Marlupi Dance Academy

Menggabungkan Balet dan Budaya

Marlupi Dance Academy (MDA) adalah sebuah akademi tari yang didirikan oleh Marlupi Sijangga sejak tahun 1965. Marlupi yang sudah menginjak usia 80 tahun berhasil menghasilkan balerina-balerina handal Indonesia. Diusianya tersebut, Marlupi baru saja dianugerahi penghargaan oleh pemerintah sebagai Maestro Seni Tradisi kategori Pencipta, pelopor dan Pembaruan Seni Tari Balet di Indonesia.

Pada generasi kedua MDA semakin berkembang sejak terlibatnya Fifi Sijangga (Anak Marlupi Sijangga) dan membuka cabangnya di Jakarta. Dengan pencapaian reputasi baik nasional maupun internasional sebagai salah satu akademi tari unggulan di Indonesia sejak tahun 1995. Dan kemudian bergabunglah putri dari Fifi Sijangga sebagai generasi ketiga.

Dari sinilah kemudian MDA mulai membuat program pelatihan yang dibuat khusus untuk para siswanya yang menginkan karir profesional yang membuat generasi ini menjadi akademi tari terbesar sekaligus tertua di Indonesia yang namanya sangat diperhitungkan di dalam dan luar negeri.

Marlupi Sijangga sendiri sampai diusia sekarang masih terlibat dalam seni pertunjukkan balet dan selalu memonitor perkembangan balet yang didirikannya. Sebagai seorang pendiri balet ia selalu memperjuangkan agar seni tari balet bisa lebih diterima di Indonesia.

“Saya tidak pernah bosan dengan balet, saya pernah buat pertunjukan sendiri. Ballet is my life, bagaimana saya memperjuangkan sekolah balet ini. Saya ingin tari ini bisa sampai ke daerah-daerah, cucu saya sudah membentuk Indonesia Dance Company yang sudah membuat pertunjukkan di Surabaya dan sukses. Kalau di luar negeri seperti Malaysia, Singapore, atau seluruh dunia untuk membentuk suatu company harus di dukung oleh pemerintah. Sayangnya di Indonesia masih sangat kurang penghargaan tentang seni tari ballet”, ujar Marlupi Sijangga di Taman Ismail Marzuki, Jum’at (27/10).

02 Marlupi dan Fifi Sijangga YDhewMarlupi dan Fifi Sijangga (foto: YDhew)

Marlupi sangat ingin mengadakan pertunjukan di daerah-daerah agar seni balet bisa lebih dapat diterima di masyarakat, tentu saja dengan dukungan dari pemerintah karena untuk mengadakan suatu pertunjukan sangat sulit dengan keterbatasan dana yang ada.

Dalam pertunjukkannya MDA juga selalu mengkolaborasikan seni balet dengan seni tari Indonesia, saat ini MDA sendiri sudah mencoba menghasilkan karya seni balet di Indonesia. Marlupi mengungkapkan bahwa untuk berkolaborasi dengan seni budaya Indonesia sangat sulit, karena berhubungan dengan musik.

“Untuk mengsikronkan musik balet yang kebarat-baratan dengan musik daerah  apabila tidak cocok tidak bisa di singkronkan. Semua harus sinkron. Saya ingin sebuah pertunjukan balet dengan pertunjukkan life concert. Karena di Indonesia belum ada life concert”, papar Marlupi. Hal ini pernah diungkapkan pada saat penerimaan anugerah yang diterimanya kepada Adie MS yang tertarik dengan kolaborasi ini, namun tetap perlu dukungan pemerintah tambahnya lagi.

MDA sendiri pernah mencoba mengkolaborasikan seni budaya Indonesia dengan kesenian tari balet dan mendulang sukses di tahun 2015  dengan pagelaran ‘Si Kabayan’. Ingin mengulang hal yang sama, di tanggal  28 – 29 Oktober 2017 MDA kembali membuat pentas baru yang diambil dari cerita rakyat Tanah Air “Rama dan Shinta”.


Cerita pewayangan yang dikreasikan oleh Yuniki Salim dan Fifi Sijangga sebagai direktur artistik itu menambah produksi MDA tahun ini. Yuniki Salim mengatakan cerita 'Rama dan Sinta' adalah kisah pewayangan yang dekat dengan masyarakat Indonesia.

03 MDS YDhewMDS (foto: YDhew)

"Kebetulan Rama Sinta salah satu cerita pewayangan yang sudah diadaptasi jadi salah satu cerita di Nusantara,” ujar Yuniki Salim.

Dengan adanya pentas Rama dan Sinta ini, Direktur Artistik MDA Fifi Sijangga berharap agar balet Indonesia bisa menampilkan ciri khas Tanah Air. "Saya ingin balet di indonesia lebih maju lagi dengan menampilkan ciri khas Indonesia juga supaya masyarakat lebih mencintai cerita indonesia yang dituangkan di dalam balet," tutur Fifi Sijangga.

Rama dan Sinta menceritakan tentang kisah dua sejoli yang hidup bahagia di dalam hutan. Mereka ditemani oleh Laksamana yang merupakan saudara sepupu dari Rama dan seekor burung bernama Jatayu yang setia menemani Sinta.

Suatu hari Sinta melihat seekor kijang emas dan meminta Rama untuk menangkapnya. Ketika Sinta sendirian, Rahwana yang terpesona dengan kecantikan Sinta menyamar menjadi seorang pengemis supaya Sinta iba dan keluar dari lingkaran perlindungan. Pertunjukkan ini bakal dipentaskan di Taman Ismai Marzuki  dalam upaya meningkatkan kualitas seni budaya di Tanah Air.

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found