Sebuah Acara Pesta Perkusi

Repot dan Tidaknya, Latihan Dong!

Memang baiknya kudu latihan. Karena begini, konsepnya memang rada “tak biasa”. Ada soal mengenal lagu, menyamakan enerji atau visi dan misi. Maksudnya agar supaya feel nya sama. Sehingga nyambung, terkoneksi dengan baik, sehingga akan terdengar baik dan menyatu. Bisa menyatu dengan baik, tentu lewat latihan.

Sekedar diskusi dan apalagi dengan yakinnya misalnya berkata, lihat nanti sajalah di panggung, gampang kok. Tentu saja berbahaya! Ketika di panggung, saat show, kalau satu tak baik, akan menghancurkan semua yang di panggung. Berabe betul! Tidak mungkin di skip. Hanya bisa “terima nasib” lah, ujung-ujungnya.

Berharap berlatih menyelip saja di saat sound check, itu juga bukan pemikiran bijaksana. Akan merepotkan para performers lain, sekaligus bikin susah pekerjaan awak sound, alat dan petugas panggung. Kesempatan durasi untuk sound check kan terbatas. Dan namanya sound check, harusnya ya checkin all sound with all equipment yang mau di pakai. That’s it! Latihan boleh? Ealaaa....di studio aja keleusss...!

Itu di sisi band atawa performers-nya. Dan bagaimana di sisi sound dan peralatan pendukungnya, tentu saja punya persoalan-persoalan tersendiri. Paling tidak begini ya, soal miking untuk peralatan perkusi yang macam-macam. Prinsipnya, musisi berpengalaman sudah memahami betul penempatan miking untuk peralatannya.

Maka tenaga sound engineer, tentu dibantu stage manager dan stage-crews yang tinggal melakukan pekerjaan lain. Yaitu bagaimana suara dari peralatan perkusi itu bisa terdengar dengan baik. Pembagian channel, itu yang terpenting.

Membagi-bagi channel adalah “keasikan” tersendiri pada diri seorang sound engineer dibantu biasanya oleh seorang tenaga stage manager. Stage manager, memilah-milah dan melakukan miking dari atas panggung. Sound engineer melakukannya lewat peralatan mixer di Front House, biasa disebut FoH.

Sound check sebaiknya memang sebatas check lines saja, demi efisiensi dan efektifitas waktu. Terutama terkait dengan acara bentuk festival dengan banyak pengisi acara. Yang jadi prioritas adalah pembagian channel dan “menetapkannya”, setiap performers. Lalu sound telah tepat balancing-nya dan selesai. Tidak terlalu detail, seperti sound check. Yang repotnya, seringkali sound check dipakai grup atau penyanyi, malah untuk sekalian latihan!

NewsMusik sempat mengamati akan pelaksanaan persiapan acara North Sumatra Jazz Festival 2014 (NSJF) kemarin di Medan. Venue di Hermes Place, Convention Centre. Persiapan sudah dilakukan sejak sore, pada sehari sebelumnya. Dengan masuknya peralatan sound dan backlines, yang diambil dari supplier, Happy Sound.

Pihak Happy Sound menyediakan sound berdasarkan kapasitas gedung, karena request dari penyelenggara memang begitu. Dasarnya pihak Happy Sound pasti sudah paham dengan kondisi main hall dari “ballroom” gedung, yang berdekatan dengan areal mall itu. Happy Sound juga menyiapkan supplier tenaga listrik, berupa genset.

Genset penting dan selalu dibutuhkan, karena daya listrik di setiap gedung biasanya tak akan bisa mencukupi. Karena butuh listrik berkemampuan besar, untuk sound dan alat serta lighting. Dalam acara NSJF kemarin, lighting di sediakan pihak Hermes, sehingga memakai pasokan listrik gedung.

Backlines yang disediakan Happy Sound sesuai riders. Terdiri dari 2 amplifier gitar, 2 amplifier bass, 2 set drums, 1 set electric piano dan 1 set synthesizer berserta amplifier nya. Jadi memang stage di bagi 2. Dimana salah satu sisi untuk dipakai seluruh band yang electric. Satu sisi panggung, hanya untuk versi akustik.

Jadi yang akan tampil sebenarnya adalah 4 kelompok muda Medan terdiri dari North Sumatra Junior Jazz Part 1 & Part 2 masing-masing dengan barisan 4-5 vokalisnya, grup musik dari Youth Jazz Community dengan 5 vokalis serta Etno Band dari USU, yang menggunakan pula peralatan musik tradisi Tapanuli seperti hasapi dan taganing serta suling.

Mereka adalah sesi pembuka. Bermain langsung berturutan. Per-band diberi kesematan tampil masing-masing 1 dan lalu 2 lagu. Kemudian tampil trio dari Norwegia, Espen Eriksen Trio, dengan baby grand piano (akustik), upright bass dan drums. Nah trio Norwegia inilah yang tampil akustik satu-satunya.

Kemudian ada Fusion Stuff dari Jakarta, mereka adalah kelompok fusion yang terdiri dari Krishna Siregar (electric piano dan synthesizer), Jeane Phialsa (drums), Franky Sadikin (electric bass), Kadek Rihardhika (electric guitar) dan Damez Nababan (alto saxophone). Kemudian berikutnya adalah penampilan berturutan, yang langsung berturutan.

Mulai dari duo Drum N Wind terdiri dari Jonathan Jones (tiup seperti didgeridoo, EWI, klarinet, saluang), Jamal Mohamed (perkusi/hand drums seperti doumbek, bougarabou, rebana Persia). Kemudian duo asal Texas, Amerika Serikat ini berkolaborasi dengan C-Man dengan Erucakra Mahameru (electric guitar), Dian (electric bass), Rusfian Karim (drums), Herry Syahputra (electric piano dan synthesizer) serta Febry (perkusi conga, bongo dan timbales).

Kemudian langsung diikuti naiknya Rieka Roslan (vokal) bersama Steve Thornton (conga dan bongo). Sementara Jonathan Jones dan Jamal Mohamed, turun panggung. Setelah itu, panggung diisi oleh Bintang Indrianto Trio++ yang terdiri dari Denny Chasmala (electric guitar), Muhammad Iqbal (drums), Bintang Indrianto (electric bass), Muhamad Madun (gendang), Muhammad Sofyan “Sofi” (suling bambu) serta Kiki Dunung (kendang dan cengceng).

Terakhir, ada jam session penutup. Yang harusnya menampilkan nyaris semua musisi yang telah tampil sebelumnya, dengan grup masing-masing. Namun ternyata sebagian musisi telah menghilang, atau ada yang menolak naik ke atas pentas. Yang “menjawab” panggilan Dewa Soegiarto, MC, untuk bermain bersama dalam session penutup antara lain Bintang Indrianto, Jamal Mohamed, Jonathan Jones, Steve Thornton, Espen Eriksen, Erucakra Mahameru dan Muhamad Sofyan.

Yang seru, menyusup seorang drummer muda, yang bersedia main setelah ia lihat tak ada drummer yang mau mengisi. Dan setelah acara, sosok anak muda itu tidak dikenal oleh banyak musisi Medan. Ada musisi yang awalnya bersedia main, tapi menghilang entah kemana. Ada juga yang memilih tidak menjawab panggilan dan hanya duduk di backstage saja. Paling dipuji, seluruh musisi luar negeri bersedia main bersama dan langsung datang dengan antusias!

Diajak pula naikpanggung,ikut jam session, belakangan yaitu Ari Ridwan. Anak muda yang mengambil studi musik di Unimed ini adalah beatboxer potensial. Ari, ditarik naik panggung “dipaksa” oleh Jonathan Jones.

Nah sempat ada masalah sedikit pada channel yang tersedia hanya 48 channel di main-mixer, terutama untuk keperluan jam session. Awalnya diinginkan ada tontonan seru, bermacam-macam pemain perkusi ada on-stage. Dengan double drums beserta double guitar, double bass dan dua kibordis. Tapi ga kesampaian. Untung saja, kalau itu terjadi, channel memang tak akan cukup.

Menurut Zaindra Putra, sound engineer muda yang didatangkan dari Jakarta, prinsipnya mengenai peralatan dan channel tak terlalu masalah. Yang penting adalah koordinasi harus dari awal dan kesepakatan akan jadwal saja. Misal untuk sound-check. Sempat terjadi hambatan “kecil”, baby grand piano yang harus diganti karena alat yang telah tersedia pertama tak mungkin dipakai. Kondisinya tak memungkinkan dipakai.

Sementara itu juga, peralatan perkusi untuk Steve Thornton terlambat 3 jam datang ke venue. Dengan alasan “standar”, ga ada kejelasan jadwal yang pasti sehingga pengiriman disesuaikan saja menurut “kehendak” si pemilik. Padahal jadwal sudah dibicarakan dan diingatkan pada sehari sebelumnya.

Selain hal itu, harusnya tak ada masalah lagi. Hal itu juga diutarakan oleh Riva Pratama, yang diberi tanggung jawab sebagai stage manager dan juga dari Jakarta. Harusnya lancar saja, menurut Riva.

Jadwal saja yang terpaksa molor. Ga enak hati, menurut Riva, para musisi luar negeri itu on time datang. Apalagi sound check diadakan dari pagi sampai sore tanpa AC ruangan dinyalakan. Pihak gedung hanya akan menyalakan pendingin mulai sore hari sekitar jam 16.00 sore, karena begitulah ketentuan menejemen gedung!

Yang kurang, menurut Zaindra dan Riva, masalah komunikasi dan koordinasi antar mereka berdua. Ketiadaan tenaga runner, yang mereka kenal dan ketahui dengan baik saja, jadi “sedikit” masalah. Runner tersebut, menurut Zaindra, juga adalah tenaga stage-crew yang siap membantu dan telah paham dengan handling sound dan alat untuk show.

Menurut mereka berdua, kerjasama terjalin baik dan penuh pengertian, dari seluruh pengisi acara. Pihak grup musik yang tampil di sesi pembuka, yang tak mendapat kesempatan check-lines juga bisa memaklumi atas keterbatasan waktu. Apalagi para musisi internasional yang hadir, mereka sangat kooperaif dengan baik.

Nah setelah acara berlangsung, nyaris seluruh pengisi acara mengatakan sound system bekerja dengan baik. Tidak ada masalah berarti, sound terdengar baik. Sebagian penonton yang ditanya juga mengakui hal serupa. Mereka tak merasa sound ada gangguan, yang mengusik keasyikan mereka menonton.

Menurut Steve Thornton, soundnya bagus. Karena ia sempat mendengar dari sisi penonton. Kalaupun ada masalah memang, tinggal persoalan internal dari para pengisi acaranya saja. Misal, kembali lagi, kurangnya saat latihan bersama. Memang perlu apresiasi dan atensi yang sama sih, menghargai satu sama lain, sehingga jadwal latihan bisa dipatuhi bersama. Hasil yang baik, pasti akan menjadi “credit” baik bagi semua musisidan penyanyi yang tampil dalam grup tersebut. Ya ga? / dionM

NewsMusik bersama Zaindra Putra, berdiri paling kanan dan sebelahnya, NewsMusik bersama Zaindra Putra, berdiri paling kanan dan sebelahnya,
Riva Pratama. Steve Thornton di tengah.  MC Dewa Soegiarto, kedua di kiri. Dan para LO

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found