Jazz Gunung

Dalam Dekapan Dingin Bromo

Butuh sekitar satu setengah jam perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Juanda. Kemudian ditambah sekitar empat jam perjalanan darat melintasi Sidoarjo, Pasuruan serta Probolinggo. Sudah pasti ketika melintasi Sidoarjo akan disajikan pemandangan hamparan tanggul raksasa yang menahan lumpur Sidoarjo agar tidak meluap kemana-mana.

Satu jam terakhir perjalanan darat NewsMusik disapa oleh pemandangan yang didominasi hijaunya pepohonan dan bukit-bukit. Dibeberapa bagian tampak pula kabut menghiasi. Inilah sebuah pemandangan menyenangkan dan menenangkan bagi yang sehari-harinya dihadapkan pada belantara gedung tinggi dan macetnya jalanan ibukota Jakarta.

Sebenarnya NewsMusik mau kemana sih kok rela berjam-jam melakukan perjalanan yang melelahkan? Tujuan utamanya adalah menuju ke kawasan Java Banana Bromo Lodge, Cafe & Gallery di Desa Wonotoro Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo. Dimana selama dua hari pada Jumat dan Sabtu (12-13/06) digelar Jazz Gunung.

ini merupakan pagelaran jazz kali ketujuh. Setelah selama ini “ngidam” untuk hadir di pagelaran sebelumnya, baru kali ini terwujud, ngebet ingin melihat pentas jazz yang digelar beratapkan langit beralaskan tanah. Belum lagi ditambah hawa dingin yang menyergap.

Begitu tiba di lokasi, NewsMusik dan beberapa kawan dari media lain langsung menuju media center untuk melaporkan kehadiran. Setelahnya diantarkan menuju penginapan sederhana yang tak lain adalah rumah penduduk yang disewakan. Sudah ada teman-teman dari media lainnya yang lebih dulu tiba. Merasa cukup dengan rehat sejenak dan karena penasaran ingin melihat lokasi Jazz Gunung, NewsMusik dan beberapa teman media memutuskan menuju lokasi. Berkat informasi yang disampaikan oleh pihak Media Relation Jazz Gunung, masing-masing sudah melengkapi diri dengan jaket, sarung tangan, serta penutup kepala. Tentu saja untuk menghangatkan tubuh kala hawa dingin datang.

Luar biasa indahnya. Begitu kesan pertama yang dirasakan ketika melihat lokasi pentas Jazz Gunung. Sebuah panggung terbuka dengan latar belakang keindahan pegunungan Bromo Tengger Semeru yang sayangnya pada sore itu tersembunyi di balik kabut. Panggung sederhana hanya mengandalkan bambu sebagai pemanis.

02 Swing Boss Jazz YoseSwing Boss Jazz

Swing Boss Jazz menjadi penampil pembuka Jazz Gunung edisi ketujuh ini. Hadir menyuguhkan lagu-lagu daerah yang diolah menjadi beraroma jazz. Ketika tengah menikmati musik yang disuguhkan dari tempat tertinggi di area festival, NewsMusik dihampiri oleh seorang bapak mengenakan kaus putih dengan tulisan ‘Jasa Pijat Mr. Wandri’.

Pak Wandri tanpa dipinta langsung memijat tubuh, yang memang kebetulan sekali terasa pegal dan lelah. Tangan dan jari Pak Wandri lincah bergerak memijat mengendurkan otot yang tegang. Badan pun terasa ringan usai dipijat. Biayanya? Cukup membayar dengan suka rela saja. Usai Swing Boss Jazz, giliran berikutnya adalah musik kolaborasi Indonesia dengan Korea Selatan, Jay & Gatra Wardaya with [su:m]. Dimana [su:m] terdiri dari Jiha Park yang memainkan Piri, Saenghwang dan Yanggeum, serta Jungmin Seo yang memainkan Gayageum.

Ketika mendengarkan musik yang dibawakan oleh kolaborasi ini, NewsMusik langsung teringat pada penjelasan salah satu penggagas Jazz Gunung, Sigit Pramono, mengenai sajian jazz di acara ini. Dikatakannya bahwa menurutnya jazz adalah satu-satunya musik yang tanpa batas. Komposisi jazz sangat beragam. “(Jazz yang ditampilkan adalah) jazz the way you are. Jazz sak karepe dhewe,” ujar Sigit menjelaskan tentang genre jazz yang dihadirkan jazz gunung. Menandakan bahwa semua yang tampil bebas menginterpretasikan jazz.

Jay & Gatra Wardaya beserta [su:m] menghadirkan lagu-lagu bersumber pada teks macapat dari kebudayaan Jawa dengan indah berkelindan dengan melodi serta ritmis khas Korea. Bahkan mereka nekat mengobrak-abrik membawakan macapat dengan langgam dangdut. Dimana kabut tipis sempat datang sekejap. Kesan syahdu tak bisa dielakkan.

Jazz sak karepe dhewe juga disodorkan oleh Ring of Fire Project. Grup pimpinan Djaduk ini mencampuradukkan musik etnik diarahkan menuju jazz dan memadukan dengan keroncong. Ring of Fire Project menyertakan Tohpati dan Endah Laras sebagai tamu di pentas Jazz Gunung. Disela-sela penampilan Ring of Fire Project, Djaduk memohon maaf atas ketidakhadiran Butet Kartaredjasa. Hal ini menjawab pertanyaan karena tidak melihat sosok Butet sejak tiba di lokasi. Ternyata Butet tengah sakit sehingga tidak bisa hadir untuk menunjukkan keandalan cocot kencono-nya alias sebagai pembawa acara yang gayeng. “Mari kita doakan semoga Butet segera mendapat job kembali,” canda Djaduk yang disambut tawa penonton.

Tapi tenang saja, nuansa humor dan canda tawa tetap hadir. Dua anak muda yang tak kalah gilanya dalam hal mengocok perut berhasil menghibur penonton di sela-sela persiapan penampil. Mereka adalah Alit Jevi Prabangkoro alias Alit-Alit Jabang Bayi dan Gundhi alias Gundhi Anditya. Berdua telah ditabalkan sebagai ikon Jazz Gunung dimana telah menjadi pemandu acara sejak penyelenggaraan kedua. Apa saja bisa diolah untuk menjadi bahan guyonannya.

Penampil lainnya di Jazz Gunung 2015 hari pertama adalah Yuri Jo Collective yang terdiri dari Yuri Jo (gitar), Adi Darmawan (bass), Sa’ad (seruling) dan Budi Haryono (drum). Bila pada pagelaran sebelumnya beberapa kali terjadi peristiwa di luar dugaan seperti hujan maupun kabut tebal yang tiba-tiba turun, Yuri pun mengalaminya. “Katanya di Jazz Gunung suka ada kejadian yang tidak terduga. Malam ini saya pun mengalaminya. Senar satu gitar saya tiba-tiba turun sendiri dan jadi fals,” kata Yori sambil tersenyum.

03 Ina Ladies YoseIna Ladies

Sementara untuk penampil lainnya tidak mengalami kejadian aneh. Yang ada malah membangun suasana yang ramai. Baik dari jumlah anggota maupun kebawelan. Mereka adalah Ina Ladies yang terdiri dari delapan wanita dan satu “batangan”. Dua garda depan yang menjadi biduanita, Bonita dan Bubu, kerap kali saling menimpali di sela penampilan mereka.

Sekitar pukul setengah sebelas malam, Tulus menutup Jazz Gunung hari pertama. Sekitar 1500 penonton betah bertahan di tengah dingin yang menyergap. Menikmati suguhan lagu-lagu yang diaransemen ulang ditemani minuman hangat di tangan atau pun merapat pada perapian yang disediakan.

Ah, ngomong-ngomong soal dingin, NewsMusik sukses merasakan dingin yang luar biasa. Walau sudah memakai jaket tapi ternyata tetap menembus kulit. Ternyata jaket yang dibawa tidak cukup tebal untuk menahan dingin. Alhasil sepanjang acara badan yang hanya biasa diterpa dingin buatan di ruangan sukses menggigil.

Kekhawatiran akan menggigil hebat sempat menerpa kembali karena masih memiliki rencana untuk ke kawasan Bromo pada Sabtu dini hari. Untunglah teman sekamar di penginapan yang tidak pergi dan memutuskan istirahat meminjamkan jaketnya. Jadilah jaket tipis dilapis oleh jaket yang lebih tebal mampu menahan dingin.

Dengan satu jeep sewaan, bersama lima orang lainnya yang baru beristirahat sekitar satu sampai dua jam menuju ke Pananjakan pada pukul setengah tiga dini hari untuk melihat matahari terbit. Kemudian dilanjutkan ke Lautan Pasir sebelum mendaki sekitar 250 anak tangga menuju kawah Bromo. Diakhiri dengan singgah ke Padang Savana.

Dalam perjalanan pulang menuju penginapan terlihat segerombolan orang membawa kantung plastik besar di kawasan Lautan Pasir Bromo. Terlihat pula di antaranya Sha Ine Febriyanti. Ternyata mereka tengah bersama dalam gerakan Sahabat Bromo dan Ine menjadi dutanya. Sahabat Bromo merupakan sebuah kegiatan didukung oleh banyak pihak yang peduli dengan nasib Bromo yang dirasakan telah mengalami eksploitasi besar-besaran. Sisi positifnya Bromo mendapatkan banyak perhatian dan kunjungan dari wisatawan dalam dan luar negeri. Namun sisi negatifnya adalah kerusakan dan juga sampah yang ditakutkan akan merusak keindahan Bromo.

Sampai di penginapan dengan badan yang lelah dan kotor. Saatnya mandi. Karena pemanas tidak bekerja, terpaksa mandi dengan air yang sangat dingin. Alhasil sukses menggigil dan megap-megap ketika badan diguyur air. Usai makan siang, seluruh media yang hadir meliput diundang oleh panitia untuk mengikuti press conference. Hadir di antaranya adalah perwakilan Malacca Ensemble, Tohpati, Endah Laras, Nita Aartsen serta dua penggagas Jazz Gunung, Sigit Pramono dan Djaduk.

Semua yang hadir menyatakan senang bisa terlibat dalam acara ini. Sigit kembali mengulang apa yang disampaikan di press conference sebelumnya di Jakarta. Sementara Djaduk mencetuskan ide untuk pelaksanaan tahun depan akan melibatkan rekan-rekan wartawan untuk tampil sebagai pengisi acara. Karena kondisi badan yang lelah kurang tidur, NewsMusik mencari posisi yang “aman” ketika press conference. Meski hanya sebentar dan kerap terbangun, tapi sukses mencuri-curi waktu untuk sejenak memejamkan mata.

Jazz Gunung hari kedua kembali dibuka oleh penampilan Swing Boss Jazz. Dilanjutkan oleh sapaan berlogat melayu dari Malacca Ensemble yang menyuguhkan musik kental bernuansa Melayu. Serta alam sekitar juga menyapa dengan pemandangan indahnya. Kabut yang mangkir menyebabkan terlihatnya latar belakang bukit di sekitar lokasi Jazz Gunung. “Terus terang, malam ini lebih dingin daripada biasanya,” ungkap Hj. P. Tantriana Sari, SE, Bupati Probolinggo yang berkesempatan hadir malam itu. Bayangkan, orang yang sudah lama tinggal di sekitar lokasi saja merasa kedinginan. Apalagi yang baru pertama kali atau hanya sesekali datang.

04 Penonton di Jazz Gunung YosePenonton di Jazz Gunung

Lihatlah hamparan penonton yang badannya dibungkus rapat oleh jaket tebal, sarung tangan, dan juga penutup kepala. Atau bagi mereka yang datang dengan pasangannya, memilih untuk saling berpelukan. Mesra sekali. Tapi berpotensi mengundang rasa iri pada mereka yang datang tanpa pasangan. Malam yang dingin penonton diajak menyanyi bersama oleh Beben Jazz and Friends. Namun NewsMusik terpaksa tidak menyaksikan penampilan mereka sampai selesai. Hanya mendengarkan sayup-sayup dari Media Center sambil menikmati makan malam. Perut lapar memang susah diajak kompromi.

Ring of Fire Project yang juga tampil kembali malam itu pun juga tidak disaksikan sepenuhnya. Masih dengan formasi dan materi yang sama seperti malam pertama, kali ini Endah Laras menggoda Ibu Bupati untuk tertawa ketika menyanyikan ‘Ayo Ngguyu’. Kejutan dihadirkan oleh penampil berikutnya : Nita Aartsen Quatro. Dengan memboyong gitaris asal Meksiko, Ernesto Castillo, mereka membawakan sebuah komposisi karya Ismail Marzuki yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Lagu berjudul ‘Irian Samba’ dibawakan dengan dilengkapi oleh kehadiran sepasang penari capoera.

Jazz Gunung 2015 resmi ditutup oleh penampilan Andien yang terlihat lebih gemuk malam itu. Bukan karena tubuhnya mengalami kenaikan drastis setelah menikah. Tapi karena dia tampil mengenakan pakaian sampai dengan lima lapis. Tujuannya untuk menahan dingin pastinya.

“Ibu saya selalu menyediakan resep dari India untuk saya yang tidak kuat dingin,” beber Andien. “Namanya sutemahe alias susu telur madu jahe.”

Andien tampil “lasak” malam itu dengan berjalan-jalan kesana kemari bahkan sampai menghampiri penonton di area festival. Tingkahnya membuat gemas. Sehingga seorang Cornelia Agatha pun tak kuasa menahan gemasnya. Dia menghampiri dan memeluk serta mencium Andien.

Keriaan Jazz Gunung 2015 pun berakhir. Setelah mengikuti press conference singkat dengan Andien, NewsMusik beserta awak media lainnya kembali ke penginapan. Kembali tidur hanya dalam waktu singkat. Karena dini hari kembali lagi menuju ke Pananjakan untuk melihat matahari terbit. Kali ini dengan jumlah orang yang lebih banyak : bersepuluh. Rutenya masih sama, namun ditambah tujuannya ke bukit hijau yang disebut dengan Bukit Teletubbies.

Sekitar pukul 9 sudah tiba kembali di penginapan. Kembali harus bertemu dengan dinginnya air kala mandi. Kemudian berkemas-kemas untuk meninggalkan sejuknya udara kawasan Bromo dan hijaunya hutan. Menuju ke belantara beton dan polusi di Jakarta.

Semoga bisa berjumpa lagi di Jazz Gunung tahun depan. /yoseR

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found