peralatan musiknya. Karena peralatan musik yang ada sudah ketinggalan jaman."Bagaimana bisa jadi band hebat, kalau peralatan musiknya rongsokan,"kata Emmand.

Pendek kata pada waktu itu, dibawah komando Letkol Sjarief Hasyim yang menyediakan peralatan baru, Equator Child siap meramaikan blantika panggung musik di Jakarta./ Buyunk

 

Thursday, 15 December 2016 09:43

Trio GAB

Melayu Tak Pernah Mati

Aliran musik  tradisional melihat dari sejarahnya adalah musik yang biasanya dinyanyikan oleh orang-orang suku bangsa Melayu dan berkembang di wilayah pantai timur Sumatera, Kalimantan dan Semenanjung Malaya. Tidak jarang juga diiringi oleh tarian khas Melayu, seperti adanya tepukan tangan dan tepukan badan secara berirama. Tak hanya sampai disitu, ketukanpun mulai diiringi dengan alat musik seperti gendang dan alat musik tiup.

Musik melayu yang awalnya hanya digunakan sebagai tari persembahan atau perhelatan pesta adat, penyambutan tamu kehormatan dan kegiatan keagamaan, sejak kedatangan agama Islam di Nusantara dari Arab, Gujarat dan Persia perlahan-lahan mulai diisi oleh pembacaan syair dan kemudian dinyanyikan. Dari sini alat musiknya mulai didominasi oleh tingkahan rebana, petikan gambus,  biola, akordion dan seruling. Yang menarik dari musik melayu adalah susunan liriknya yang mengandung syair kehidupan sehari-hari dan juga mengandung pesan moral didalamnya.

Seiring dengan perkembangan zaman musik Melayu pun mengalami perubahan baik dari  gaya musik maupun syairnya, misalnya saja dengan mulai dimasuki aliran musik pop musik pop, rock, dan dangdut begitupun alat musik yang digunakan semakin berkembang. Aliran ini dapat dijumpai di negara-negara serumpun Melayu, seperti Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Di Indonesia sendiri musik ini sempat menjadi trend dan pernah merajai industri musik Indonesia di era tahun 90-an. Musik inipun mendapat tempat dihati pencinta musik tanah air dengan hadirnya band-band yang bergenre Pop Melayu.  Lagu-lagu Pop Melayu lahir dari kondisi sosial dan budaya masyarakat Indonesia dengan tema lagu yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Lirik lagu yang menggambarkan kehidupan dan kondisi sehari-hari, dikemas dengan format musik yang riang atau kadang mellow, dengan mudah diterima oleh masyarakat Indonesia.

02 Trio GAB IstimewaTrio GAB (Istimewa)

Di tengah pergeseran selera musik Indonesia karena hadirnya beberapa acara talent show dangdut yang hadir di semua televisi Indonesia dan juga maraknya genre musik lain dan lagu-lagu Barat yang merajai hampir diseluruh radio di Indonesia, membuat musik Melayu mulai surut bersama dengan naiknya musik genre lain.

Hal ini yang membuat beberapa band melayu seperti Bagindas, Gamma1 dan Adipati mengajak kembali masyarakat Indonesia untuk mulai mencintai musik tanah air yaitu musik Pop Melayu yang berusaha mendapat tempat kembali  di tengah pergeseran selera musik masyarakat Indonesia.

Bersama label Trinity Optima Production, mereka mempersiapkan sebuah proyek album kompilasi yang bertujuan untuk menaikkan kembali genre pop melayu di belantika musik tanah air dan album ini diberi judul “Melati”. Album ini pun digarap dengan serius dan tak tanggung-tanggung, masteringnya pun dilakukan di Nashville, Texas – Amerika Serikat.

Kolaborasi ketiga band ini menggabungkan inisial dari nama band mereka yang kebetulan berada di bawah naungan label yang sama, jadilah Trio GAB. Lagu-lagu yang terdapat dalam album kompilasi ini terdiri dari seluruh single terbaru dari Bagindas, Gamma1 dan Adipati dan sebuah lagu kolaborasi yang dinyanyikan oleh Heri Gamma1, Angga Adipati dan Andra Bagindas (Trio GAB). Lagu kolaborasi ini dipilih menjadi single di album ini dan diberi judul ‘Sebut Saja Dia Melati’ yang mengangkat tema cinta.

03 Trio GAB & Trinity IstimewaTrio GAB & Trinity (Istimewa)

Nama Melati yang dipilih sebagai judul album karena bunga melati yang memang berasal dari Indonesia dan memiliki banyak arti yang menggambarkan tujuan dari album kompilasi ini bahwa bagi semua orang yang mencintai musik melayu, sampai kapanpun “Melayu selalu dihati”. Dengan aliran musik yang sedikit pop, lagu ini dikembangkan dengan sentuhan modern agar bisa dinikmati semua kalangan.

Ditengah kelesuan musik pop melayu, mereka berharap  agar nantinya musik melayu yang juga menjadi bagian dari identitas musik tanah air dapat diterima dan disukai masyarakat Indonesia. Tiga band ini juga akan terus menciptakan karya yang mengikuti perkembangan musik. “Kami ingin menunjukkan ke masyarakat kalau kita juga bisa berkembang dan musik melayu bukanlah genre yang hanya mentok disitu saja. Namun bisa dieksplorasi dengan genre musik lain. Ya boleh dibilang ini lagu melayu yang beda”, tutup Heri Gamma1./ YDhew

 

Thursday, 15 December 2016 09:16

Queen

Jadi Raja di Jepang

Freddy Mercury dan kawan kawan bisa dikatakan masuk paling akhir di Jepang, bila dibandingkan dengan super group lain kelas dunia seperti Yes, Deep Purple, The Who, Pink Floyd dan lainnya. Namun kenyataannya, Queen merupakan grup favorite penggemar musik di Jepang. Walaupun tidak memiliki  bala tentara seperti Kiss Army, namun Queen memiliki jumlah penggemar setia lebih banyak dari Gene Simmons c.s.

Dari sebuah angket pembaca yang diselenggarakan Music Life pada thn 1986, Queen disukai pencinta musik di seluruh Jepang sebanyak 1.736 orang. Melihat jumlah fans super group lainnya yang rata-rata bekisar diangka 1 juta. Dengan demkian Queen layak jadi raja musik rock di Jepang.

Lalu mengapa mereka begitu diminati? Dari hasil survei yang digelar  secara acak, dimulai dari segi musiknya mereka menilai musik Queen yang hard rock itu penuh warna. Didalamnya terdapat rock n' roll, ada sentuhan Deep Purple, Pink Floyd serta Yes. Queen juga selalu tampil penuh glamour. Freddie Mercury berhasil mengadopsi cita rasa David Bowie dalam busana panggung. Dirinya selalu tampil penuh pesona dengan busana panggungnya yang betul-betul dirancang sesuai tema konsernya yang unik.

Brian May memiliki peranan yang jauh lebih besar dalam menata musik Queen. Ia membuat lagu-lagu Queen lewat aransemen yang cantik sehingga lagu-lagu Queen tak pernah membosankan walau dimainkan berulang kali. Peranan Roger Taylor dan John Deacon juga sangat berarti, yang tidak sekedar memainkan drum serta mencabik bass. Semua musisi Queen memiliki “musical ability” yang sangat tinggi.

02 Queen IstimewaQueen (Istimewa)

Manajemen Queen juga bekerja keras dalam menangani semua persoalan para personel beserta crew. Mereka bekerja tanpa lelah dengan sistem kekeluargaan yang berpola kerja, sehingga semua punya hak yang sama dan merata sesuai fungsi dan tugasnya masing-masing.

Freddie Mercury dan kawan kawan memliki kepribadian yang amat bersahaja. Mereka tidak menganggap dirnya seorang superstar. Freddie dengan mudah diketemukan penggemarnya keluyuran di seputar Roppongi dan Shinjuku. Begitu pula Brian May yang punya perhatian khusus terhadap barang-barang antik, Ia bisa dipergoki sedang menawar patung Budha antik dalam bahasa tarzan. Sedangkan Roger dan John lebih senang blusukan keluar masuk tempat hiburan diseputar Ginza dan mereka semua pergi tanpa pengawalan bodyguard.

Queen merupakan satu-satunya super group yang menggelar konser di stadion, karena penontonnya paling sedikit berjumlah 20.000 orang sekali show. Semua super group bisa dianggap sukses di Jepang, apa bila mereka bisa tampil di Budokan Hall,Tokyo. "Saya suka iri pada mereka yang bisa tampil disana," ungkap Freddie. Sampai akhirnya Udo Inc selaku promotor sempat menggiring Queen untuk menggelar konser di Budokan Hall, Tokyo yang berkapasitas 10.000 penonton.

Queen juga tercatat tampil dua kali setahun diseluruh kota-kota besar di Jepang. Kalau tahun ini mereka tampil di musim semi dan musim gugur, maka tahun berikutnya Queen tampil di musim panas dan musim dingin. Nah, dari kelebihan-kelebihan itulah Music Life menobatkan Queen sebagai raja di Jepang./ Buyunk

 

Wednesday, 14 December 2016 11:21

Guruh Soekarnoputera

"Gamelan Bali Itu Penuh Dengan Magis"

Genap 40 tahun silam Guruh Soekarnoputera merilis album "Guruh Gipsy”. Belum ada sebelumnya album eksperimen musik yang menggabungkan musik tradisionil Bali dengan musik modern. Lalu motivasi apa yang membuat putra bungsu Presiden pertama RI itu tertarik membuat sebuah rekaman yang menjadi maha karya satu-satunya bagi Guruh?

Berikut petikan wawancara bersama Guruh, yang pernah dilakukan bersama majalah pop pertama di Indonesia.

Apa motivasi anda melahirkan musik eksperimen Bali dengan rock ala barat ini?
Selama ini kuping kita sudah dijejali dengan berbagai musik pop yang mendayu-dayu maupun musik rock yang hingar bingar. Jadi inilah kesempatan bagi saya untuk menyodorkan eksperimen menggabungkan musik tradisionil Bali dengan musik modern ala barat. Saya tidak berpikir secara komersial dulu, karena anak-anak muda sekarang harus disopdori sesuatu yang baru.

Mengapa harus menggabungkan musik rock barat dengan musik tradisionil Bali? Bukannya di Indonesia dari Sabang hingga Merauke banyak terdapat musik tradisionil yang bagus?
Kalau tidak dicampur bisa dianggap sedang masturbasi. Harus disadari bahwa anak-anak  muda belum terbiasa mendengarkan gamelan, Mereka sudah terkonteminbasi oleh musik-musik rock barat. Kalau dipaksa harus dengar musik tradisionil, pasti dibilang kuno terus pergi. Padahal kalau disimak, gamelan Bali itu penuh dengan magis.

Namun kenapa eksperimen musik tradisionil Bali-nya malah ditanggapi sinis oleh para pemuka seni di Bali sendiri.
Saya bisa memahami dan menerima mengapa mereka sinis, karena selama ini seniman-seniman musik Bali tidak pernah melihat dunia yang setiap saat penuh perubahan. Tiba-tiba ada saya duluan yang menggarapnya. Lalu mereka heboh dan kasih komentar aneh-aneh. Mestinya mereka mendengarkannya terlebih dahulu, sebelum menanggapi musik eksperimen tersebut.

02 Guruh Gipsy Istimewa(istimewa)

Mengapa musik eksperimen Guruh-Gipsy ini tidak diikuti dengan pertunjukan seperti yang dlakukan Harry Roesli, sehingga musik eksperimennya jadi pembicaraan orang banyak.
Saya tidak mengejar popularitas di album "Guruh-Gipsy", saya hanya menginginkan orang-orang membeli dan mendengarkan kasetnya dulu. Kalau enak, buat saya itu lebih membanggakan. Kalau harus bikin show kayak Harry Roesli saya nggak punya duit lagi.

Harry Roesli justru mendapat sukses dengan show promosinya, sehingga album eksperimen dia seperti "Titik Api" dan "Ken Arok" laku keras dipasaran.
Saya bisa saja bikin show promosi, Sekali lagi itu memerlukan dana yang tak sedikit. Bisa lebih banyak dari pada biaya bikin album. Saya hitung-hitung  bisa sampai Rp. 10 juta untuk sebuah show biasa, sedangkan saya ingin sebuah show yang berbeda yang membuat penonton pulang kerumah dengan hati puas.

Anda berambisi untuk menjual album "Guruh-Gipsy" lebih mahal. Album-album yang ada hanya Rp. 500,- tapi anda ngotot mempertahankan harga jual Rp.1,500,-.Mengapa harus demikian?
Namanya juga album eksperimen "Guruh-Gipsy", jadi soal harga jual saya juga harus eksperimen dong. Kalau harganya sama dengan album-album lain nanti dianggap terlalu pasaran.

Album "Guruh-Gipsy" belum apa-apa sudah bikin heboh, Apakah anda bakal bereksperimen kembali?
Saya sudah bertekad bahwa hidup saya untuk musik, Bisa musik tradisionil, musik pop biasa ataupun musik eksperimen. Bagi saya kesenian bukan barang mati, ia harus dikembangkan terus. Saya maupun orang-orang lain harus kreatif, Kreatif dalam arti bisa memberikan sesuatu hal baru dan bermanfaat. Kita harus punya kebanggaan nasional disegala bidang serta mengembangkannya.

03 Guruh Gipsy Istimewa(istimewa)

Semua lagu dalam album "Guruh-Gipsy" liriknya rumit dan sukar dicerna.
Kembali pada istilah eksperimen tadi, kalau saya menulis liriknya dalam bahasa Indonesia, maka lagunya akan terdengar biasa-biasa saja seperti lagu-lagu pop lainnya.

Mana yang duluan dibikin? Lagu atau liriknya belakangan?
Saya bikin melodinya dulu, Setelah itu baru liriknya dan saya membuatnya dengan dua cara, Untuk musik orkestranya saya buatkan partitur biasa, sedangkan untuk musik tradisionilnya agak susah untuk dijabarkan karena ada mengkotak-kotakannya.

Orang biasa akan bingung koq bisa begitu? Seperti saya katakan sebelumnya, bahwa musik tradisionil Bali itu penuh magis, Coba dengarkan dengan seksama bunyi gamelan Bali, lama-lama seperti disihir.

Apa arti simbol yang digambar dalam album "Guruh-Gipsy"?
Pertanyaan yang bagus sekali, Itu merupakan tulisan huruf Bali yang artinya "Dasa Bayu" yang terdiri dari 10 aksara kuno Bali yang maknanya “Satu Keadaan Lahir Dari Satu Kebenaran Yang Murni"./ Buyunk

04 Guruh Gipsy Istimewa(istimewa)

Saturday, 10 December 2016 11:32

Montecristo

Masih Bertutur Lewat Progresif Rock

Menekuni dan memainkan sebuah genre musik yang secara eksklusif membutuhkan “rasa” tersendiri untuk menikmatinya tentunya butuh semangat dan kesabaran yang luar biasa. Hal seperti ini kerap ditemui pada band-band yang mengusung musik yang dianggap keluar dari selera pasar.  Cukup seringlah kita mendengar bagaimana perjuangan para anak band sejenis yang harus babak belur memperkenalkan musiknya untuk dapat diterima pasar.

Parahnya lagi di tanah air sendiri, keadaan seperti ini cukup sering ditemui. Bertahun-tahun mereka berkarya dan hanya mengail sedikit respon. Tapi begitu gigs atau karya mereka diapresiasi oleh pihak luar, apalagi sampai diundang di festival tertentu yang mendunia barulah keadaan akan sedikit berubah.

Diluar musik jazz yang njlimet, progressive rock mungkin genre yang paling merasakan hal ini. Genre yang kerap disebut dengan ProgRock atau kadang-kadang dinamai juga dengan art rock, classical rock, symphonic rock merupakan jenis musik yang butuh kedalam rasa untuk memaknai setiap karya yang tersuguhkan.

Perpaduan berbagai unsur jenis musik seperti pop, jazz, rock, klasik, metal, bahkan musik tradisional membuat genre ini dinilai cukup kaya akan rasa seni, tapi juga menjadi alasan utama untuk segera melupakan musik ini bagi pendengar yang gagal paham. Durasi lagu yang rata-rata cukup panjang, bahkan sampai 20-an menit lewat permainan instrumentalisasi ketimbang aksi panggung rock pada umumnya.

02 Montecristo IbonkMontecristo (foto: Ibonk)

Di Indonesia sendiri, prog rock cukup berkibar di era 70 an. Pengaruh band luar seperti ELP, Genesis, Yes ataupun Pink Floyd seperti menjadi vitamin bermutu untuk memberikan pengaruh bagus bagi band-band lokal untuk menemukan jati dirinya. Sebutlah Shark Move yang menjadi pioneer kala itu. Lalu Guruh Gipsy yang disebut sebagai band yang murni mengusung prog. rock dalam tubuhnya.  

Lalu muncul diantaranya Giant Step, Abhama, Christmas Camel, atau yang situasional macam God Bless lewat album paling bergengsi mereka “Cermin”, Cockpit ataupun Kantata Takwa. Pada generasi lebih muda tetap bermunculan band-band diantaranya Discus, Imanisimo, Pendulum, Monte Cristo, Electric Opera, Smesta yang mengisi panggung prog. rock tanah air walaupun kiprah mereka tak seheboh pendahulunya.

Salah satu yang masih segar dan baru saja melepas album adalah Montecristo. Band prog. rock yang berdiri pada 2007 silam dan digawangi oleh Eric Martoyo (vokal), Rustam Effendy (gitar), Fadhil Indra (piano, keyboard, vokal), Haposan Pangaribuan (bass), Alvin Anggakusuma (gitar) dan Keda Panjaitan (drum). Mereka saat ini tengah bergembira hati karena baru saja melepas beban berat selama 3 tahun terakhir ini.

Mengapa demikian? Bayangkan saja, mereka yang pada 2011 silam melepas album perdananya lewat tajuk “Celebration Of Birth”. Sebuah euforia dan asa yang terlahir sebagai penanda kiprah group ini di ranah musik nasional. Lalu sekitar 2013, album keduapun mereka garap dengan tema lebih kelam “A Deep Sleep”. Kalau album pertama berbicara soal kelahiran, nah, album kedua tentang kematian. Dua album yang memiliki benang merah, yakni sebuah fase dalam kehidupan.

Celakanya, album kedua ini harus diselesaikan lewat waktu yang lumayan lama. Memakan waktu sampai 3 tahun. Jadi sejak album pertama, terdapat jarak hampir 6 tahun untuk sampai di album kedua ini. “Album ini mulai direkam pada awal 2013 dan selesai 3 tahun kemudian. Biasanya kami masuk studio setelah matahari terbenam dan sampai pagi. Sama seperti album pertama, proses mastering dikerjakan di Sydney”, ungkap Eric.

03 Montecristo & Kel. Alm. Andy Julias IbonkMontecristo & Kel. Alm. Andy Julias (foto: Ibonk)

Walau memakan waktu yang lumayan lama, namun secara materi sebenarnya mereka tetap konsisten dengan tema album. Tetap mempertahankan formula rock yang berkisah. “Kami menyampaikan cerita lewat lirik yang bertutur, menggarisbawahi pesan dan mengajak pendengar berkontemplasi. Kami percaya, musik adalah kendaraan yang tepat untuk itu”, tutur Eric lagi.

Album ini sendiri cukup banyak mendapat pujian dari beberapa musisi yang pernah terlibat di album pertama dahulu atau di album A Deep Sleep ini. Seperti yang dikatakan oleh Jockie Soerjoprajogo bahwa apa yang telah dihasilkan oleh Montecristo adalah wujud pendewasaan mereka dalam menghasilkan karya. Sedangkan Iwan Hasan, beranggapan bahwa album ini diluar dari apa yng dibayangkannya.  Sebuah album yang dianggapnya cukup berhasil dari segi komposisi musik, maupun pesan dalam lirik lagu dan hal itu membawa jelas ruh Montecristo sebenarnya.

Muatan lirik menjadi jiwa musik dari Montecristo dimana mereka dengan berani mengangkat tema besar sosial, politik, ekonomi, kemanusiaan serta indahnya romansa. Secara musikal juga mereka mengakui puas. “Album ini dipersembahkan pada, Andy Julias –seorang sahabat yang berpulang pada 17 Februari silam. Ini sebagai penghormatan atas jasanya memajukan musik progresif rock di Indonesia”, terang Rustam Effendy.

Begitulah, album yang diisi dengan 10 lagu didalamnya diantaranya ‘Alexander’, ‘Mother Nature’, ‘The Man In A Wheelchair’, ‘Simple Truth’, ‘Ballerina’, ‘A Deep Sleep’, ataupun ‘Point Zero’... semuanya memiliki ceritanya sendiri. Cerita yang harus kita simak secara baik dan benar untuk menangkap pesan yang dititipkan disetiap bunyi tercipta, yang mengatasnamakan progresif rock./ Ibonk

 

Page 15 of 110