Sound Of Sand

Little Woodstock dari Bumi Yogyakarta

Dalam lingkup panorama indahnya bentang alam ini ada segi keharmonisan cinta, persaudaraan layaknya kelakar sebuah keluarga yang nyata dibesut lewat event Sound of Sand. Semua yang hadir disini saling bertukar imaji, enerji positif dan mindsoul.

Kala musik di plot sebagai media utama untuk mengumpulkan komunitas, menghadirkan pemicu rangsangan dan sarana pertukaran ide antar individu serta memperluas eksperimentasinya soal spiritualisme, terutama dalam hal cinta. Juga menyadarkan lagi kepada para audiencenya, betapa penting keberadaan raga alam yang sehat, tentu disitu akan ditemukan pula jiwa manusia yang sehat.

Sound of Sand adalah tema utama acara Transformative Gathering yang merupakan konsep ide dari dalam Sound of Sand sendiri. Kala manusia berdampingan dengan alam bebas dan berinteraksi melalui media seni serta melibatkan beberapa unsur masyarakat seperti kelompok-kelompok berkebun, petani dan acara ini berhasil melancarkan juga aksi penghijauan, tanam-tanam pohon serta gotong royong untuk melakukan bersih-bersih sampah di lokasi perkemahan dan acara.

Wadah kumpulnya para seniman, musisi, pemain seni instalator, seni theater, meditasi dan beberapa lainnya itu sukses terselenggarakan pada pertengahan April kemarin. Bertempat di Gumuk Pasir, Bantul, Yogyakarta. Festival musik tersebut berhasil menyedot lebih dari 200 partispan. Penontonnya mayoritas berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali bahkan acara musik ini berhasil menarik minat wisman dari Lithuania, Australia, Austria, Slovakia, Jepang dan masih banyak lagi.

Gumuk Pasir di kawasan pesisir selatan Jawa merupakan fenomena alam yang terbentuk sejak ribuan tahun lalu. Pasir pembentuk gumuk itu berasal dari material vulkanik gunung Merapi yang mengalir ke sejumlah sungai lalu dibawa hingga ke laut selatan. Adanya ombak dan angin, pasir di laut itu terbawa ke pantai dan wilayah sekitarnya hingga membentuk bukit-bukit dengan beragam bentuk. Gumuk pasir adalah fenomena alam yang langka karena hanya bisa dijumpai di Indonesia dan Meksiko.

Berlokasi di tengah area hutan, membutuhkan perjuangan sekitar 15 menit untuk berjalan kaki dari pintu masuk utama menuju campsite. Perlu diketahui disini tidak ada hotel, losmen/ penginapan. Pengunjung harus menyiapkan tenda/ bivak, terutama logistik pribadi kerena minimnya warung di seputar area Gumuk Pasir. Terdapat juga satu aula utama di campsite untuk partisipan berkumpul. Bisa untuk memasak, tidur dengan menggunakan tikar dan tentunya jika doyan begadang bisa bertukar wawasan kepada peserta lain, terutama seputar dunia seni dan pemahamannya.

Acara ini mengundang perhatian khususnya bagi Kara, yang berasal dari Jepang. Janda anak satu itu mendapatkan informasi festival ini dari kerabatnya di Thailand. Ia datang untuk mencari kebahagiaan di alam bebas dan berharap mendapat banyak relasi baru pasca acara ini. Karena ia tidak ingin pulang lagi ke Jepang. Kara lahir di Hiroshima, dia protes terhadap sikap pemerintahnya akibat rentetan kegagalan eksperiman, kebocoran nuklir dan pelepasan radio aktif di Pembangkit Listrik Nuklir Fukushima yang disebabkan karena gempa bumi dan tsunami tanggal 11 Maret 2011. Sejak saat itu dia bersama putrinya hijrah nomaden dari Kamboja, Myanmar, Filipina, Thailand dan terakhir berlabuh di Indonesia. Kara mengaku sangat terkesima dengan sambutan ramah tamahnya orang Indonesia.

NewsMusik hadir pada hari Sabtu (18/4) yang merupakan hari kedua festival tersebut. Dengan menyewa sepeda motor, berangkat dari kota Yogyakarta guna mempercepat langkah menuju Gumuk Pasir. Sementara diperjalanan menuju Parangtritis terjadi hujan dengan intensitas cukup tinggi, tetapi hal ini sama sekali tidak mematahkan semangat untuk tetap menembus hujan deras dari siang sampai sore demi memburu berita hingga menemui beragam para talenta muda berbakat di Indonesia.

02 Sound Of Sand Teza

Setibanya diarea Pantai Pelangi pada pukul 6 sore, NewsMusik langsung bergegas menuju gerbang masuk utama Sound of Sand. Saat itu jalanan menuju campsite mulai gelap, ditambah medan jalan dengan tekstur gumukan-gumukan pasir membuat degup penasaran pun kian bertambah. Sempat bertanya-tanya dimana sih ada acara musiknya? Apakah ini private party? ataukah ini sebuah acara musik-musikan kaum gypsy/ hippies? Karena lokasinya terisolir dari jalan umum. Beruntung ada beberapa petunjuk berupa obor api botol, papan selamat datang, yang mempermudah tiap langkah menuju lokasi.

Setelah tiba, beruntung acara musik itu sedang break hingga pukul 7.30 malam, jadi sempat untuk mencari-cari kawan baru, berkenalan dengan beberapa musisi yang akan tampil malam nanti. Namun saat panitia mengumumkan segera melanjutkan acara musik, hujan deras dan petir kembali mendera Gumuk Pasir. Alhasil, kami harus numpang berteduh mengamankan kamera kertas/ pena dan benda elektronik lainnya yang akan menjadi senjata utama. NewsMusik berlindung di tenda milik musisi Kusni Kasdut yang merupakan side project dari Dave Syauta dan Daniel Usman duo personil band The Paps.

...The Party Must Go On, sekitar pukul 10 malam pasca hujan reda para peserta pun digiring oleh panitia menuju Nirwana atau main stagenya Sound of Sand. Dengan dekor panggung yang minimalis, para penikmatnya tetap bisa merasakan aroma euphoria walaupun sound dan visual digarap ala kadarnya. Animo mereka terhadap variasi musik yang digarap dadakan sejak 2-6 bulan terkhir ini sungguh luar biasa. Band-band yang hadir disini mayoritas dijaring dari medsos musik seperti Soundcloud, Reverbnation dan sebagainya.

Maladialum adalah band folk asal Yogyakarta, yang hadir dengan 6 lagu karya terbaiknya. Band tersebut telah merilis album yang bertajuk “Alam Raya Dalam Harmoni” belum lama ini. Tampil dengan 3 Gitar Akustik, 2 Cello, 2 Violin, 1 Cajoon, 1 Synth serta alat tradisonal dari bambu dan Drum. “Bisa kita berbahasa Indonesia semua teman-teman. Ini adalah sebuah alam raya dalam harmoni, sentuhan jiwa dalam aplikasi dan ekstasi tanpa jasmani”, kata vokalisnya. Segera mereka melanjutkan aksinya lewat ‘Matahari’, ‘Sukma’, ‘Suara Bumi’, ‘Anomali’, ‘Sendiri dan Analogi’ adalah sejumlah track yang berhasil mereka nyanyikan dengan nuansa adem ayem. Membuat para penonton duduk menghayati sajian unsur folk. Maladialum malam itu tampil dengan lighting gelap diatas panggung dan konsep visualnya menggunakan video aurora yang ditembakkan ke samping panggung yang dilapisi tirai putih.

Penampil kedua dilanjutkan oleh Songket, band reggae asal dari kota Yogyakarta. Ketujuh personilnya membawakan lagu andalan mereka diantaranya, ‘Sapakata’, ‘Semalam’, ‘Skatoo Boot Ready’, ‘Piss Aje Dong’, ‘Kopi Asap dan Hey Ho’. Mengusung unsur reggae pop yang khas di Indonesia, musikalitasnya cukup banyak terpengaruh oleh dedengkot-dedengkotnya seperti Tony Q dan Steven Coconuttrezze. Kala Songket perform, hujan dengan intensitas sedang turun kembali di Gumuk Pasir, sebagian penggemarnya tak surut melamun mereka justru berdanska happy ditengah hujan.

Selanjutnya hujan bertambah besar, menyebabkan panitia kembali berupaya menunda acara selama 15 menit untuk menghindari adanya hal buruk seperti korsleting pada speaker-speaker di atas panggung. Namun Flash Band bersikukuh untuk tetap tampil walaupun dalam kondisi hujan petir. Akhirinya penonton berhamburan merapatkan barisan berdiri diatas panggung, berdempetan dengan semua personel Flash yang tengah tampil. Kunon, musik mereka terinfluenced dengan psychedelic experiences nya Jimi Hendrix, Pink Floyd. Flash terdiri dari Davino Raindika (Vocal, Guitar), Sesha Diovanna (Bass), Pradika Revianda (Drum, Synth, Ambient) dan Ghozi Harhara (Keyboard) mereka merupakan band yang berasal dari kota Tangerang.

03 Sound Of Sand Teza

Berikutnya adalah orkes rakyat dari Dendang Kampungan band asal Jogjakarta. Sejak terbentuk pada tahun 1999 komunitas taring padi itu menyuarakan lirik-lirik sosial yang menyentuh, soal kemiskinan, perdamaian dari suara kaum-kaum marjinal (bukan Punk). Bagi Dendang Kampungan lewat musik itu mereka bisa menyampaikan ide-ide dan propaganda sebagai medium utama. Sebuah musik rakyat yang digarap dengan lirik jujur dan cita rasa musik yang sederhana, gigih dan terispirasi dari perjuangan rakyat-rakyat yang tertindas. Kelompok ini terdiri dari Fitri (Vocal), Dodi Irwandi (Gitar), Yunanto (Gitar), Praditya Wibby (Bass), Patub Porx (Djimbe), Deri Andriana (Cajoon) dan Elvan Steven (Saxophone). Penontonnya berjoget-joget kegirangan di atas pasir menyambut Orkes Dendang Kampungan, tanpa menghiraukan baju yang mulai lepek terkena hujan.

Hujan terus saja mengguyur tiada henti, malah semakin besar ditingkahi badai mengguyur Nirwana Stage. Saat itu Kusni Kasdut langsung bergegas menuju stage dan men set up Elektribe Kord Rhythm Synth – Drum Beat, Dabolit, Mixer Mackie DFX-5 dengan sangat cepat. Kusdi Kadut malam itu memang di plot sebagai penampil penutup di Sound of Sand.

04 Sound Of Sand Teza

Audiencenya yang berkerumun, tumpah lagi diatas panggung yang berdekatan dengan sang DJ. Happy trippy menikmati alunan sound Free Dub milik Kusni Kasdut. Walaupun sangat disayangkan speaker bass mengalami masalah teknis akibat percikan air hujan. Acara pun sempat di stop karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 2.30 pagi. Setelah sedikit bernegoisasi akhirnya pihak sound memberikan ekstra 20 menit.

Dilain sisi, Daniel Usman dengan kegigihannya berhasil mengatasi kerusakan pada speaker bass. ‘Waiting in Vain’ milik Bob Marley pun tersaji dengan mantap, penonton lagi-lagi dibuat trippy ikut bernyanyi bahkan lebih keras melebihi suara speaker itu sendiri. Sound listrik dimatikan pun, tidak menyurutkan nyanyian mereka. Dave Syauta memancing reaksi penonton dengan lagu ‘Three Little Birds’ tanpa satupun bantuan alat musik. Kompak mereka dengan seksama mendendangkan ‘Don’t Worry ‘bout A Thing’ .....cause every little thing gonna be allright, singing don’t worry about a thing, cause every little thing gonna be allright.. acara pun bubar dengan kondusif.

Hari terakhir para peserta Sound of Sand berkumpul dengan sangat erat, saling bertukar manfaat, tersaji pula seni pertunjukan teater, hadir juga Amien Kamil. Ada sebagian peserta lain yang belajar Meditasi/ Yoga. Ketika acara selesai, para penonton diwajibkan untuk melakukan sweeping area guna bersih-bersih sampah dari area stage hingga pintu masuk utama. Hanya ditemukan sedikit sampah pada area Gumuk Pasir, alam yang masih lestari walau cukup sering di jamah juga oleh peserta-peserta camping.

“Aku berupaya untuk memasukkan listrik di daerah Gumuk Pasir selama 6 tahun terakhir ini walaupun tidak total diberikan oleh Pemda. Tadinya daerah ini hanya ada satu rumah, ya itu rumahku sendiri. Aku bangun 1 gubuk utama bagi mereka yang ingin bersentuhan dengan alam.

Disini ada berbagai daun yang berguguran aku pakai untuk pakan ternak dan bisa digunakan juga untuk pupuk alami. Kalaupun ada sampah seperti botol plastik minuman aku kumpulkan dirumah yang mungkin bisa dijual kembali atau dimanfaatkan untuk hal lain, aku sangat ingin kawasan Gumuk Pasir ini tentunnya mendapatkan perhatian khusus sebagai destinasi wisata yang dikemas dengan baik oleh Pemda”, ucap salah satu tokoh masyarakat setempat bernama Sutarji yang sehari-hari mencari nafkah utama sebagai penggali kuburan dan nelayan.

Sore itu matahari sangat hangat, semesta pun kian bersahabat, mengizinkan manusia untuk menikmati pesona bentang alam dan sunset di Pantai Pelangi (pantai perawan di depan area Gumuk Pasir tempat Penyu bertelur). Badai kemarin malam pun terbayar lunas oleh indahnya suasana sore yang hingga malam menjelang, yang justru malah diserbu ribuan bintang berkilauan.

05 Sound Of Sand Teza

Masih ada sebagian dari pengunjung yang belum mau beranjak pulang untuk melanjutkan penghayatannya di alam bebas. Transformative Gathering itu berjalan dengan sangat sukses. Semoga acara ini bisa berlanjut ke part selanjutnya.

Sampai jumpa di Sound of Sand mendatang..../ Teza

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found