Loenpia Jazz 2015

Semangat Jazz, Pesta Kuliner dan Penyelamatan Identitas Kota

Pagelaran musik Loenpia Jazz 2015 berlangsung dengan sangat meriah, bahkan acara ini berhasil menyedot sedikitnya 11.000 pengunjung atau ada kenaikan dari Lounpia Jazz 2014 di Pecinan yang medatangkan 6.000 penonton. Puri Maerakaca dipilih sebagai venue utama lantaran kepedulian komunitas Jazz NgiSoringin terhadap salah satu ikon wisata kota Semarang ini kondisinya kini mulai terbengkalai. Mereka bermaksud mengakat kembali pamor wisata Taman Mini ala Jawa Tengah itu menjadi salah satu alternatif destinasi bagi wisatawan yang akan berwisata ke Semarang.

Kini komunitas Jazz NgiSoringin semakin solid dan makin matang melahirkan konsep dan ide sebagai visi misi pertunjukan kelima untuk menggelar acara rutin musik tahunan itu. Mereka berhasil mengundang sederet tamu spesialnya seperti Syaharani Queenfireworks (Esqi:ef), Tohpati Bertiga, Peppi Kamadhatu, Bonita & The Husband, Ubay Idol, Yura, Endah N Rhesa, Blotymama, Bubu Giri, Barry Likumahuwa Experiments dan masih banyak lagi. Selain musik yang disuguhkan sebagai menu utama untuk rakyat, pihak panitia juga menghidangkan berbagai wisata kuliner khas kota Semarang yang ternyata bukan hanya lumpia dan presto.

NewsMusik berencana datang lebih awal guna melakukan mapping area terlebih dahulu, tepatnya Sabtu (6/6) kami sudah siap bertolak menuju Ibukota provinsi Jawa Tengah, Semarang. Begitulah, walaupun pada subuh hari ketika di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng tim NewsMusik harus melalui ujian yang mengesalkan. Karena permainan perusahaan penerbangan kelas nyamuk yang sangat tidak profesional, menyebabkan kami harus membuang waktu setengah hari lagi untuk sampai di Semarang. Tapi sudahlah... jauh dilubuk hati rasa dongkol tersebut telah berubah menjadi rasa ikhlas tak terperi...

Setelah tiba di bandara Ahmad Yani, Semarang pada pukul 15.00 wib, tim dijemput 2 L.O dan langsung tancap gas menuju Puri Maerakaca untuk mapping venue terlebih dahulu. Saat itu, kami cukup tercengang melihat kondisi Taman Mini versi Jawa Tengah tersebut. Bahkan salah satu L.O mengungkapkan, lokasi tersebut tidak laik sama sekali sebelum panitia acara Lounpia Jazz datang. Banyak sekali paralel listrik illegal, parabola di luar anjungan dan terdapat selang-selang air liar di sebagian anjungan.

02 Loenpia-Jazz IbonkFoto Ibonk

Kemungkinan besar lokasi wisata ini malah dijadikan pemukiman bahkan ada sebuah anjungan yang runtuh karena sisa kebakaran, yang kemungkinan terbesarnya adalah faktor korsleting arus pendek. Sedangkan venue tersebut aslinya merupakan kawasan pariwisata Kota Semarang, tetapi kondisinya sangat menyedihkan dan kurang mendapat perhatian dari Pemda setempat untuk dirawat. Belum lagi di beberapa bagian sudah digenangi oleh rob yang semakin tinggi.

Kami beserta teman-teman jurnalis lain mulai diarahkan untuk memutari kompleks pelataran Puri Maerakaca. Sebelah utara tempat ini adalah Pantai Marina, sementara pada sisi Barat dan Timur dikelilingi oleh lahan hutan mangroove dan terdapat 2 gazebo besar dengan kondisi jembatan yang telah ambrol dan ilalang-ilalang tinggi pun diacuhkan begitu saja, sampai menemukan ada ular liar di dalam area sekitar lokasi wisata. Sementara rekreasi di muara sungai juga sudah tidak dijalankan lagi, mengingat sepinya tempat wisata ini dari para pengunjung. Wisatawan bisa jadi enggan untuk berkunjung ke altar kebudayaan ini, karena faktor utamanya dalam kondisi kurang terawat dan kotor.

Esoknya, hari yang ditungu-tunggu akhirnya tiba juga. Walaupun matahari terasa mulai menggigit ubun-ubun takkala menjejakkan kaki di Puri Maerokaca. Namun inilah saat yang tepat bagi kami melakukan blusukan peliputan, sekaligus mencari talenta-talenta musisi muda berbakat. Sementara keringat mulai mengguyur ke sekujur tubuh.

Terdapat 5 stage utama di Loenpia Jazz tahun ini, Stage Tahu Gimbal (Anjungan Semarang) merupakan stage utama yang nantinya akan perform Esqief dan Tohpati Bertiga, Stage Wingko (Anjungan Surakarta) akan diisi oleh Ubay Idol, Bonita dan Yura. Stage Nivea menjadi garis terdepan tanpa sinaran lighting-lighting cantik, disini ada Endah N Rhesa dan Indonesia Bass Family perform, Stage Mie Kopyok (Anjungan Banyumas) akan mementaskan band Aljabar, Blotymama hingga BLP dan yang terakhir adalah Stage Ganjel Rel (Stage Rembang) yang lokasinya paling memojok dekat dengan muara sungai dengan background hutan mangroove disitu YK Samarinda dan Bubu Giri akan tampil.

Berbekal map Loenpia Jazz, di Anjungan Nivea elah tampil Komunitas Gitar Klasik Semarang yang rela berpanas-panas di stage terbuka. Selanjutnya tampil pasangan duet paling kompak saat ini, siapa lagi kalau bukan Endah N Rhesa. Pasangan ini, seperti biasa cukup mendapat perhatian orang muda dimanapun mereka tampil. Lagu-lagu akustikan bernuansa Folk, Jazz, Blues, Ballad dan Rock N Roll meluncur deras ditingkahi cuapan Endah yang cukup menghibur.

Di Anjungan Banyumas tengah tampil Komunitas Jazz Mben Senen yang datang dari Yogyakarta dan tampil dengan tujuh personel diatas panggung. Diawali Andra (gitaris) yang membuka penampilan mereka dengan intro bersama keempat punggawa lainnya. Masing-masing sempat unjuk gigi menunjukkan skill diatas panggung. Lalu pada lagu kedua, lewat duo vokalisnya, mereka mulai menyanykan lagu Frank Sinatra, ‘I Fall In Love Too Easily’ yang bergenre fusion. Sayangnya misi mereka datang dari jauh untuk membawakan 4 lagu tidak tersalurkan, setelah lagu kedua itu waktu mereka ternyata telah habis.

Rasa kecewa terpancar di wajah masing-masing personelnya, faktor soundcheck sebelumnya dan mixer pun menjadi kendala utama mengapa mereka harus turun lebih awal saat itu. Komunitas Mben Senen dapat diartikan sebagai wadah ngeband Jazz yang latihannya setiap hari Senin di markasnya Ring Road Utara Yogyakarta. Personilnya merupakan para pelaku dan penikmat seni dan anggota band ini tidak tetap, meskipun hingga saat ini Komunitas Jazz Mben Senen telah melahirkan sedikitnya 5 album dalm bentuk CD.

03 Aljabar TezaFoto Teza

Masih di Anjungan Banyumas, akhirnya NewsMusik menemukan apa yang dicari-cari yakni seorang talenta muda. Saat itu sedang tampil Baruch Jethroobe membawakan lagu ‘My Heart Left Away’ featuring Joseph Aji (vocal). Lagu ‘Pleasure Seeker’ yang berirama Lounge Jazz pun tak luput dari pantauan kami, begitu juga dengan ‘Happiness’. Tiupan indah saxophone mampu membuat relaks pikiran sejenak. Musisi muda kelahiran Semarang ini menjadi target NewsMusik.

Mampir ke Anjungan Semarang saat itu sedang tampil Semarang Ska Foundation yang menutup perjumpaannya lewat lagu ‘Rivers of Babylon’. Selanjutnya beberapa penampil setelahnya, panggung ini diisi oleh Nanada Goeltom (vocal/ trumpet), Fauz Haqq (bass), Yusuf Saputra (piano) dan Fanny Wardoyo (drum) yang tergabung dalam Absurdnation. Mereka yang 2014 kemarin telah menelurkan album perdana bertajuk “Titik Balik” merupakan band jazz asli Semarang.

Vokal dan cengkok Nanda yang sepintas mirip Tompi benar-benar melenakan dalam serangan panas Semarang. Mengangkat lagu-lagu dari albumnya tersebut antara lain ‘Ziarah Cinta’, ‘Kamu dan Dunia’ ataupun ‘Selalu Bersamamu’, Absurdnation terlihat cukup menguasai penonton yang hadir.

NewsMusik memutuskan untuk ke Anjungan Banyumas karena penasaran dengan grup musik Jazz asli Semarang yaitu Aljabar. Musik yang mereka usung adalah jazz yang dipadukan dengan nuansa hip-hop. Mereka membuka salam sore dengan ‘Some Place’, lagu yang memiliki nilai historis bagi mereka sejak terbentuk di tahun 2010 silam. ‘Bebas’ nya Iwa K menjadi magnet untuk menyerap pengunjung yang mulai berdatangan ke Anjungan Banyumas.

Gatot yang berperan sebagai gitaris/ vocal terlihat sangat kominikatif dengan penontonnya. Beberapa kali ia bercanda dengan para penggemarnya saat beraksi diatas panggung. Hingga Aljabar memberikan ‘Razzle Dazzle’, ‘ASA’, ‘Flattery’ yang membuat koor bersama sampai menutup asiknya penampilan sore itu dengan lagu yang berjudul ‘Mati Lampu’.

Sunset mulai menghias lukisan langit jingga di kota Semarang, ini saat yang tepat bersantai dan nostalgia menikmati jazz lembutnya Peppi Kamadhatu with Rencang. Lagu everlasting seperti ‘Suddenly’, ‘We’re All Alone’, ‘You Don’t Know Me’ hingga ‘Sometimes When We Touch’ disajikan dengan baik dan benar oleh Peppi yang memang spesialis genre tersebut. Tak heran penonton pun sangat menikmati dan terhipnotis, hanya bisa duduk terdiam menatap ke arah panggung. Penyanyi wanita kelahiran Semarang 10 Agustus 1976 ini reuni dengan Chandra Purnama (Bass), Eko Abrianto (Keyboard), Agung Bagus Armianto (Drummer) dan Rio Wibisono (Guitar).

04 Ubay-Idol TezaFoto Teza

Dalam waktu yang sama di anjungan Banyumas, terjadi sedikit keriuhan. Siapa lagi kalau bukan Blotymama yang memanaskan panggung dengan sentuhan musik bergenre Funk, Rock dan RNB ini. Digawangi oleh Ade Avery (gitar), Rendi Raditya (bass), Rio Agung (drum) bertebaranlah nomor-nomor rancak dari tenggorokan Teddy Adithya (vokal). Band ini pertengahan Maret lalu baru saja merilis album mereka yang bertajuk “Blotytime” ini, menyuguhkan beberapa tembang diantaranya ‘Gateway’, ‘Mama’, ‘Convoluted’ yang mulai membakar penonton. Goyangan asik juga ditunjukkan oleh beberapa bule yang kompak megikuti irama yang tersuguhkan.

Merasa perlu mendinginkan suasana, akhirnya Teddy melagukan sebuah lagu galau berdasarkan pengalaman pribadinya berngaran ‘Broken Heart’. Selanjutnya tembang milik Ed Sheeran berjudul ‘Dont’ dilantunkan dan ditutup dengan ‘Dream Girl’. Teriakan penonton agar band ini melanjutkan tampilannya terpaksa ditampik mengingat ketatnya jadwal.

Yusuf Ubay atau lebih dikenal dengan sebutan Ubay Idol tampil apik bersama band Coffeebreak. Penyanyi yang masuk 5 besar di ajang pencarian bakat Indonesia Idol 2014 ini tak lupa memainkan saxophone yang ia tekuni sejak tahun 2012. Meskipun masih dalam usia cukup muda, single perdana ‘Falling in Love’ menjadi bukti bagi ribuan orang yang memadati Anjungan Surakarta demi melihat aksi live perform yang ternyata benar-benar totalitas dalam menyuguhkan enerjinya pada musiknya.

Anjungan Semarang lagi-lagi diserbu oleh hampir mayoritas penonton yang mendatangi Lounpia Jazz, saat itu giliran Tohpati bertiga tampil kian impresif diatas panggung bersama Indro Hardjodikoro dan Bowie. Membawakan salah satunya medley lagu Michael Jackson Black or White dan Billie Jean. Berulang kali trio ini, bergantian mengatraksikan solo skill edan. Hal ini menjadi hiburan tentunya bagi warga Semarang bisa melihat kolaborasi apik mereka bertiga.

Belum lagi usai keriuhan, panggung utama ini kembali lagi disesaki penonton karena hadirnya Syaharani Queen Fireworks (Esqi:ef). NewsMusik agak kaget juga melihat Syaharani tampil tidak seperti biasanya, begitu sederhana. Hanya mengenakan kemeja dan rok sebatas lutut dipadupadankan dengan blazer bergaris. Terkesan kalem dengan banyak duduk dipinggir panggung, Rani menghadirkan lagu pembuka, lalu setelahnya mengajak para penonton untuk bernyanyi bersama takkala membawakan lagu ‘Jangkrik Gengong’.

Selanjutnya sebuah single dari album 2010 lalu berjudul ‘Anytime’ serta beberapa tampilan lagu dari album Selalu Ada Cinta pun meluncur dengan baik. Walaupun minus Didiet dan Kristian, Esqi:ef tetap memukau dan sang vokalis Syaharani tetap terlihat cantik.

Barry Likumahuwa Experiments tak mau kalah dengan pesohor lainnya. Malam itu ia tampil bersama Dimas Pradita (drum), Ivan (Keyboard), Jordi (Trumpet), Bas G (Saxophone) dan mampu membuat ramai riang Anjungan Banyumas. Berulang kali Barry yang menjadi frontman disini melakukan komunikasi dengan penontonnya. Cukup baik hingga tercipta animo yang hebat disini. Barry di plot menjadi closing party Anjungan Banyumas. 

05 Yura IbonkFoto Ibonk

Saat itu tinggal Yura yang harus menyelesaikan penampilannya. Warga Semarang pun tumpah ruah di Anjungan Surakarta karena inilah acara musik yang terakhir di Loenpia Jazz 2015. Tak mau melewatkan kesempatan langka, dara cantik kelahiran Bandung 24 tahun silam itu membuka pestanya lewat ‘Balada Sirkus’. Lalu melanjutkan lagi dengan ‘Pesta’, ‘Kataji’, ‘Jester Suit’.

Yura mengaku sangat senang dapat tampil di Semarang. Ternyata banyak penonton yang sudah hafal lagu-lagunya. Lalu, ia mencoba membangkitkan kekuatan interaksinya dengan penonton “Aku kan orang Bandung coba dong mau sekali-sekali denger orang Jawa bernyanyi Sunda, lalu ia menyuarakan “Na ku Naon..Na ku Naon..Na ku Naon.. leu hate bet Kataji”..., ternyata formula ini terbukti berhasil menghibur ribuan penonton yang melihat aksinya itu.

Lalu, ia melanjutkan atraksinya kembali lewat ‘Love Me Like You Do’, ‘Berawal Dari Tatap’, ‘Cinta dan Rahasia’ dan menutup pesta dengan lagu ‘Super Lunar’.

Loenpia Jazz 2015 layak mendapat pujian. Alunan Jazz yang dilengkapi dengan tebaran pesta kuliner khas Semarang. Sehingga para penonton yang hadirpun tidak hanya dapat menikmati musik berkelas. Tapi juga tidak harus repot dengan berbagai macam jajanan yang tersebar puluhan food stall yang bisa langsung dieksekusi dengan harga yang cukup pantas.

Memang Semarang harus berbangga memiliki manusia-manusia yang respek terhadap musik dan kotanya. Seperti yang dilakukan oleh Komunitas Jazz NgiSoringin dengan Loenpia Jazz nya ini. Semoga semua elemen kota dapat mendukung dan menghidupkan pesta jazz yang berbeda dan makin lebih meriah lagi. Terbukti dengan 11.000 lebih penonton yang hadir, bukan merupakan angka kecil untuk sebuah perhelatan musik.

See you next year, dengan kejutan lainnya…. Tenan, Aku Ngejazz Mergo Kowe!! / Ibonk, Teza

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found