Jelang Pementasan Gending

50 Tahun Tetap Serius Tapi Santai

Usia 50, ada artinya? Tanda-tanda makin matang. “Kelewat mateng,” jawabnya sambil terbahak-bahak. Tapi, udahlah bilang aja, Life begins at Fifty! Diapun tertawa lebar lagi. NewsMusik melihat sosoknya, ya tetap besar, tetap gondrong. Bermusik, ya bernyanyi juga, terkekeh-kekeh dan becanda di atas maupun di bawah panggung. Lalu?

Dan seorang Djaduk nan Ferianto ini, seminggu silam bersama Kua Etnika-nya, meraih sukses dalam pergelaran istimewanya. Mengambil tempat di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Pentas itu bertajuk, Gending Djaduk, dalam rangka perayaan 50 Tahun Djaduk. Bisa dibilang 90% seats tersedia terisi.

Pementasan berjalan dengan baik dan lancar walau ada kejutan yang urung dilakukan. Kejutan? Sudahlah, kan tak terjadi. Namun tetap tak mengurangi bobot konser Gending Djaduk yang dihadiri oleh ratusan penonton memadati Graha Bhakti Budaya.

Soal pergelaran tersebut, telah NM bahas beberapa waktu silam. Nah kali ini, NM memilih menceritakan bagaimana Djaduk bersama tim dari Kayan Production mempersiapkan dengan sebaik-baiknya Gending Djaduk.

“Kuaetnika itu cenderung menampilkan musik yang serius. Kalau untuk bersenang-senang, bercanda dan cari duit saya main bersama Sinten Remen,” ungkap Djaduk kepada beberapa rekan jurnalis yang sempat Newsmusik dengar di belakang panggung. “Jadi Sinten Remen itu mensubsidi Kuaetnika.”

Tapi gimana kalau disebut juga begini, Sinten Remen adalah Keroncong-nya Djaduk. Lalu, Kua Etnika adalah “jazz-jazz-an”nya Djaduk? Lagi-lagi Djaduk terbahak-bahak, aaah ini bukan jazz laaaaah. “Jangan disebut jazz. Kami ini ndeso gini…

Foto Utama 2

Memang benar bila didengarkan apa yang disampaikan melalui musiknya, Kuaetnika sangat serius. Begitu pula dalam mempersiapkan pentas Gendang Djaduk. Semua dilakukan dengan serius yang dilakukan sejak sehari sebelum hari pementasan. Dimulai dengan loading alat sampai dengan gladi resik dengan melakukan runthrough.

Ketika Newsmusik hadir pada persiapan di malam sehari sebelum pentas, kesan serius itu memang terasa. Tapi Kuaetnika serta tim Kayan Production diisi oleh orang-orang yang doyan melontarkan guyonan. Jadi dibalik keseriusan tersebut, suasana gayeng tetap tak bisa dihindarkan.

Ketika Djaduk bersama Kuaetnika sibuk memainkan alat musik masing-masing, seluruh tim juga tak kalah sibuknya. Bagian multimedia memadupadankan gambar dengan musik atau lagu yang tengah dibawakan. Begitu pula dengan Clink Sugiarto yang bertanggungjawab pada tata cahaya. Sementara Agus Noor bersama Ong Hari Wahyu mengamati jalannya gladi resik dari bangku penonton.

“Capek banget. Lebih capek daripada persiapan (konser) Nusa Swara. Mungkin karena kali ini cuma bertujuh,” kata Djaduk. Ah, usia memang tak pernah bisa dibohongi ya mas hehehehehe...

Glenn Fredly adalah salah satu kejutan yang akan dihadirkan dalam pentas nanti. Diagendakan malam itu Glenn akan hadir untuk melakukan gladi resik lagu yang akan dinyanyikannya. Namun runthrough sampai pada lagu ‘Molukken (Kole-Kole)’, akhirnya dikabarkan Glenn berhalangan datang karena tengah melalukan rapat dengan manajemennya di Bintaro.

Sekitar pukul sepuluh malam, gladi resik usai dilakukan. Keletihan jelas terlihat di setiap wajah. Namun ternyata tidak langsung bubar jalan untuk rehat. Semuanya berkumpul di atas panggung untuk melakukan evaluasi atas gladi resik.

Foto Utama 3

Agus Noor memberikan beberapa masukan terkait dengan apa yang dilihatnya. Dia merasa untuk pentas yang “menjual” nama Djaduk ini belum kelihatan menonjolkan sosok Djaduk ketika gladi resik. Ada beberapa hal yang perlu dimatangkan dan dibenahi.

Agus Noor juga melihat semua belum tampil dengan lepas. Djaduk memberikan pembelaan dengan mengatakan semuanya kelelahan karena masih kurang istirahat dan berjanji akan memperbaikinya ketika gladi resik esok hari.

Keseriusan untuk menepati janji agar lebih baik benar-benar terlihat keesokan harinya. Usai makan siang, di ruang belakang panggung terlihat Djaduk tengah berdiskusi dengan tim multimedia. Setelah itu Djaduk kemudian beranjak keluar menuju panggung untuk melakukan gladi resik.

Sedikit terjadi perubahan konsep. Bila pada hari sebelumnya Djaduk duduk di sepanjang pentas, kali ini diubah. Ada beberapa bagian Djaduk diharuskan berdiri. Untuk itu Djaduk dibantu Novindra Diratara selaku Stage Manager mengatur blocking dengan sebaik-baiknya.

“Aduh boyokku,” keluh Djaduk sambil memegang pinggangnya. Naik turun panggung, duduk dan berdiri yang kerap dilakukannya ternyata membuat pinggangnya terasa capek. Ini sontak mengundang tawa orang-orang yang melihatnya.

Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini guyonan semakin banyak porsinya. Tampaknya semua cukup istirahat hingga menyumbang energi segar. Djaduk bahkan sempat-sempatnya berjoget di atas panggung.

Djaduk beberapa kali tampak berdiskusi perihal blocking dengan Vindra, Ong Hari, dan Cling. Vindra sempat ketinggalan ketika mencatat setiap perubahan yang dilakukan dan disepakati. Atau lebih tepatnya lupa karena begitu cepatnya Djaduk dan Ong Hari ketika berdiskusi.

Fotoutama 4

Usai memantapkan blocking, Djaduk kemudian meladeni permintaan fotografer dari salah satu media untuk melakukan sesi foto. Tak perlu memoleskan make up ke wajah atau mengganti baju, Djaduk langsung bergaya santai tanpa perlu diarahkan oleh fotografer.

“Wuah jangan dipindah-pindahin dong. Saya sudah capek nyusunnya. Ntar penunggunya marah loh,” ujar Djaduk kepada fotografer yang memindahkan beberapa alat musik yang telah disusunnya. Tentu saja hal tersebut disampaikan dengan bercanda.

Latihan terakhir untuk memantapkan blocking kemudian digelar. Dengan memulai dari awal memulai pentas. Namun kali ini tidak semua lagu dibawakan. Ong Hari dan Cling menyaksikan dari bangku penonton.

Ide lucu disodorkan oleh Sukoco ketika melatih adegan untuk lagu ‘Angop’. Disepakati Sukoco akan melakukan tindakan seperti akan tidur. Semuanya tertawa melihat adegan yang awalnya tidak direncanakan tersebut.

Gelak tawa kembali pecah ketika Djaduk melatih lelucon yang akan dibawakannya. Bahkan Djaduk sendiri pun tak bisa menahan tawa atas guyonannya sendiri. Dia terlihat tergelak-gelak sampai memiringkan badannya nyaris menyentuh lantai panggung.

Latihan pun selesai dilakukan. Tiba-tiba Djaduk bertanya,”Gimana apa keyboard untuk mas Idang sudah disiapkan,? Idang yang dimaksud adalah Idang Rasjidi yang akan menjadi kejutan lain. Satu nama lagi yang menjadi kejutan adalah Trie Utami.

Sayangnya, pada kesempatan show, kedua nama tersebut urung datang meramaikan acara. Iie atau Trie Utami mengontak langsung Djaduk dan dimaklumi betul alasan kegagalannya mendukung pementasan Djaduk itu. Sementara Idang, pada malam yang sama, ada kabar tampil di acara jazz di lain tempat di Jakarta.

Foto Utama ke 5

Djaduk kemudian menghampiri keyboard dan menarikan jari-jarinya di atas tuts. Sebelum akhirnya melakoni wawancara dengan sebuah televisi. Setelahnya turun dari atas panggung menghampiri Ong Hari. Sambil duduk di lantai mereka membahas dan menyempurnakan materi guyonan yang akan dibawakan.

Ruang belakang panggung kemudian menjadi tujuan berikut Djaduk. Di sana sudah terlihat hadir Butet Kartaredjasa. Anggota Kuaetnika juga sudah berkumpul. Dikabarkan Gubernur DKI Jakarta dan juga Presiden Terpilih RI, Joko Widodo, akan hadir. Namun kepastiannya harus menunggu sampai jam enam sore apakah jadi datang atau tidak.

Djaduk bersama Kuaetnika, Butet dan Ong Hari kemudian membahas bagaimana membuat pentas malam nanti menjadi lebih gayeng. Butet beranggapan pasti penonton akan menunggu hal-hal lucu yang terjadi di atas panggung. Karena Kuaetnika cenderung serius, tindakan lucu sekecil apa pun pasti akan mengundang tawa.

Mereka pun bersama-sama menyusun rencana “konspirasi”. Bila Jokowi benar-benar datang, mereka sepakat untuk mengajaknya naik ke atas panggung dan akan “dikerjai”. Semua tertawa senang membayangkan bisa ngerjain orang nomor satu di Indonesia. Belum dilantik sebenarnya tapi setidaknya sudah resmi terpilih.

Sekitar pukul empat sore, Glenn hadir di Graha Bhakti Budaya. Langsung saja semua beranjak dari ruang belakang menuju panggung. Latihan singkat yang dilakukan dua kali untuk memantapkan lagu ‘Molukken (Kole-Kole).

“Wuaah, merinding saya,” ujar Djaduk usai Glenn menyanyikan lagu tersebut. Keduanya kemudian saling berangkulan. Djaduk berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Glenn. Begitu pun Glenn sambil tersenyum juga balas mengucapkan terima kasih.

Foto Utama 6   Glenn Fredly

Usai melakoni gladi resik terakhir, Djaduk kembali meladeni wawancara dengan beberapa jurnalis di belakang panggung. Di sinilah Newsmusik mendengar pernyataan bahwa Kuaetnika cenderung menampilkan musik serius. Selain itu Djaduk juga bercerita banyak hal yang sangat menarik disimak.

Salah satunya bagaimana dia menolak musiknya disebut dengan jazz. Kemudian apa yang dilakukannya selama ini dengan menyajikan musik dengan lirik “nakal” bukanlah hal yang baru. Dia menganggap Pancaran Sinar Petromak yang pertama kali melakukannya. Meski nakal dan terkesan main-main, namun dia menganggap mereka memainkannya dengan serius.

Bungsu dari keluarga Bagong Kussudiardjo ini juga menceritakan kenekatannya mendangdutkan Hard Rock Cafe. Sebuah kafe franchise yang “mengharamkan” dangdut berhasil dibuat “tunduk” atas kemauan Djaduk. Bersama grup Orkes Moral Melayu Banter Banget, Djaduk menggelar Konser Musik Dangdut Alternatif dengan Iis Dahlia sebagai biduanitanya pada tahun 2001.

Menjelang pukul tujuh malam, anggota Kuaetnika tampak sudah berdandan rapi tengah bersantai di lantai atas ruang rias. Mereka asyik merokok sambil bercanda satu sama lain. Sementara Djaduk belum sempat bersalin karena masih meladeni wawancara.

Akhirnya wawancara selesai, Djaduk langsung bergegas ke lantai atas untuk mengenakan kostum pentas nanti. Tak perlu makan waktu lama, Djaduk sudah selesai kemudian mengajak semuanya untuk turun menuju panggung. Konser belum dimulai. Mereka hanya melakukan pengecekan terakhir terhadap alat musik masing-masing.

Foto Utama 7

Setengah jam menjelang konser dimulai, seluruh tim berkumpul di ruang belakang. Vindra memberikan pengarahan terakhir demi kelancaran acara. Setelah Djaduk memberikan pesan agar bermain dengan lepas dan saling mengisi, diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Indra Gunawan.

Dikabarkan pula bahwa Jokowi batal hadir. Begitu pula dengan Trie Utami yang mendadak harus mengantar ayahnya. Demikian pula dengan Idang harus pentas di sebuah tempat. Namun konser harus tetap berjalan meski harus mengurangi unsur kejutannya.

Pukul delapan lebih lima belas menit, satu per satu anggota Kuaetnika muncul di atas panggung dengan Djaduk tampil paling terakhir. Konser Gending Djaduk pun resmi dimulai. Penonton sontak bersorak dan bertepuk tangan meriah.

Newsmusik memutuskan berkeliling selain untuk mencari tempat memotret juga untuk melihat-lihat suasana. Ketika masuk ke dalam ruangan FOH, terlihat Agus Noor dan Butet tengah mengamati dengan seksama. Semua terlihat bekerja dengan sebaik-baiknya.

Pentas usai setelah berlangsung sekitar dua jam. Djaduk turun panggung untuk menghampiri kerabat dan penonton yang datang. Berkali-kali dia menerima ucapan selamat dan pelukan. Berkali-kali pula Djaduk tak henti mengucapkan banyak terima kasih.

Satu per satu penonton meninggalkan Graha Bhakti Budaya. Di atas panggung kesibukan diambil alih oleh para kru untuk membereskan segala peralatan yang telah digunakan. Di depan bawah panggung terlihat Djaduk duduk di atas speaker kembali meladeni wawancara dengan beberapa jurnalis.

Pentas telah usai, saatnya untuk pulang. Sahabat kami, Djaduk Ferianto, tetaplah serius walau senantiasa diselingi kesantaian. Karya-karyanya, tetaplah serius, walau ada nuansa canda di sana-sini... /dM, yoseR

Foto Utama 8

Note :
Newsmusik mengucapkan terima kasih kepada Djaduk Ferianto, Butet Kartaredjasa, Kuaetnika, Agus Noor dan Kayan Production atas kesempatan untuk meliput persiapan dan pentas Gending Djaduk.

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found